
" apa kau tidak tau yu? Kalau sebenarnya windi sudah tau rencanamu jauh sebelum kamu melakukan itu, saat Kamu menarik windi ke kamarmu saat itu juga windi mengetahui bahwa ada orang lain selain kalian. Dan windi mulai menguping pembicaraan kalian, ayah hanya berpura pura terkena asma saat kamu menceritakan niat burukmu karna sebenarnya ayah sudah tau semuanya dan saat kamu tidak sudi memandikan jasat ayahmu sendiri disitulah orang orang ayah menggantikan ayah dengan jasat lainnya"
Wahyu langsung ikut menghempaskan tubuhnya bersujud pada ayah
" ayah wahyu minta maaf, wahyu khilaf karna harta ayah"
Tapi ayah tidak mempedulikan wahyu lagi bahkan saat dirinya dibawa pergi oleh aparat kepolisian
" ayah, windi minta maaf karna memisahkan ayah dari anak ayah"
Ayah mengelus kepalaku
" nak, tak apa semoga dengan hukuman yang dijatuhkan wahyu bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya"
Aku tersenyum dan memeluk erat tubuh ayah dengan penuh kehangatan
" pergilah win, ayah akan menjaga semua yang kamu titipkan pada ayah"
" apa yang ayah katakan ini semua juga milik ayah, ayah windi pamit dulu"
Aku beranjak pergi dari hadapan ayah hingga sampai di tempat parkir tapi salah satu karyawan menghalangiku.
" bu ini ada berkas yang harus ditanda tangani.."
Seseorang yang sudah mendapat jabatan sekertaris itu menghampiriku
" kenapa tidak ke ayah saja mbak?"
" katanya ada hal penting yang harus mbak tanda tangani sendiri "
Hal penting apa? Sampai ayah memintanya seperti ini
" irfan? Nama perusahaan inikan...."
Dasar asw dia belum tau saja jika dia akan berhadapan dengan orang yang dulu pernah ia hancurkan sehancur hancurnya
" mbak tolong carikan seseorang yang penampilannya lumayan dan juga memiliki tehnik marketing yang menarik dan jangan lupa kirimkan datanya pada saya"
" baik mbak"
Aku menarik pintu mobil untuk pergi
Pepohonan pepohonan menjulang tinggi menyegarkan mata diperjalanan, kudapati sebuah foto kedua orang yang kusayangi dengan rasa teramat rindu
" ilham..ayah..., tunggu windi membalas apa yang harus windi tuntaskan. Kali ini giliran irfan yang akan menerima akibat dari semua permainannya"
*notif pesan
" bagus yang ini cocok sekali"
Gumamku dengan penuh rasa puas menyelimuti diri
" langsung saja berikan kontaknya padaku"
Pintaku pada orang yang tepat tadi memintaku untuk menandatangani berkas
*panggilan keluar
" gimana? Kamu bisa kerja disini? Kalau mau kita akan atur gaji yang pantas kamu berikan"
__ADS_1
" saya terima tawaran dari ibu"
* telepon terputus
Tiga setengah tahun berlalu, semua berjalan tanpa masalah yang rumit, perusahaan sudah berkembang dengan pesat dan bahkan aku sudah menyelesaikan pendidikanku di jurusan tata busana
" halo win, kapan sampai?"
Suara ayah menjadi penyemangatku yang masih baru saja bangun dari tidurku
" sebentar lagi ayah"
" loh kamu bangun tidur?"
" iya yah perjalanan ini melelahkan sekali"
Terangku pada ayah dengan memperbaiki posisi duduk di kursi belakang mobil
" kamu masih lama nyampenya? Ayah ada dicafe kamu nih ada rapat sebentar lagi. Kalo bisa langsung kesini aja"
" iya yah mungkin 15 menit lagi windi nyampe"
Perjalanan melelahkan, tak hanya tentang bagaimana seberapa jauh jarak yang ditempuh tapi bagaimana tingkat kesulitan dalam menghadapi banyaknya bebatuan atau bahkan lubang lubang besar dijalanan
" bu semua sudah beres sesuai dengan perjanjian kita"
Fira, wanita yang kuandalkan semenjak aku berada diluar kota karna harus menempuhi pendidikan
" akhirnya satu satunya hal yang harus kuselesaikan akan segera berakhir"
*cafe
" ayahhhhh...."
" ayah kangen banget tau"
" iya windi juga kangen ayah kok"
Ayah mengelus elus kepalaku
" haloo semua..."
Sapaku pada beberapa karyawan yang sudah siap untuk menjalankan rapat
" ayo win kamu harus ikut rapat ini"
* ponsel berdering
" sebentar ya ayah"
Pintaku pada ayah dan mencoba menjauhinya untuk mengangkat telvon
" bu semuanya sudah beres, ibu bisa pergi ke alamat ini"
Langsung cepat cepat kuakhiri panggilan ini
" ayo win.."
Ajak ayah sekali lagi
__ADS_1
" mmmm maaf ayah, saat ini windi masih ada urusan yang harus diselesaikan"
" baiklah win"
Aku tau ayah kecewa, baru saja aku menemuinya setelah berapa lama kita berpisah tapi nyatanya aku harus menyelesaikan masalah ini saat ini juga
Kulangkahkan kaki ini perlahan lahan, sayup sayup aku mendengar suara suara yang mulai terlihat jelas. Terutama suara yang berasal dari pita suara orang yang saat ini benar-benar aku membenci dirinya
" selamat pagi bu, ini berkas yang harus ibu tanda tangani"
Fira menyodorkan kertas dan mulai kulukis tanda tangan itu di atas kertas
" win..?"
Sebuah suara menyadarkanku tentang sesuatu
" ja-jadi kamu yang membeli perusahaan ini?"
" iya fan, lebih tepatnya merebut kembali apa yang sebenarnya milikku"
Selama tiga setengah tahun aku menyuruh fira memata matai perusahaan irfan dan menjebaknya dengan memiliki hutang banyak sehingga ia mau tidak mau harus melepaskan perusahaan yang selama ini menjadikannya keras kepala
" win kamu kemana aja? Selama ini aku mencari kamu. Aku ingin minta maaf dan aku ingin kita rujuk"
" oh aku sedang kuliah dan masalah minta maaf aku sudah memaafkannya"
" dan masalah rujuk?"
Irfan mengernyitkan dahinya kepadaku
" kamu siapa? Aku tidak ingin lagi mengenalmu! Dan bahkan jika aku masih diberi umur panjang semoga saja keturunannku tidak akan bertemu dengan dirimu!"
" cepat keluar!"
Aku memerintahkan ia keluar dari ruangan yang dulunya adalah milik ayah yang sengaja irfan rebut
" win dengarkan dulu"
" maaf fan aku tau kamu juga penyebab ayahku stroke! Ia menghubungimu karna kematian ilham tapi kamu malah mencaci makinya, aku punya bukti rekamannya diponsel ayah. Sebelum aku memutuskan untuk mendekammu di penjara lebih baik segera urus pengalihan tanda milik rumah ayahku! Sebelum kamu menjadi seorang tersangka"
Irfan diam seribu bahasa dengan menatap diriku
" denger ga!!!"
Bentakku sekali lagi pada irfan
" denger win, aku minta maaf dan aku masih sangat cinta pada kamu"
" OMONG KOSONG! Jika pun ia kamu mencintai diriku maka JANGAN CINTAI AKU LAGI, karna kesalahan terbesarku adalah jatuh cinta padamu"
" win..."
Sekali lagi irfan mencoba untuk bicara
" aghhh satpamm bawa dia!"
Dua petugas keamanan segera muncul dari pintu dan mulai menyeret irfan yang masih berusaha minta maaf
Tapi kali ini sudah cukup, aku tidak akan tertipu lagi atau bahkan memberinya sebuah kesempatan
__ADS_1
Setelah aset perusahaan dan juga rumah sudah kembali menjadi milikku, perusahaan ini aku serahkan pada fira sebagai wakil perusahaan. Karna nyatanya jerih payahnya sudah cukup besar sementara aku, aku merintis butik dan suatu hari akan melejitkan namaku ke atas langit agar ayah tau, putrinya sudah bisa sukses diatas kakinya sendiri
-jangan cintai aku lagi