
Aku dan Andra langsung beraktivitas seperti biasanya. Selepas dua Minggu berbulan madu ke lima negara di benua Eropa. Tak ada yang berubah, semua masih sama. Aku menjalankan praktik di rumah sakit dan Andra masih dengan kesibukannya mengurus perusahaan- perusahaan yang dipimpinnya.
Saat berbulan madu di Eropa, aku dan Andra berdiskusi tentang masa depan kami berdua. Andra memang tak setuju bila Razka tinggal bersama kami di apartemen dengan alasan yang seperti diutarakan tempo lalu. Awalnya aku menolak dan jelas marah dengan apa yang telah diputuskan suamiku itu. Sebagai ibunya, mana ada yang menginginkan anaknya hidup terpisah dari ibu kandungnya. Apa lagi setelah kami akhirnya memiliki dokumen yang sah dan diakui negara. Jika Razka adalah anak kandung kami berdua.
Namun, setelah aku merenung dan menelaah baik-baik apa yang sudah diputuskan Andra. Memang ada benarnya dengan keputusan itu. Lagi pula bukankah dari awal, aku yang telah mengambil keputusan ini. Sehingga akhirnya Razka harus tinggal dan sudah menganggap Nurbaiti ibunya melebihi aku, ibu yang mengandung serta melahirkannya ke dunia.
***
Aku kemudian memberi saran pada Andra untuk ia membeli rumah untuk keluarga kecil kami tinggali. Aku menyuruh suamiku itu membeli rumah yang satu komplek dengan Nurbaiti. Lantaran akan memudahkan aku dan Andra bisa bertemu Razka setiap hari dan setiap waktu. Walau sejujurnya aku dan suamiku harus menempuh jarak yang lumayan jauh apabila tinggal di perumahan itu.
Namun, itu tak jadi kendala bagiku dan Andra. Asalkan kami berdua bisa bertemu Razka dan bermain bersamanya setiap hari, kapan pun kami bisa. Itu sudah cukup bagiku dan Andra. Apa lagi di zaman sekarang, sudah banyak jalan tol dan jalan layang yang dibangun pemerintah dan swasta guna mempermudahkan akses setiap warganya yang ingin berpergian ke mana saja sehingga bisa menghemat waktu dan tenaga agar sampai ke tempat tujuan.
***
Selepas makan siang aku yang sudah bersiap akan pulang karena pasien sudah tidak ada lagi dikejutkan dengan ketukan pintu di luar ruangan praktik.
"Masuk!" seruku saat aku tak lagi mendengar suara ketukan pintu.
Terdengar derit pintu terbuka dan wajah seorang pria tersenyum padaku.
"Andra! Kenapa hari gini udah datang jemput? Tau aja, istrinya mau pulang," celetukku dengan kekehan.
"Siapa yang mau jemput kamu, GR? Orang aku ke sini mau nungguin Windy operasi. Dia udah minta sama aku jauh-jauh hari," jelasnya yang membuatku malu.
"Oh, kirain," jawabku sembari cemberut.
"Udah nggak pulang, ngapain hari gini di apartemen sendirian. Mending ikut aku aja, tungguin Windy. Kasihan dia di sini sendirian," ujarnya.
"Emang ke mana keluarganya? Terus siapa yang akan mengoperasi Windy?" cecarku
__ADS_1
"Ibunya jagain anaknya Windy di rumah. Jadi nggak mungkin temani Windy di rumah sakit. Kalau dokternya, seingat aku. Ada Dokter Lukman, Dokter Chandra, dan satu dokter lagi. Ah siapa gitu, aku lupa lagi namanya. Pokoknya dia sebagai dokter asisten kedua,"
Aku lantas mengangguk paham seraya bergegas keluar ruangan praktik bersama Andra. Menemui Windy yang dirawat inap di lantai empat. Aku dan suamiku ingin ke sana memberinya semangat dan dukungan agar ia tak gugup atau bahkan takut dengan operasi yang sebentar lagi ia jalani.
Selama perjalanan menuju kamar rawat. Andra lantas menggandeng tanganku. Ini bukan pertama kalinya ia menggandeng tanganku. Kemarin waktu berbulan madu ia pun setiap hari melakukan hal yang sama di tempat umum. Aku sendiri sudah tak keberatan malah apa yang dilakukannya membuatku senang, tapi ini di rumah sakit.
Tempat di mana aku bekerja. Akan banyak orang yang akan menatap ke arah kami berdua. Sebenarnya ada perasaan sedikit malu karena menjadi pusat perhatian orang siang hari ini. Apa lagi aku lupa belum membuka jas dokterku. Otomatis orang akan langsung mengerti akan statusku di rumah sakit ini.
"Kamu nggak malu apa, kalau pegangan kayak gini. Bisa dibilang kamu suami bucin, tau?" bisikku.
"Nggaklah, malah aku seneng. Memang kenyataannya, aku bucin sama kamu," ucapnya santai.
Tentu saja aku yang ada di sampingnya, tersenyum dan tersipu malu karena pengakuan jujur dari suamiku itu.
Sesampainya di depan kamar rawat inap, aku melepas gandengan tanganku dari tangan Andra dan langsung menyapa Windy yang sudah tampak siap untuk menjalani operasi.
Katanya ia ingin membuat surprise untuk keluarga jika operasi matanya itu berhasil. Sementara hubungan dengan kakaknya menjadi memburuk selepas ia tahu. Jika apa yang terjadi pada ayahnya dan suami Winda. Bukanlah aku atau keluarga Andra yang menjadi penyebabnya. Semua itu murni salah paham dan Windy pun harus menerima karma karena salah paham itu.
***
Selama operasi berlangsung aku dan Andra duduk di ruang tunggu, sesekali aku mulutku menguap, karena mataku yang sudah mulai mengantuk. Andra yang melihat hal itu langsung menidurkan kepalaku di bahunya.
"Yang, nanti kalau kamu hamil lagi, kamu mau melahirkan normal apa operasi caesar?" tanya Andra.
"Mau normal 'lah kayak dulu. Pas melahirkan Razka,"
"Tapi itu sakit, Yang. Udah nanti caesar aja, aku nggak tega lihatnya,"
"Selagi bisa normal, aku pilih normal. Itu kodratnya perempuan, lagian aku ini dokter kandungan. Jadi bisa mempertimbangkan,"
__ADS_1
"Emang dulu pas melahirkan Razka. Kamu dirawat di rumah sakit, apa di puskesmas?"
"Di rumah,"
"Oh, maksud kamu di rumah sakit, ya,"
"Bukan, di rumah dinas. Aku melahirkan sendiri,"
"Apa!!!"
"Husst, jangan berisik! Lagi ada operasi, Yang," ucapku sembari mengangkat kepalaku dari bahu Andra.
"Kok kamu bisa melahirkan Razka sendirian. Gimana ceritanya?" ucapnya.
"Ya bisalah aku 'kan seorang dokter lagian waktu itu masih tinggal di desa terpencil jadi keburu brojol di jalan, kalau harus pergi ke rumah sakit," ujarku dusta.
"Tapi Yang, kamu nggak kapok 'kan. Kalau nanti hamil anakku lagi, aku pengen banget punya anak perempuan biar wajahnya cantik kayak kamu," ucapnya sembari menidurkan kepalaku lagi di bahunya.
"Ya, sih. Razka udah mirip sama kamu sampai delapan puluh persen. Hmmm, tapi iya, nanti punya anak lagi pasti mirip sama aku?" jelasku pesimis.
"Ya, nggak apa-apa, aku seneng kok, semua wajah anakku itu mirip sama ibunya, tapi hidupnya harus mirip sama aku mancung,"
***
Setelah dua jam menunggu, akhirnya Windy keluar dari kamar bedah. Kedua matanya masih tertutup perban dan ia belum sadarkan diri. Aku pun menyempatkan diri untuk mengobrol lagi dengan dokter Lukman. Pria yang telah berusia setengah abad itu pun menjelaskan tentang jalannya operasi yang terbilang sukses dan lancar.
Maka sebentar lagi Windy dapat melihat seperti sedia kala. Usai mengobrol. Aku pun pamit pada Andra untuk kembali ke ke ruang praktik lagi. Sementara Andra menemani Windy ke ruang rawat inap kembali. Dan aku melangkah panjang ke ruang praktik untuk melepas jas dinasku dan mengambil tas kerjaku yang masih tertinggal di sana.
Selepas di ruang praktik, kulihat ruangan itu sudah rapi, tak ada lagi alat medis di tergeletak di atas meja. Semua sudah dirapikan asistenku, hanya ada tas kerja milikku yang masih tersimpan di kursi kerja. Aku melepas jas putih yang kupakai ini, lalu kulipat dan kumasukan ke dalam paper bag lantaran akan kuganti dengan yang baru dan yang tadi kupakai akan kucuci di rumah.
__ADS_1
Sembari berdandan, aku teringat akan surat yang kusimpan di dalam laci tadi pagi. Dengan cepat aku mengambilnya dan kumasukkan ke tas kerjaku karena nanti sampai di rumah akan aku baca. Saat aku memiliki waktu luang.
Bersambung...