
"Jadi selama ini, Papa sudah tau tentang Razka," ucapku lirih.
"Bukan cuma Papa, tapi Mama, Kamila juga tau siapa itu, Razka. Kami juga sering bertemu dengan anak itu," jelas Papa yang membuatku semakin melongo.
"Papa dan semuanya bisa tau Razka dari siapa, apa semuanya, Andra juga yang memberitahu?"
"Iya benar, sejak dua tahun lalu, Papa, Mama, dan Kamila tau semuanya dari Nak Andra. Dia yang memberitahu, mengapa semua itu bisa terjadi. Nak Andra juga yang mempertemukan Papa dan Mama dengan Windy teman kamu. Karena pada saat Nak Andra pengakuan soal Razka. Papa marah besar, saat itu Papa buat Nak Andra babak belur dan hampir juga Papa jebloskan dia ke penjara,"
"Karena telah membuat anak kebanggaan dan masa depan Papa hancur, tapi akhirnya Papa urungkan. Karena Papa juga memikirkan bagaimana nasib karyawan Nak Andra? Jika Papa menjebloskannya ke penjara,"
"Papa akhirnya bisa berdamai dengan keadaan ini. Termasuk memaafkan juga kesalahan Nak Andra. Toh nyatanya ini bukan kesalahan dia sepenuhnya. Lagi pula kamu juga masih bisa mewujudkan cita-citamu menjadi dokter sampai ada di posisimu seperti sekarang,"
"Hubungan Papa dan Nak Andra malah semakin dekat. Sejak pengakuan itu, dia juga membantu perusahaan. Saat perusahaan sedang mengalami krisis finansial dan hampir pailit. Sampai akhirnya perlahan perusahaan mulai bangkit dan kembali pulih," jelas Papa lagi.
"Apa karena itu juga, Papa menyuruh Andra. Agar dia bersedia menikahi aku. Saat Erwin tak kunjung datang di acara akad nikah, waktu itu?" tanyaku.
"Ya, tentu saja. Selain Papa tidak ingin kamu dan keluarga kita mendapatkan malu karena kamu batal menikah hanya gara-gara calon mempelai pria nggak datang. Tapi justru Papa ingin melihat kamu dan Nak Andra bersatu,"
"Saling memaafkan atas apa yang sudah menimpa kalian. Papa ingin kalian bahagia membangun keluarga kecil, tinggal bersama dengan Razka, anak kalian. Cucu Papa,"
Tak terasa air mata ini mengalir dari kedua sudut mataku, aku merasa berdosa karena telah membohongi keluargaku yang nyatanya malah sudah mengetahui kebohongan ini sejak lama.
"Pa, maafkan aku, selama ini aku telah berbohong sama Papa, Mama, dan Kamila. Aku takut, masalah ini akan membuat kalian kecewa. Apa lagi Papa sudah menaruh kepercayaan penuh sama aku," ucapku sembari menangis tersedu-sedu seraya menundukkan kepala.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi dan akan menjadi pelajaran berharga di kemudian hari. Sekarang kejarlah apa yang akan menjadi masa depanmu bersama suamimu. Papa yakin Nak Andra orang yang bertanggung jawab. Dia pasti bisa membuatmu bahagia untuk selama-lamanya,"
"Sekarang ayo kita habiskan makanan ini lalu Papa antar kamu pulang. Kasihan Nak Andra nungguin kamu di rumah sendirian," ucap Papa
"Tapi kenapa Papa sama Mama nggak tanya soal kebohongan ini? Kenapa kalian nggak marah sama aku, Pa?" ujarku.
"Itu semua karena Nak Andra yang minta. Saat terjadi baku hantam sama Papa. Nak Andra rela Papa pukuli sampai dia babak belur. Hingga Papa puas melampiaskan kemarahan. Bahkan Nak Andra bersedia Papa jebloskan ke penjara, asalkan kamu nggak Papa marahi atau diinterogasi. Nak Andra bilang pada Papa. Semua ini terjadi karena kesalahannya, dia yang tidak menepati janjinya sama kamu. Sampai akhirnya kamu melahirkan dan memberikan Razka kepada Nurbaiti.
"Lagi-lagi Andra membuatku berdecak kagum. Diam-diam ternyata, dia pria yang setia serta bertanggung jawab padaku dan juga Razka, terimakasih banyak, Andra," ucapku dalam hati.
__ADS_1
Setelah menyantap habis makanan dan minuman yang kami pesan. Aku dan Papa bergegas pulang. Papa sudah bilang akan mengantar aku pulang ke apartemen. Di sepanjang perjalanan, aku hanya memikirkan suamiku. Bagaimana dia begitu pintarnya menyembunyikan ini semua dengan sangat rapat dan rapi dari diriku. Dia juga pintar mendekati keluargaku padahal ketika dia mendekati keluargaku. Aku sudah tinggal kembali bersama mereka.
Pria yang pernah sangat kubenci karena merusak dan menghancurkanku, dia menghilang begitu saja, dan lari dari tanggung jawab. Tapi kini justru membuatku semakin mengaguminya karena apa yang dia lakukan sebagai anak, sebagai ayah. Semua dia penuhi secara diam-diam. Pria itu membalas rasa sakit hati enam tahun lalu.
Dengan kebaikan-kebaikan yang dia tabur untuk orang-orang yang memusuhi dan mencintainya secara adil. Ingin sekali bibirku ini mengucapkan kata terima kasih secara berulang kali padanya. Karena apa yang dia telah perbuat selama ini.
***
Aku sudah berada di ambang pintu apartemen dan segera membuka pintunya. Namun kubuka, ruangan sudah terlihat terang dan kulihat ada orang yang sedang sibuk memasak di pantry.
"Hai, baru pulang," sapanya.
"Kamu mau buat apa, sini biar aku yang masak?" tawarku.
"Tadinya aku nggak niat masak, tapi pas aku lihat di kulkas ada bungkusan spaghetti dan hampir kadarluarsa, ya udah aku masak aja, cepat mandi sana. Nanti bantuin aku habisin spaghetti ini," titahnya.
Aku mengangguk, melangkah menuju kamarku lalu mandi, berganti pakaian, dan sedikit berdandan. Lalu setengah jam kemudian. Aku keluar kamar dan bersiap ingin makan malam dengan spaghetti masakan suamiku. Terlihat di atas meja. Sudah ada sepiring spaghetti yang terhidang, di temani dua jus jeruk, dan buah-buahan segar. Andra tersenyum dengan menggerakkan tangannya mempersilakan aku untuk duduk.
***
Andra kembali tersenyum seraya mendudukkan pula bokongnya di atas kursi berhadapan denganku
"Kita makan berdua aja, biar romantis, Kanaya," ujarnya
Mendengar itu, aku langsung memasang wajah cemberut, meliriknya dan pura-pura tak suka padahal.
"Kenapa kamu nggak mau? Aku cuma mau irit piring. Biar nanti aku nggak capek nyuci piringnya, Kanaya," ujarnya sembari mulai menyendok spaghetti.
"Iya-ya tau. Udah ayo makan, padahal aku udah kenyang,"
"Iya, aku tau. Tadi Papa juga telepon bilang ke aku, kalau mau ngajak kamu makan," jawabnya sembari mulai melahap lagi spaghetti.
"Akrab banget kayaknya kamu sama Papa, sampai Papa aja mau ngajak jalan anaknya mesti bilang sama kamu dulu,"
__ADS_1
"Ya bukan gitu, Kanaya. Aku nggak minta, lho. Itu inisiatif Papa sendiri, katanya takut, kalau kamu dicariin sama aku. Gimana enak nggak spaghetti-nya?"
Aku lantas mengangguk seraya melahap terus spaghetti buatan suamiku yang kurasa tak kalah enaknya dengan spaghetti buatan chef bintang lima.
"Kamu belajar masak dari siapa, Ndra?"
"Dari Ibu. Dulu Ibu sengaja nyuruh aku sama Abang belajar masak, supaya nanti kalau Ibu lagi sakit atau lagi berpergian, kita nggak ketergantungan sama Ibu," jelasnya.
"Emang di rumah nggak ada pembantu, yang bantuin pekerjaan rumah?"
"Ada 'sih, tapi aku sama Abang nggak boleh ketergantungan juga sama dia. Apa-apa mesti dilakuin sendiri. Biar nanti, kalau aku atau Abang kuliah di luar kota atau di luar negeri kita udah terbiasa hidup mandiri,"
Aku hanya mengangguk seraya bertanya sesuatu.
"Aku, boleh tanya nggak,"
"Soal apa?"
"Soal pernikahan kamu sebelumnya. Kenapa kamu mau menikah sama dia terus kenapa juga kalian bercerai?"
"Maksud kamu, Carla,"
Aku mengangguk pelan, diiringi helaan napas dari Andra. Pria itu sempat menggaruk kepalanya yang kuyakini tak terasa gatal.
"Aku terpaksa menikahi dia, karena perjanjian orang tua, Kanaya. Itu semua bukan mauku, aku cuma menggantikan posisi Abang. Terpaksa, semua demi perusahaan agar nggak jadi bangkrut,"
"Tapi aku nggak cinta 'kok sama dia, Kanaya. Demi Tuhan, aku cintanya sama orang lain," ujar Andra lagi.
"Udah nggak tanggung jawab sama aku, terpaksa menikah sama cewek gara-gara orang tua. Eh, ini malah katanya punya cewek lain. Dasar Andra brengsek! Nggak ada bedanya sama cowok lain!" ujarku sewot.
"Bukan begitu, Kanaya. Ini nggak seperti yang kamu kira, aku bisa jelasin ini semuanya," jawab Andra bingung.
"Ya udah, sekarang jelasin! Biar nggak terjadi salah paham!" jawabku seraya melebarkan mata pura-pura marah, padahal setengah mati aku sedang menahan tawa melihat wajah suamiku yang sedang mengkerut kebingungan.
__ADS_1
Bersambung...