
"Begini Pak, saya mau bertanya. Kenapa Bapak memindahkan tugas Erwin, tunangan saya ke luar kota, apa lagi sampai ke Kalimantan?" tanyaku.
"Oh jadi soal itu kamu, mau datang ke kantor ini,"
"Jawab saja pertanyaan dari saya, Pak. Jangan ngomong bertele-tele dan nggak nyambung kayak gitu,"
"Soal pemindahan karyawan itu sudah biasa, hal yang normal dan itu wajar,"
"Tapi 'kan, Pak. Saya itu-,"
"Apa maksud kamu? Coba jelaskan! Mengapa kamu keberatan dengan kepindahan Erwin Mahendra? Apa karena dia itu pacar kamu, jadi nggak bisa berjauhan? Lagi pula soal pindah memindahkan karyawan itu bukan urusanku?" cecar Andra
"Ya, tapi itu juga urusan Bapak karena Bapak itu bos di perusahaan ini. Lagian ya, Pak. Erwin bukan lagi pacar, tapi dia itu calon suami saya!"
"Lantas apa hubungannya antara calon suami dengan pemindahan dia ke Kalimantan?"
"Ya jelas ada dong, Pak. Karena masalah ini, waktu pernikahan kami berdua, jadi dimajukan,"
"Ya, itu bagus dong buat kalian. Kalian jadi lebih cepat menjadi pasangan halal dari pada kelamaan. Bisa jadi pernikahan kalian batal!"
"Bapak bisa nggak 'sih. Kalau ngomong itu dipikir dulu pakai otak, jangan pakai dengkul,"
"Aku sudah berpikir pakai otak dengan baik, makanya aku bisa membangun perusahaan ini. Dari mulai hampir kolaps dan berkembang hingga besar seperti sekarang, jadi kenapa kamu bilang begitu?"
"Tau ah, apes aku kalau berdebat sama kamu yang ada. Malah bikin senewen terus," gumamku.
Aku lantas segera mengambil air minum yang telah disediakan di hadapanku, lalu kuteguk sampai habis tak bersisa lalu pergi tanpa pamit dengan Andra. Si bos keras kepala. Lantaran masih kesal karena tidak bisa diajak kompromi.
"Udah tau kayak gini jadinya, kenapa masih mau datang ke kantor ini juga? Dasar Kanaya!!" umpatku pada diri sendiri.
Aku pergi dengan membanting pintu lalu berjalan cepat menuju lift agar bisa turun lebih cepat hingga ke lantai dasar. Selang beberapa menit, Andra mengejarku sampai lobi kemudian ia bisa menjangkau tanganku lalu menarik lenganku sampai keluar pintu gedung. Hal yang sedang pria itu lakukan padaku. Sebenarnya dilihat oleh banyak karyawan. Karena memang saat ini sudah waktunya karyawan untuk pulang.
Namun, hal itu tidak dipedulikan oleh Andra. Pria itu tetap fokus membawaku keluar dari gedung kantornya lalu berdiri di halaman gedung
__ADS_1
"Kamu datang nggak bawa mobil sendiri 'kan?" tanyanya.
Wajahku tentu saja masih kesal dan cemberut. Malas sekali menjawab pertanyaan receh macam itu.
"Oke, kalau diam, berarti tandanya benar," ujarnya.
"Tunggu di sini, aku akan ambil mobilku, lalu kita akan pergi berdua. Terserah mau ke mana aku membawamu," titahnya.
Mendengar ucapan Andra, seharusnya aku marah. Namun, entah mengapa hatiku menyuruhku untuk tetap berdiri sesuai perintahnya? Aku sendiri masih bingung dengan otak dan hatiku yang mungkin saja sedang konslet atau memang terkena virus mematikan dari Andra.
***
Mobil berwarna putih melaju kencang menembus kemacetan ibu kota, kalau dilihat dari arahnya, pria ini akan membawaku ke daerah pinggiran Jakarta. Bisa aku tebak ia akan membawaku ke arah mana. Yang pasti di tengah rasa kesalku, Andra selalu bisa merayuku dengan cara yang tak terduga.
Benar saja, setelah melakukan perjalanan selama dua jam, kami berdua tiba di rumah Nurbaiti. Aku dan Andra disambut senyuman manis dari bibir mungil dua bocah kecil Razka dan Siti yang senang melihat kedatangan kami. Mereka lalu mempersilakan kami berdua masuk.
Kami mengobrol seperti biasa, temu kangen bersama anak-anak, becanda tertawa bersama-sama.
"Nurbaiti tolong kamu kemasi baju anak-anak, kamu, dan adikmu," ujar Andra mengejutkan kami semua yang ada di ruangan itu.
"Mama juga diajak, Pa," celetuk Razka.
"Pastinya 'dong,"
"Horeeee!" ucap anak-anak sembari tepuk tangan kompak.
Sontak semua yang ada di ruangan itu, bahagia mendengar mereka akan diajak jalan-jalan oleh Andra. Tidak terkecuali aku.
Andra berdeham pelan seraya berucap " Sembari kamu dan Nurhayati menyiapkan baju yang akan di pakai di sana. Aku minta izin untuk membawa anak-anak bermain, boleh 'kan Nurbaiti?"
"Oh tentu saja, Pak. Saya senang sekali Bapak mau mengajak anak-anak bermain,"
"Tunggu, aku 'kan nggak bawa baju dan kamu juga," ucapku sembari menoleh ke arah Andra.
__ADS_1
"Ah itu gampang, nanti aku belikan baju buat kamu,"
"Nggak mau baju baru itu kotor, ada debunya, gatal kalau nggak dicuci dulu,"
"Gimana kalau pakai baju punya aku aja, Bu. Kayaknya badan Bu dokter sama kayak aku, tapi maaf modelnya mungkin nggak sesuai keinginan Ibu," celetuk Nurhayati.
"Oh nggak apa-apa, yang penting bajunya masih layak pakai. Saya malah berterima kasih karena udah dipinjamkan baju," jawabku.
Selepas azan dan menunaikan salat Maghrib, Andra mengajakku dan anak-anak pergi ke Mall terdekat. Ia ingin membeli keperluannya serta keperluanku, sembari mengajak anak-anak bermain dan membeli camilan yang akan dibawa saat di jalan nanti.
Puas berbelanja, kami pun pergi ke wahana bermain. Razka dan Siti pun menaiki komidi putar, bom-bom car dan bermain mandi bola. Selama anak-anak bermain mandi bola, Andra menyuruhku untuk memberitahu orang rumah jika aku akan berlibur selama dua hari di luar kota.
***
Sepulang dari Mall, Nurbaiti dan Nurhayati sudah menunggu di halaman rumah, langsung naik ke mobil. Perjalanan menuju tempat rekreasi pun di mulai. Andra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang diiringi becanda dari anak-anak menambah keceriaan di dalam kendaraan ini, ada nyanyian dan tebak-tebakan semua yang ada di sana merasakan gembira.
Di tengah perjalanan, Andra memperlambat laju mobil lalu memarkirkan mobil tersebut di tempat parkir dan mengajak kami masuk ke restoran cepat saji untuk makan malam. Razka dan Siti merasa senang karena selain bisa makan malam mereka juga bisa bermain lagi di sana.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam, kami pun tiba di sebuah hotel. Dua kamar telah di pesan Andra untuk kami semua.
"Kamu cuma pesan dua kamar untuk kami semua?" tanyaku pada pria itu.
"Iya, maaf. Soalnya cuma itu yang tersisa, kan pesannya mendadak," jawabnya.
"Terus, aku tidur sama, siapa?"
"Ya, sama siapa lagi kalau bukan aku,"
"Aku tidur seranjang sama kamu. Ya, nggak maulah!"
"Tenang aja nggak usah khawatir, di sini kamar yang tersisa cuma dua. Satu kamar aku bagi untuk tiga orang. Nurbaiti, Nurhayati dan Siti tidur di kamar yang itu, sedangkan aku, kamu, dan Razka tidur di kamar yang ini," jelas Andra seraya menunjukkan kamar yang akan di tempati kami semua.
"Dasar modus!" ucapku seraya menggandeng tangan Razka lalu mengambil kunci kamar yang dipegang Andra dengan kasar.
__ADS_1
Andra tersenyum tipis saat melihat wajahku yang semakin cemberut padanya. Ia pun menggeleng kepalanya pelan. Pria itu kemudian memberikan kunci kamar yang satunya pada Nurbaiti dan tak lama setelah itu, Andra pun menyusul ke kamar yang aku dan Razka tempati.
Bersambung...