Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 39


__ADS_3

Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Andra telah menyiapkan mobil jenis Elf beserta sopir untuk mengendarai membawa rombongan keluarga ini ke tempat tujuan liburan yang ada di daerah Puncak Bogor, Jawa Barat. Di dalam mobil terdiri dari Pak Sopir, Andra, aku, Razka, Nurbaiti, Siti, Nurhayati, Papa, Mama, dan Kamila.


Sabtu pagi menjadi pilihan untuk kami memulai perjalanan ke daerah tujuan berlibur. Jarak dari Jakarta menuju tempat tujuan, kira-kira tujuh puluh delapan koma tujuh meter dan butuh waktu tempuh kira-kira tiga jam untuk sampai tujuan.


Andra memilih waktu pagi lantaran ia ingin menghindari kemacetan lalu lintas yang sering terjadi di daerah itu, apabila akhir pekan tiba. Ini lumrah terjadi lantaran daerah Puncak, sering dijadikan destinasi wisata bagi warga Jakarta yang menginginkan liburan ke daerah yang tidak begitu jauh dari ibu kota sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga.


Selama perjalanan menuju daerah Puncak, kami semua merasakan kegembiraan, terlebih lagi Razka dan Siti. Dua anak kecil itu tentu saja sudah tak sabar segera ingin tiba di tempat tujuan bahkan mereka selalu memandang jendela mobil agar mereka tahu kapan mobil yang membawanya sampai di tujuan.


Pukul dua belas siang, akhirnya mobil yang membawa rombongan ini pun tiba dengan selamat. Meski tadi merasakan juga sedikit kemacetan. Namun, semuanya bisa teratasi. Rasa lelah selama perjalanan tadi pun seakan menghilang seketika saat aku dan semua rombongan turun dari kendaraan dan langsung disambut dengan hangat oleh penjaga villa milik keluargaku yang sudah lima belas tahun bekerja pada keluargaku.


Mereka adalah satu keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri bernama Mang Udin dan istrinya Bi Esih dan dua anaknya bernama Halimah dan Fatimah. Halimah sudah berkeluarga dan sedang hamil anak pertamanya sedangkan Fatimah saat ini. Masih tercatat sebagai seorang pelajar di sekolah menengah pertama tingkat sembilan.


Sebagai sang pemilik villa Papa langsung disambut hangat oleh Mang Udin dan keluarganya. Laki-laki paruh baya itu pun langsung memberitahu pada Papa apa saja yang berhubungan dengan villa mereka langsung asyik berbincang seolah seperti dua orang teman yang sudah lama tak bertemu. Memang seperti itulah Papa. Selalu berbuat baik pada siapa pun dan tak pernah memandang atasan ataupun bawahan.


***


Selepas pembagian kamar oleh Papa, aku, Andra, dan Razka memilih bergegas menuju kamar. Aku membawa tas berisi pakaian ganti sementara Andra  menggedong Razka yang mulai merasakan kantuk. Sebenarnya Bi Esih dan putrinya sudah menyiapkan makan siang untuk kami semua. Namun, kami bertiga memilih beristirahat di kamar karena rasa lelah dan kantuk yang mulai kami rasakan.


"Kamu kok ngikutin kita ke kamar, bukannya makan siang dulu," ucap Andra yang masih tetap di atas tempat tidur meski matanya belum terpejam.


"Aku lagi malas makan, rasanya mual,

__ADS_1


Mendengar kata mual ke luar dari mulutku, Andra yang semula matanya mulai meredup kini ceria dan terbuka lebar,"


"Apa, Yang? Tadi yang kamu omongin coba diulang lagi. Siapa tau, telingaku memang nggak salah dengar?" pintanya.


"Aku mual," jawabku ketus.


"Apa, Jangan-jangan ini awal dari yang aku tunggu-tunggu selama ini. Kerja sama kita telah berhasil, Yang?" tebaknya sembari tertawa senang.


"Maksud kamu, aku hamil,"


Andra lantas mengangguk setuju seraya tersenyum bahagia. Sementara aku, hanya mengangkat bahu dan mencebik bibir. Melihat bahasa tubuh yang aku perlihatkan suamiku itu merasa heran, ia langsung melongo melihat ekspresiku yang seperti tak tahu keadaan tubuhnya sendiri. Mungkin dipikirannya, aku yang seorang wanita, sudah berpengalaman hamil, dan seorang dokter spesialis kandungan pula. Bagaimana bisa tidak tahu dirinya sedang berbadan dua?


Namun, yang aku pikirkan mualku ini karena tadi pagi sebelum berangkat kemari. Aku hanya makan setengah roti sandwich yang kubuat, dan  minum seperempat gelas susu. Jadi wajar kalau aku merasa mual lantaran sarapanku yang kumakan hanya sedikit. Tapi saat ini aku bukannya segera makan siang malah ikut rebahan bersama suami dan anakku di dalam kamar.


***


Aku jadi bertanya pada diri sendiri. Apa iya, sang peneror diriku itu orang yang sama-sama bekerja sebagai tenaga medis di rumah sakit yang sama? Jika nanti itu benar, lantas mengapa ia lakukan itu padaku? Apa salahku hingga ia berani berbuat seperti itu? Fix, aku harus segera bergerak cepat untuk mencari seseorang yang mau bekerja sama untuk membantu mengungkapkan siapa dalang dari teror yang setiap hari aku terima?


Usai makan malam, acara selanjutnya adalah barbeque di halaman belakang villa. Sembari menikmati udara malam yang dingin di daerah Puncak. Mang Udin dan keluarganya sudah menyiapkan bahan-bahan seperti daging ayam, ikan, sosis, dan jagung untuk di barbeque. Bi Esih juga sudah membuatkan kopi manis, teh, wedang jahe, dan bandrek. Untuk siapa saja yang ingin menghangatkan tubuh dengan minuman, tinggal dipilih sesuai selera.


"Yang, kenapa akhir-akhir ini aku perhatiin kamu sering bengong. Apa lagi ada masalah di rumah sakit? tanya Andra sembari meneguk secangkir kopi.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa, aku cuma lagi jenuh sama kerjaan," jawabku berdusta.


"Berarti, aku sudah tepat dong. Ngajak kamu jalan-jalan ke sini,"


"Mungkin," jawabku sembari mengangkat bahu.


Di halaman belakang villa aku duduk di samping Andra sembari menikmati air jahe hangat dan memakan jagung bakar seraya mengawasi Razka dan Siti yang sedang  bermain dengan Kamila dan Nurhayati. Semenjak  bertemu di mobil tadi pagi Kamila dan Nurhayati tampak sudah akrab sedangkan Razka dan Siti selalu menempel pada dua gadis itu. Ke mana dua gadis itu  pergi bersama. Maka kedua anak kecil itu pun mengikutinya. Sementara Mama dan Nurbaiti tampak sibuk membantu Bi Esih menyiapkan makanan hasil barbeque untuk kami semua bisa nikmati.


Tiba-tiba saja perutku ini merasa mulas dan ingin segera pergi ke toilet. Aku pun bergegas menuju ke sana, tapi sebelum ke toilet. Aku dicegah oleh seseorang.


"Maaf, Bu Dokter. Ini ada surat katanya buat Bu Dokter," ujar Fatimah seraya memberikan amplop kecil berwarna putih padaku.


"Ini dari, siapa?"


"Dari seorang laki-laki, badannya tinggi besar, katanya dia teman Bu Dokter, " jelasnya.


"Oh, gitu makasih banyak, ya. Infonya Fatimah," jawabku.


Fatimah tersenyum, ia lantas izin pergi dari hadapanku, sementara aku sudah tak tahan lagi ingin ke toilet untuk buang air besar maupun kecil. Sembari buang air, aku beranikan untuk membuka amplop kecil putih pemberian Fatimah tadi dan isinya sebuah kertas yang tulisannya jelas membuat mataku terbelalak.


SAYA INGATKAN KEPADA ANDA. SEBENTAR LAGI ANDA AKAN MENANGIS. KARENA ANDA AKAN KEHILANGAN ORANG YANG ANDA CINTAI.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2