Istri Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Istri Kecil Kesayangan Mafia Kejam
24. Kemenangan Eric


__ADS_3

Kini Naya dan Niel sudah kembali kedalam kamar, keduanya berbaring diatas ranjang sambil berpelukan.


Niel memeluk Naya dengan sangat erat, ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan istrinya lagi.


Namun, banyak masalah yang harus ia tangani terlebih dulu, dan hal itu sangat penting tentunya.


Sementara Naya, ia sudah tertidur dengan sangat nyenyak dalam dekapan suaminya.


Niel memandangi wajah damai Naya, wajah yang begitu tenang dan sangat cantik walaupun sedang tidur.


Sesekali Niel meniup wajah istrinya itu, karna istrinya yang begitu menggemaskan dan sangat polos.


Niel begitu tidak menyangka ia akan mencintai Naya, pasalnya Niel hanya ingin menjadikan Naya sebagai pelayan dirumahnya.


Karna Niel berpikir, Naya sama seperti kedua orang tuanya yang gila harta.


"Semoga saja dia tidak menemukan keberadaan mu, sayang." Gumam Niel pelan, lalu ia mencium kepala Naya lembut.


Karna merasa ngantuk, Nielpun ikut tertidur.


Kedua pasangan itu tertidur dengan sangat nyenyak, bahkan Naya sama sekali tidak terbangun seperti malam-malam biasanya.


Sementara dikediaman Eric, semua bawahan Eric sedang merayakan pesta.


Tentu saja pesta itu diadakan oleh Eric sendiri, karna ia sudah menang.


Meskipun perasaan Eric masih ada rasa kesedihan karna adiknya belum ditemukan, tapi ia berjanji akan membuat pembalasan yang setimpal.

__ADS_1


Pencarian masalah keberadaan Naya sudah Eric hentikan, karna anak buah Eric sudah menemukan titik keberadaan villa tempat Naya tinggal.


Maka dari itu, Eric merayakan atas kemenangannya. Bahkan Eric memberikan banyak uang kepada anak buahnya yang begitu cepat menemukan keberadaan istri musuh bebuyutannya.


Eric hanya tinggal mengatur rencana untuk menyerang ke villa, namun ia harus mengatur dengan matang.


Eric tidak boleh gegabah, karna ia sudah memastikan akan banyak anak buah Niel yang berjaga di villa itu.


Berbagai jenis minuman terhidang diatas meja, rumah mewah itu seakan menjadi bar untuk malam ini.


Tak lupa dengan beberapa wanita yang menemani mereka minum.


Tapi tidak dengan Eric, ia hanya duduk dikursi kebesarannya dengan santai sambil menikmati minumannya.


Niel memainkan ponselnya, memutar kembali video rekaman adik kesayangannya.


--------


Tak terasa hari kini sudah mulai pagi, bunga-bunga yang berada ditaman villa sudah bermekaran.


Semua orang-orang villa sudah bangun, hanya menyisakan sepasang suami-istri yang masih terlelap didalam kamar.


Siapa lagi kalau bukan Niel dan Naya, keduanya masih tertidur dengan nyenyak sambil berpelukan.


Niel yang biasanya tidak bisa tidur karna tidak ada istrinya, kini ia tertidur begitu nyenyak sama seperti Naya.


Keduanya bahkan tidak mendengar alarm berbunyi, sampai alarm tersebut berhentu berbunyi namun mereka masih dalam keadaan tidur.

__ADS_1


Sementara diluar, mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Dokter Pian dan Alya sedang duduk bersantai dihalaman villa.


Tidak ada yang berbicara sama sekali, keadaan sekarang benar-benar begitu canggung.


Alya yang memang tidak banyak bicara, sementara Dokter Pian yang tidak berani berbicara akibat takut akan ditatap tajam Alya.


Pian, kau harus berani. Kau tidak boleh takut dengan singa betina itu." Ucap Dokter Pian dalam hati.


Ia menghela napasnya pelan, kemudian menelan salivanya.


Dokter Pian memberanikan diri untuk mengajak Alya berbicara, namun ia masih sangat ragu.


"Apa...."


Belum lagi sepenuhnya Dokter Pian berkata, perkataannya langsung dipotong oleh Alya dengan tegas.


"Jika anda melanjutkannya, saya akan mengubur anda hidup-hidup!" Potong Alya, ia menatap Dokter Pian dengan tajam.


Dokter Pian seakan tidak bisa bergerak lagi setelah diancam oleh Alya, bahkan mulutnya seperti dilakban.


Meneguk saliva dengan susah payah, iapun perlahan berdiri dengan kaki gemetarnya.


Saat sudah berdiri Dokter Pian langsung saja pergi meninggalkan Alya dengan terbirit-birit.


Dokter Pian yang ingin berpamitan untuk masuk kedalam, ia kurungkan.

__ADS_1


Tentu saja Dokter Pian masih ingin hidup, apalagi dirinya saat ini masih berstatus lajang.


__ADS_2