
Andra lantas memelukku sembari mengulangi permintaan maafnya dan itu malah membuatku makin terisak, entah mengapa aku menjadi melow seperti ini? Jika sudah menyangkut soal kejadian enam tahun lalu. Padahal aku dan Andra kini sudah bersatu dalam ikatan pernikahan dan sudah bisa melupakan kejadian itu, meski tidak bisa dipungkiri. Sesekali jika dalam keadaan sendiri bayangan trauma kejadian itu pun masih bisa kurasakan.
Suamiku itu kemudian membopongku hingga dalam kamar, lalu dengan hati-hati dia membaringkan tubuh ini ke tempat tidur. Ia juga mengusap kembali air mataku dengan jari jemarinya yang panjang. Kemudian membelai wajahku, dan dengan perlahan mengecup dahi dan bibirku lalu beranjak pergi mengambil kembali tas berisi alat medis yang tadi tergeletak di jalan. Tak lama ia pun kembali masukz.
***
Dok! Dok! Dok!
"Papa, Mama, bangun katanya mau jalan-jalan!" teriaknya dari luar sana sembari terus menggedor-gedor pintu. Aku yang sedikit terganggu karena bunyi itu perlahan mulai membuka mata sedangkan di hadapanku ada Andra yang masih nyaman memejamkan mata sembari tangannya memeluk pinggangku.
"Yang Bangun," ucapku dengan nada malas.
Andra hanya berdeham sembari tangannya memelukku lebih erat.
"Yang bangun, aku malah jadi sesak napas 'nih gara-gara kamu meluknya kekencengan,"
"Apa 'sih, Yang? Aku masih ngantuk, lagian ini 'kan, hari Minggu," jawabnya dengan mata yang masih terpejam.
"Tapi 'kan kamu udah janji sama Razka. Mau ngajak dia sama Siti jalan-jalan,"
"Oh iya, aku lupa. Jam berapa sekarang, Yang?! jawab Andra seraya membuka matanya lebar-lebar.
"Jam sembilan lewat sepuluh menit,"
"Ya ampun, kita telat, Yang,"
"Nah 'kan, emang kamu janjiin mereka, ke mana?"
"Ke Taman Safari, maksudnya ke sana sekalian nanti kita pulang ke Jakarta,"
Andra segera bangkit lalu beralih ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Laki-laki itu memang tidak mandi lantaran sebelum kita tidur, kita berdua mandi bareng dan setelahnya salat Subuh berjamaah.
***
Keluar dari kamar aku dan Andra bergegas menuju ke ruang makan untuk sarapan, tetapi tak tahu mengapa ruang tengah tampak sepi, sudah tak ada lagi orang di sana? Razka saja yang baru membangunkan kami berdua pun sudah tak tahu di mana batang hidungnya.
"Non Kanaya sama Pak Andra, apa sudah mau sarapan?" tanya Mang Udin menghampiri.
"Iya, Mang. Perut saya lapar, sudah minta diisi" sahut Andra.
"Pada ke mana, semua orang, Mang?" tanyaku.
__ADS_1
"Maksudnya Keluarga, Non Kanaya,"
"Iya, mereka semua ada di mana? Apa jangan-jangan mereka udah pada pergi semua, Mang?"
"Nggak atuh, Non. Mereka semua masih ada di sini. Kalau Papa Non, sama Pak sopir masih mengobrol sambil berjemur di halaman depan, tapi kalau Mama Non sama semuanya lagi di rumah saya. Lagi menjenguk Halimah dan bayinya," jelasnya.
"Oh gitu, Mang. Kalau saya mau sarapan. Masih ada 'kan makanan untuk saya dan suami,"
"Oh kalau itu tentu masih ada atuh, Non. Sok mangga sarapan. Ada nasi goreng, lontong sayur sama roti panggang. Non tinggal pilih mana yang mau dimakan. Apa mau dibuatkan makanan yang baru atau minuman yang hangat?"
"Saya mau kopi hitam pakai gula sedikit, Mang," timpal Andra.
"Siap atuh, Pak," jawab Mang Udin yang langsung bergegas ke kitchen set membuatkan kopi yang diminta Andra.
***
Usai sarapan aku dan Andra beralih ke rumah Mang Udin yang ada di belakang. Kedatangan kami berdua lantas disambut dengan senyum manis dari anakku Razka.
"Papa, Mama sini deh, ada adek kecil lucu banget," ucapnya sembari menggunakan bahasa tubuh dengan gerakan jarinya dan memperlihatkan gigi atasnya yang sebagian ompong.
Andra lantas berlari menuju Razka lalu meraih tubuhnya dan menggendongnya. Ia mencium kedua pipi hingga dahinya lantas membisikkan sesuatu ke telinga anaknya dan gerakan itu membuat Razka tertawa seraya kegelian. Sedangkan aku hanya berdiri mengamatinya dari kejauhan sembari melipat tangan. Senyumku lantas mengembang lebar tanpa aku sadari seseorang lalu membisikkan sesuatu pertanyaan ke telingaku.
"Apa kamu bahagia melihat pemandangan itu?"
"Mama!" pekikku seraya tersenyum menatap ibuku yang juga tersenyum.
"Kamu beruntung 'lho, bisa menikah dengan anak muda seperti Andra. Memang dulu, Mama begitu marah dan kesal karena pernah melakukan perbuatan senonoh sama kamu sampai terjadilah Razka, tapi setelah dia menjelaskan semua duduk permasalahan dan tindak tanduknya yang ternyata sopan. Mama malah jadi iba dan kagum padanya,"
"Mama senang akhirnya kamu bisa bersatu dengan Andra sebagai pasangan suami istri. Akhirnya usaha kita selama ini, nggak sia-sia," jelas Mama lagi.
"Usaha kita. Maksudnya apa, Ma?"
"Apa Papa nggak pernah cerita sama kamu. Soal perempuan yang bernama Dewi?"
"Dewi, siapa dia?" tanyaku sembari mengerutkan dahi.
"Dewi Kumalasari, istrinya Erwin mantan tunangan kamu,"
"Papa kenal samal Dewi. Tau dari mana, Ma?"
"Saat Dewi masih lajang dulu. Dia pernah bekerja sebagai sekretaris Papa. Bahkan setelah dia menikah, dia tetap bekerja sama Papa. Namun, akhirnya dia memutuskan resign saat dia ingin menikah untuk yang kedua kalinya,"
__ADS_1
"Di suatu siang, tiga Minggu. Sebelum kamu menikah dengan Erwin, Papa memergoki perempuan yang hampir mau bunuh diri di jalan raya. Pas Papa amati ternyata dia itu Dewi sekretarisnya dulu. Sontak Papa pun menghalanginya dan saat Dewi sudah merasa lebih tenang. Dewi lalu bercerita tentang keadaannya saat itu,"
"Apa Papa dan Dewi...?"
"Ya, Papa syok begitu mengetahui jika suami Dewi yang kedua itu ternyata Erwin tunangan kamu dan akhirnya mereka sepakat membuat rencana untuk menggagalkan pernikahan kamu dengan Erwin," pungkas Mama.
"Apa rencana itu juga diketahui Andra?"
"Andra nggak pernah tau tentang rencana ini. Yang tau rencana ini cuma Papa, Mama, dan Dewi,"
"Terus Papa juga yang nyuruh Andra buat jadi saksi nikah aku waktu itu,"
"Kalau soal itu Mama kurang tau, tapi kalau yang menggantikan posisi Erwin menjadi mempelai pria. Itu memang Papa yang nyuruh, dan Mama juga lebih setuju bila kamu menikah dengan Andra ketimbang sama Erwin,"
Mendengar penjelasan itu dari Mama, aku mengangguk paham sembari tersenyum melihat interaksi antara suami dan anakku dari kejauhan.
Aku dan Andra lantas melihat kembali keadaan Halimah dan bayinya. Meski terlahir sebelum waktunya. Namun, berat badan sang bayi sudah dikatakan cukup sehingga tidak diperlukan lagi alat bantu seperti inkubator. Ini dapat di lihat dari kondisi dan keadaannya yang baik. Baik bayi maupun ibunya, semua dinyatakan normal dan sehat.
Aku lalu menyarankan Halimah untuk membawa bayinya ke Puskesmas atau klinik bidan terdekat esok hari. Agar ia bisa di beri imunisasi pasca kelahiran, lalu di ukur berat, dan tinggi badan bayinya. Agar memudahkan apabila ia dan suaminya ingin mengurus sesuatu yang berhubungan dengan dokumen kelahiran anaknya.
Usai berbincang lama dengan Halimah dan keluarganya. Aku dan semuanya pamit dari villa dan beralih untuk berwisata ke Taman Safari sebelum akhirnya kami pulang ke ibu kota. Sengaja Andra memilih tempat wisata ini karena ingin memperkenalkan pada Razka dan Siti. Semua yang berhubungan dengan satwa. Baik itu yang buas maupun yang jinak di alam terbuka seperti Taman Safari.
Di tempat wisata ini pula kita bisa melihat dari dekat bagaimana para hewan berinteraksi hewan antar hewan maupun dengan manusia sebagai wisatawan yang berkunjung ke sana. Selain bisa refresing, kita juga bisa memberikan edukasi langsung kepada anak-anak seusia Razka dan Siti. Agar mereka bisa berempati kepada segala jenis makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan. Saat perjalanan menuju ke Jakarta, Razka yang duduk di sampingku tiba-tiba berceloteh.
"Mama Kanaya," panggilannya.
"Ya, Sayang. Ada apa?"
"Razka mau minta sesuatu sama Mama, tapi Mama janji, ya. Jangan marah," jelasnya sembari memperlihatkan dua jari tangannya padaku,"
"Iya Sayang, Mama janji nggak akan marah, asal Razka cepat kasih tau. Apa yang Razka minta dari Mama?"
Anak kecil itu lantas tersenyum malu lalu memintaku menunduk, agar ia bisa membisikkan sesuatu ke telingaku.
"Soalnya kata Papa Andra sama Ibu Iti. Cuma Mama yang bisa kasih buat Razka,"
"Iya, apa itu, Nak?"
"Razka pengen minta adik cowok,"
"Hah... Apa!" jawabku kaget seraya melebarkan mataku,"
__ADS_1
Sementara Razka tertawa tanpa dosa melihat ekspresiku yang kaget itu.
Bersambung...