
" ayah, ayah sudah sadar? kenapa bisa jadi seperti ini ayah apa yang membuat ayah sampai kesulitan bernafas"
" tidak apa-apa win, mungkin karena umur ayah sudah tak lagi muda"
Tak terasa air mata ini berlinang tapi tak ku biarkan air mata ini jatuh di hadapan ayah aku tidak ingin ayah ikut bersedih karena aku melihat aku menangis.
" dimana wahyu win?"
" dia sedang mengangkat telepon penting ayah, katanya dari kantor"
" dia selalu saja sibuk dengan urusan perusahaan semenjak ayahmu memberinya tanggung jawab, ayah bukan ingin membanggakan wahyu win. Tapi ayah hanya berharap kelak kamu akan menemukan laki laki seperti wahyu"
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan ayah karna nyatanya aku teringat tentang selembar kertas dari pengadilan agama.
" hehe pasti ayah, aku akan terus meminta kepada yang kuasa agar menemukan sesosok lelaki yang memang benar-benar mencintai windi"
Ayah tersenyum mendengar perkataanku
" windi gasolat? Udah adzan maghrib loh"
" windi lagi datang bulan ayah, ayah windi boleh nanya ga?"
" apa win?"
" kenapa orang yang windi cintai malah ninggalin windi ya yah, kenapa ga windi aja yang gantiin mereka atau kenapa windi gaikut mereka aja ya yah"
" win dengerin ayah.."
Padahal hidung ayah masih jelas jelas memakai selang oksigen tapi dia tetap berusaha untuk menjawab pertanyaan yang tak terlalu penting bagi ayah
" kalau kamu bilang begitu lagi, ayah gaakan maafin kamu!
Tatapan ayah begitu tulus padaku tapi aku malah semakin membuat sedih ayah
" iya ayah, windi minta maaf dan gabakal windi ulangi lagi"
Ayah yang masih terlihat butuh istirahat akhirnya aku menyuruhnya untuk tidur saja dan aku yang masih ingin berada di kamar ayah memutuskan untuk tiduran di sofa panjang di dalam kamar ini
Sesaat saat mata ini terpejam, sebuah tangan mengejutkan diriku
" win bangun!"
" ada apa yu?"
" lebih baik kamu pindah ke dalam kamarmu saja"
" tidak yu aku ingin menjaga ayah disini, aku akan tetap bersama ayah"
" tidak perlu win, ada aku dan suster disini"
" baiklah aku akan pindah kedalam kamarku"
Aku yang masih dipenuhi rasa kantuk yang berlebihan mencari cari benda petunjuk waktu ternyata jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam tanpa kusadari aku ternyata tidur lumayan lama
__ADS_1
ku langkahkan kaki ini menuju kamar dan menuruni anak tangga yang seperti samar terlihat oleh mata mungkin karena efek pusing dari darah rendah ku yang kumat
Dan benar kaki kiri ini salah memijak anak tangga tapi suatu tangan menangkap tubuh belakangku yang mampu menahan tubuh ini untuk tumbang atau bahkan bisa saja terguling jatuh ke bawah
" makasih yu udah nolongin aku tepat waktu"
Wahyu tak menjawab ucapan tanda terima kasihku tetapi ia malah mengangkat tubuh ini dengan merangkul kedua pahaku tepat di lengan kanannya
" yu apa yang kamu lakukan?"
" untuk memastikan bahwa kamu akan baik baik saja win"
Tidak ada percakapan lagi setelah itu aku merasa canggung saat menatap wajahnya dengan sangat dekat, ntah apa yang ada difikiranku saat ini.
" kamu ingin masuk sendiri ke dalam kamar atau perlu aku membawamu ketempat tidur "
" aaa aaaa eee aku turun disini aja"
Gelagapan aku untuk menjawab pertanyaan wahyu
Wahyu yang sudah mendengar keputusan ku ia menurunkan tubuh ini tepat di depan pintu kamar yang sudah terbuka lebar tepat saat sebelum wahyu menurunkan tubuhku
" yu makasih ya"
Lagi lagi wahyu tak menjawab ucapan terima kasihku, ia malah berlalu pergi meninggalkan diriku tanpa sepatah katapun
" aghh sial kenapa dia tidak menjawab apapun, sebenarnya mau dia apasih tadi aja sok soan perhatian tapi sikapnya malah cuek mengabaikanku habis habisan"
Kurebahkan seluruh tubuh ini dan mengucapkan sebuah kalimat untuk menyudahi malam yang penuh dengan rintangan ini
" selamat tinggal ayah, selamat tinggal ilham dan juga irfan yang sudah tega membuat kedua orang yang kucintai pergi meninggalkanku serta tanpa rasa empati juga mengirim surat perceraian dihari yang sama, aku akan selalu mengingat hari ini 11 juli 2018"
Hari yang melelahkan telah kuakhiri dengan susah payah meskipun banyak derai air mata mengucur deras membasahi wajah yang tak lagi merona
" selamat malam dunia yang penuh luka, semoga masih ada bahagia yang menanti diantara sisa hidup yang tak lagi cerah seperti bulan purnama"
Perlahan kedua mata ini tak lagi bisa menangkap gambar kamar, aku lelap dikesunyian malam dengan pelukan bayang orang tersayang yang masih hidup dalam kenangan
* pagi hari tiba*
Nyanyian nyanyian burung yang berterbangan di langit biru tampak merdu, angin pagi yang tak hanya menyejukkan tubuh tapi juga hati mulai bersenandung di halaman rumah belakang serta sinar matahari yang sepertinya tak enggan hinggap di wajahku senantiasa menggangguku walaupun ia tau aku masih ingin terlelap.
" astaghfiruallah! Ternyata matahari sudah mulai meninggi, aku tersadar dan lekas lekas bangkit dari tidur tapi ada yang lebih membuatku sadar. Aku tak lagi berada di tempat yang sama dan bahkan aku sudah tak lagi harus mengerjakan pekerjaan rumah seperti yang bisa kulakukan"
Aku menyingkap selimut yang masih lekat menutupi tubuh ini, aku memeluk kedua lututku dengan posisi duduk dan kepala yang mulai menyadar di atas lutut.
" aku merindukan kehidupan lamaku, kecuali menjadi babu dirumah calon mantan suamiku"
Proses perceraian masih berlangsung dan selama itu belum selesai aku tidak akan pergi keluar rumah, aku akan tetap disini menjaga ayah.
" win bangun win! Win bangun"
" iya yuu ada apa? Aku udah bangun kok!"
__ADS_1
Jawabku sambil menyeka air mata yang tersisa
" aku boleh masuk ga?"
" masuk aja gadikunci kok yu"
Aku menarik selimut dan kembali menutupkannya pada tubuh yang sedang meringkih ini
" ayo turun kita turun ke bawah, kita akan makan bersama sama"
" aku tidak lapar yu!"
Jawabku mempertegas ajakan dari wahyu
" tapi ayah yang memanggilmu untuk turun"
" ayah ikut makan bersama juga?"
" yaiyalah win masa ya iyadong sih!"
" ayah udah sembuh?"
" ya alhamdulillah lumayanlah win, ayo cepat turun"
" ntar ah mau mandi dulu"
" aelah minimal sikat gigi aja sama cuci tangan, itu aja udah cukup"
Dahiku mulai mengernyit bagaimana bisa aku makan tanpa mandi terlebih dahulu, tapi jika aku mandi pasti ayah akan lambat makan gara gara aku, lebih baik aku mengikuti saran dari wahyu saja
" baiklah aku akan mencuci mukaku dulu dan kamu boleh turun duluan, nanti aku akan segera menyusulmu"
Setelah wahyu menutup pintu untuk meninggalkan diriku sendiri, akupun langsung bergegas ke kamar mandi dan cepat menyelesaikan apa yang sedang kukerjakan dan segera menuju ruang makan yang pastinya sudah ada yang menungguku.
" akhirnya putri ayah udah sampai"
Aku membalas perkataan ayah dengan senyuman yang sangat sempurna,
" ayah udah sembuh?"
" sudah pasti ayah akan sembuh jika anak ayah yang merawatnya"
Aku semakin betah saja berada didalam keluarga ini
" ayah mau windi suapi?"
" tidak win jangan lebih baik kamu habiskan makananmu saja. Ayah bisa makan sendiri"
Beberapa menit berlalu dengan menyantap makanan tapi disela sela menikmati makanan ayah kembali membicarakan sesuatu
" kamu siap jadi sekertarisnya wahyu?"
" mm sebenarnya windi.."
__ADS_1