Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 38


__ADS_3

Aku dan Andra sedang mensurvei lokasi rumah yang akan kami tinggali, sekalian pula dengan sekolah  yang akan jadikan tempat belajar Razka di pertama kalinya. Memang memasukkannya di sekolah taman kanak-kanak seperti sekarang sedikit agak telat mengingat usia Razka yang sudah lebih dari enam tahun. Namun, bagiku itu masalah. Kehadiran Razka yang tidak direncana dan kehidupan yang harus dijalankan anak laki-laki itu memang tidak mudah dan berbeda dari anak lain pada umumnya.


Sakit sekali hati ini, jika mengingat kenangan itu. Di mana aku harus menerima konsekuensi dari kesalahpahaman yang menyebabkan kesalahan satu malam terjadi. Karena itu aku harus berjuang sendirian, menyembunyikan ini semua sampai masanya tiba. Rasa sakit saat harus menghadirkan Razka ke dunia. Mungkin tak sebanding sakitnya bila suatu hari nanti ia tahu mengapa dirinya ada?Kehidupan yang di jalaninya berbeda dengan teman sebayanya.


Memiliki dua ibu, dua ayah dan tidak tinggal dengan orang tua kandungnya. Memang baik aku maupun Andra menyadari, jika semua yang terjadi itu adalah takdir dan kesalahan itu membuat kami berdua  mengenal dan kini sedang berusaha memperbaiki diri, menjadi orang tua yang baik, melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, dan menjadi satu keluarga yang penuh cinta dan bertanggung jawab.


***


Sebelum tidur biasanya aku dan Andra melakukan pillowtalk terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk menjaga keintiman kami sebagai pasangan suami istri bukan obrolan yang berat hanya obrolan ringan yang membahas bagaimana kami berdua beraktivitas di luar rumah dalam sehari? Dan hal ini sudah dilakukan saat aku mengizinkan Andra untuk tidur satu tempat tidur dan satu kamar dengannya.


"Yang, kita liburan, yuk," ucap Andra.


"Liburan, ke mana?"


"Yang dekat, pinggiran kota aja. Nggak lama juga, paling cuma sehari semalam,"


"Cuma kita berdua,"


"Ya, nggak 'lah. Kita ajak Razka, Nurbaiti dan keluarganya. Juga keluargamu,"


"Maksud kamu, kita liburan rame-rame gitu?"


"Iya, pasti seru 'kan,"


"Iya juga, sih. Pasti Razka bakal senang banget. Emang kamu mau ajak kita liburan di mana? Jangan mendadak kayak waktu itu," ujarku seraya bibirku mengerucut.


"Nggak, ini udah aku pikirkan sejak seminggu yang lalu, aku juga sudah mempersiapkan semuanya,"


"Terus kita mau diajak liburan, ke mana?"


"Ke Puncak Bogor. Kita sewa aja villa barang sehari, dua hari di sana,"


"Nggak usah sewa, Yang. Nanti aku bilang sama Papa, kita pinjam aja villanya. Papa pasti boleh, lagian keluargaku juga ikut liburan ke sana. Asal, belum di sewain orang, ya,"


"Terus, kapan kita liburannya?" tanyaku.


"Weekend, minggu ini,"


"Oke kalau begitu, besok aku nggak ada jam praktik. Jadi aku bisa main ke rumah. Mau bilang soal liburan ini sama Papa dan Mama. Terus kalau soal kita pindah rumah baru dan sekolah buat Razka, bagaimana, Yang,"


"Kalau soal itu, biar kamu aja yang semuanya atur. Kamu mau beli atau sewa rumah, terserah kamu. Tugas aku 'kan tinggal bayar aja dan kalau soal sekolah Razka. Kamu tinggal cari aja yang penting dekat dari rumah. Biar nanti kalau Nurbaiti antar jemput Razka. Dia nggak kerepotan, " jelas Andra.


Mendengar penjelasan dari suamiku, aku hanya mengangguk.

__ADS_1


Aku dan Andra memang berencana pindah dari apartemen ke perumahan biasa. Sebenarnya Andra sudah ada rumah peninggalan dari kedua almarhum orang tuanya. Namun, baik aku maupun Andra belum menginginkan tinggal di sana. Kami malah menginginkan tinggal di perumahan yang sama dengan Nurbaiti.


Meski di perumahan itu hanyalah perumahan biasa dan berada di pinggiran kota, tetapi aku dan Andra memilihnya lantaran kami berdua menginginkan untuk tinggal berdekatan dengan Razka anak kami. Apalagi  dua bulan lagi untuk pertama kalinya ia akan bersekolah di taman kanak-kanak.


Bukan saja Razka yang merasakan bahagia karena akan menjadi siswa di sekolah untuk pertama kalinya, tetapi juga aku dan Andra sebagai orang tuanya. Terlebih saat pendaftaran sekolah ini. Sudah ada surat pembuktian legal sah dari negara bahwa Razka adalah anak kandung dari aku dan Andra.


***


Seperti kataku semalam pada Andra, jika hari ini aku libur praktik sehingga waktu ini aku manfaatkan untuk mengunjungi sekolah taman kanak-kanak yang akan menjadi tempat belajar Razka untuk satu tahun ke depan. Anak laki-laki berusia enam tahun lebih itu akan kumasukkan ke sekolah taman kanak-kanak kelas B lantaran usianya yang sudah enam tahun ke atas.


Seharusnya sudah dari tahun lalu, Razka di sekolahkan, tetapi karena waktu itu belum ada dokumen resmi dari negara tentang asal usulnya. Andra sebagai ayah kandungnya sempat berdebat dan melarang Razka di sekolahkan oleh Nurbaiti yang notabenenya sebagai ibu asuhnya.


Ini bukan soal Andra tak mampu menyekolahkan putranya. Bahkan jika Andra mau ia bisa menyekolahkan Razka di sekolah elite dan terkemuka di negeri ini. Namun, ini bukan perkara uang tetapi pengakuan yang sah jika Razka Fadillah adalah putra kandungnya.


Tetapi di sisi lain, Nurbaiti juga berhak menentukan masa depan meski sejatinya Razka bukan anak kandungnya. Bukankah sejak masih bayi merah. Perempuan itulah yang merawat dan mengasuh Razka. Bahkan nama Razka Fadillah merupakan hasil runding dirinya dan suami dengan makna bahwa hadirnya Razka di tengah keluarga kecil mereka.


Adalah rezeki yang utama pemberian dari Tuhan. Setelah dua kali Nurbaiti mengalami kesedihan mengingat ia harus mengalami kegagalan menjadi seorang ibu lantaran ia pernah mengalami keguguran dan harus mengalami kelahiran bayi prematur dan malangnya bayi itu pun meninggal dunia.


***


"Assalamualaikum," ucapku sebelum masuk ke dalam rumah orang tua.


"Walaikumsalam eh, kamu jadi datang. Mama pikir cuma becanda,"


"Apa sih, Ma? Orang seumuran aku kok masih becanda, apalagi sama orang tua," ujarku seraya meraih tangan Mama.


"Nggak, Ma. Aku habis daftarin Razka sekolah sekalian lihat rumah. Insya Allah dua bulan lagi dia sudah masuk TK,"


"Ya Allah, cucu Mama sudah mau sekolah. Mana dia kok nggak diajak ke sini?"


"Nggak mau, Ma. Aku udah ajakin. Tapi dia lagi senang di rumahnya. Soalnya baru dapat mainan baru dari Papanya kemarin dibeliin pas kita jalan-jalan ke Mall.


"Terus, apa kamu jadi mau pindahan ke rumah baru?"


"Jadi Ma, tapi untuk sementara aku sama Andra mau nyewa dulu di sana nanti setelah nyaman dan betah tinggal. Ada kemungkinan kita beli rumahnya,"


"Kenapa kamu nggak tinggal di sini atau di rumah kita aja yang biasanya di sewa? Kebetulan bulan kemarin udah nggak ada yang nyewa habis masanya, "


"Kalau soal rumah di Jakarta, Andra juga punya Ma. Peninggalan orang tuanya, tapi selama ini cuma di tinggali ART. Soalnya Andra lebih suka tinggal di apartemen katanya lebih praktis. Papa nanti pulang 'kan Ma pas istirahat,"


"Ada apa tiba-tiba 'kok kamu ngomongin, Papa?"


"Mau ada perlu sama Papa dan Mama,"

__ADS_1


"Mau ngomong, apa. Apa ini soal bahagia. Apa kamu udah hamil lagi?" tebak Mama seraya tersenyum senang,"


Senyum Mama kubalas dengan kekehan.


"Tuh 'kan kamu ketawa, pasti benar tebakan Mama. Kamu hamil lagi,"


"Siapa yang hamil? Orang aku belum hamil lagi 'kok,"


"Terus ngapain kamu ketawa kayak gitu," jawab Mama sewot.


"Ya habis, Mama itu kompak sama menantu kesayangan Mama. Si Andra. Minta aku buru-buru hamil lagi,


**"


"Eh, ada apa ini. Siang-siang ibu sama anak kok pada ribut?" ujar seorang laki-laki yang tiba-tiba nimbrung di obrolanku dengan Mama.


"Papa!" seruku kompak dengan Mama.


"Akhirnya bisa makan siang di rumah sama Papa," ujarku senang.


"Tumben, cuma pulang buat makan siang kok bawa tas segala, Pa," timpal Mama.


"Ya, nih. Papa sekalian pulang, soalnya badan Papa pada pegal-pegal dan nggak enak,"


"Mau diantar ke dokter, Pa?" ucapku.


"Kamu ini lucu, Kay. Orang kamu aja dokter, kok kamu malah mau antarkan Papa ke dokter?"


"Ya beda 'lah, Pa. Aku 'kan dokter spesialis kandungan. Papa ini, gimana?"


"Ya, tapi setidaknya kamu taulah obat yang harus Papa minum. Lha wong, Papa ini cuma nggak enak badan aja,"


"Ya udah kalau gitu, nanti aku beliin Papa obat lewat online aja, ya,"


"Kamu ngapain cari Papa pasti ada maksud lain 'kan nggak cuma kangen aja?"


"Aku sama Andra mau pinjam villa Papa yang ada di Bogor. Boleh nggak,"


"Buat, apa? Apa kamu mau second honeymoon sama suami?"


"Bagus itu, Mama setuju," ujar Mama yang tiba-tiba nimbrung pada obrolan.


"Nggak 'lah, aku sama Andra cuma mau liburan aja. Nggak cuma berdua, tapi ada Razka, Nurbaiti dan keluarga, sekalian juga mau ngajak Papa, Mama, dan Kamila, liburan bareng kita. Gimana, Pa, Ma. Setuju nggak?"

__ADS_1


"Wah, ini 'mah kita setuju banget!" seru Papa dan Mama kompak.


Bersambung...


__ADS_2