
innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Ayah juga ikut sedih Win tapi kamu tidak boleh putus asa apalagi sampai mengatakan ingin ikut pergi bersama dengan Ilham. sudah Win Ilham sudah mendapatkan kesembuhan yang abadi dan dia sudah mendapatkan tempat yang lebih indah dari dunia ini, jadi kamu harus bersabar sekarang menerima kenyataan ini meskipun kamu merasa tidak kuat tapi percayalah kamu pasti kuat dan kamu mampu melewati semua ini"
Ayah mengelus elus bagian rambut yang tumbuh di atas kepalaku, ayah menenangkanku hingga aku merasa aku memang harus menerima semua kenyataan pahit ini.
" ya, ayah benar, harusnya aku tidak boleh bersedih karena Ilham sekarang sudah tidak merasakan sakit lagi dan dia sudah bahagia berada di atas sana. dia tidak akan lagi menderita karena lukanya di masa kecil Selamat jalan Ilham anakku.."
" kamu harus tabah win ayo kita menyegerakan memandikan ilham"
Aku yang sudah mulai menerima keadaan ini kemudian beranjak untuk memandikan ilham yang sudah tak lagi berada di dekatku
Tata cara memandikan jenazah sudah terlewati satu persatu, setiap detiknya air mata ini terus saja mengalir tapi aku harus mencoba untuk menahan nya,
Hingga akhirnya ilham yang biasanya memakai pakaian yang berwarna sini harus memakai selembar kain berwarna putih yaitu kain kafan.
Waktu untuk menyolatkan ilham sudah tiba, aku mencari ayah yang belum kutemukan dari tadi semenjak berada di rumah ayah.
" pak lihat ayah saya nggak? soalnya saya cari-cari tidak ketemu sedari tadi dan bahkan ayah saya tidak ada di saat memandikan tubuh ilham untuk terakhir kalinya"
" anu non kayaknya tadi saya melihat ayah non pergi ke lantai atas"
Jawab salah satu supir pribadi ayah
" oh begitu ya pak makasih yah"
" iya sama sama non"
Percakapan antara aku dan salah satu sopir pribadi ayah akhirnya berakhir aku yang sudah mendapat petunjuk di mana keberadaan ayah segera menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua
" ayah, ayah ada di mana kita harus memandikan ilham ayah"
__ADS_1
Aku tetap mencari-cari ayah di seluruh ruangan di lantai dua tapi tak ku dapati suara ayah menyahut suara panggilan yang kubuat, hingga akhirnya kali ini hanya tersisa kamar yang dulu ku tempati sebelum menikah dengan mas irfan yang belumku periksa
" ayah"
Aku berusaha untuk mengetuk pintu kamarku dari luar tapi tidak ada jawaban dari ayah jadi aku memutuskan untuk membuka saja pintu yang sepertinya tidak terkunci ini.
Aku mendorong pintu ini hingga terbuka dengan sangat lebar sampai pandanganku menyapu bersih seluruh area kamar yang jarang sekali aku datangi karena tidak diperkenankan oleh mas irfan, kecuali saat hari idul fitri saja
Begitu terkejut nya aku melihat ayah yang sudah terlentang di bagian lantai dengan tangan kiri yang berada di atas dadanya, aku berlari menghampiri ayah
" ayah apa yang terjadi pada ayah kenapa ayah bisa seperti ini?"
Begitu tanyaku dalam panik
" tolong tolong tolong tolong tolong ayah pak bik.."
" sudah win jangan memanggil siapapun karena waktu ayah tidak banyak ayah sudah tahu semuanya maafkan ayah karena harus meninggalkanmu sendirian ketika kamu mendapat masalah yang bertubi-tubi maafkan ayah win ayah sudah salah mempercayai irfan, ayah sudah tahu semua perilaku buruknya ayah hanya berpesan untuk kamu, kamu tidak boleh menyerah dalam hidup kamu harus bisa bangkit dan kamu harus bisa membalas kan semua yang sudah irfan rampas kamu"
" ayah windi mohon jangan tinggalin windi sendirian ilham sudah meninggalkan windi ayah ayah pasti akan sembuh aku akan panggilkan supir ayah untuk membawa ayah ke rumah sakit"
" sudah cukup, ayah sudah tidak kuat lagi biarkan ayah pergi dengan melihatmu tersenyum tersenyumlah win baru ayah akan bisa beristirahat dengan tenang"
Pinta ayah dengan suara yang terbata bata
" ayah aku pasti merasa sangat sedih tapi juga itu permintaan ayah aku pasti akan mengabulkan nya lihatlah ayah di diriku sudah mengukir senyuman yang paling indah hanya untuk ayah, dan windi berjanji akan menjadi wanita yang hebat seperti yang ayah inginkan itu janji windi pada ayah dan pasti akan dengan ditepati"
Ayah yang sudah mendengar perkataan sekaligus melihat senyuman ayah itu tersenyum, tapi perlahan senyuman itu mulai terasa berbeda sejak mata ayah mulai menutup secara perlahan dengan sempurna
" ayahhhh..."
__ADS_1
Ucapku dengan meneteskan air mata kesedihan yang sudah bertumpuk. beberapa orang yang sempat ku panggil tadi akhirnya mereka sudah sampai di ujung pintu aku meminta tolong kepada mereka untuk membantu mengangkat tubuh ayah untuk memandikan nya hati ini merasa sangat hancur bagaimana tidak ketika semua orang yang kucintai akhirnya pergi dalam kehidupan diriku, mas irfan yang ternyata berpura-pura mencintaiku kini telah membuang ku begitu saja setelah mendapatkan apa tujuannya, ilham satu-satunya buah hatiku yang sangat kucintai pagi tadi juga sudah pergi meninggalkan dunia yang sepertinya hanya memberinya rasa sakit yang membara, dan ayah orang satu-satunya yang mencintaiku dengan tulus dan tanpa pamrih dia juga ikut pergi bersama ilham dan itu semua karena mas irfan kali ini aku benar-benar tidak akan memaafkan dia! serta rasa cinta yang dulunya pernah ada akan sirna dengan kebencian yang sudah dia tanamkan sendiri di dalam hatiku
" ayah maafkan windi yang dulunya tidak percaya bahwa irfan bukan lelaki yang bertanggung jawab dan kali ini windi akan mengikuti perkataan ayah windi akan membalas semua perbuatan mas irfan kepada ilham ayah maupun windi sendiri"
Suasana langit yang tampak terang tanpa adanya tanda akan turun hujan menemani beberapa orang yang masih menangis sendu di atas tanah pemakaman, dua buah galian tanah makam baru yang baru saja digali telah selesai, kini waktunya mengebumikan kedua orang yang sangat ku cintai.
Cangkulan demi cangkulan yang berisi tanah mulai menutupi kedua tubuh yang sudah terbaring di kedalaman tanah
Beberapa orang terdekat ayah yang ikut melayat juga terdengar mengeluarkan isak tangis yang mendalam
sebuah tangan terasa hinggap di bahu kiriku yang kemudian terdengar seseorang menyebut namaku dengan suara pelan
" win kamu yang sabar ya.."
Suara itu mengingatkanku pada seseorang yang pernah dekat dimasa lalu.
" wahyu? Ini kamu? Wahyu aku..."
Wahyu langsung menutup mulutku yang masih ingin berbicara
" sudah win kita bicara nanti, sekarang kita harus melakukan doa untuk mengakhiri acara pemakaman ayah dan juga putra semata wayangmu"
Wahyu adalah anak dari sekertaris ayah yang dulunya bekerja pada ayah tapi semenjak mas irfan menggantikan posisinya aku sudah tidak pernah bertemu dengannya atau hanya sekedar mendapat kabarnya
" iya yuu..."
Aku kembali memalingkan wajahku untuk menatap kedua gundukan tanah yang masih basah ini, kusimpuhkan kedua lututku di antara dua gundukan itu dan mengangkat tangan untuk mendoakan mereka berdua. Beberapa orang yang hadir dalam acara pemakaman sudah mulai berpamitan padaku, hanya wahyu seseorang yang masih setia bersamaku saat ini.
" wahyuu..."
__ADS_1