
Matahari perlahan mulai meninggi dan sinarnya menyorot langsung ke wajahku, tentu itu mengganggu kenyamanan tidurku. Samar-samar ingat, jika semalam aku lupa menutup gorden lantaran aku segera tidur selepas bertengkar dengan Andra. Lantas kuraba- raba handphone yang semalam aku letakkan sembarangan. Setelah beberapa menit meraba. Barulah benda itu aku temukan. Ternyata ada di bawah guling. Segera kutatap layar handphone. "Ah, gawat, rupanya aku kesiangan!" Aku pun segera bangun dan langsung membuka pintu kamar yang semalam juga lupa kukunci.
Saat membuka pintu kamar
harum aroma masakan menguar sangat menusuk indra penciuman sehingga aku menutupnya kembali dan kedua mataku yang semula menyipit lantaran baru bangun dari tidur. Perlahan mulai terbuka lebar. Ketika aku duduk di tepian tempat tidur baru aku menyadari ada yang salah dari kamar yang kutempati ini. Lalu terdengar ketukan pintu menyadarkan aku untuk segera bangkit dari duduk.
"Makanan sudah siap, ayo kita sarapan," ajak Andra dari balik pintu.
Hal ini membuatku sadar jika aku sedang berada di apartemen Andra bukan rumah yang biasa aku tinggali bersama keluargaku. Aku hanya mengangguk lalu menutup kembali pintu menuju kamar mandi untuk berkumur dan membersihkan wajah dari sisa-sisa make up yang semalam lupa aku bersihkan.
Usai membersihkan wajah dan kumur-kumur, barulah aku keluar kamar menghampiri pria yang pagi ini sudah rapi dengan setelan kemeja putih dan celana panjang berwarna hitam. Sedang berada di balik meja menata makanan yang ia masak sendiri. Di meja sudah terhidang, nasi goreng dengan aneka jenis topping tertata rapi, aneka topping itu, seperti telur mata sapi, mentimun, sosis, kerupuk, dan bawang goreng.
"Kamu mau minum, apa. Biar sekalian aku buatkan?" tanyanya.
"Nggak usah, biar aku buat sendiri aja nanti,"
Aku lantas mengambil gelas yang sudah tersedia di meja. Menuang segelas air putih untuk aku minum. Setelah itu baru aku mengambil nasi goreng dan semua aneka topping, sepertinya enak untuk disantap.
"Soal yang semalam, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk menyambut kedatanganmu pertama kali ke sini. Seperti itu, tapi-,"
"Oh, soal itu. Udah nggak perlu lagi dijelaskan. Nanti suatu saat, jika aku bertemu Erwin. Dia juga pasti akan memberitahu perihal ini," jawabku seraya memotong ucapannya.
"Tapi aku mau jelaskan itu sekarang. Biar kamu nggak salah paham," tegasnya.
"Terserah, aku nggak maksa," sahutku sembari mengambil nasi goreng dan satu per satu topping yang tersedia di atas meja.
"Jadi kemarin waktu tinggal sepuluh menit untuk acara akad nikah. Papamu bicara empat mata denganku. Beliau meminta sendiri. Untuk aku yang menggantikan posisi Erwin. Awalnya aku menolak keras. Aku juga memohon pada penghulu agar memberi kelonggaran waktu dan berharap semoga Erwin bisa segera datang. Namun, hingga waktu yang telah ditentukan hampir habis. Pria itu pun belum juga datang,"
__ADS_1
"Maka, sesuai perjanjian aku dan Papamu di awal. Terjadilah akad nikah itu dan aku yang menjadi pria pengganti menjadi mempelai,"
"Memang sebelumnya kamu udah kenal sama Papa?"
"Papamu itu rekan bisnis aku. Tapi sama sekali aku nggak ada kaitannya dengan tidak hadirnya Erwin di acara pernikahan ini. Demi Tuhan, aku nggak ada persengkokolan untuk itu," jelas Andra seraya mengangkat dua jarinya sebagai tanda ia bersumpah.
Aku lantas mengangguk sebagai jawaban atas penjelasan Andra perihal dirinya yang bersedia menggantikan posisi Erwin.
"Ya, sudah itu saja penjelasan dariku. Sekarang aku mau ke kantor. Kalau kamu mau keluar. Silakan, tapi pulangnya harus lebih awal dari pada aku," ujar pria yang kini sah menjadi suamiku seraya meletakkan bekas piringnya ke wastafel lalu menggunakan jasnya dan melangkah panjang menuju pintu.
***
Sementara aku sendiri masih terpaku di balik meja makan. masih memikirkan mantan tunanganku yang tiba-tiba menghilang. Sebenarnya apa yang terjadi pada Erwin? Sampai ia tak hadir di hari pernikahannya sendiri. Padahal Erwin juga yang menginginkan hari pernikahan ini dimajukan.
Jangankan datang meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat. Menghubungi lewat udara atau berkirim pesan pun tidak ia lakukan. Padahal biasanya, jika satu hari saja aku tidak memberikannya kabar. Ia akan mengirimkan ratusan pesan atau bahkan puluhan kali panggilan. Agar ia segera mengetahui keberadaanku di mana? Namun, kini Erwin malah menghilang bagai ditelan bumi. Justru di hari pernikahannya dilangsungkan.
Aku mulai menyantap nasi goreng dan topping yang kuambil satu per satu tadi, satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut lalu kukunyah dan kutelan.
Aku segera menyelesaikan sarapanku, selepas itu mencuci piring, lalu beres-beres sebagian barang-barang yang kemarin sudah kubawa dari rumah dan nanti bila ada waktu. Aku akan pergi ke rumah sakit untuk praktik seperti biasanya, meski sebenarnya saat ini aku diberikan izin untuk tidak praktik. Namun, aku tidak ingin berkutat memikirkan Erwin dan jenuh di apartemen Andra.
Maka dari itu aku lebih memilih untuk bekerja meski terlambat datang, tetapi pihak rumah sakit pun memaklumi karena aku memilih tidak mengambil cuti. Karena aku hampir saja resign dari rumah sakit ini lantaran harus mengikuti keinginan Erwin yang dipindahkan ke pulau Kalimantan.
Awalnya memang aku ingin mengajukan resign dan mencari pekerjaan di rumah sakit di pulau Kalimantan tempat Erwin dipindah tugaskan nantinya. Sembari kita berdua menikmati bulan madu di tempat baru itu. Namun, bayangan tidak sama dengan kenyataan. Karena ternyata pria yang seharusnya menikah denganku. Kini malah menghilang dan akhirnya aku menikah dengan Andra karena permintaan Papa.
Andra bukanlah orang asing dalam hidupku, ia adalah ayah kandung Razka Fadilah, putraku. Namun, di sisi lain dari pria itu selain wataknya yang keras kepala. Ia juga orang yang gila akan pekerjaan. Mana mungkin ia mau mengajukan cuti hanya sekadar untuk berlibur bersamaku di luar kota? Di dalam otaknya hanyalah kerja, kerja, dan kerja. Sehingga mana pernah ia memiliki waktu untuk diri sendiri dan orang lain menikmati liburan bersama.
***
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, aku langsung ke ruang praktik, sudah kulihat banyak ibu hamil duduk berjajar di depan ruangan praktik. Tanpa membuang waktu aku mulai menerima pasien satu per satu demi meminimalisir jumlah pasien yang ada di depan ruangan. Yang sedari tadi sudah banyak mengantre.
Dari pasien yang melakukan pemeriksaan rutin kehamilan atau sekadar konsultasi masalah anak dan kandungan. Semua itu kulayani dengan ramah. Tiba di pasien urutan terakhir menjelang waktu istirahat, datanglah seorang ibu dengan usia kandungan sekitar tiga puluh empat minggu, itu dapat aku lihat dari bentuk perutnya yang sudah mulai menurun.
Jika tak salah lihat, ini pertama kalinya. Ibu hamil itu memeriksakan kehamilannya denganku. Tak ada bedanya aku terhadap pasien lama atau pun baru. Semua kulayani dengan sebaik mungkin dengan kemampuan yang aku miliki. Dapat membantu setiap pasien yang datang padaku dan tidak mengecewakan pasien tersebut. Itulah moto yang aku pegang setiap kali aku berinteraksi dengan pasien.
Lalu aku memeriksa kehamilannya. Cukup sehat, posisi bayinya juga sehat dan tidak ada komplikasi pada kehamilannya, meski usia sang ibu sudah menginjak kepala tiga ke atas. Aku lalu menuliskan resep vitamin untuknya. Ibu hamil itu dengan saksama memandangiku.
"Sudah berapa lama Dokter Kanaya menjadi seorang dokter?" tanyanya.
Aku mengerutkan dahi, tetapi langsung mengerti apa maksud pertanyaannya lalu aku menjawab.
"Sudah enam tahun, Bu,"
Ibu itu pun mengangguk dan tak lama kembali bertanya lagi padaku.
"Apa Dokter kenal dengan pria bernama Erwin Mahendra?"
"Ya, tentu saja saya kenal. Mengapa Ibu bertanya seperti itu. Apa Ibu juga mengenali Erwin?" tanyaku balik.
Ibu hamil itu menjawab dengan mengangguk.
Lalu, apa hubungan Ibu dengan Erwin Mahendra?"
"Dia itu suami saya, ayah dari bayi ini," jawab ibu hamil itu seraya mengelus perut buncitnya.
Deg!
__ADS_1
Seketika pena yang ada di tanganku jatuh tergeletak. Apa ini, yang jadi penyebab Erwin dan keluarganya tidak datang di acara pernikahannya denganku kemarin?
Bersambung...