Istri Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Istri Kecil Kesayangan Mafia Kejam
28. Meninggalkan


__ADS_3

Saat ini Naya tengah memakan kue buatan Niel, ia memakan dengan lahapnya tanpa memandang kearah suaminya.


Naya begitu malu saat mengingat kejadian beberapa saat lalu, dimana keduanya berciuman begitu lama.


Keduanya hanya berciuman dengan Niel yang mengakhirinya. Niel tersadar kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat.


Niel masih harus menyelesaikan urusannya dengan Eric, bagaimanapun Eric sangatlah nekad.


Niel hanya ingin menjaga istrinya, ia tidak ingin membebani istrinya. Apalagi jika mereka melakukan sekarang, dan itu membuat istrinta hamil maka akan sangat mengkhawatirkan.


Naya tidak akan lama di villa itu, karna Niel berencana akan membawa istrinya keluarga negri dengan menggunakan jet pribadinya sendiri.


Pria itu tersenyum memandang kearah istrinya yang tengah melahap kue buatannya.


Niel begitu banyak membuat kue untuk istrinya, sisa kue itu ia simpan kedalam kulkas untuk dimakan nanti.


Tinggal beberapa jam lagi Niel akan kembali ke kota, meninggalkan istrinya dengan cara diam-diam.


Sementara diluar kamar, atau lebih tepatnya diruang tamu.


Alya kini tengah duduk bersantai disopa empuk, ditemani beberapa buah-buahan segar dan minuman soda.


Lampu villa begitu terang menerangi seisi rumah, karna hari sudah gelap.


Saat Alya tengah asik mengunyah satu potongan apel didalam mulutnya, tiba-tiba tamu tak diundang langsung duduk dikursi yang ada didepannya.


Wajah tamu tak diundang itu begitu polos, seolah-olah ia tidak melakukan kesalahan apapun.


Bahkan tanpa seizin Alya, ia mengambil satu potong apel yang ada dipiring.


Mengunyah dengan santai, mata yang menatap kearah layar tv. Kaki yang naik satu diatas paha, benar-benar membuat Alya kesal.


Brak!


Alya menggebrak meja didepannya sehingga membuat tamu itu terkejut.


Wajah yang tadi tidak tahu menahu, sekarang menjadi pucat dengan keringat dinginnya.


Ia menoleh kearah Alya, mencengir kuda dengan menunjukkan deretan giginya.


Tamu itu tak lain adalah Dokter Fahri, ia kini sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Tanpa sengaja membuat wanita pujaannya marah, ia menelan salivanya kasar.


"Apa kau buta!" Bentakan yang begitu dingin dan tegas, membuat nyali Dokter Fahri ciut.


Bukannya Dokter Fahri penakut, namun ia tidak ingin melawan seorang wanita apalagi wanita itu yang ia sukai.


"Maaf." Hanya itulah yang bisa Dokter Fahri ucapkan kepada Alya.


Semua ini bukan salah Dokter Fahri sepenuhnya, karna ia mendapatkan ide tersebut dari usulan beberapa anak buah Niel.

__ADS_1


Namun, siapa sangka hal ini malah membuat wanitanya marah kepadanya.


"Hhahaa..." Tiba-tiba saja Alya tertawa begitu keras sehingga membuat Dokter Fahri merinding.


"Hahaaaa..." Dokter Fahri ikut tertawa, namun bukan tertawa bahagia melainkan tawa takut serta kebingungangan.


Beberapa orang yang melihat Alya tertawa juga merinding, karna ini pertama kalinya mereka mendengar Alya tertawa begitu.


Apalagi tidak ada angin dan tidak ada hujan wanita itu tiba-tiba tertawa begitu keras, sampai-sampai membuat orang-orang terkejut.


"Pergi!" Setelah tertawa, Alya mengeluarkan suara lantangnya untuk mengusir Dokter Fahri.


"Ta-tapi...."


"Untuk anda Dokter Fahri! Ingat ini baik-baik!. Saya tidak akan jatuh cinta kepada anda kini dan sampai kapanpun. Ingat itu!" Alya langsung memotong perkataan lirih Dokter Fahri, ia mengacungkan jari telunjuknya kepada Dokter Fahri.


"Sekarang pergi!" Pekiknya lagi.


Dengan terpaksa Dokter Fahri pun beranjak pergi dari hadapan Alya, ia berjanji dalam hatinya tidak akan mengganggu Alya lagi.


Pria tampan itu memilih untuk melupakan rasa cintanya kepada Alya, meskipun itu akan membutuhkan waktu cukup lama agar bisa melupakan semuanya.


Berjaga jarak, itulah yang akan Dokter Fahri lakukan. Ia tidak boleh memaksa seseorang agar menyukainya.


Sementara Alya, ia masih memasang wajah kesalnya. Wanita gunung es itu benar-benar sangat marah dengan tindakan yang Dokter Fahri lakukan.


--------


Sepi, villa itu terlihat sangat sepi hanya beberapa orang saja yang tengah bersiap-siap.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, para wanita yang ada di villa itu sudah terlelap.


Didalam kamar, Niel masih menatap istrinya dengan sendu. Perasaan Niel benar-benar kalut, hatinya tidak ingin meninggalkan istrinya itu.


Niel tengah duduk disisi ranjang, memandang wajah damai sang istri. Sesekali ia mengelus wajah serta kepala istrinya.


Pria itu sudah bersiap-siap untuk kembali ke kota, meninggalkan istrinya tanpa memberitahu terlebih dulu.


Perasaan Niel tidak tenang, ia begitu gelisah. Senyuman istrinya terus saja terlintas dipikirannya.


Suara tawa istrinya masih ia ingat saat sang istrinya merias wajahnya.


FLASHBACK ON


Setelah makan malam yang bertepatan jam 8 malam, kedua sijoli itu kembali kedalam kamar.


Naya duduk didepan meja riasnya, seraya memandang sang suami dari pantulan cermin besar miliknya.


Setelah memandang sang suami, seukir senyumam licik terlihat dari sudut bibir Naya.


"Nielku." Panggil Naya lembut kepada Niel yang tengah memainkan ponselnya.

__ADS_1


Mendengar sang istri yang memanggilnya, Niel langsung menaruh ponselnya di atas laci dan berjalan menghampiri istrinya.


"Iya, sayang." Niel mengecup pucuk kepala Naya lembut, ia menatap Naya dari pantulan cermin.


Keduanya saling mengunci, bertatapan begitu lama. Namun, gadis polos itu menatap suaminya dengan pikiran yang berkutat.


Naya memikirkan wajah suaminya ketika dirias olehnya, ia tersenyum geli saat memikirkannya.


"Apa Naya boleh melakukan sesuatu kepada Niel?" Naya mengadahkan kepalanya melihat kearah suaminya, memanyunkan bibirnya dan memelas.


Niel sedikit bingung, namum ia langsung mengiyakan permintaan dari Naya tanpa bertanya balik.


"Tapi Niel jangan marah yah..." Mata gadis polos itu berkaca-kaca, ia tengah memohon agar suaminya tidak menghukumnya nanti.


"Tidak sayang. Niel tidak akan marah kepada Naya." Ujar Niel lembut, ia mengelus surai rambut Naya.


"Janji?" Naya mengacungkan jari kelingkingnya yang mungil itu dan disambut oleh Niel yang juga mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji, sayang."


Setelah selesai melakukan janji, Naya menyuruh suaminya untuk duduk kembali diatas tempat tidur.


Sedangkan dirinya tengah mengambil alat rias miliknya.


Niel menatap heran kearah istrinya yang membawa banyak alat rias dan menaruhnya diatas tempat tidur.


Apalagi Niel disuruh untuk duduk bersila yang berhadapan dengan Naya.


"Apa yang akan Naya lakukan?" Niel mengerutkan dahinya bingung, tapi ia tidak ingin marah kepada istrinya.


"Naya akan membuat Niel sangat cantik, boleh yah." Mohon Naya, bola matanya membesar.


Niel menghela napasnya, ia tidak habis pikir dengan permintaan dari istrinya itu.


Dengan terpaksa Niel menganggukkan kepalanya, dan hal itu membuat Naya begitu sangat senang.


Tanpa ingin berlama-lama lagi, Naya langsung memulai ritual merias wajah suaminya.


20 menit Naya berkutat dengan wajah Niel, akhirnya ia selesai.


Sempurna, Naya mengacungkan jari jempolnya dihadapan Niel. Gadis itu memuji bakatnya sendiri yang begitu sempurna merias wajah sang suami.


"Niel sangat cantik." Puji Naya terkekeh.


Niel melihat kearah cermin, wajahnya begitu menor penuh dengan make up tabal hasil karya dari istrinya.


Naya yang melihat Niel seperti itu, ia tertawa geli. Niel menoleh kearah Naya yang menertawakan wajahnya, kemudian tersenyum licik.


"Niel akan menghukum Naya." Ucap Niel yang langsung saja menindihi tubuh Naya dan menggelitiki perutnya.


Naya merasa geli diperutnya, ia tertawa terus menerus yang juga diikuti tawa dari Niel.

__ADS_1


Niel menganggap, ini ia lakukan sebagai permintaan maafnya karna akan meninggalkan istrinya lagi sendiri di villa ini untuk sementara.


FLASHBACK OF


__ADS_2