
"Astagfirullah, ini rumah apa istana?." Gerutu Naya terkejut yang barusan keluar kamar itu, betapa indahnya rumah yang sekarang ia tepati. Naya melirik dari atas kebawah, ia langsung berkidik ngeri saat membayangkan jika terjatuh dari posisinya sekarang.
Setelah puas membayangkan nya, Naya segera turun kebawah. Tapi, ia malah berhenti didekat tangga sambil menatap tangga itu.
"Mati gak, Ya?." Gerutu Naya bingung
"Tau ah, cape Naya mikirin ini." Batin Naya, dan langsung melanjutkan langkahnya itu. Langkah demi langkah anak tangga itu diinjek oleh Naya.
Naya lagi-lagi dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada didepan matanya itu, berlian yang bergelantungan, bunga mawae yang ditarus didalam guci besar, pelayan yang tengah bersih-bersih dan ruang tamu yang sangat luas.
"Gini ternyata rumah orang kaya, Ya?." Gerutu Naya dan segera menghampiri salah satu pelayan untuk bertanya.
"Maaf, Kak... Ruang dapur dimana, Ya?." Tanya Naya sopan sambil membungkuk
"Eh, Nona!... Nona jangan membungkuk seperti itu!." Tegasnya yang tidak enak
"Kenapa?." Tanya Naya mengeryitkan dahinya.
"Nanti Tuan akan menghukum kami semua, jika Nona melakukan itu lagi." Balas pelayan yang bernama Nana.
"Kok gitu? Kan Kakak lebih tua dari Naya, masa gak boleh sih?." Gerutu Naya kesal
"Ada apa, Na?." Pertanyaan yang tiba-tiba terdengar ditelinga Naya dan Nana. Ya, itu suara Niel yang yang menggelegar diruang tamu itu. Nana yang mendapat pertanyaan dari Tuannya langsung menunduk.
"No-nona muda mencari ruangan dapur, Tuan." Balas Nana gemetar
"Antarkan dia." Sahut Niel, setelah mengucapkan dua patah kata tadi Niel segera pergi keruang kerjanya.
"Mari, Kak." Ajak Naya kegirangan. Nana yang diajak oleh majikannya hanya bisa mangut-mangut saja.
-------------
"Ini dapur apa ruang tamu, Kak?." Tanya Naya terperangah melihat nuasan dapur yang sangat luas dan indah.
"Ini kolam!." Balasan dari Niel dari pengarah suara. Betapa terkejutnya Naya mendengar balasan yang tiba-tiba, ia langsung membuang tatapannya kesegala arah mencari pengarah suara itu.
"Kak! Pengarah suaranya ada dimana?." Tanya Naya menepuk bahu Nana dengan pelan
__ADS_1
"Itu disebelah, Nona." Menunjuk kearah kiri tempat posisi Naya saat ini berdiri
"Hah?! Kecil banget, Kak.... Berapa ya harganya?." Gerutu Naya menatap pengarah suara yang sangat kecil namun sangat nyaring.
"Gak tau, Nona." Balas Nana
"Ah sudahlah... Ngapain ngurusin pengarah suara ini, mending Naya masak." Segera mengambil sayur segar yang ada didalam kulkas mehong itu.
"Nona, biar kami saja yang mengerjakan nya." Mencegah Naya yang hendak memasak
"Naya aja, Kak.... Udah terbiasa kok." Balas Naya tersenyum. Mereka yang tadi menghentikan Naya hanya bisa diam, karena kalau menjawab sama saja dengan membantah.
"Apa boleh saya bantu, Nona?." Tanya Nana ragu
"Hheheee, boleh kok... Biar cepat selesainya." Balas Naya kikuk. Bukan Nana saja yang membantu Naya memasak, pelayan yang tadi mencegah Naya juga ikut membantu.
Ada 4 orang yang membantu Naya memasak, mereka berlima sesekali tertawa saat mendengar perkataan dari Naya yang sangat polos itu.
"Kak, kok Tuan Niel gak punya kekasih sih? Emang gak laku apa?." Pertanyaan yang dilontarkan oleh Naya membuat semua pelayan tadi terdiam, mereka sama sekali tidak berani menjawabnya.
"Maaf, Nona.... Lebih baik Nona tanyakan sendiri saja sama, Tuan." Ucap Nana sopan
Makanan yang tadi mereka masak akhirnga selesai, mereka kembali menghidangkan makanan itu diatas meja panjang yang mewah.
Tanpa meminta izin atau apa, Naya langsung duduk dikursi besar paling ujung, atau bisa disebut itu adalah kursi milik Niel. Para pelayan yang melihat Naya duduk dikursi itu ingin sekali menegur, tapi mereka tak berani.
"Kalian kenapa?." Tanya Naya polosnya yang melihat wajah pias setiap pelayan, mereka yang mendapat pertanyaan hanya menggelengkan kepala saja.
"Kak, kok kursi ini enak, Ya?." Gerutu Naya sambil melompat-lompatkan bokongnya
"I-itu.... A-anu, No-...."
"Pergilah." Suruh Niel yang tiba-tiba berada didekat mereka. Empat pelayan tadi bergegas untuk pergi dari hadapan Niel dan Naya.
Niel hanya melirik Naya sekilas dengan ekor matanya dan segera duduk dikursi bersebrangan dengan Naya.
Tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya ada keheningan dikeduanya. Naya sangat bingung ia harus melakukan apa saat ini, karena ia tidak ingin membuat kesalahan, padahal ia sudah membuat kesalahan yang sangat besar.
__ADS_1
"Enak duduknya?." Dua patah kata yang dilontarkan Niel untuk Naya, membuat Naya sedikit lega.
"Enak, Tuan.... Kira-kira ini berapa harganya, Ya?." Tanya Naya dengan polosnya tanpa merasa takut sedikit pun, karena Naya orangnya langsung blak-blakan jika itu perlu dan ia akan menjawab dengan jujur jika ia tahu.
"Kau tidak akan pernah sanggup membelinya!." Ketus Niel menatap Naya geram. Niel sangat jyjyk melihat kelakukan Naya yang berpura-pura polos baginya, tapi padahal Naya memanglah gadis yang polos.
"Oh... Tapi Naya punya tabungan, Tuan." Balas Naya lagi
"Simpan saja tabungan mu itu!." Ketus Niel dan beranjak pergi meninggalkan Naya tanpa sarapan.
"Alhamdulillah, rezeki Naya dapet makanan enak." Gerutu Naya kegirangan, ia langsung pergi kedapur untuk memanggil empat pelayan yang tadi membantunya memasak.
"Kak, mari ikut!." Pekik Naya sambil melambaykan tangannya kearah mereka
"Ada apa, Nona?." Tanya Nana menghampiri Naya
"Kita hari ini bakal makan-makanan enak!." Seru Naya dan menarik tangan Nana dengan paksa, para pelayan lainnya hanga mengikuti dari belakang.
"A-apa ini tidak apa-apa, Nona?." Tanya Nana yang khawatir dengan keadaan saat ini, sama seperti tiga pelayan lainnya yang berada disekitar mereka. Mereka berempat ketakutan, jika nanti Niel akan marah atas kelancangan mereka nantinya.
"Tidak apa-apa, Kak.... Lagipula inikan enak, gak boleh dibuang Kak, nanti mubazir.... Nanti Naya yang bakal ngutang sama Tuan Niel." Balas Naya dengan polos diikuti senyuman yang mengembang dibibir mungilnya.
"A-anu No-nona....."
Handpone yang berada disaku kanannya tiba-tiba saja berbunyi dengan segera Nana mengangkat telponnya, karena itu adalah telpon dari Niel.
"Iya, Tuan?." Tanya Nana
"Turuti saja apa kata dia!." Ketus Niel dari sebrang telpon
"I-iya, Tuan.... Ka-kami akan menuruti, Nona muda." Balas Nana, ia kembali menaruh handpone nya itu didalam saku, karena telponnya tadi sudah diputuskan Niel.
.
.
.
__ADS_1
.
.