Istri Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Istri Kecil Kesayangan Mafia Kejam
8. Nielku


__ADS_3

Niel menatap Istrinya dengan sendu, ia ingin sekali berbicara dengan Istrinya saat ini, karena ia setelah menikah hanya sepatah dua patah saja sempat berbica dengan Istrinya.


Siang sudah berganti malam, Niel masih setia menemani Istrinya itu disamping sambil memegang erat tangan Istrinya. Ia sama sekali tidak ingin kemana-mana, saat ini


Karena lelah akhirnya Niel tertidur disebelah Naya dengan tangan yang terus menggenggam erat.


"Tidakk!!!." Pekik Naya dini hari yang baru saja bermimpi kejadian kemarin, ia baru saja tersadar dari komanya itu. Sedangkan Niel yang mendengar teriakan dari Istrinya langsung tersentak kaget dan menoleh kearah Istrinya dengan raut wajah cemas


"Ka-kau kenapa, Sayang?." Panggil Niel cemas menenangkan Istrinya yang berkeringat itu. Naya langsung mendudukkan badannya dan memeluk Niel dengan sangat kuat sampai-sampai membuat Niel sesekali meringis.


"Na-naya takut, Tuan.... Hikss, hikss." Tangisan Naya mulai pecah didalam pelukan Niel, ia sungguh mengalami trauma berat saat kejadian kemarin


"Shutt!!... Kau tenanglah Sayang, aku akan melindungimu." Menenangkan Istrinya itu sambil mengusap-ngusap rambut Istrinya


"Benarkah?." Tanya Naya menatap kearah Niel ditemani sesigukan akibat menangis, ia masih tidak percaya dengan ucapan Niel barusan.


"Iya, Sayang.... Dan aku minta, kau jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi, Ya." Balas Niel tersenyum kearah Istrinya dengan lembut


"Hemmm.... Lalu Naya harus manggil, apa?." Tanya Naya dengan polosnya sehingga membuat Niel sangat gemes melihat Istrinya seperti itu, ia bahkan tak tanggung-tanggung langsung mengecup kening Naya dengan lembut.


"Terserah kamu saja, Sayang." Balas Niel


"Emmmm... Bagaimana kalau Nielku? Atau Kucingku?." Lontar Naya menyarankan dua panggilan itu kepada Suaminya


"Nielku saja, Sayang." Balas Niel yang sudah berhasil menenangkan Istrinya itu, iapun langsung merebahkan kembali tubuh Istrinya kebrangkar yang beralas kain putih itu. Saat Niel hendak beranjak pergi, tangannya langsung disekal oleh Naya dengan kuat sambil bergeleng kepala dan sorot mata yang ketakutan

__ADS_1


"J-jangan tinggalkan, Naya." Mohon Naya dengan mata yang mulai berkaca-kaca


"Aku tidak akan meninggalkan mu.... Kau tenang saja, Sayang." Mengecup bibir Istrinya sekilas


"Masuk!." Pekik Niel dari dalam agar terdengan ditelinga Anak buahnya itu, dan benar saja, kini salah satu Anak buah Niel langsung membuka pintu ruangan Naya saat ini


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?." Ucapnya membungkuk sopan


"Panggilkan Dokter Pian kemari." Perintah dari Niel hanya diangguki kecil oleh Anak buahnya, ia segera keluar dan memanggil Dokter Pian


"Apa kau mau makan?." Tanya Niel lembut menatap Istrinya dengan lekat, namun digelengi langsung oleh Naya


Tak selang beberapa menit, Dokter Pian dan satu suster masuk kedalam ruangan Naya. Dokter Pian langsung memeriksa Naya dengan taletan, sedanngkan Niel yang melihat Dokter Pian sangat dekat dengan Istrinya langsung cemburu dan menatap Dokter Pian dengan sinis, karena Dokter Pian saat ini masih lajang.


"Kenapa sangat lama?!." Kesal Niel menatap Dokter Pian geram, sedangkan Dokter Pian hanya mengeryitkan dahinya


"Tenanglah... Aku tidak akan mengambil Istrimu juga." Kekeh Dokter Pian


"Cepat selesaikan tugasmu!." Ketus Niel tak suka, sedangkan dua wanita yang berada disamping mereka masing-masing hanya bisa menahan tawa lucut.


"Nona sudah lebih baik, El!... Nona muda hanya perlu Istirahat saja saat ini sampai siang nanti." Kata Doktek Pian, namun tidak digubris oleh Niel ucapan dari Dokter Pian barusan


"Pergilah! Aku muak melihat wajah anehmu itu!." Sindir Niel melirik Dokter Pian sekilas


"Hhahaaa.... Ok, ok." Kekeh Dokter Pian dan segera keluar dari ruangan Naya diikuti dengan susternya tadi

__ADS_1


"Kau kenapa, Nielku?." Tanya Naya mengeryit


"Aku hanya kesal saja." Balas Niel lembut


"Oh... Naik keatas sini, Na-naya takut jika nanti Na-naya terbangun dan Nielku tidak ada disini." Dengan nada suara yang mulai lirih, bagaimanpun Niel memaklumi ketakutan dan trauma dari Istrinya itu, ia hanya mengangguk dan segera naik keatas.


"Jangan tinggalkan, Naya." Gerutu Naya


"Iya, Sayang..... Kau istirahatlah, aku akan menjagamu." Balas Niel mengecup kening Naya dengan lembut


Akhirnya Naya kini sudah tertidur didalam pelukan hangat dari Niel, sama seperti Niel yang juga ikut tertidur.


.


.


.


.


.


.


.Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2