Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 23


__ADS_3

Usai tangisku sedikit mereda dan keadaan mulai tenang, tanpa permisi Andra membopongku beralih ke tempat tidur. Dengan sangat hati-hati pria itu, mendudukkan tubuhku ke kepala tempat tidur, lalu ia mengusap air mata yang masih ada sekitaran kelopak mataku. Kemudian ia membenarkan duduknya membuang napas dengan kasar. Untuk mulai bercerita.


"Dua hari sebelum aku pergi ke desa, Windy datang ke rumah. Ia memintaku untuk menemaninya pergi menemui sahabatnya, yang katanya sudah lama nggak bertemu dan rupanya sahabat itu  kamu," ucapnya,"


Aku hanya diam. Masih sedikit sesenggukan sisa tangisku, tapi aku pun menyimak apa yang Andra ceritakan itu padaku.


"Karena aku nggak ada acara pas hari itu dan aku takut bosan berada di rumah terus. Aku lalu mengiyakan ajakan Windy itu tanpa tau keinginannya yang sebenarnya. Kita berdua memilih berangkat pagi menjelang siang pada hari itu,"


"Windy berujar, agar selama perjalanan tidak terjebak kemacetan. Sebab, tadinya kita berencana akan langsung bertolak. Begitu Windy bertemu sama kamu, tapi nyatanya kita sampai di sana. Hari sudah malam dan Windy bilang. Ia ingin menginap barang semalam di hotel yang sudah ia pesan selama perjalanan ini dan besok siangnya. Barulah kita akan kembali pulang ke Jakarta,"


"Sungguh sama sekali aku tidak menaruh curiga, jika tujuan Windy ke sana, untuk membalas dendam pada kita karena salah sangka itu,"


"Balas dendam pada kita. Apa maksudnya semua ini, Ndra. Aku nggak paham?!"


"Ini semua terjadi karena Windy ingin balas dendam . Semuanya dapat aku ketahui setelah aku menginterogasi windy secara pribadi. Beberapa bulan usai kejadian malam itu. Ternyata tujuan dia ke sana hanya untuk membalas dendam pada kita, Kanaya,"


"Windy mau balas dendam, sama aku. Memangnya apa salahku?"


"Kesalahanmu kata Windy, adalah kamu menjadi orang ketiga di rumah tangga Dokter Bimo dan Winda, kakaknya Windy,"


"Tunggu! Dokter Bimo, Kakak iparnya Windy. Ini maksudnya bagaimana, aku makin nggak ngerti, Andra?"


"Kak Winda mengira kamu ada main dengan suaminya, Dokter Bimo. Dia lalu cerita tentang masalah rumah tangganya sama Windy. Nah, Windy kira kamu itu wanita simpanan Dokter Bimo,"


"Astaghfirullah, Windy sampai hati kamu nuduh aku kayak gitu. Ya, aku memang kenal dekat dengan Dokter Bimo, tapi  bukan aku orang ketiganya. Aku hanya dokter koas saat itu dan Dokter Bimo sebagai penanggung jawab saat aku tugas. Udah gitu aja," jelasku membela diri.


"Iya aku paham, Kanaya. Apa penjelasanmu tadi. Apa lagi setelah aku menyelidiki sendiri tentang perkara ini, tapi kita sudah keburu menjadi korban Windy, Kanaya,"


"Korban, kita!"


"Pada intinya, Windy itu mau kita sama-sama menjadi korban dari kesalahpahamannya dan hancur. Seperti keluarganya ,"

__ADS_1


"Hancur, maksudnya apa lagi ini? Aku jadi makin bingung. Lalu sekarang apa hubunganmu dengan Windy sampai bisa menjadi korban sama kayak aku?"


"Windy itu sepupu aku dari garis Ayah. Perusahaan Ayah bisa hancur, itu semua gara-gara Om Danu pelakunya. Om Danu itu ayahnya Windy yang tak lain pamanku juga. Sebagai pemimpin dan pemilik perusahaan, Ayahku berhak 'dong menjebloskan Om Danu ke penjara. Karena dia sudah mengkorupsi uang perusahaan secara besar-besaran sampai perusahaan menjadi pailit, tapi Windy dan keluarganya tidak terima akan itu,"


"Berbagai cara mereka lakukan, agar aku dan keluargaku ikut hancur seperti mereka. Seperti Om Danu yang masuk penjara. Mereka juga ingin aku juga masuk penjara. Mereka hampir saja menjegalku, saat aku ingin diangkat menjadi direktur utama menggantikan posisi ayah, tapi usahanya itu gagal. Nyatanya sampai sekarang aku masih dan tetap menjadi direktur dan perusahaan Ayah bisa kembali sehat,"


"Lalu, bagaimana soal orang ketiga di pernikahan kakaknya Windy?"tanyaku mulai serius.


"Ternyata, orang yang dimaksud Winda itu bukanlah kamu, tapi orang lain,"


"Kalau bukan aku. Lantas siapa orangnya. Apakah dia orang besar sampai kebenarannya tidak diusut?" tanyaku mencecar.


"Suatu hari nanti, kamu pasti juga akan tau, siapa orangnya?" jawab Andra mengambang.


"Apa aku kenal wanita itu? Apa kamu juga kenal dia? Oh, sekarang. Aku jadi tau, mengapa Windy tiba-tiba telepon aku padahal waktu itu, kita sudah lama putus kontak,"


Andra tertawa lepas mendengar pertanyaan sekaligus dugaanku tentang Windy dan pria itu menjawab.


"Ya, Allah. Kenapa jadi pelik begini, terus ke mana kamu pergi dan menghilang, setelah tau aku hamil?"


"Kalau soal itu nanti aja, ya. Aku akan cerita semuanya sama kamu. Aku janji, tapi sekarang kamu siap-siap aja dulu, aku akan antar kamu pulang,"


"Tapi kenapa, aku disuruh pulang sekarang. Terus bagaimana sama yang lainnya?"


"Yang lainnya besok, biar mereka di sini aja dulu. Lagian besok kata Nurbaiti  anak-anak mau berenang lagi sebelum pulang,"


"Kenapa aku juga nggak besok aja pulangnya, bareng sama yang lainnya,"


"Nggak bisa, besok kamu ada acara bersama keluargamu 'kan. Jadi kamu harus mempersiapkan dengan matang meski pun acaranya itu mendadak," ujar Andra seraya tersenyum menatapku.


"Please, Ndra. Please," ucapku sembari menyatukan telapak tangan sementara pria itu tetap menggeleng kepalanya tak menyetujui permintaanku.

__ADS_1


***


Setelah makan malam, aku pamit untuk pulang lebih dulu pada Nurbaiti, anak-anak, dan Nurhayati. Melihatku yang akan pulang, Razka lalu menanyakan perihal kepulanganku itu.


"Mama, kenapa pulang duluan?"


"Karena Mama ada urusan yang sangat penting, jagoan," celetuk Andra.


"Terus Mama balik lagi, nggak?"


"Mama nggak balik lagi, tapi nanti kapan-kapan Mama bakal main sama Razka dan Dek Siti," jawabku dengan mata berkaca-kaca.


"Janji ya, Ma,"


"Ya, Mama janji," ujarku pada Razka sembari menganggukkan kepala dan menautkan jariku dan jarinya.


***


Perjalanan dari hotel menuju rumah akan memakan waktu empat jam. Di mobil aku lebih banyak diam dan fokus pada pemandangan jalan sedangkan Andra fokus mengemudi, ia juga diam tidak bawel seperti biasanya.


Waktu yang semakin larut dan tak banyak lagi kendaraan yang lewat membuat jalan sepi dan lengang. Waktu tempuhnya pun menjadi lebih cepat dibandingkan saat siang hari. Sekitar empat puluh menit lebih awal sehingga pukul sebelah malam, aku sudah tiba di depan rumah.


"Terima kasih sudah mengajakku liburan dan mengantar aku pulang," ucapku sebelum turun dari mobilnya.


"Hmmm," jawab Andra singkat seraya menganggukkan kepala.


Aku masih berdiri mematung seraya menatap mobil berwarna putih itu pergi meninggalkan halaman rumahku. Tak lupa lambaian tangan dan senyum mengiringi kepergian mobil itu dari hadapanku.


Dalam hati aku pun kesal pada Erwin yang sesuka hati menentukan hari pertemuan keluarga. Untuk kembali membahas tanggal dan hari pernikahan yang sudah ditetapkan. Namun, karena Erwin akan dipindahkan ke pulau Kalimantan. Membuat pria itu dan keluarganya sesuka hati merubah waktu yang sudah ditentukan menjadi maju lebih awal dari yang semula.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2