
" wei cewe aneh! Ngapain disitu"
" astaga ketahuan lagi duh gimana yaaa....?"
Aku bingung mencari jawaban dari pertanyaan wahyu, yang sepertinya menangkap basah diriku yang sedang memandangi dirinya
" aaaa ini lagi cari angin seger aja sambil liat pepohonan aja"
" yang bener? Kayanya kamu liatin aku deh tadi"
" ih apaan si yu gabakal aku liatin kamu! Aku aja gaminat sama kamu"
Jawabku ketus dan kembali menuju kasur yang penuh dengan keempukan yang sempurna
* tok tok tok*
Pintu kamar sudah diketuk pasti wahyu membuat ulah lagi
" selamat sore nyaa, saya kesini mau mengantarkan surat"
" hah surat dari siapa ya mbak?"
" gatau juga nyaa..."
" pengadilan agama?"
Aku sudah menerka ini pasti surat perpisahan yang diajukan oleh mas irfan, tapi kenapa hatiku merasa sangat sakit apakah aku masih mencintai mas irfan tapi kenapa kenapa aku masih mencintainya padahal dia sudah mengatakan yang sebenar-benarnya tentang perasaan dan tujuan pernikahan kami
Akunya masih berada di ambang pintu merasa kedua kaki ini tidak bisa menahan berat badan ini, lemas rasanya saat melihat namaku dan nama mas irfan berada disana, tapi apalah dayaku aku tidak bisa untuk menghindari kejadian ini
" win kamu kenapa nangis?"
Wahyu yang tadi masih kupandangi berada di kolam renang ternyata sudah berada di depan mataku. Mataku yang kini sudah tergenang air dan akan segera membasahi kedua pipiku, aku menyodorkan sebuah surat yang baru saja kuterima di tanganku.
" ini yu?"
Suara ini sudah mulai tak terdengar jelas karna tidak bisa menahan tangis, kini tangisku pecah sekali lagi walaupun setelah diri ini berjanji pada diri sendiri
Perlahan wahyu mulai membaca satu persatu kata yang berada dalam lembaran surat itu, hingga ia mengerti apa isi dari surat itu
" win bolehkah aku bertanya padamu?"
Apa yang ingin wahyu tanyakan, apakah ia akan menanyakanku untuk rujuk atau benar-benar resmi bercerai?
" aku tidak ingin membiarkan apapun untuk sekarang yu, aku ingin istirahat untuk tidur"
" tidak boleh!"
" apanya tidak boleh?"
" iya kamu tidak boleh tidur, bukankah waktu maghrib sudah hampir tiba"
" iya tapi aku sedang datang bulan dan juga aku tidak kuat menahan kantuk"
" baiklah jika memang Kamu ingin tidur tapi, kamu harus memastikan bahwa kamu benar-benar tertidur bukan untuk menangis kalau sampai kamu menangis aku tidak akan mau memaafkanmu"
Ntah apa yang wahyu fikirkan, apa mungkin ia sampai begini tak mau membuatku menangis
__ADS_1
" kenapa kamu mengatur diriku?
" karna kamu bawahanku dan kamu harus menurutiku!"
" ta tapi tidak bisa dong kamu hanya bos di kantor bukan dirumah"
" kamu benar di kantor aku adalah bosmu tadi di dalam rumah aku adalah kakakmu"
Aku lupa bahwa pak hadi sudah menganggap diriku anaknya, dan sekarang anaknya ingin menjadikanku saudaranya
" oke jadi aku harus mengikuti semua permintaan mu?"
" syukurlah jika kamu sudah mengerti"
" iya iya abang! Sudahlah aku ingin masuk dulu ke kamar "
" lebih baik kamu pergi ke kamar ayah agar kamu tidak merasa ngantuk lagi dan ayah akan senang karna kamu berada disana
" baiklah jika itu maumu! Akan kuturuti"
Sebenarnya benar juga yang dikatakan wahyu aku tak mungkin tidur di waktu yang kurang tepat, lebih baik aku pergi ke kamar ayah untuk berbincang bincang dengannya
Sedikit lelah karna harus menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke kamar ayah.
Saat gagang pintu telah kuayunkan kearah bawah untuk membuka pintu yang terkunci ada pemandangan yang tertangkap di kedua lensa mataku, yang sontak membuatku berteriak
" ayahhhh..."
Kudapati tubuh ayah terkapar di lantai dengan posisi terbaring, mulutnya ingin memanggil manggil tapi sial! Tidak ada satupun pengurus pribadi ayah di kamar ini
Aku berteriak sekencang kencangnya
Mengapa ayah bisa seperti ini bukankah tadi ayah baik baik saja dan kenapa ruangan ini kosong! Dasar pembantu pembantu dirumah ini tidak bisa bertanggung jawab dengan baik
" yu ayah yuu! Aku tidak tau kenapa ayah bisa sampai seperti ini"
Aku memanggil wahyu yang masih shock melihat ayah dari ambang pintu.
Iapun lekas lekas membaringkan tubuh ayah keatas ranjang dan berlari keluar memanggil manggil suster yang merawat ayah
Tak lama kemudian seorang wanita dengan seragam pink layaknya perawat memasuki kamar, ia lekas lekas memasangkan selang oksigen pada ayah karna pernafasan ayah terlihat tidak stabil menurut pandanganku
Saluran pernafasan ayah semakin membaik, kini nafasnya tak terlalu terlihat terengah engah seperti kekurangan oksigen
" alhamdulillah ya allah ayah sudah membaik"
" ikut aku..."
Pekik wahyu menyeret tanganku ke luar kamar
" ada apa yu?"
" apa yang kau lihat ketika kamu sampai di kamar ayah"
" aku tidak tau yu, saat aku sampai mataku langsung menangkap tubuh ayah terbaring di lantai! Memangnya ada apa?"
" ini aneh win sebelumnya ayah tidak memiliki riwayat sesak nafas, ia hanya lumpuh karna tabrakan sehari sebelum kamu menikah, makanya ayah tidak hadir saat kamu melangsungkan akad nikah dengan pria itu"
__ADS_1
" hah apa? Gimana kronologinya?"
" aku juga gatau pasti, ayah saja enggan memberi tauku tentang kecelakaan itu. Dan bahkan ayah akan mengalihkan pembicaraan kami dengan topik lain"
" kenapa kamu tidak mencari kamera cctv di sekitar area kecelakaan?"
" aku sudah mencarinya tapi lokasi itu tidak ada satupun cctv di salah satu rumah disana"
" kamu...."
Tanpa menyelesaikan perkataanku sesuatu mengganggu pembicaraan kami
* ponsel wahyu berdering*
" tunggu win aku ada telepon penting dari kantor"
" iya yu gapapa"3
Wahyu meninggalkan diriku sendirian, dan berlalu pergi menjauhi tubuhku
Aku yang masih memikirkan perkataan wahyu tadi perlahan mulai kembali memasuki kamar ayah, kudapati wajahnya yang sudah nampak tak pucat seperti tadi serta mata yang sudah menutup karna tertidur lelap.
" gimana keadaan ayah mbak?"
" sepertinya ayah mbak tadi kesulitan bernafas"
" kobisa mbak?"
" mungkin karna ruangan ini tadinya tertutup"
Hah tertutup? Bukankah semua jendela ini terbuka sebelum aku pergi ke kamar? Tapi kenapa sekarang tertutup? Tidak masuk akal jika ayah kesulitan bernafas karna ruangan ini tertutup, ini janggal!
" maaf mbak saya permisi dulu, jika terjadi apa apa mba bisa memanggil saya di kamar sebelah"
" oh iya mbak"
Perawat tersebut juga ikut pergi dari ruangan ini, kini hanya tersisa aku dan ayah saja.
Aku mulai mendekati tubuh ayah yang sedang terbaring di lemah
" ayah, ayah tidak apa-apa kan?ayah baik-baik saja kan? pasti ayah akan segera sembuh karena windi tahu ayah sosok pengganti ayah kandung windi yang sangat hebat! sama seperti ayah windi"
" iya ayah sudah merasa baikan"
" ayah, ayah sudah sadar? kenapa bisa jadi seperti ini ayah apa yang membuat ayah sampai kesulitan bernafas"
" tidak apa-apa win, mungkin karena umur ayah sudah tak lagi muda"
Tak terasa air mata ini berlinang tapi tak ku biarkan air mata ini jatuh di hadapan ayah aku tidak ingin ayah ikut bersedih karena aku melihat aku menangis.
" dimana wahyu win?"
" dia sedang mengangkat telepon penting ayah, katanya dari kantor"
" dia selalu saja sibuk dengan urusan perusahaan semenjak ayahmu memberinya tanggung jawab, ayah bukan ingin membanggakan wahyu win. Tapi ayah hanya berharap kelak kamu akan menemukan laki laki seperti wahyu"
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan ayah karna nyatanya aku teringat tentang selembar kertas dari pengadilan agama.
__ADS_1