Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 13


__ADS_3

Aku dan Nurbaiti bergegas ke kantin, lalu memesan makanan yang ingin kami makan. Aku memesan soto ayam sementara Nurbaiti memesan bakso ditambah es jeruk sebagai minumannya. Sembari menunggu pesanan datang. Kami berdua kembali mengobrol melanjutkan obrolan tadi saat di kamar rawat.


"Nurbaiti, kenapa kamu bisa di sini dan apa penyakit anak itu. Emm, maksudku Razka?"


"Panjang Bu, ceritanya. Saya sudah dua tahun pindah dari desa ke kota ini saya di sini. Semenjak-,"


Obrolan itu terhenti, ketika makanan yang kita pesan datang dan pelayan segera meletakkan makanannya di hadapanku dan Nurbaiti.


"Makasih, Mbak," cicitku.


Usai pelayan menghidangkan makanan dan pamit pergi. Kami berdua pun kembali ke obrolan awal.


"Semenjak apa, Nurbaiti. Katakanlah?" tanyaku mengawali obrolan kami yang terhenti.


"Suamiku sudah meninggal dunia karena sakit, Bu" ucapnya sembari menunduk menahan tangis.


Aku tersentak mendengar kalimat itu, tanganku lantas spontan mengusap lengan Nurbaiti sebagai bentuk empati. Sungguh aku tak tahu dengan apa yang selama ini dialami Nurbaiti dan keluarganya? Komunikasiku dengan Nurbaiti terputus saat aku mulai sibuk dengan pekerjaan dan melanjutkan kuliah S2. Nurbaiti lantas melanjutkan ucapannya.


"Saat Razka menginjak usia dua tahun, Alhamdulillah saya dipercaya kembali hamil. Tentu kabar itu membuat saya dan suami senang bukan kepalang, tapi kebahagiaan kami itu tak berlangsung lama, Bu. Karena setelahnya suami malah sering sakit-sakitan,"


"Suamimu, sakit-sakitan. Sakit apa, apa itu yang membuat dia?" cecarku.


"Awalnya suami menolak untuk berobat, tapi saya terus menerus memaksanya. Karena jujur, saya penasaran, Bu. Kenapa penyakit suami tak kunjung sembuh? Setelah beberapa kali kami ke rumah sakit dan melakukan serangkaian medis. Dokter akhirnya mendiagnosis bahwa suami terkena penyakit kanker usus stadium empat dan semenjak itu, saya dan suami diharuskan bolak-balik ke rumah sakit. Suami jadi sering dirawat dan kontrol karena penyakitnya. Meski saat itu, saya dalam keadaan hamil," Jelas Nurbaiti sembari sesenggukan.


"Lalu masalah biayanya. Kamu dapat dari mana?" tanyaku yang ikut meneteskan air mata.


"Alhamdulillah, di tengah musibah pasti ada jalan keluar yang menolong saya, Bu. Saya percaya itu,"


"Waktu itu siang hari, saat saya sedang bermain bersama Razka. Tiba-tiba, datang seorang pria berpakaian sangat rapi dan tampan. Dia sengaja ke rumah lalu memperkenalkan dirinya dengan nama Syailendra. Pria itu bilang dan  mengakui dirinya sebagai ayah kandung Razka,"

__ADS_1


"Apa, Andra datang ke rumah Nurbaiti. Dari mana dia bisa tahu itu?" gumamku dalam hati.


"Terus apa kamu nggak tanya. Kenapa dia bisa tahu rumahmu dan apa tujuannya?" cecarku.


"Ya, saya pasti tanya, Bu. Saya tidak ingin bujuk rayuan apa pun untuk menipu saya. Apa lagi kedatangan Pak Andra saat itu, ada sangkut pautnya dengan Razka. Saya dan suami sangat menyayangi anak itu. Sehingga apa pun akan saya dan suami lakukan. Jika itu menyangkut soal Razka, Bu,"


Penjelasan Nurbaiti mengenai Razka. Seolah menampar sangat keras pipiku. Aku adalah contoh seorang ibu yang buruk dan gagal. Karena tega menelantarkan anak kandungnya sendiri. Sementara Nurbaiti dan suaminya adalah orang tua yang baik dan berhasil. Karena apa pun akan mereka lakukan demi Razka. Ya, Razka anak kandungku.


"Lalu apa yang dilakukan Andra setelah pertemuan itu?"


"Sejak saat itu hubungan kami menjadi akrab dengan Pak Andra. Dia sering berkunjung ke rumah minimal sebulan sekali dan memberikan semua kebutuhan Razka dan keluarga saya dicukupkan setiap bulannya. Pak Andra bahkan membantu semua pengobatan suami dari A sampai Z. Semua yang dikatakan oleh Dokter yang menangani penyakitnya di jalankan. Sampai akhirnya suami saya meninggal dunia, Bu"


Obrolan itu terhenti karena aku menyuruh Nurbaiti untuk menyantap makanan yang ada di hadapannya, takut keburu dingin. Nurbaiti lalu menyantap baksonya hingga hampir habis lalu melanjutkan obrolan itu sembari menyeruput es jeruk.


"Lalu apa yang terjadi dengan keluargamu selanjutnya?"


"Saya, anak-anak, dan adik. Diboyong ke daerah ini oleh Pak Andra. Rupanya di sini, Pak Andra sudah menyiapkan segala keperluan untuk kami. Mulai dari  membelikan rumah, menyiapkan untuk sekolah adik, sampai memberikan modal usaha untuk saya berdagang,"


"Saya membuka toko sembako di depan rumah dari modal yang diberikan Pak Andra. Dari sana, saya bisa menghidupi diri sendiri, anak-anak, dan adik, Bu, "


Mendengar cerita yang diungkapkan Nurbaiti membuat hatiku semakin teriris, semakin pula aku bersalah pada Razka dan Nurbaiti. Lantaran ternyata selama ini, akulah yang mengabaikan keberadaan mereka dan tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Padahal Nurbait'lah orang yang berjasa untukku. Karena sudi merawat dan membesarkan Razka putraku dengan sangat baik.


"Lalu mengapa Razka di rawat di rumah sakit ini, sakit apa dia?"


"Sejak setahun lalu, Razka didiagnosis  penyakit Hemofilia sehingga harus rajin kontrol setiap bulannya. Semalam dia mengeluh sakit pada kepalanya dan mimisan di hidungnya. Karena itu saya kemudian menghubungi Pak Andra dan kami membawa Razka ke rumah sakit ini malam-malam,"


"Kalau saya yang bawa Razka ke sini. Mana saya mampu, Bu Dokter? Ini rumah sakit mewah, paling elite di kota ini,


"Terus berapa tahun umur anakmu, sekarang?"

__ADS_1


"Umurnya dua tahun, namanya Siti Nurhaliza, Bu. Soalnya pas saya hamil setiap hari dengerin lagu-lagu dia, Bu,"


Di balik kesedihan mendengar cerita kehidupan Nurbaiti dan Razka selama ini. Ternyata ada juga yang membuatku sedikit tersenyum simpul di sela-sela obrolan. Saat Nurbaiti memberitahukan alasannya mengapa ia memberikan nama anaknya seperti nama artis asal negara jiran itu?


"Kalau Ibu Dokter sendiri, apa sudah menikah?"


"Baru ingin menuju ke sana, tapi entahlah" jawabku malu-malu.


"Oh, kapan? Sama siapa?" cecar Nurbaiti.


"Insya Allah tiga bulan lagi, dengan pria bernama Erwin. Dia bekerja di perusahaan Andra,"


"Lha kok, bisa,"


"Nggak tau, kenapa bisa begitu? Saya juga baru tau dua hari yang lalu,


"Sayang banget ya, Bu,"


"Sayang, maksudnya," jawabku seraya mengernyitkan dahi.


"Sayang Ibu Dokter dan Pak Andra nggak berjodoh, padahal kalian itu, kalau dilihat serasi banget, lho. Pak Andra sudah punya pasangan sedangkan Ibu Dokter juga akan segera menikah," jelas Nurbaiti sedangkan aku yang mendengar ucapan itu hanya tersenyum tipis.


Aku dan Nurbaiti melanjutkan makan siang pesanan kami. Sembari menceritakan tentang kehidupan kami masing-masing. Setelah aku menyerahkan Razka dan kembali pulang ke Jakarta. Sementara Nurbaiti bercerita tentang suka dukanya merawat Razka, suaminya, dan anak yang ia lahirkan sendiri. Wanita itu malah berterima kasih padaku. Karena setelah kehadiran Razka di rumah tangganya.


Ia merasakan kembali kebahagiaan, Nurbaiti akhirnya bisa merasakan indahnya menjadi ibu yang ia idam-idamkan. Penuh warna dan keceriaan dalam hidupnya. Meski semua itu, tak bertahan lama. Lantaran suaminya didiagnosis penyakit mematikan dan akhirnya meninggal dunia. Namun, menurutnya obat yang membuat ia bisa merasakan bangkit kembali setelah terpuruk pasca kematian suaminya adalah kedua anaknya yaitu Razka dan Siti.


Puas makan siang sembari mengobrol, aku dan Nurbaiti pun kembali ke kamar rawat inap. Aku ingin bercengkrama dengan Razka putraku, aku ingin bisa dekat dengannya. Meski aku yakin, hal ini butuh proses yang panjang. Melihat kedekatan Nurbaiti dan Andra pada Razka. Jujur hal itu menumbuhkan rasa iri, tetapi ini adalah konsekuensi yang harus aku terima atas apa yang aku putuskan enam tahun yang lalu.


Bersambung...

__ADS_1


Selamat hari Sabtu nanti malam , malam Minggu. Jangan lupa dibaca cerita ini. Semoga bermanfaat, salam dari Ember Kuning 💛


__ADS_2