
Aku mencapai tangga terakhir tempat dimana pejalan kaki bisa menyeberang aku menatap ke arah bawah meratapi kendaraan yang masih terlalu lalang akankah aku harus mengakhiri hidupku kali ini agar semuanya bisa terselesaikan aku lelah tuhan aku sudah meminta kepadamu untuk memberikan mempermudah masalahku tapi nyatanya banyak cobaan yang muncul dalam hidupku dan aku tak sanggup menjalaninya lebih baik kini aku dan buah hatiku kembali kepadamu dan akan ku ceritakan padamu mengapa aku memilih untuk undur diri daripada bumi.
Tanpa ada seorangpun di atas jembatan aku mulai melompati pembatas jembatan dan akan segera melompat dengan melepaskan kedua genggaman tangan yang masih melekat pada pembatas jembatan ini, selamat tinggal dunia aku pergi aku tak kuat berada di atas bumi yang selalu menyakiti.
" arghhhhh"
Aku menjerit se jadi jadinya saat mata ini kembali terbuka di malam masih gelap gulita kota tapi gua aja ilham yang masih lugu dalam tidurnya tapi dalam si otak ku hanya memikirkan tentang mimpi buruk yang baru saja aku alami
" astaghfiruallah bagaimana bisa aku bermimpi seburuk itu aku sangat merasa takut sekarang bagaimana jika itu benar-benar terjadi menimpa aku"
Aku mengerutkan dahi dan berfikir tanpa henti dan mengambil segelas air yang memang tersedia di atas meja
Aku teguh air itu perlahan-lahan untuk menenangkan pikiran yang masih kacau balau aku masih dingin menangkan diri untuk kembali percaya bahwa semua itu hanya akan terjadi di dalam mimpi saja
aku pandangi dinding yang menempel di tembok yang beri catkan biru langit itu
" masih pukul 02.00 pagi lebih baik aku mengecek keberadaan mas irfan di kamarnya apakah iya sudah pulang dan sudah tertidur pulas atau iya masih berada di luar dengan teman-temannya karena biasanya pasti irfan akan kembali ke rumah tepat setelah adzan subuh berkumandang"
Begitu dari gerutuku sendirian di dalam kamar yang hanya berteman kan keheningan yang mendalam
Aku makan tubuhku untuk melangkahkan kakiku ke dalam kamar mas irfan setelah pintu kamarnya berada tepat di depan mataku aku langsung langsung menurunkan gagang pintu yang tidak mungkin terkunci. Saat pintu itu terbuka lebar ternyata tak ku dapati tubuh mas irfan berada di dalam ruangan yang terang benderang dengan cahaya lampu yang biasanya iya matikan
" ternyata mas irfan masih belum datang lebih baik aku membawa ilham to ruang tamu dan tidur di sana bersama ilham sembari menunggu kedatangan mas irfan di subuh nanti.
Saat hendak kembali ke kamar dalam sebuah tangisan mulai mempercepat langkahku yang memang tujuannya adalah dia
Ilham yang sudah menggeliat dengan suara tangis nya membuatku segera menghampirinya dan mengambil tubuh kecilnya namun ada yang berbeda dari dekapan kali ini rasanya seperti suhu tubuh ilham lebih tinggi dari biasanya
Hatiku tambah bimbang tak karuan padahal sebelumnya aku sudah bermimpi buruk dan sekarang aku harus menelan dan menerima kenyataan buruk
"Ya allah kamu kenapa ilham kenapa tubuhmu sangat panas nak ibu akan menelpon ayahmu sekarang juga"
__ADS_1
Itulah yang kufikirkan saat ini
Aku yang sedang panik kemudian menghubunginya irfan
Tut tutt tuutttt
Berkali-kali bunyi seperti itu terdengar di telinga aku yang masih menempel dengan ponsel ku
" haduh kenapa mas irfan tidak mengangkat telponku apakah dia sangat sibuk meskipun begitu ya tak boleh mengabaikan panggilanku karenanya ini sangat penting"
" ayo mas angkat mas kumohon"
* ponsel bergetar menandakan panggilan itu telah tersambung*
" halo mas kamu dimana? Aku butuh kamu mas tubuh irfan panas, sepertinya suhu tubuhnya naik. Aku minta tolong kamu mengantarkanku ke rumah sakit aku mohon"
Aku memohon dengan sangat tulus pada mas irfan
" tapi mas..."
Belum sempat ku jelaskan semua perkataan ku telfon kami sudah terputus
Dengan hati yang masih terkoyak aku membawa tubuh ilham dalam dapur dan menuangkan sirup rasa stroberi itu ke sebuah sendok makan.
Perlahan sirup itu ilham teguk sampai habis
" semoga dengan perantara sirup ini ilham bisa kembali seperti semula dan mendapat semua kesehatannya kembali"
Namun sudah pasti meskipun dalam sudah meneguk sendok sirup itu tak mungkin ia akan sembuh dengan cepat dan benar saja ilham masih berengsek karena masa sakit yang iya derita
"Ah cup cup cup cup sabar ya nak nanti pasti panas kamu akan turun dan kamu bisa bermain lagi bersama mainan kamu"
__ADS_1
Aku menenangkan ilham dengan cara demikian dan menggendong nya dalam ikatan kain panjang yang tersimpan di belakang tubuhku aku merasa iba pada ilham saat karena saat ini iya sedang mengalami sakit yang teramat namun ayahnya tetap saja bodo amat
Andai waktu bisa diputar aku tak mau memaksakan kehendak ku untuk bersama dirinya hingga pernah bertengkar hebat dengan ayah yang menjadikan aku ratu di hatinya.
Rasa sakit punggung ku karena datang bulan kembali menjalar sakit ini semakin menyiksaku ditambah dengan beban badan ilham yang ku tanggung di bahuku
Ilham yang mungkin sudah merasa agak tenang matanya kini kembali tertutup dengan mulut yang masih menempel tepat di sumber asi
" istirahat ya nak, supaya tubuhmu semakin cepat pulih "
" ya allah sembuhkanlah anak semata wayangku ini jika memang aku harus menukarkan dengan kesehatan diriku aku ikhlas ya allah"
Adzan subuh telah berkumandang aku yang emang menantikan kedatangan mas irfan kembali ke ruang tamu untuk menunggunya pulang sekaligus dian merupakan tubuhku meskipun dalam posisi duduk untuk menyembuhkan sedikit rasa sakit di pinggangku
Dan benar setelah adzan berkumandang mobil mas irfan terdengar memarkirkan di depan rumah beberapa menit setelah suara mobil itu berhenti gini telah berganti pada suara langkah kaki yang menuju pintu utama
" win bukain pintu win ayo cepetan aku ngantuk banget nih pengen tidur "
Kulangkahkan kedua kaki ini menuju pintu yang sudah digedor gedor oleh mas irfan
* pintu terbuka*
" mas ini ilham masih tetap panas mas, boleh ga aku minta anter ke rumah sakit, sebentar aja aku pake uang dari tabungan yang mas pegang ya? Aku mohon mas aku sangat cemas hingga saat ini"
" aghh lewat sana aku mau tidur dulu nanti bangunkan aku tepat jam 6 pagi"
Jawab mas irfan yang membuat hatiku kembali sendu
" ya udah kalau memang kamu tidak mau mengantarkan aku dan juga anakku yang sedang sakit ini aku akan minta tolong pada ayah saja aku tidak butuh bantuanmu mas karena kamu memang tidak bisa diandalkan kapanpun dibutuhkan kamu hanya bisa memarahi aku dan juga menghabiskan uang ku bahkan kamu juga merenggut hidupku yang dulunya kamu janjikan hidupku akan jauh lebih indah dari dulu nyatanya tidak mas kamu menjadikan hidupku sengsara seperti hidup dalam neraka yang kamu sengaja buat untuk kebahagiaanmu semata-mata"
Kali ini aku memberanikan diri untuk menjawab dengan suara lantang kena hatiku sudah lelah mengalah ini adalah waktuku melawan dengan sikap mas irfan yang sudah sangat semena mena tak mempedulikan diriku atau ilham darah dagingnya sendiri
__ADS_1