Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 35


__ADS_3

Belum tuntas rasa marahku pada suamiku, meski Andra sendiri sudah berinisiatif menyusulku dan Razka ke rumah orang tuaku. Di sana ia beralasan ingin merasakan juga menginap di rumahku. Mengingat, sejak menikah hingga saat ini. Pria itu belum pernah menginap di rumahku sebagai seorang menantu sementara untuk masalah denganku ia malah belum bersedia mengungkapkan apa alasan yang sebenarnya.


Meski kesal, aku tidak ingin pertengkaran ini dapat dibaca atau ditebak oleh Papa dan Mamaku. Aku dan suamiku berusaha menyembunyikannya rapat-rapat keadaan ini seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Kami bersikap seperti layaknya pengantin baru yang bahagia dan harmonis di masa awal pernikahan.


Cukup semalam saja bagi keluarga kecilku menginap di rumah orang tuaku sebagai bentuk bakti anak terhadap kedua orang tua. Siang harinya kami memutuskan pulang ke apartemen. Namun, saat dalam perjalanan Andra mengajakku dan Razka mampir di salah satu Mall dekat apartemen. Di sana pria itu mampu menyenangkan hati istri dan anak laki-lakinya. Ia dan Razka memilih mengunjungi tempat permainan sementara aku berbelanja kebutuhan bulanan dan beberapa pakaian untuk Razka di lantai yang berbeda.


***


Hari libur telah berakhir dan aku kembali pada pekerjaanku sebagai dokter kandungan. Hari pertama masuk saja sudah ada dua pasien yang harus aku tangani menjalankan"cecar section" dan kegiatan rutin lainnya yang biasa aku jalani. Rasa lelah sudah pasti kurasakan. Namun, setibanya di apartemen tampak ruangan sudah terang benderang dengan lampu penerangan padahal kulihat jam di pergelangan tangan baru menginjak pukul setengah lima sore.


Aku lantas melangkah ke arah sofa lalu mendudukkan bokongku sembari kaki di selonjorkan. Tak lama kemudian Andra keluar dari kamarnya dan  duduk di hadapanku dengan pakaian rumah yang rapi serta bau harum yang mencolok hidung.


"Tumben pulang cepat, mau pergi ke mana lagi?" tanyaku.


"Iya, hari ini semua pekerjaaanku sudah selesai, jadi aku bisa bebas, " jawabnya seraya tersenyum lebar.


Aku lantas mengerutkan dahi dan bertanya dalam hati. Apa maksudnya dengan bebas ?Apa iya dia mau-," 


"Terus, bagaimana soal akta kelahiran Razka?" tanyaku.


Andra tersenyum, ia tak menjawab hanya memberikan map berwarna biru yang semula ada di atas meja padaku.


Aku lantas menerima map itu. Sudah tak karuan perasaanku. Jika benar map biru ini berisi akta kelahiran Razka. Apa itu berarti, ini adalah akhir dari perpisahan antara aku dan Andra. Jantungku berdegup dengan kencang saat aku membuka map itu dan benar di dalamnya tertera akta kelahiran Razka. Bukankah karena kertas ini yang menjadi tujuan utama pria yang ada di hadapanku itu bersedia menikahiku.


"Apa kamu senang, akhirnya Razka sudah sah menjadi anak kita sesuai hukum negara," tanyaku lagi.


"Tentulah aku senang. Int berarti, satu lagi keinginanku terwujud," jawabnya disertai senyuman sumringah.


Sementara aku diam- diam pun terharu, tetapi ada rasa sesak di bagian hatiku yang sekuat tenaga aku tutupi.


"Dan ini satu lagi," ucap Andra sembari menyerahkan amplop berwarna cokelat dari tangannya.

__ADS_1


Seketika wajahku berubah pucat, apa yang aku takutkan akan terjadi juga. Ternyata dia benar-benar akan menceraikanku. Dan kami pun pernah berselisih paham karena masalah ini. Di sisi lain aku ingin mempertahankan pernikahan tapi Andra malah sebaliknya jika. Apa mungkin yang diucapkan Windy, Carlina, dan Papa hanya semata-mata untuk menyenangkan hatiku saja?


"Kenapa bengong, Kanaya. Ayo cepat di buka amplopnya?" titahnya sedangkan seluruh tubuhku gemetar.


"Ndra, apa cuma sampai di sini? Apa nggak ada jalan lain, apa kita nggak bisa berusaha," cecarku seraya melelehkan air mata sebelum membuka amplop.


Andra mengerutkan dahi, ia lantas bergegas jongkok di hadapanku. Jarinya lalu mengusap air mata yang terus menerus berjatuhan ke pipiku.


"Kamu ini, kenapa? Apa nggak senang kalau aku memberikan sesuatu yang kamu inginkan, Kanaya?"


Andra menghela napas, lalu menggerakkan jemariku yang lemas dan menggenggamnya .


"Aku udah capek-capek mewujudkan ini semua biar kamu senang, tapi kamu malah mewek begini, aku jadi bingung. Mau kamu apa, Kanaya?"


"Apa kamu benar-benar benci sama aku, apa secuil pun kamu nggak berharap pernikahan ini bertahan sampai waktu yang lama, ap-,"


Tiba-tiba Andra mengecup bibirku dan itu tentu saja membuatku terkejut.


"Berarti ini bukan surat perceraian?"


"Makanya buka dulu, don't judge a book by its the cover," ujarnya.


Andra lantas memberikan amplop yang jatuh ke tanganku lagi. Dengan perlahan dan hati-hati aku membukanya. Sempat aku menutup kedua mataku, sebelum akhirnya mataku terbuka lebar dan senyumku mulai mengembang. Karena akhirnya aku tahu isi dalam amplop itu. Ternyata, dua buah tiket pulang-pergi perjalanan bulan madu ke lima negara di benua Eropa.


"Aku ingin kita berlibur, sekalian berbulan madu. Nanti di sana aku ingin mengajakmu nonton bola secara langsung. Kita bisa ke negeri pizza, ke negeri ratu Elizabeth, ke menara Eiffel, pantai Monte Carlo dan negara kincir angin. Ya walau hanya dua Minggu kita di sana,"


"Makanya akhir-akhir ini aku sering lembur bahkan sampai begadang, agar kita bisa liburan, sayang. Aku sayang banget sama kamu, Kanaya. Jangan pernah berpikir kamu akan meninggalkan aku," pungkasnya.


Aku dan Andra lantas saling berpelukan, saling bermaafan, dan menangis bersama meluapkan rasa yang selama ini saling terpendam di hati kami masing-masing.


Sejak kejadian pengakuan itu, hubungan aku dengan Andra semakin dekat, kami berdua tidak lagi tidur secara terpisah, meski kebutuhan secara batin belum dilaksanakan, karena Andra masih memberikan aku waktu.

__ADS_1


***


Beberapa hari sebelum keberangkatan, aku berkemas pakaian yang akan digunakan pada saat kami berbulan madu sementara suamiku sedang bekerja dengan laptopnya di atas tempat tidur.


"Yang, apa nanti setelah kita selesai berbulan madu. Kamu mau bawa Razka  tinggal dengan kita di sini?" tanyaku.


"Nggak usah, Razka tetap tinggal dengan Nurbaiti,"


"Tapi Yang, Razka itu anak kita. Kita orang tua kandungnya,"


"Biar saja Razka di sana, dia sudah nyaman dengan ibu dan adik angkatnya," jelasnya lagi seraya tetap memperhatikan laptop.


Aku yang kesal hanya bisa diam dan memilih menghindar keluar kamar dari pada menimbulkan keributan yang bisa menodai rencana keberangkatan bulan madu yang sudah ada di depan mata.


Lebih baik memilih menyendiri di balkon sembari menikmati semilir angin dan cahaya lampu yang menyinari kota dengan mencerna kata-kata yang diucapkan suamiku tadi. Tiba-tiba sepasang tangan sudah erat memeluk pinggang dan menciumi aroma tubuhku.


"Aku juga ingin sepertimu, ingin Razka tinggal bersama kita, tapi bagaimana dengan Razka yang selama ini sudah nyaman hidup bersama mereka?"


"Padahal kamu sudah mengurus data diri untuk Razka. Saat itu juga aku berharap, kita bisa menjadi satu keluarga yang utuh seperti keluarga yang lainya,"


"Iya, aku tau, Sayang. Tapi apa kamu nggak kasihan sama Nurbaiti atau Siti? Karena harus terpisah dari anak dan kakak. Karena harus tinggal bersama orang tua kandungnya . Biar bagaimana pun Razka sudah menganggap Nurbaiti dan Siti itu keluarga. Jadi ada ikatan batin yang tidak bisa dipisahkan," ucapnya sembari membalikkan tubuhku.


"Lagian biar pun kita tinggal terpisah, Razka tetap anak kita, darah daging kita. Bukankah kita masih bisa mengunjunginya kapan pun kita mau. Razka juga masih bisa menginap di sini kalau hari libur sekolahnya," ucap Andra sembari memelukku dengan erat sementara aku hanya menangis tersedu, menyesal dengan apa yang pernah aku putuskan dulu.


Andra kemudian membopongku dan membawaku ke kamar. Saat  menidurkan tubuhku, ia melirik pakaian kimono yang kupakai, jantungku berdegup kencang saat dia memandanginya, begitu pun dengan dia. Kami berdua saling bertatapan. Tanpa izin pria itu menautkan bibirnya ke bibirku semakin dalam hingga Andra mulai berani membuka tali pengait kimonoku.


Aku hanya membiarkan dia mulai menjelajahi setiap inci tubuh ini, menyentuh ke seluruh kulit hingga menciptakan sengatan-sengatan yang menimbulkan sensasi kenikmatan yang membuatku rasanya ingin meledak. Tapi ini sesuatu yang baru kurasakan secara sadar dan sudah aku kehendaki sebelumnya.


Membiarkannya malam ini sebagai malam penyatuan kami. Untuk memenuhi kebutuhan batin yang sah dilakukan pasangan suami istri. Dengan penuh kesadaran, cinta, dan keikhlasan di hati. Guna memenuhi kewajiban yang lazim dilakukan pasangan yang terikat sah secara hukum. Untuk mempertegas bahwa aku miliknya dan dia milikku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2