Jangan Cintai Aku Lagi

Jangan Cintai Aku Lagi
pak hadi?


__ADS_3

" baiklah aku akan mencuci mukaku dulu dan kamu boleh turun duluan, nanti aku akan segera menyusulmu"


Setelah wahyu menutup pintu untuk meninggalkan diriku sendiri, akupun langsung bergegas ke kamar mandi dan cepat menyelesaikan apa yang sedang kukerjakan dan segera menuju ruang makan yang pastinya sudah ada yang menungguku.


" akhirnya putri ayah udah sampai"


Aku membalas perkataan ayah dengan senyuman yang sangat sempurna,


" ayah udah sembuh?"


" sudah pasti ayah akan sembuh jika anak ayah yang merawatnya"


Aku semakin betah saja berada didalam keluarga ini


" ayah mau windi suapi?"


" tidak win jangan lebih baik kamu habiskan makananmu saja. Ayah bisa makan sendiri"


Beberapa menit berlalu dengan menyantap makanan tapi disela sela menikmati makanan ayah kembali membicarakan sesuatu


" kamu siap jadi sekertarisnya wahyu?"


" mm sebenarnya windi.."


" apa win?"


Tanya ayah padaku


" windi mau ayah tapi windi ingin menyelesaikan masa iddah windi dulu"


" tapi bagaimana ya win, ayah ingin kamu segera menguasai semua tentang perusahaan win supaya kamu akan lekas menjadi pemilik perusahaan tersebut"


Aku memilih diam sejenak, untuk memikirkan kembali pertimbangan yang ayah berikan padaku


* suara piring pecah*


" apa yang terjadi yu?"


Mataku tertuju pada wahyu yang sedang mengambil pecahan piring yang ia tak sengaja senggol


" udah yu biarin aku aja yang ngambil pecahannya"


Aku langsung bergegas menghampiri tempat dimana piring itu berhamburan dan juga menyingkirkan tubuh wahyu yang masih berada di dekatnya untuk kembali melanjutkan makanannya


Aku melanjutkan mengambil satu persatu pecahan piring ini, tak ada ART yang terlihat berada di sekitar ruang makan.


" awwhhh"


Sebuah pecahan beling yang sangat kecil yang tak bisa tertangkap jelas oleh penglihatan tak sengaja kuinjak saat hendak mengambil sapu dan serok


" ada apa win?"


" gapapa ayah, cuma luka sedikit aja, akan windi obati sekarang juga"


Aku langsung menuju kotak P3K berada dan mengoleskan obat dan memberinya hansaplanst kepada secuil luka yang membuat perih.

__ADS_1


Langsung aku segera menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringku tadi.


" kenapa kamu senyum senyum sendiri yu?"


Suara ayah membuat mataku tertuju pada wahyu yang sedang ditanyai oleh ayah


" gapapa yah cuma mau senyum aja"


" ayah liat kamu senyum pas kamu liatin windi kok!"


" apaan si yah, gagitu kok! Lebih baik ayah segera menghabiskan makanan ayah dan kita bisa membawa ayah berkeliling sebentar"


" jadi gimana keputusan kamu win?"


" iya ayah windi akan tetap menunggu 3 bulan lagi"


" baiklah jika itu keinginanmu, ayah tidak bisa apa apa lagi. Ayah hanya tidak akan memaksakan kehendak ayah kepadamu"


" nah gitu dong yah, ayah harus mengerti maksud dari windi"


" iya yuu ayah akan menerima keputusan windi, lagipun waktu 3 bulan bukan hal yang lama jadi sekalipun sekarang kamu tidak bisa pergi ke kantor kamu harus tetap mempelajari materi materi ini dirumah"


Hari hari terasa membosankan berada didalam rumah bak istana ini tapi bagaimanapun aku harus berdiam diri didalam rumah saja, karna itu memang sudah aturannya


*empat bulan berlalu*


Ayah yang sudah pulih dan bisa kesana kemari dengan kursi rodanya membuatku semakin senang, kali ini ayah membuat janji untuk bertemu denganku di dalam kamarnya


" duduklah dulu win, ayah sudah melihat perkembanganmu dan sepertinya ayah yakin kamu sudah pantas diangkat menjadi pemilik perusahaan kamu siap?"


" itu bisa kamu pertimbangkan bersama wahyu win, tapi sekarang ayah punya pertanyaan"


" apa ayah?"


" apa kamu sudah benar-benar melupakan mantan suami kamu itu?"


Ya tentu saja belum sepenuhnya ayah, dia adalah cinta pertamaku sekaligus juga luka terhebatku, dan sekaligus dia juga merenggut semua dunia yang kumiliki termasuk harta ayah yang biasanya jatuh ketanganku, bukan ke tangan irfan!


Aku tak ingin membabi buta tentang harta tapi aku hanya ingin jika harta peninggalan ayah jatuh ke tangan yang tepat


" tentu saja ayah aku sudah benar-benar melupakan dia, dan bahkan aku sudah lupa dengan bagaimana wajahnya"


Kali ini aku berbohong untuk menutupi rasa hati yang masih gundah


"Besok akan ada orang yang mengurus semua harta benda peninggalan ayahmu win, dia akan memberi semua aset yang memang harus diserahkan setelah masa iddahmu selesai"


" be- besok?"


" iya win"


Percakapan kami terasa begitu singkat dan aku mulai merasakan perasaan yang aneh kenapa aku tidak siap untuk menerimanya, apa aku tidak pantas dan mungkin akan menyia nyiakan yang ada?


" cctv? Semenjak kapan cctv ini dipasang dikamar ayah? Ko aku baru liat ya?"


" ayah ini..."

__ADS_1


Aku ingin menanyakan kapan kamera pengintai ini dipasang


tapi sepertinya tak mungkin karna ayah baru saja tertidur


Aku meninggalkan kamar ayah dengan tetap mengganjal perasaan yang tak tentu hingga sebuah tangan menarikku kedalam kamar yang biasanya wahyu tinggali


" ada apa yu? Kenapa kamu sampai menarikku kesini?"


" aku mencintaimu win! Jadilah pasangan hidupku"


" hah kamu gila ya yu? Aku aja baru beberapa bulan lalu berpisah"


" lalu apakah itu akan mengganggu kita?"


Langkah wahyu semakin membuatku tersudut hingga tubuh ini tak lagi berkutik


" kamu maukan menikah denganku? Kamu harus mau win karna aku sudah menunggumu sangat lama"


" a aku butuh waktu yu aku permisi"


Aku menepis jauh tubuh wahyu dan berlari menuju kamar mandi untuk membasahi diri


Kucuran air mulai membasahi tubuh yang merasa jijik dengan diri ini kenapa bisa aku secepat ini merasa jatuh cinta pada wahyu, apakah wahyu memang benar-benar pilihan yang tepat bagiku?


Aku tak mau salah pilih lagi aku harus membuat satu langkah besar untuk membuktikan keseriusan dari wahyu


Keesokan hari tiba


Kini seluruh aset perusahaan dan juga beberapa harta lain yang ayah serahkan padaku sudah berada di tanganku, wahyu yang kini sudah tidak lagi menjadi pemilik sementara perusahaan tampak berada disisiku dan menandatangani surat yang harus ia selesaikan, dan ayah ia tersenyum lebar saat melihat diriku.


" pak saatnya minum obat"


Satu satunya suster yang merawat ayah sampai saat ini memanggil ayah untuk segera meneguk pil yang harus ayah minum


" ayo ayah biar wahyu yang membawa ayah ke kamar"


" aku ikut ya yu"


" jangan win lebih baik kamu menyelesaikan apa yang harus kamu selesaikan"


Proses pengalihan harta warisan ayah berjalan cukup lama


" win, saya harap kamu menjaganya dengan baik. Karna ayahmu sudah kehilangan banyak harta gara gara dipaksa untuk menandatangani surat warisan untuk irfan"


" jadi bapak tau kalau mas irfan sudah bertindak curang?"


" tentu saja win makanya saya hanya berpesan karna ini adalah peninggalan terahir dari ayahmu untukmu, dan soal perusahaan kamu harus bisa mengurusnya sendiri, dan kamu harus berhati hati dengan wahyu. Selama ini dia hanya menjadi pemilik sementara perusahaan tapi yang sebenarnya merintis ialah ayahmu dan sementara wahyu ia kurang tau tentang perusahaan, itu terbukti dari menurunnya penghasilan"


Perkataan darinya membuatku bingung saja apa iya wahyu belum sepenuhnya tau untuk menjalankan perusahaan, tapi aku tidak akan suudzon dulu aku akan membuktikannya dengan tetap memberinya posisi yang sama


Setelah semuanya selesai aku langsung menuju ke kamar ayah, tapi kali ini aku benar-benar dibuat terkejut kenapa wahyu menangis?


" yu ayah kenapa?"


" ayah udah gaada win"

__ADS_1


__ADS_2