Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 43


__ADS_3

Seminggu usai liburan bersama, aku dan Andra sepakat untuk pindah dari apartemen ke rumah yang sudah kami sewa beberapa hari sebelumnya. Rumah ini letaknya hanya dua rumah dari rumah Nurbaiti. Ini sengaja aku lakukan karena aku dan Andra ingin dekat dengan Razka, putra pertamaku yang sebentar lagi akan memasuki dunia sekolah untuk pertama kalinya.


Meski sedikit telat masuk sekolah di Taman kanak-kanak, lantaran usianya yang sudah mencapai enam tahun lebih dua bulan. Namun, bagiku itu tak jadi permasalahan karena ini hanya masalah dokumen tentang identitas Razka yang baru saja kami berdua selesaikan. Sebagai orang tuanya, aku dan Andra tentu senang lantaran bisa melihat putraku tumbuh dan berkembang dengan baik meski bukan kami berdua yang merawatnya selama ini.


Tidak banyak barang yang aku dan Andra bawa dari apartemen, hanya pakaian, alat make up dan sebagian alat dapur yang dibawa dari sana sedangkan peralatan rumah tangga dan lain-lainnya. Semua akan di ambil dari rumah orang tua Andra yang sudah lama tidak terpakai lantaran Andra yang lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang di rumah peninggalan orang tuanya.


Lagi pula kami berdua hanya menyewa rumah itu satu tahun. Jika nanti ke depannya kami berdua merasa betah tinggal di sana. Barulah kami akan memperpanjang jangka waktu sewanya.


Lelah dan ribet sudah tentu aku dan Andra rasakan karena harus merapikan barang dan perabotan di rumah baru ini.


Apalagi melakukan hal seperti merapikan barang-barang rumah, tidaklah cukup hanya dengan satu hari saja. Semua barang-barang itu harus rapi diletakkan ke tempat yang semestinya. Harus sesuai dengan posisi dan keadaan dalam rumah. Namun, itu tak masalah buat kami. Pasalnya, ini semua aku dan Andra lakukan demi bisa setiap hari bertemu dengan Razka. Begitu pun sebaliknya, Razka juga tak perlu jauh-jauh untuk bisa bertemu dengan Papa dan Mamanya cukup dengan melangkahkan kakinya dari rumah Nurbaiti.


Semenjak aku dan Andra tinggal di dekat rumah Nurbaiti, baik Razka maupun Siti jadi lebih senang berada di rumah itu. Aku pun tidak membatasinya Razka ataupun Siti kapan pun bisa bermain di sana pintu rumah itu akan selalu terbuka untuk mereka. Sekali pun tidak ada aku ataupun Andra lantaran kesibukan kami bekerja. Namun, kunci cadangan rumah sudah aku titipkan pada Nurbaiti.


***


"Yang, tumben hari gini belum siap-siap. Nanti telat, lho," ucap Andra sembari menggeser kursi yang akan ia duduki.


"Aku libur,"


"Kok bisa, ini 'kan bukan hari libur?"


"Iya, kemarin sore Nurbaiti sama lainnya izin mau pulang kampung. Katanya ibunya almarhum suaminya meninggal dunia,"


"Pantes Razka malam ini di sini lagi, biasanya 'kan tidur di rumah sana,"


"Sebenarnya dia diajak, tapi Razkanya nolak, lagian dia juga mau masuk sekolah. Mungkin dia sedang merasa excited,"


Mendengar penjelasan dariku, Andra hanya menganggukkan kepala sembari terus memasukkan makanannya ke dalam mulut. Pagi ini aku tidak memasak untuk sarapan hanya membeli sarapan berupa lontong sayur dan beberapa jenis gorengan. Menu sarapan seperti ini memang kurang baik dikonsumsi untuk sarapan. Namun jika disantap sesekali itu tak menjadi masalah.


Alasanku tidak memasak sarapan, karena aku akan ke sekolah mengambil seragam milik Razka dan melunasi biaya administrasi yang masih kurang. Seragam itu nantinya akan dikenakan Razka setiap ia pergi ke sekolah. Sudah dari semalam anakku itu bilang bahwa ia tak sabar akan mencoba seragam barunya.

__ADS_1


Pukul sembilan lewat sepuluh pagi, aku dan Razka bergegas ke sekolah dengan mengendarai kendaraan roda dua. Menggunakan kendaraan roda dua, aku pikir adalah solusi praktis untuk menjangkau ke sekolah dalam waktu singkat, karena jarak antara rumah dengan sekolah Razka cukup efisien. Pasalnya setelah dari sekolah ini, aku dan Razka akan ke rumah orang tuaku yang ada di lain kota. Selain ingin bertemu dengan kami berdua. Mama juga akan memberikan perabotan rumah untukku pakai nantinya.


Usai tuntas dengan urusan sekolah, aku dan Razka langsung tancap gas menuju rumah Mama. Nantinya kami berencana lama berada di sana. Mungkin bisa jadi aku dan Razka akan menginap tergantung keputusan dari Andra yang nanti sore akan menjemput kami seusai ia pulang dari kerja.


***


Bahagianya Mama menyambut kedatangan kami berdua, rupanya ia baru saja selesai memasak aneka masakan untuk kami makan siang. Nanti pada saat jam istirahat, biasanya Papa juga akan pulang sejenak untuk makan siang bersama keluarga. Sayur asem, sambal goreng kentang, tempe, tahu goreng, ikan asin dan sambal terasi sudah siap terhidang di atas meja makan.


"Oma, aku sudah besar kan?" ucap Razka begitu ia ingin menyalami tangan Omanya.


"Coba sini, Oma lihat dulu," jawab Mama sembari sedikit menggoda cucu kesayangannya,"


"Mama, aku udah besar 'kan, aku tinggi juga 'kan sama kayak Papa," ucapnya seraya menoleh ke arahku


"Iya dong, Sayang. Kan seminggu lagi Razka  udah mau sekolah, Oma," ujarku.


Sementara Razka berkali-kali mengangguk dengan senyumnya yang mengembang, seolah membenarkan ucapan dariku.


"Razka nggak tau Oma, mau jadi apa, Razka masih bingung?"


"Jadi apa aja, yang penting Razka suka dan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Kayak Papa sama Mama," sahutku.


Lantas Mama mengaminkan ucapanku itu. Suasana pun berubah menjadi riuh lantaran Mama tak bosan-bosannya menggoda Razka. Namun, tiba-tiba ada suara dehaman dari seseorang dari ambang pintu dan itu tentu membuat kami bertiga terkejut dan serempak menoleh ke sana.


"Opa!" seru Razka sembari berlari menghampiri Opanya yang baru tiba dari kantornya.


"Aduh ini, cucu Opa udah gede banget, ya. Kapan mau sekolahnya? ucap Papa seraya menggedong Razka.


"Seminggu lagi, Opa," timpalku seraya mencium punggung tangan Papa.


Berhubung waktu makan siang sudah tiba, kami berempat pun langsung bergegas ke meja makan untuk segera menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja makan. Meski hanya menu sederhana, tetapi jika dimakan secara bersama-sama dengan keluarga tercinta. Rasanya pun menjadi lezat dan menggoda selera.

__ADS_1


***


Pukul enam sore, Andra baru tiba di rumah orang tuaku. Ia memang sengaja memperlambat waktunya setengah jam karena tak ingin terjebak macet di jalan. Betapa senangnya Razka menyambut kedatangan Papanya, apalagi ada oleh-oleh yang dibawa Andra untuknya. Yaitu, sebuah mobil-mobilan yang dihadiahkan rekan bisnisnya untuk Andra dari Singapura.


Sontak Razka pun langsung membuka kardus yang membungkusnya dan langsung memainkan mobil-mobilan itu dengan Opanya di ruang tengah. Sedangkan aku memilih bergegas ke kamar bareng Andra untuk menyiapkan pakaian ganti untuknya. Karena ia akan membersihkan diri seusai pulang dari bekerja.


Selesai menyiapkan pakaian untuk suamiku. Aku pun turun kembali membantu Mama di dapur menyiapkan beberapa hidangan untuk makan malam. Sepertinya aku dan keluargaku akan menginap di rumah ini barang semalam lantaran Andra yang masih terlihat kelelahan.


Tentu saja hal ini disambut baik orang tuaku karena mereka bisa bermain sepuasnya dengan cucu kesayangannya. Terlebih lagi Razka meminta izin padaku dan Papanya. Agar malam ini ia ingin tidur bersama Opa dan Omanya. Setelah melaksanakan salat Maghrib berjamaah. Barulah kami makan bersama apalagi sudah ada adikku yang satu jam lalu baru pulang dari kampusnya.


Usai membantu adikku beres-beres dapur, aku pun bergegas ingin ke kamar. Rasanya lelah badanku hari ini sehingga terasa lemas tak berdaya padahal aku hanya membantu Mama mengerjakan pekerjaan rumah. Bukannya keluargaku tidak memiliki asisten rumah tangga untuk membantu keluargaku mengerjakan pekerjaan rumah.


Asisten rumah tangga yang dipekerjakan orang tuaku malah ada dua. Yang satu sedang pulang kampung untuk menjenguk keluarganya sedangkan yang kedua datang pagi hari dan pulang sore hari sehingga otomatis pekerjaan yang dilakukan malam hari. Haruslah orang rumah yang mengerjakannya.


Hoek!


Tiba-tiba saat aku membuka pintu kamar rasa mual dan kembung terasa di perut ini. Aku pun lantas bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang setengah jam tadi baru aku makan. Andra yang sedang duduk santai selonjoran dengan laptop di pangkuannya hanya menatap sekilas ke arah pintu kamar mandi lalu jari-jarinya sibuk kembali menekan keyboard pada laptopnya. Lalu tak lama setelah itu, terdengar suara seperti benda besar yang terjatuh di dalam sana.


Gubrakk!


Spontan Andra pun terkejut lalu ia loncat turun dari tempat tidur sembari memanggil namaku.


"Yang, kamu nggak apa-apakan di dalam?"


"Yang, Kay!"


Karena tak mendapatkan jawaban, Andra lantas menggedor-gedor pintu kamar mandi dan saat pintu itu dapat terbuka. Ia seketika membulatkan kedua matanya lebar-lebar begitu melihat sang istri sudah terkapar tak berdaya di lantai kamar mandi.


"Ya Allah, Kanaya!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2