
"Lalu, di mana Andra setiap anda berkencan dengan pria lain. Apakah dia marah anda melakukan itu?" tanyaku.
"Dia terlalu sibuk dengan perusahaan-perusahaan yang dia kelola. Kalau soal marah, dia paham watak saya. Ya, kalau saya sedang apes. Ya, pasti ketahuan juga. Saya langsung berdalih karena usia sebelas tahun lebih tua dari pada Andra. Lagi pula dia tidak memberikan kebutuhan batin itu untuk saya,"
"Jika dia seperti itu, apakah dia juga melakukan hal yang sama?" tanyaku seperti layaknya wartawan menginterogasi.
"Maksud Dokter, Andra selingkuh, gitu?" jawab Carlina yang membuatku menganggukkan kepala.
"Apa karena sekarang Dokter sudah menjadi istrinya, sehingga anda ingin tau lebih banyak tentang dia?" ucap Carlina.
Aku bingung ingin menjawab apa. Tetapi wanita itu malah tertawa lepas seolah tahu akan pikiranku. Sementara aku hanya bisa mati kutu tak mampu menjawab. Namun, ternyata Carlina tahu juga tentang pernikahanku atau memang Andra yang menceritakan ini padanya. Jujur aku memang belum tahu banyak tentang Andra. Pria yang sudah dua Minggu menjadi suamiku.
"Sudah saya katakan, Andra itu tipe pria yang setia. Dia tidak membalas apa yang saya lakukan kepadanya. Sebagai suami, dia hanya bisa menasehati, tapi untuk saya. Ya, cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan,"
Carlina lalu menyodorkan tangannya untuk kembali bersalaman denganku. Tanpa ragu, aku pun membalas dengan senyum mengembang.
"Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian ini langgeng sampai maut memisahkan. Dan ingat Andra itu pria yang baik, bertanggung jawab, dan setia. Jadi jangan pernah kecewakan dia apa lagi menyakitinya,"
"Aamiin, terima kasih banyak atas doanya, Ibu Carlina," jawabku.
Setelah dirasa cukup mengobrolnya. Carlina pun pamit ingin meninggalkan ruang praktik. Wanita itu sudah melangkah sampai ambang pintu. Namun, kembali bertanya sebelum ia pergi.
"Tunggu! Apa anda juga tahu tentang anak itu?" tanyaku.
Carlina lantas membalikkan badannya, ia kembali lagi melangkah ke arahku. Sepertinya ia ingin menjelaskan sesuatu pada diriku lagi.
"Tentu saja saya tau siapa anda, Razka, Nurbaiti, bahkan Erwin Mahendra. Sayalah orang yang menganjurkan Andra untuk mencari tahu di mana keberadaan anda dan Razka? Karena saya tahu, Andra begitu tersiksa menyimpan rasa bersalahnya pada anda dan bayinya,"
__ADS_1
"Saya juga yang menganjurkan Andra untuk mengadopsi Razka untuk bisa menjadi anak kami. Namun, dia menolak keras dan membiarkan Razka tetap bersama Nurbaiti. Setelah masalah Andra dengan urusan masa lalunya selesai. Barulah saya menyuruhnya untuk mengurus perceraian kami," pungkasnya.
Usai menjelaskan panjang lebar tentang Andra. Carlina menyuruhku berdiri, ia mendekat lantas memelukku seraya tersenyum gembira lalu berucap.
"Jangan pernah lepaskan Andra. Jika ingin dirimu bahagia, Dokter Kanaya,"
Wanita itu lalu pamit untuk kedua kalinya melangkah panjang meninggalkan ruangan praktik tanpa menoleh ke arahku lagi. Sementara aku kembali duduk seraya terus memikirkan tentang semua ucapan Carlina tadi. Sedang berusaha mencerna apa yang sudah dilakukan Andra selama ini untukku dan Razka. Namun, suara dering handphone membuyarkan lamunanku itu. Aku segera melihat ke layar dan mengangkat panggilan itu.
***
Selesai praktik aku pun bergegas menuju pintu keluar gedung rumah sakit. Ternyata di luar gerbang, sebuah mobil berjenis MPV berwarna hitam sudah menanti untuk kunaiki. Aku pun segera masuk dan mencium tangan sang pengemudi. Pengemudi itu adalah Papa. Papa 'lah yang tadi menelepon dan memintaku untuk menemaninya makan di luar. Entah ada maksud apa, Papa mengajakku pergi kali ini?
Empat puluh menit kemudian, benar seperti dugaanku. Papa membawaku ke cafe favoritnya PEANUTS cafe. Cafe di mana Papa biasanya mengajak kami sekeluarga untuk makan bersama di luar? Papa memang suka cafe ini. Karena semua menu makanan yang disajikan adalah makanan khas asli Indonesia. Semua menu yang tersedia mayoritas berbumbu saus kacang, seperti Pecel, gado-gado, karedok, rujak, siomay, dan lain-lain. Menurut Papa selain menunya menyehatkan, harga makanan dan minumannya pun tak menguras kantong para pelanggannya.
Setelah beberapa menit berdiri, aku dan Papa mencari tempat duduk, agar kami bisa mengobrol. Papa lalu memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan. Kita berdua sama-sama memesan gado-gado plus lontong dengan es lemon tea sebagai minumannya. Aku bisa mengira jika Papa akan mengobrolkan hal penting, yang ada hubungannya denganku atau perusahaannya. Karena jika tidak, mana mungkin pria yang telah berusia enam puluh tahun itu. Mengajakku makan di luar tanpa mengajak serta Mama dan juga Kamila adikku.
"Ya kita berdua, baik-baik aja, Pa,"
"Benar, tidak meributkan soal Papa yang meminta dia untuk menikahi kamu?" ucap Papa dengan nada yang tak yakin.
"Papa kok ngomong gitu, sebenarnya ada apa, sih antara Papa sama Andra. Kok bisa Papa nyuruh itu orang mendadak nikahin aku sama dia?"
"Nggak ada apa-apa, Papa itu sudah kenal baik dan bekerja sama bisnis sama Nak Andra. Sebelum kejadian pernikahan kamu dengan Erwin batal,"
"Oh ya, kalau gitu. Aku mau tanya sama Papa. Dari mana Papa bisa kenal sama Andra?"
Jawaban atas pertanyaanku itu terjeda, saat makanan dan minuman yang kami pesan telah siap untuk dihidangkan. Aku buru-buru mengambil lemon tea lalu menyeruputnya karena tenggorokan ini terasa kering.
__ADS_1
"Papa kenal Nak Andra di acara pesta perusahaan teman. Dia sendiri yang memperkenalkan diri ke Papa. Papa kagum sama itu anak, karena dia itu pekerja keras dan bertanggung jawab,"
"Selain itu semua, apa Papa tahu tentang kehidupan Andra sebelumnya?"
"Ya, Papa tau sedikit tentang dia. Dia orang yang baik, bukti itu Papa ketahui. Saat perusahaan Papa hampir goyang. Tiba-tiba dia datang dan membantu Papa tanpa Papa minta. Dia menanamkan modalnya di perusahaan lalu hasilnya di bagi sesuai kesepakatan antara Papa dan Nak Andra. Nak Andra juga orang yang jujur. Makanya nggak ada alasan Papa untuk menolak dia sebagai menantu Papa,"
"Selain itu apa lagi, Pa. Apa dia nggak pernah cerita sesuatu sama Papa?"
"Cerita, cerita apa maksud kamu?" tanya Papa balik.
Aku terdiam. Sebenarnya mulut ini ingin mengutarakan kejadian enam tahun silam, di mana aku dan Andra pernah menjadi korban salah paham Windy, tapi lidah ini menjadi tiba-tiba berubah kaku dan bibir ini seperti terkena lem. Sulit sekali terbuka. Masalah yang sudah menjadi beban selama enam tahun lamanya, ternyata juga disimpan sendirian. Rahasia yang sudah terlalu lama dipendam, di mana aku harus membohongi keluargaku sendiri. Ya Tuhan! Rasanya kepala ini ingin pecah saja.
"Kok diam, Kanaya. Ayo mau ngomong apa kamu sama Papa. Papa siap mendengarkannya 'kok?"
"Anu ini, Pa. soal aku sama Andra?"
"Soal Nak Andra sama kamu. Apa kamu sudah lebih dulu pacaran sama Nak Andra sebelum bertemu dengan Erwin?" tanya Papa dengan nada curiga.
"Apa kamu dan dia punya rahasia yang tidak Papa ketahui?" tanya Papa lebih lanjut.
Aku lantas menunduk bingung dari mana aku bisa menjawab pertanyaan ini. Bagaimana kalau akhirnya Papa mendesakku dan mulut ini kelepasan bicara? Bagaimana jika Papa tahu bila aku ternyata sudah memiliki seorang anak dengan Andra bernama Razka?pastinya Papa akan marah besar dan akan baku hantam dengan Andra.
Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu berkecamuk di kepala. Rasanya ingin sekali semua itu terucap dari bibirku padahal kata demi kata sudah ada di ujung lidah dan siap untuk aku ucapkan saat ini juga. Kalau sudah begini, aku ingin menghilang karena sudah berbohong pada Papa orang tuaku sendiri.
"Apa kamu takut, rahasia enam tahun lalu itu Papa ketahui, Kanaya?"
Aku tersentak, mataku melebar sempurna, dan wajahku melongo keheranan. Dari mana Papa tahu soal rahasia enam tahun itu? Apa Andra sudah mengakui kesalahannya tanpa sepengetahuanku?
__ADS_1
Bersambung...