
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setalah siang berganti malam, yang penting ada suatu kejadian yang membuat semua orang panik.
Rencana berangkat waktu malam dibatalkan oleh Eric, bukannya pria itu tidak ingin menculik Naya.
Namun, pria itu baru saja berubah pikiran. Mereka akan bergerak sekarang juga, karna perjalanan nanti cukup jauh.
Mereka hanya perlu bersembunyi ditempat yang aman dan tanpa membuat orang-orang villa curiga.
Jika mereka nanti berangkat pada malam hari, kemungkinan mereka akan berpapasan dengan Niel yang juga akan kembali ke kota.
Meskipun mereka tahu jika Niel akan kembali ke kota pada malam hari, namun mereka tidak tahu pada saat jam berapa Niel pergi dari villa itu.
Semua orang sudah siap dengan perlengkapan masing-masing, semua orang berjumblah 20 orang.
Senjata api serta bom asap sudah tersimpan didalam tas selempang yang berada didada mereka.
Tak lupa mereka menggunakan penutup wajah, sama seperti Eric.
Eric berdiri dengan tubuhnya yang tegap dan kokoh, menatap semua anak buahnya yang akan ikut.
"Apa mereka sudah menyiapkan helikopter untuk kesana?" Tanya Eric, seraya memasang kaca mata hitam miliknya dan juga masker.
"Sudah, tuan. Kita hanya tinggal pergi keatas." Sahut salah satu dari mereka.
Benar saja, diatas markas Eric terdapat helipad untuk melandaskan atau menerbangkan helikopter miliknya.
__ADS_1
Markas Eric layaknya gedung perusahaan, markas itu memiliki lantai 6 dan ditambah 1 yang ada dibawah tanah.
Ruang bawah tanah tempat penyekapan begitu luas dan 2 kali lipat lebih panjang dari markasnya.
Bahkan ruangan itu mampu menampung satu ribu orang lebih karna saking luasnya. Ruangan tersebut bukan hanya untuk digunakan mengurung seseorang, tapi juga digunakan untuk menyimpan senjata api serta membongkar isi didalam tubuh seseorang.
Tentu saja ruangan itu sangat mengerikan dan berbau amis, karna darah segar terus saja terciprak kelantai saat anak buahnya melakukan hal yang keji.
Meskipun mereka mengambil organ musuh, namun organ itu bukan untuk dijual namun diserahkan kepada pihak rumah sakit miliknya.
Dan jika seseorang membutuhkan organ itu, orang itu akan mendapatkannya dengan cara cuma-cuma.
Eric tidak pernah menaruh harga disetiap bagian organ yang ia berikan kepada pasien, karna ia juga mendapatkannya dengan cara gratis.
Pria yang bernama Eric itu berjalan menuju lift yang ada dimarkasnya, lift itu bukan hanya ada satu tetapi tiga.
Eric berdiri dengan santai didalam lift sembari menunggu lift terbuka, pria itu sesekali tersenyum jahat.
"Akhirnya aku bisa mengalahkanmu, tuan muda Daniel." Eric menyeringai setelah bergumam menyambut hari kemenangannya.
Lift terbuka, Eric keluar dan sudah berada diteras atas. Angin begitu kencang menerpa wajahnya, ia berjalan menghampiri helikopter yang sudah ditunggu dua anak buahnya.
Eric naik kedalam helikopter, diikuti delapan anak buahnya. Sementara sisanya mereka menunggu satu helikoper lagi.
Jika Eric berada disebalah barat nantinya, maka mereka akan berada disebelah utara.
__ADS_1
Karna Eric tidak ingin jika semua anak buahnya berkumpul, agar lebih mudah mengepung villa itu.
Baling-baling helikopter itu sudah mulai berputar dan berputar hingga putarannya semakin cepat, sampailah helikopter itu sudah berada diudara.
Sementara di villa, saat ini Naya tengah tertidur diatas sopa ruang tamu ditemani sang suami baru saja menidurkan istrinya.
Niel sengaja membuat istrinya tidur, karna ia akan membuatkan kue spesial untuk istrinya itu.
Mengingat kejadian dulu, membuat Niel bergeleng kepala dengan geli. Dimana sang istri yang ingin membantunya, tatapi malah memarahinya saja.
Dan lebih parahnya lagi, pria itu tidak sempat merasakan kue yang ia buat karna sang istri menghabiskannya terlebih dulu.
"Tidur nyenyak, sayang..." Niel mengecup kening istrinya, lalu ia beranjak berdiri dengan hati-hati dan pergi keruang dapur.
"Tuan muda, semuanya sudah saya siapkan diatas meja." Seorang pelayan itu membungkukkan badannya saat melihat kehadiran Niel diruang dapur.
"Baik, bi. Bibi boleh istirahat." Perintah Niel lembut.
"Terima kasih, tuan muda. Saya permisi." Setelah memberikan hormat, pelayan itu pergu dari ruang dapur.
"Baiklah, Niel. Kau akan membuatkan kue yang enak dan spesial untuk istri tercintamu." Seru Niel yang saat ini tengah mencuci tangannya.
Pria itu memulai kegiatan membuat adonan kuenya, dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan oleh pelayan tadi.
Niel ingin membuat kue Blackforest favoritnya, ia ingin istrinya merasakan kue favoritnya dengan buatannya sendiri.
__ADS_1
Ini bukan yang pertama kalinya Niel membuat kue favoritnya, namun sudah berkali-kali.
Jika ia ingin, ia akan membuatnya sendiri. Resepnya pun ia meminta sendiri dari salah satu kedai kue yang pertama kali ia merasakan kue Blackforest itu.