Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 45


__ADS_3

Sembari berlari berdebar hebat pula jantungku ini, sudah tak tahu lagi berapa banyak air mengalir dari kedua sudut mata ini? Bahkan aku merasa sedang berlari. Namun, kaki terasa tak menampaki bumi. Berdatanganlah orang-orang sebelum aku membuat kerumunan.


Mereka hendak menolong bocah yang seketika terkapar berlumuran darah itu lantaran tersenggol sepeda motor yang melintas dengan sangat kencang. Dan irama jantung ini semakin berdebar sangat kuat ketika mendekati tempat kejadian perkara dan kulihat bocah yang terkapar itu ternyata benar. Ya, dugaanku, dia adalah Razka Fadillah anak tercintaku.


Lemas sudah tubuh ini seakan tak ada daya. Melihat bagaimana tubuh kecil itu berlumuran cairan merah yang berasal dari dalam tubuhnya sedang digotong orang-orang masuk ke sebuah mobil. Entah milik siapa dan datangnya dari mana orang baik itu? Kepalaku tiba-tiba terasa sakit berkunang-kunang, pandangan pun memburam lalu perlahan berwarna menghitam. Seketika tubuh ini lunglai ambruk di tempat kejadian pula.


***


Dan kini aku mulai tersadar, dengan perlahan mataku membuka, awalnya mengabut. Namun perlahan tampak jelas dan terang. Kulihat menyeluruh ruangan terlihat berwarna serba putih dan bersih. Tiba-tiba tanganku terasa sedikit perih. Rupanya ada selang yang menancap di punggung tanganku sebelah kiri. Melihat itu, aku jadi teringat akan kondisi Razka anakku.


Bagaimanakah dia? Apakah dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan dia? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku ibunya, aku jelas tahu siapa anakku. Sejak di dalam rahimku, dia begitu kuat dan sehat. Dia anak yang baik dan tidak mau menyusahkan aku, ibunya. Sehingga aku pun berinisiatif membangunkan tubuh ini untuk bisa mencabut selang infus yang menancap di punggang tangan kiriku agar bisa mencari keberadaan. Namun belum sempat hal itu dilakukan seseorang tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamar rawat inap ini.


Pandanganku seketika pun beralih ke arah pintu, dan seseorang berjas hitam pun muncul.


"Kanaya!" teriaknya karena melihat posisiku dan aliran darah tiba-tiba muncul dari dalam selang.


Aku bersikap santai dan menganggap itu biasa malah aku ingin melanjutkan apa yang ingin aku lakukan ini. Namun, Andra buru-buru mencegahku. Ia lalu memeluk tubuhku. Entah mengapa, saat Andra memelukku. Hatiku malah merasa semakin kacau. Apa perasaanku ini benar, jika keadaan Razka memang tidak dalam baik-baik saja?


"Lepasin aku, Ndra. Aku mau lihat Razka. Aku mau lihat bagaimana keadaannya?"


"Kamu di sini aja ya, Sayang. Kamu sendiri masih lemah. Ingat ada anak kita juga di dalam tubuhmu. Jadi, kamu juga harus menjaganya,"


"Biar Razka, aku yang menjaganya. Walaupun dia masih -,"


"Dia masih apa, Ndra? Dia nggak kenapa-kenapa 'kan? Cepat katakan, Ndra,"


"Razka sudah di tangani dengan baik oleh dokter-dokter terbaik di rumah sakit ini, tapi dia masih dirawat dengan intensif. Di ruang ICU, dan aku berencana memindahkan Razka ke rumah sakit yang lebih besar di Jakarta secepatnya,"

__ADS_1


Mengalir air mata ini seketika jatuh di pipi. Alirannya sudah tak bisa kubendung lagi. Bayangan buruk sekelebat pun menghantui pikiranku tentang anakku itu.


"Apa itu berarti, Razka?"


Andra lantas berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan posisi dudukku di atas ranjang. Ia kemudian, mengusap pelan setiap air yang mengalir jatuh ke pipiku.


"Kita terus saja berdoa, ya Sayang. Semoga tidak terjadi apa-apa pada anak kita. Doakan agar dia menjadi anak yang kuat dalam menghadapi masa kritis ini,"


Aku lantas mengangguk-angguk sembari terus sesenggukan menangis. Sekali lagi suamiku memeluk sembari mencium keningku lalu mengusap-usap lembut kepalaku agar aku merasa lebih tenang.


Selang satu jam kemudian, Papa, Mama, dan adikku datang mengunjungiku di kamar rawat. Sebelum mereka bergegas membantu Andra untuk mengurus perpindahan perawatan Razka dari rumah sakit daerah ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap di Jakarta


Usai memberi semangat tak lama kemudian, Papa dan Mama pun menyusul Andra ke ruang ICU untuk melihat bagaimana kondisi kesehatan cucu tercintanya sementara hanya Kamila yang masih setia menemaniku di ruang rawat inap.


***


Petang menuju malam, setelah semua administrasi rumah sakit dinyatakan beres selesai dan kondisi Razka pun sudah mampu untuk perjalanan menggunakan ambulans. Andra, aku, dan keluarga bersiap membawanya ke rumah sakit tempat di mana aku juga bekerja. Tepatnya Rumah sakit Citra Keluarga Medika di Jakarta.


Apalagi rencananya Dokter Chandra Bara Abimanyu pemilik sekaligus direktur rumah sakit yang akan menjadi ketua tim penanganan masalah medis untuk Razka. Aku sendiri yang juga seorang dokter di rumah sakit ini. Jelas aku tahu bagaimana kredibilitas Dokter Chandra Bara Abimanyu. Aku percaya di tangannya kondisi Razka akan berangsur-angsur membaik dan akan pulih seperti sedia kala.


Di dalam mobil ambulan ada lima orang. Ada sopir di depan mengendarai kendaraan ini sedangkan di belakang ada dua petugas medis, aku dan tentunya Razka yang berbaring diam tak sadarkan diri dengan alat bantu napas yang terus di pantau hingga tiba di rumah sakit yang dituju. Sebenarnya Andra memintaku untuk menemaninya di mobil yang ia kendarai.


Namun, dengan berat hati aku menolaknya lantaran ingin bersama Razka. Sejak tadi aku di rumah sakit sebelumnya. Aku belum melihat keadaannya dan kini saat aku berada di mobil ambulans aku akan menjaganya dan tak akan meninggalkannya. Hati ibu mana yang tak hancur melihat anaknya dalam keadaan memerhatikan seperti itu. Pedih rasanya melihat darah dagingku tak berdaya, sedang berjuang untuk tetap hidup. Andai saja keadaan ini bisa ditukar. Biar aku saja yang merasakan sakit itu asal jangan anakku.


Biar dia saja yang kembali seperti sedia kala. Sebab dia masih terlalu kecil untuk merasakan rasa sakit seperti itu. Razka harus tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar, dan berguna di kehidupannya. Seperti apa yang aku dan Andra harapkan padanya. Aku sendiri sedang berusaha untuk menjadi kuat, agar anakku itu kuat. Agar dia kembali siuman lalu sembuh seperti yang aku harapkan. Namun tetap saja air mata ini mengalir deras.


Sulit sekali aku untuk membendungnya. Apalagi bila mengingat kejadian yang terjadi tadi siang dengan kedua mataku sendiri. Aku melihat kejadian naas itu. Rasa trauma dan ketakutan kini ada padaku. Terlebih lagi sampai detik ini Razka belum juga siuman pasca menjadi korban tunggal atas kecelakaan lalu lintas ini. Hati ibu mana yang tidak akan syok melihat anak kesayangannya tersenggol motor yang melintas dengan kecepatan tinggi lalu seketika membuatnya tak sadarkan diri hingga detik ini.

__ADS_1


***


Setibanya di rumah sakit yang kami tuju, dengan cepat Razka langsung dibawa ke ruangan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) untuk mendapatkan perawatan intensif dan maksimal dari petugas medis dan hal ini dipimpin langsung oleh Dokter Chandra Bara Abimanyu. Sembari menunggu kabar tentang keadaan Razka. Di ruang tunggu, Aku dan suamiku hanya duduk termenung dan berdoa agar dipindahkannya Razka ke rumah sakit ini keadaannya bisa melewati masa-masa kritis ini.


Andra dengan mata yang tak kalah sayu lalu memelukku sembari duduk seolah memberi kekuatan dan kenyamanan untukku. aku dan Andra saling menunduk seraya tak lupa mengucap kalimat doa dan zikir untuk anak kami yang sedang berjuang di ruangan intensif itu. Lantas beberapa menit kemudian dua buah roti tersodor di hadapanku. Pandanganku pun perlahan naik ke atas untuk melihat siapa orang yang melakukan itu?


"Mama,"


"Kalian berdua dari tadi siang belum makan 'kan. Apalagi kamu, ingat di perutmu sekarang juga ada anakmu yang lain. Jadi kamu harus makan!" ujarnya.


"Bagaimana keadaan anakku Mas Chandra?" tanya Andra begitu melihat Dokter Chandra keluar dari ruangan PICU.


"Razka masih harus melewati masa kritisnya. Maka itu anggota tim kedokteran ini dalam waktu dua puluh empat jam harus terus memantau keadaannya. Tidak boleh lengah,"


"Jadi kita harus bagaimana, Dok?"


"Tenang saja Dokter Kanaya. Kamu nggak usah panik biar kami saja yang memantaunya. Sementara kalian berdua pulang saja. Dari pada di sini,"


"Tapi aku nggak mau pulang, Mas. Aku mau di sini, aku juga mau memantau kondisi anakku," ujar Andra.


"Aku juga, aku mau di sini," timpalku.


"Tapi ini nggak baik buatmu, Dokter Kanaya," ucap Dokter Chandra.


"Nggak usah khawatir, Papa sudah memesan kamar rawat yang dekat dari sini sehingga kalau ada apa-apa dengan Razka. Kalian bisa langsung ke tempat ini, tapi Papa, Mama, dan Kamila mau pulang. Besok kita bertiga akan balik lagi ke sini,"


Saran yang Papa katakan itu, kami berdua turuti. Aku dan Andra menginap di kamar kelas VIP yang ada di lantai lima. Setibanya di kamar aku baru sadar jika ada benda miliku yang sedari tadi tertinggal dan baru benar-benar aku sadari saat aku melihat Andra sibuk memainkan handphonenya.

__ADS_1


"Oh, iya. Di mana handphone dan tas yang aku bawa tadi siang? Apa jangan-jangan tertinggal di pasar?" gumamku.


Bersambung...


__ADS_2