Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 37


__ADS_3

Selepas pulang kerja aku langsung bergegas melakukan kewajiban lainnya di rumah. Aku berbagi tugas dengan suamiku. Ia memasak dan mencuci piring sedangkan aku mencuci pakaian dan membersihkan lantai. Mengapa Andra yang memasak? Itu lantaran masakannya lebih enak dari pada aku.


Dua jam berlalu, masakan telah siap berjajar di atas meja dan pekerjaanku pun telah rampung semua. Aku dan Andra sudah siap melahap semua makanan yang terhidang di sana. Mulai dari nasi, sayur bening bayam, tempe, tahu, dan ayam goreng tak lupa sambal sebagai penambah semangat makan.


"Gimana masakanku enak nggak, Yang?" tanya Andra sebelum ia menyantap makanannya.


Aku hanya memberikan dua jempol untuknya sebagai pertanda aku menyukainya. Belum mau bicara lantaran aku sedang menikmati semua hidangan ini selagi hangat dan perut yang kosong sedang kuisi amunisi.


"Tapi maaf, Yang. Aku cuma bisa masakan rumahan, habis aku lebih suka makanan lokal dari pada internasional,"


"It's okay, Yang. Nggak masalah, lagian aku juga lebih suka makanan Indo dari pada western,"


"Masakan yang kamu masak ini. Emang terlihat sederhana, tapi ini semua sangat menyehatkan bagi tubuh," ujarku disambut dengan kekehan Andra.


"Kok malah ketawa 'sih, Yang,"


"Nggak apa-apa, Yang. Aku cuma merasa dua bulan ini. Aku langsung hidup sehat dan dapat konsultasi kesehatan gratis. Dari ocehan kamu tiap hari,"


"Terus, maksudnya. Kamu keberatan, nggak suka, aku ocehin tiap hari soal makanan sehat gitu,"


"Ya, nggak gitu, Yang. Aku malah senang, kamu perhatian, berarti tandanya kamu cinta banget sama aku,"


Aku yang mendengar ucapan gombal itu, langsung mencubit bahunya.


"Aawww! Sakit, Yang," ucapnya sembari reflek mengusap bahu yang baru saja kucubit.


"Sukurin, siapa suruh lagi makan malah sempet-senpetnya ngegombal?"


"Tapi kamu cinta 'kan," ucapnya lagi dengan senyum nakal.


Aku yang sedang gemas dengan tingkah laku Andra langsung menyendokkan makanan ke mulutnya, saat ia mengucap kata cinta, tapi yang terjadi malah. Ia tersedak karena rupanya makanan yang kumasukkan ke dalam mulutnya terlalu banyak.


Andra terbatuk-batuk karena ulahku dan karena merasa bersalah, wajahku pun mulai cemas. Aku lantas buru-buru menuangkan air putih untuk Andra minum. Agar dapat segera menghilangkan batuk-batuk itu. Usai batuk itu reda bukannya marah. Andra malah semakin menggodaku.


"Yang, coba bilang I Love You. Aku mau denger sekarang juga, kayaknya dari kita resmi menikah sampai sekarang. Kamu belum pernah mengucapkan kata sakti itu sama aku," ujar Andra.


Wajahku seketika memerah dan langsung tertuduk malu lantaran sikap suamiku yang jail dan terus menggodaku.  Agar aku mengucapkan kata cinta untuknya. Bagiku tak masalah bila tak pernah mengucapkan kata cinta. Karena dengan  perbuatan dan perhatian pada pasangan setiap saat. Itu sudah lebih dari cukup dan pembuktian bahwa dia sangat mencintaiku.


"Ayolah, Sayang. Sekali saja untuk hari ini, kamu bilang I Love You sama aku," rengeknya sedari tadi.

__ADS_1


Karena jengah dengan kata-kata itu, aku lantas meninggalkan Andra sendirian beralih dari meja makan ke kamar seraya aku mengunci kamar. Di kamar aku segera berganti pakaian tidur.


"YANG, HABIS MAKAN NGGAK BOLEH TIDUR. NANTI KAMU BISA SAKIT DIABETES!" teriaknya.


"YANG, JANGAN DIKUNCI, MASA AKU DISURUH TIDUR DI KAMAR SEBELAH LAGI!"


"NGGAK APA-APA, LAGIAN INI BUKAN YANG PERTAMA 'KAN BUAT KAMU! teriakku.


Karena tak ada jawaban dari Andra, aku jadi teringat akan surat yang kumasukkan dalam tas tadi siang. Aku lalu mengambil tas yang kuletakkan di atas meja. Lalu mulai mencarinya dan beberapa detik kemudian, surat itu sudah aku dapatkan. Aku segera ingin membukanya. Namun, suara ketukan pintu menjedaku untuk itu.


"Yang, udahlah nggak usah ngambek. Kita 'kan bukan sepasang sejoli muda yang sedang di mabuk asmara,"


"Terus, menurut kamu. Kita berdua ini, siapa?" tanyaku seraya mendekat ke daun pintu.


"Apa, ya? Hmmm... Kalau aku pikir 'sih. Kita berdua adalah orang tua Razka yang memang sudah ditakdirkan alam semesta untuk  bersama selama-lamanya,"


Aku yang mendengar penjelasan itu di dalam kamar malah tertawa sembari mulutku bergumam. "Puitis sekali jawabannya. Nggak cocok banget Andra ngomong begitu," seraya menggelengkan kepala.


"Yang, buka kuncinya. Aku mau masuk," ucapnya sembari terus mengayunkan kenop pintu dari luar.


"Kalau aku nggak mau, gimana?"


"Yah, jangan gitu 'lah. Kan kita masih punya agenda besar yang harus kita kerjakan  bersama-sama dan harus lauching tahun ini,"


Aku lantas membuka pintu dan disambut senyuman manis dari suamiku.


"Maksud kamu, apa dengan agenda besar dan lauching?" cecarku memasang wajah jutek seraya berkacak pinggang mendekati Andra.


"Gini Yang, mumpung masih awal-awal tahun dan kita masih masa-masa honeymoon. Nggak ada salahnya 'kan kalau kita gaspol biar di perut kamu itu ada isinya," jawabnya sembari terus berjalan mundur karena aku terus mendekatinya.


"Sembarangan aja kalau ngomong. Jadi kamu mau badan aku gendut, gitu,"


"Nggak Yang, maksud aku itu, supaya di perut kamu ada isinya lagi. Calon adik buat Razka, begitu maksudnya,"


"Nggak bisa!"


"Lho, nggak bisa, bagaimana? Jangan bilang kalau kamu nggak mau punya anak dari aku lagi, Yang," jawabnya seraya memasang wajah cemberut.


"Bukan begitu maksud aku, Andra. Aku nggak bisa kita bikin adonan sekarang, karena aku lagi datang bulan,"

__ADS_1


"Terus bisanya, kapan?"


"Bulan depan,"


"Haa, bulan depan. Itu kelamaan, Sayang tega banget 'sih kamu sama juniorku ini,"


"Biarin!"


"Itu kertas, apa Yang. Ada di tangan kamu?


Aku yang segera menyadari, langsung buru-buru menyimpan kertas ini di saku pakaianku.


"Oh, ini cuma kertas catatan belanjaan aja," ujarku berbohong sembari beralih ke kamar lantas ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur.


Sedangkan Andra kembali mencuci piring yang kotor dan setelahnya ia duduk manis di depan televisi sembari menyeruput kopi yang diam-diam ia buat saat istrinya ada di kamar. Dengan nyamannya ia melakukan kegiatan malam yang ia lakukan dulu sebelum menikah dengan Kanaya. Yaitu bekerja sembari di temani secangkir kopi hitam yang masih hangat.


"Yang, ngapain kamu di situ," tanya Kanaya, menyadari suaminya tak kunjung juga ke kamar untuk tidur.


"Lagi kerjain tugas kantor,"


"Tumben di ruang tamu, biasanya di meja makan,"


"Lagi pengen aja, ngerasain kayak dulu,"


"Kayak dulu, maksudnya?"


"Waktu aku belum nikah sama kamu. Setiap malam aku mengerjakan pekerjaan kantornya seperti ini,"


"Hmmm, sambil nonton TV dan minum kopi,'


"Kok kamu tau, Yang," jawab Andra sembari tersenyum tipis.


"Ya, jelas aku tau. Dari baunya aja sudah mencolok. Bagaimana bisa aku nggak tau? Kecuali kalau aku lagi menderita Anosmia,"


Aku lantas beralih ke kamar dan teringat pada kertas yang kulipat kecil yang kumasukkan ke saku baju tidurku tadi. Dengan sangat hati-hati, aku membukanya dan ternyata terdapat tulisan


HATI-HATI SUATU HARI NANTI. AKAN ADA ANGGOTA KELUARGAMU YANG AKAN AKU HILANGKAN NYAWANYA!


Jelas aku agak takut dengan tulisan bernada ancaman seperti ini. Aku pikir seumur hidup, aku tidak pernah mempunyai musuh dan selalu berbuat baik pada orang lain. Namun, rupanya sekarang ada seseorang yang sedang mengancamku. Lalu kerjaan siapa ini?

__ADS_1


Untuk apa dia melakukan seperti itu? Aku berusaha untuk tetap tenang dan tidak akan memberi tahu surat ini pada Andra terlebih dahulu. Segera kulipat kembali kertas ini dan kusimpan di tempat yang aman agar suamiku tidak akan menemukannya.


Bersambung...


__ADS_2