
Aku menggerutu sendirian di dalam kamar, sambil memegangi perut dengan kedua lutut juga ikut menekannya
" aghhh sakit sekaliii perutku, ini juga punggung kenapa satu satu aja sakitnya datengnya gantian"
" aaaaaa sakit"
Aku mengomel ngomel sendirian di dalam kamar karna rasa sakit yang menjalar
Aku yang masih belum mengecek notif siapa yang berada di beranda ponselku karna sakit yang menggerutu malah diganggu oleh gangguan kedua
" win buka pintu win"
" aghhh anak ini kenapa tidak membiarkanku untuk beristirahat, perutku sakit...."
" apa yuu udah nanti malem aja sekarang aku sibuk"
" gausa sok sibuk ayo keluar cepat "
Dengan perasaan terpaksa aku harus membuka pintu
" ada apa sih yu kan aku udah bilang aku sekarang lagi sibuk aku mau istirahat dulu mengapa kamu malah selalu gangguin aku"
Aku menahan rasa sakit di perutku dengan tetap memegangi perut yang sangat sakit
" mm gada apa apa sih cuma mau ngajakin kamu minum teh selagi menikmati cahaya matahari yang sudah mulai menghilang"
" hah itu aja? Udah deh yu jangan ganggu aku kali ini aja please..."
Aku menutup pintu tanpa mendengarnya jawaban dari wahyu *sementara wahyu*
" windi kenapa ya kok kayanya lagi ada yang gaberes tadi aja tangannya selalu melingkar di perutnya apa dia sakit perut ya? "
Dengan sigap aku pergi ke lantai bawah untuk menemui salah seorang pelayan yang sudah merawatku dari kecil bahkan sebelum kami pindah ke rumah ini untuk menanyakan kenapa sikap windi berubah
" bii biii bii sumii, bibi dimana?"
Aku memanggil manggil nama bi sumi dengan suara yang nyaring, hingga akhirnya bi sumi datang menghampiri panggilanku
" iya den ada apa? Mau makan?"
Usianya mungkin sudah menginjak kepala lima tapi ia enggan untuk meninggalkan pekerjaannya dengan alasan masih kuat
" ga bi, wahyu tidak lapar wahyu hanya ingin menanyakan sesuatu, kenapa windi berubah ya bi? seperti lebih mudah marah dan juga moodnya naik turun kaya pendaki gunung"
Bibi sumi tersenyum ketika mendengar keluhanku
" ada apa bi? Ada yang salah dari ucapanku?"
" gaada si den tapi sepertinya den sangat khawatir sama windi"
" mana ada bi aku cuman gamau dia jatuh sakit aja soalnya dia megangin perutnya terus dari tadi, Aku takut aja tiba tiba dia kenapa napa bi"
" oh sakit perut, ada sakit punggung juga?"
__ADS_1
" mmm kalo itu wahyu gatau bi, wahyu cuman lihat tangannya aja yang megangin perutnya"
" itu mungkin windi lagi datang bulan yu"
" datang bulan? Datang bulan itu apa bi?"
" datang bulan itu menstruasi yu masa itu aja nggak tahu"
" Oh gitu ya Bi Emang sampai sakit perut?"
" tentu saja Yo bahkan dia sekarang mungkin merasakan sakit di bagian belakang tubuhnya dan juga nyeri di daerah-daerah tertentu"
" jadi untuk menghilangkan semua sakit yang diderita Windy Wahyu harus apa bi?"
" lebih baik kamu pergi ke apotek untuk membeli obat pereda nyeri agar sakit yang Windy derita bisa sedikit berkurang"
" baik Bi Wahyu berangkat sekarang"
Aku langsung bergegas menuju apotik terdekat untuk membeli obat yang bi sumi katakan tadi
Sesampainya di sana aku langsung buru-buru untuk membeli agar windy tidak merasakan sakit yang lama
" mbak ada obat pereda nyeri menstruasi ya?"
" oh ada mas tunggu sebentar ya" syukurlah obat itu kalau tidak pasti windy akan merasakan sakit dengan waktu yang lama
" ini buat istri mas ya?"
" iya mbak buat istri saya, ini uangnya makasih, saya pergi dulu "
Akhirnya aku sudah mendapatkan obat untuk windy aku sejarah memacu we windy aku segera memacu kecepatan mobil dengan tinggi agar cepat sampai ke rumah2
Aku langsung bergegas ke dapur tanpa memikirkan ada beberapa pelayan di dalamnya
" tuan ada apa kemari? Biar saya yang ambilkan tuan"
Salah seorang pelayan menawariku harusnya aku meminta pelayan saja menyiapkan teh kenapa malah aku terburu buru begini, ga ga ga jangan sampai rasa yang sebenarnya udah hampir mati malah hidup lagi
" yaudah bikini segelas teh tapi jangan terlalu banyak menambahkan gula di dalamnya "
" baik tuan akan saya buatkan"
Aku yang sadar berada di dalam dapur akhirnya menunggu di ruang tamu saja bagaimana bisa aku terburu-buru hanya untuk windi aku tidak akan menumbuhkan lagi perasaan ini cukup aku menjadi kakak yang bisa menjaga adiknya saja
Selang 5 menit terlalu pelayan yang tadi menawarkan untuk membantuku akhirnya datang dengan membawa setelah yang kelihatannya masih panas
" ini tuan udah selesai"
Selangkah demi selangkah aku melewati anak tangga untuk menuju lantai dua
Aku mengetuk pintu kamar windi dengan perlahan dan meninggalkan segelas teh itu dengan obat yang sudah kubelikan tadi
" lekas sembuh win aku tak mau melihatmu menderita seperti ini"
__ADS_1
Aku pergi dari depan pintu windi agar mood windi tidak melonjak dan membuat dirinya tambah amarah
* windi*
" haduh ya gusti ya allah kenapa tidak ada seseorang yang mau mengerti dengan perutku yang sakit"
Aku melangkahkan kakiku menuju pintu dan kembali membukanya tapi tak kutemui siapapun berad dari balik pintu kamarku tapi ada sesuatu yang kulihat di bawah lantai
" siapa yang menyiapkan semua ini?"
Aku langsung membawanya kedalam kamar dan melihat apa saja yang ada di sana
" teh? Obat perada nyeri datang bulan? Dan sebuah kue coklat? Apa wahyu yang melakukannya. Tak mungkin ayah, pasti ini ulah wahyu. Tapi dimana ia tau kalau aku sedang haid?"
dengan perlahan aku meneguk segelas teh yang masih terasa hangat, mencicipi kue coklat favoritku dengan mencelupkannya ke dalam teh dan juga tak lupa meminum obat yang sudah ia sediakan
" wahyu kenapa kamu baik banget"
" makasih ya yu kamu udah perlakuin aku seperti seorang tuan putri yang kau urus dengan senang hati dan juga tanpa perhitungan. Meskipun aku tau Kamu adalah orang yang jelek, nyebelin dan suka ngejek aku
Perlahan obat yang sudah kuminum barusan mulai bereaksi perut yang tadi terasa membeku akhirnya sudah mulai terasa baik baik saja
Sepoian angin berhembus dari luar jendela kamar yang terbuka, kuhampiri jendela dengan gorden abu abu yang berterbangan tertiup angin dari dunia luar
Mataku sebenarnya ingin tertidur tapi pandanganku menyapu bersih area belakang rumah tepat didalam kolam, wahyu yang memakai celana pendek berwarna coklat susu membuat mataku terpaku tak ingin berlalu
" tubuhnya kekar, banyak otot berada di sekujur tubuhnya dannn yang paling menyita perhatianku adalah perut yang penuh dengan roti sobek, tepat seperti lelaki idamanku saat aku masih duduk di bangku menengah ke atas"
Tanpa kusadari senyumku terlukis sendiri di bibirku mata yang tadinya mengantuk malah menjadi segar bagaikan wajah diterpa air wudhu di subuh hari
" wei cewe aneh! Ngapain disitu"
" astaga ketahuan lagi duh gimana yaaa....?"
Aku bingung mencari jawaban dari pertanyaan wahyu, yang sepertinya menangkap basah diriku yang sedang memandangi dirinya
" aaaa ini lagi cari angin seger aja sambil liat pepohonan aja"
" yang bener? Kayanya kamu liatin aku deh tadi"
" ih apaan si yu gabakal aku liatin kamu! Aku aja gaminat sama kamu"
Jawabku ketus dan kembali menuju kasur yang penuh dengan keempukan yang sempurna
* tok tok tok*
Pintu kamar sudah diketuk pasti wahyu membuat ulah lagi
" selamat sore nyaa, saya kesini mau mengantarkan surat"
" hah surat dari siapa ya mbak?"
" gatau juga nyaa..."
__ADS_1