
Usai kubaca kertas itu langsung kuremas dan kubuang ke dalam tong sampah. Aku segera membersihkan area pembuangan lalu bergegas ke luar toilet dan kembali menyatu dengan keluargaku di halaman belakang villa. Aku berusaha menutupi ekspresiku yang sedikit ketakutan lantaran teror ini masih mengusikku meski aku berada di luar kota bersama keluargaku.
Siapa sebenarnya dia? Mengapa dia mau mengusik kehidupanku? Pertanyaan itu terus saja menggema di kepala. Andra yang melihat perubahan pada wajahku lantas mengerutkan dahinya. Ia mempersilakan aku duduk di tempat duduknya dan memberikan segelas air wedang jahe baru. Ia lalu mencari kursi plastik baru untuk bisa duduk di sampingngku. Tanpa izin aku lantas menyandarkan kepalaku di bahunya.
Andra sedikit kaget dengan pergerakan itu. Namun ia mempersilakan dan malah berbisik kepadaku.
"Kamu, kenapa?"
Aku masih bergeming, masih ingin mencium aroma tubuhnya saja, yang sedikit membuatku merasa nyaman.
"Tumben, kamu mau memperlihatkan gestur manja gelendotan kayak gini ke banyak orang. Biasanya jaim," bisiknya lagi.
"Emang kenapa, kan aku manjanya sama suami sendiri, kamu nggak seneng?"
"Oh, nggak, Sayang. Aku malah seneng banget, tuh nggak lihat, apa? Ekspresi Papa, Mama yang dari tadi senyam senyum lihatin kita berdua," ucapnya seraya menunjuk keberadaan Papa dan Mama yang jaraknya lumayan jauh dari kami.
"Emang, kenapa?" Aku balik bertanya.
"Iya, artinya mereka senang. Anak dan menantunya hidup bahagia. Berarti bisa dong, kalau malam ini kita kerja sama lagi bikin adonan buat adiknya Razka. Mumpung di sini cuaca dingin alami, Sayang," ujar Andra seraya tersenyum nakal merayuku.
Aku lantas bangun dan mencubit bahunya pelan, tetapi dia malah pura-pura mengaduh kesakitan.
"Kenapa bahunya dicubit, Yang. Bukannya terima kasih?" ujarnya seraya cemberut.
Aku lantas mengerucutkan bibir kesal lantaran melihat wajahnya yang pura-pura meringis kesakitan padahal aku mencubitnya cukup pelan. Aku lantas mengambil air jahe dan meneguknya. Karena hampir dingin. Lalu tak lama setelah itu, aku bangkit berdiri dan ingin meninggalkan halaman belakang villa.
"Mau ke mana lagi?" tanya Andra sembari mencekal tanganku.
"Mau ke kamar, mau tidur,"
Andra lantas melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ini baru jam sembilan, Sayang,"
"Tapi aku capek, mau istirahat,"
__ADS_1
Ia lantas ikut berdiri lalu meraih tanganku untuk digandengnya dan ikut bergegas ke dalam villa. Namun, sebelum masuk aku memanggil anakku, Razka.
"Razka! Ayo, Nak. Kita bobo, udah malam,"
"Razka mau bobo sama Tante Mila aja, Ma" ujarnya
"Tante Mila 'kan mau bobo sama Tante Haya. Razka bobo aja sama Papa dan Mama," jawabku.
"Tapi aku belum mau bobo, Ma,"
"Ya udah 'lah, Yang. Di sini juga ada Mama, Papa, Nurbaiti. Nanti Razka tinggal pilih mau sama siapa, dia mau tidur?" timpal Andra.
Aku dan Andra lantas berpamitan pada semua orang yang ada di halaman, lalu beralih menuju ke kamar. Villa ini adalah milik Papa yang ia beli dari hasil kerja kerasnya. Mulanya bangunan ini hanyalah rumah kecil. Namun akhirnya Papa bisa membeli beberapa bangunan lainnya dan diubah menjadi villa yang besar.
Villa ini terdiri dari dua lantai. Di lantai pertama ada ruang tamu, ruang tengah, empat kamar, dapur bersih dan dapur kotor. Sementara di lantai atas ada delapan kamar. Belum lagi halaman belakang dan rumah untuk pekerja yang menjaga villa ini. Mang Udin dan keluarganya ada orang yang setia bekerja dengan Papa. Bahkan ia sudah bekerja saat dirinya masih sendiri.
Apa yang Papa dapatkan saat ini bukanlah warisan dari Kakek. Kakek dulunya hanyalah seorang petani biasa. Kehidupannya bersama keluarga kecilnya yang di dalamnya ada Papa bisa dibilang cukup sederhana. Namun begitu, Kakek mampu menyekolahkan Papa dan dua anak lainnya sampai ke Perguruan tinggi dan setelah itu mereka mampu hidup mandiri dengan pekerjaannya masing-masing.
Kecerdasan yang Papa miliki ternyata mampu membuatnya memperbaiki kehidupan, Papa berhasil masuk ke universitas negeri ternama melalui jalur prestasi. Ia akhirnya bisa menamatkan kuliahnya dengan nilai yang sangat memuaskan sehingga mudah memperoleh pekerjaan sebagai seorang arsitektur sesuai dengan pendidikan yang ia tempuh di universitas.
***
Aku akhirnya membaringkan tubuhku, setelah sebelumnya mencuci muka, menggosok gigi, dan mencuci kaki. Ketiga ritual ini memang sudah kujalani sejak aku kecil. Aku tidak mau tidur dalam keadaan kotor. Karena itu dapat menganggu kenyamanan tidur.
Di sampingku sudah ada siapa lagi kalau bukan Andra. Posisi tidur kita berdua berhadapan dan saling memeluk. Posisi ini membuatku merasa nyaman dan untuk sementara waktu menghilangkan rasa takutku pada teror itu. Sebenarnya aku tipe orang yang malas sekali untuk dipeluk saat tidur, tetapi saat aku menikah dengan Andra dan sudah tidur satu kamar dengannya. Ada rasa nyaman dan hangat saat dia memelukku.
"Yang, seumpama terjadi sesuatu padaku. Apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku.
"Maksudnya," jawab Andra sembari mengerutkan dahinya.
"Maksud aku, jika ada yang meneror. Terus amit-amit, terjadi sesuatu sama aku. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Kamu diteror sama, siapa, Yang?" jawabnya malah balik bertanya.
"Kan itu cuma seumpama. Tinggal jawab aja nggak usah tanya ngalor ngidul, deh, Yang,"
__ADS_1
"Ya, aku akan kejar dia sampai ke jalur hukum dan pengadilan. Nggak peduli dia itu siapa? Pokoknya kalau ada yang macem-macem sama kamu. Akan kukejar semuanya sampai kasusnya tuntas nggak bersisa. Enak aja, dia udah meneror istri tercintanya Syailendra Dwiki Aditama. Pokoknya aku siap pasang badan, jika sesuatu terjadi pada istri, anak dan keluargaku,"
"Lebay kamu,"
Aku lantas berpindah posisi menjadi memunggung Andra. Namun, ia tidak marah malah sibuk dengan menciumi tubuhku. Kalau sudah begini, tangannya yang sudah mulai nakal membuatku mau tidak mau. Harus mengikuti apa yang diinginkannya. Lagi pula bisa dosa aku bila tidak menuruti apa yang diinginkan suamiku itu.
***
Usai melakukan hubungan suami istri dan tidur sejenak, tiba-tiba mulutku terasa haus dengan mata yang masih setengah terbuka. Aku menyibak selimut dan melihat begitu pulasnya suamiku tidur. Aku lantas ingin beralih mengambil air minum. Namun, sialnya aku lupa menyediakan air putih sebelum tidur di nakas. Walhasil dengan langkah yang berat aku ingin beralih mengambil air minum ke dapur.
Aku memberanikan diri membuka pintu kamar, lalu berjalan mengendap-endap ke arah dapur. Suasana sudah sangat sepi tak ada orang di luar lantaran jam pun sudah menunjukkan jam satu dini hari. Apa lagi di luar sana sedang terjadi hujan yang lumayan deras. Dengan rasa yang sedikit takut, aku pun bergegas ke dapur untuk segera mengambil air minum.
Namun, sesampainya di dapur aku lantas berteriak keras, lantaran melihat sesosok orang asing yang sedang mondar-mandir kebingungan dengan pakaian yang lumayan basah.
"Aaaaaaaaa!"
Ia lantas membalikkan badannya lantaran kaget mendengar teriakkanku itu.
"Non Kanaya!" ucapnya sementara aku melebarkan kedua mataku.
"Mang Udin, bikin kaget aja. Ngapain malam-malam di sini," jawabku sembari mengusap dadaku.
"Itu Non, anu itu, itu, Non" ucapnya bingung sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Anu, itu, kalau ngomong yang jelas, Mang. Biar saya ngerti maksudnya,"
"Halimah, Non, Halimah"
"Ya Halimah, kenapa?"
"Perutnya sakit, Non. Seperti orang yang mau melahirkan,"
"Apa!"
Bersambung...
__ADS_1