Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 34


__ADS_3

Sudah pukul sembilan malam Andra belum juga pulang dari kantor. Pria itu juga tidak membalas pesan yang aku kirimkan tiga jam lalu. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia pulang selarut ini sejak kami menikah. Hanya saja biasanya Andra, akan mengirim pesan untuk memberitahu jika ia akan pulang malam. Memang akhir-akhir ini, ia sibuk dengan pekerjaan. di rumah saja selepas makan dan salat Isya, dia akan berkutat dengan berkas dan laptopnya hingga pagi dini hari.


Aku sering mengingatkan padanya, agar jangan sering begadang karena itu tak baik untuk kesehatan. Namun, Andra tetaplah Andra meski mulutnya berkata Ya, telinganya mendengar semua penjelasan, tapi tetap saja ia akan melakukannya kegiatan yang sama dan itu yang membuatku geleng-geleng kepala seraya mengelus dada.


Saat menonton acara televisi untuk mengurangi rasa jenuh, terdengar suara pintu yang diketuk, aku langsung mematikan televisi lalu bergegas membukakan pintu. Sontak aku terkejut melihat Andra berdiri di ambang pintu sembari membawa Razka yang tertidur di gendongannya. Ia terlihat begitu kerepotan. Lantaran dua tangannya membawa dua tas sekaligus, ransel dan tas kerja miliknya.


Melihat itu aku langsung berinisiatif untuk mengambil alih menggendong Razka. Namun, Andra menolak. Ia malah menyodorkan ransel dan tas kerjanya yang berat layaknya batu kali yang dimasukkan ke dalam tas.


"Pasti mau begadang lagi," ucapku dalam hati sembari mengambil dua tas itu dari tangannya.


Aku lantas memberikan jalan untuknya masuk seraya mengunci pintu dan berjalan mengekor di belakangnya. Andra masuk ke kamarku untuk menidurkan Razka sedangkan aku ingin masuk ke kamar Andra untuk meletakkan tasnya. Namun, ia melarang malah menyuruhku meletakkan benda itu di atas meja makan seperti biasanya. Hmmm, kalau sudah begini, dapat dipastikan Andra akan bekerja hingga larut malam lagi.


Usai meletakkan tas di meja, aku beralih ke pantry ingin menghangatkan makanan untuknya makan malam yang sudah aku masak tadi. Mumpung Andra masih membersihkan diri dan berganti pakaian di kamarnya. Namun, saat mendengar tombol kompor dinyalakan. Andra tiba-tiba membuka pintu kamarnya, ia sudah bertelanjang dada.


"Jangan hangatkan makanan untukku, tapi kalau itu buat kamu makan. Ya, nggak apa-apa. Kalau aku cuma mau dibuatkan kopi aja,"


"Minum kopi malam-malam begini, emangnya kamu mau begadang lagi," ujarku sedikit kesal.


"Besok 'kan hari libur. Kenapa nggak besok aja, lemburnya? Malam ini, kamu tidur lebih awal aja bertiga di kamarku," ucapku lagi.


"Nggak bisa, Kay. Ini udah deadline. Udah turuti aja kata suami. Aku lagi nggak mau bertengkar sama kamu,"


Walau sedikit kesal, aku tetap membuatkan minuman untuknya. Minuman itu selesai dalam waktu tujuh menit dan langsung aku letakkan atas meja dekat tas yang aku taruh tadi.


Sepuluh menit kemudian, Andra pun keluar kamar. Ia mendekat ke meja dan duduk seraya mengendus bau harum dari uap minuman itu, tapi ia tampak curiga karena baunya bukan minuman seperti yang dia inginkan.


"Ini bukan kopi ya, Kay,"


"Coba perhatiin lagi. Minuman apa, itu?"


Andra lantas mencicipi sedikit minuman itu menggunakan sendok teh yang sudah aku siapkan.


"Kamu salah buat, Kay. Ini coklat bukannya kopi. Minuman ini bukan yang aku minta,"


"Terus kamu nggak mau minum coklatnya. Ya, udah dibuang aja. Udah tau aku nggak suka kalau kamu minum kopi di waktu malam,"


"Ya, nggak gitu, Kay. Aku bakalan minum 'kok ," jawab Andra sembari memasang wajah cemberut.


Sementara aku tersenyum penuh kemenangan. Tanpa bersalah aku bergegas ke kamar untuk melihat keadaan Razka yang tidur dengan pulas. Dengkuran dan napasnya yang halus membuatku terasa nyaman berada di dekatnya. Semakin hari semakin jelas. Bahwa wajahnya tidak jauh berbeda dengan wajah Papanya.

__ADS_1


"Dia ganteng 'kan kayak aku," celetuk Andra yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku sedangkan aku duduk di tepian tempat tidur memperhatikan wajah Razka.


"Hmmm, padahal bikinnya nggak direncanain, tapi kok bisa mirip banget sama Papanya, mana Mamanya nggak disisain lagi di wajahnya," ucapku sebal.


Andra tersenyum mengembang seraya menjawab.


"Mungkin Mamanya kangen banget sama Papanya, waktu Razka di dalam perut,"


Aku semakin kesal mendengar ucapan Andra lalu mencubit bahunya kencang. Ia mengaduh pelan sembari mengusap bahunya yang terkena cubitanku. Andra berjongkok mensejajarkan tubuhnya denganku dan wajahnya memandang ke arahku. Ia menolehkan wajahku menghadap ke arahnya.


"Untuk semua yang sudah terjadi. Sekali lagi aku minta maaf. Aku yang salah karena meninggalkanmu tanpa ada kejelasan, Kanaya," ucapnya sembari menempelkan keningnya ke keningku


"Sudah malam, kamu istirahat, besok kamu 'kan mau jalan-jalan berdua sama Razka. Aku akan menyelesaikan tugas yang masih menumpuk di rumah," ucapnya lagi. Setelah itu ia mencium keningku cukup lama lalu berlalu sembari menutup pintu kamar.


Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Padahal ini bukan pertama kalinya aku diperlakukan seperti itu oleh laki-laki. Dulu ada Erwin yang pernah melakukan hal yang sama seperti itu, tetapi mengapa rasanya sungguh berbeda? Apa karena Andra itu suamiku?


***


Ketukan pintu tiba-tiba membuyarkan lamunanku menjelang tidur. Ternyata Andra kembali masuk ke kamar. Sepertinya ada yang tertinggal sehingga ia masuk ke kamarku lagi sedangkan aku sudah mulai berbaring nyaman sembari memeluk tubuh anakku.


"Oh ya, ini kartu kredit buat kamu. Besok kamu bisa belanja apa aja yang kamu dan Razka suka. Jangan lupa juga ajak Razka ke tempat bermain," jelas Andra sembari meletakkan kartu kredit itu di atas meja nakas.


"Mau apa lagi?" tanyaku seraya jantungku kembali berdegup dengan kencang.


"Nggak, cuma mau selimuti badan kamu sama Razka," jawabnya sembari memperbaiki selimut yang mulai berantakan.


***


Andra lantas melangkah ke luar seraya menutup pintu kamar dengan sangat pelan. Sementara aku menatapnya dengan nanar. Sembari terus berpikir mengapa suamiku itu belum juga mengungkapkan perasaan dan maksud sebenarnya dia menikahiku? Aku bangkit dari tidur dan bergegas keluar menemuinya.


***


"Apa maksud kamu memberikan kartu ini padaku, Andra?!


"Maksud kamu, apa 'sih, Kanaya? Aku jadi nggak ngerti, kenapa kamu tiba-tiba marah kayak gini!


"Apa kamu sedang menyogokku dengan kartu kredit itu. Iya kan, Ndra!"


"Pelan-pelan ngomongnya, Kanaya nanti Razka bisa bangun,"

__ADS_1


"Aku nggak peduli, kamu jelasin sekarang. Apa artinya aku buat kamu? Apa benar setelah akta kelahiran Razka jadi? Kita akan bercerai!" ucapku disertai lelehan air mata.


"Bukan itu maksudku, Kanaya. Kita baru aja menikah, tapi kamu udah bahas soal itu, aku cuma ingin kamu bahagia selayaknya seorang istri dan ibu dari anakku,"


"Jadi cuma itu, nggak ada alasan lain. Ok fine, Setelah akta kelahiran Razka jadi. Aku siap ngikutin semua mau kamu. kalau kamu mau urus surat cerai, silakan. nanti aku tinggal tanda tangan," ucapku sembari mengusap air mata dengan kasar lalu melangkah ke kamar dan mengunci pintu. Sedangkan Andra hanya menggelengkan kepala melihat istrinya tiba-tiba marah.


***


Keesokan harinya, di saat matahari belum begitu tinggi, aku mengajak Razka pergi. Rencananya aku akan menginap di rumah orang tuaku sekalian merenungkan diri di sana. Mengapa aku bisa seperti itu pada Andra?


Hampir sebulan sudah aku menjadi istrinya. Namun pria itu masih saja sama. Hanya kata maaf yang terlontar bila menyinggung kejadian enam tahun lalu, tidak ada pengakuan dari mulutnya. Pengakuan cinta atau hal romantis darinya padahal dari yang aku ketahui. Dari cerita beberapa orang yang mengenalnya. Andra itu mencintaiku, tapi mengapa saat dia bersama denganku pengakuan itu tak kunjung keluar dari mulutnya.


"Sayang, malam ini kita tidur di rumah Oma sama Opa ya," ucapku saat di dalam taksi.


"Oma-Opa itu, siapa, Ma?" tanya Razka.


"Oma-Opa itu orang tua Mama,"


"Terus Razka punya orang tua nggak, Ma?"


"Punya dong sayang,"


"Terus orang tua Razka itu, siapa Ma?"


"Orang tua Razka ada banyak. Ada Mama, Papa, Ibu, dan Bapak,"


"Horeee!!! Orang tua Razka banyak," ucap polosnya seraya bertepuk tangan senang.


Kedatangan aku dan Razka disambut gembira oleh orang tuaku dan Kamila. Mereka senang karena akhirnya Razka bisa menginap di sana. Ini pertama kalinya bocah laki-laki itu menginap di rumah Oma-Opanya. Aku dan keluarga hanya bersantai-santai di rumah. Tidak pergi keluar. Lantaran hujan besar sedang mengguyur kota Jakarta. Razka sibuk bermain dengan Oma-Opanya di ruang tengah. Sementara aku dan Kamila sedang sibuk membuat camilan dan hidangan untuk makan siang.


Selepas makan siang aku dan keluarga berkumpul di ruang tengah. Kami saling becanda, tertawa bersama. Kehadiran Razka di tengah-tengah keluargaku membuat Papa dan Mama senang karena bisa bermain bersama dengan cucunya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat kami semua terkejut dan memandangi arah pintu, Razka yang sedang duduk langsung berdiri dan berlari ingin membukakan pintu, tetapi dia meminta izin padaku dan aku langsung mengiyakan dengan anggukan kepala.


Krieet!


Pintu itu terbuka dan sosok di balik pintu membuat Razka tersenyum lebar menghampirinya.


"Papa !!" teriaknya seraya tubuhnya menubruk Andra yang sudah berjongkok di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2