Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 28


__ADS_3

Aku dan Windy lalu menyantap makanan yang terhidang di hadapan, Windy begitu lahap menyantap soto ayam pesanannya ditambah sepiring nasi putih. Sepertinya ia sangat lapar, tetapi aku enggan bertanya lebih lanjut. Takut jika ia akan malu. Sementara aku menyantap gado-gado kesukaanku tanpa menggunakan nasi.


"Oh iya, Kay. Apa kamu pernah bertemu lagi dengan Andra?"


"Andra, maksud kamu?" tanyaku balik pura-pura tidak tahu.


"Laki-laki yang menjadi korban bersamamu, itu namanya Andra. Dia itu  sepupuku, tapi aku malah menjadikan dia korban juga. Padahal dia sangat baik perhatian padaku dan keluargaku. Di antara banyak saudara sepupuku. Cuma dia yang  paling peduli dengan keadaanku. Apa lagi seperti sekarang, saat kami akhirnya jatuh miskin," jelasnya.


"Keluargamu, jatuh miskin?"


"Ya, ini semua akibat Papa membuat kesalahan. Papa melakukan korupsi di perusahaan keluarga Andra, sehingga Papa harus menanggung hukuman di penjara selama lima tahun, tapi aku salah paham saat di tahan untuk pertama kalinya. Aku mengira kalau Papa itu cuma dijadikan kambing hitam. Atas kesalahan yang terjadi di perusahaan. Makanya aku membalas perbuatan Pakde aku. Ke Andra, tetapi Andra tetap aja baik sama keluargaku," jelas Windy seraya menangis tersedu-sedu.


Posisi duduk kudekatkan pada Windy agar aku bisa memberikan Windy tisu untuk mengusap air mata yang mulai berlinangan di kedua pipinya. Wanita itu sepertinya sangat menyesali perbuatannya di masa lalu pada Andra dan diriku.


"Andra itu sepupuku dari garis ayah. Sejak kecil ia dan kakaknya sangatlah dekat dengan keluargaku. Almarhum Papanya dulu juga membantu Papaku saat usahanya bangkrut. Pakde bahkan menyuruh Papa agar mau bekerja di perusahaannya, tapi kepercayaan yang sudah diberi Pakde pada Papa. Malah di salah gunakan Papa untuk bersenang-senang dan main serong dengan wanita lain,"


"Akibatnya perusahaan keluarga Andra bangkrut karena ulah Papa dan Papa di penjara karena harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Pada waktu itu aku masih tinggal di luar kota dan kuliah di sana. Sehingga aku kurang informasi, dan malah salah paham dengan keluarga Andra dan membuat Andra menjadi korban dengan tujuan mempermalukan keluarganya,"


"Lalu kenapa kamu, juga menjadikan aku korban salah paham itu, apa salahku, Win?"


"Karena aku mengira kamu adalah perempuan yang dicintai kakak iparku. Dokter Bimo. Ini karena kakakku mengira kamu adalah orang ketiga di tengah perkawinannya. Tujuannya agar kamu dan Andra mendapat rasa malu dan sakit hati yang sama dirasakan Kakak dan keluargaku rasakan dan dendam kami bisa terbalas hanya dengan sekali dayung, tapi semua itu ternyata salah dan kalian telah menjadi korban atas salah paham ini," jelas Windy seraya air mata terus berlinang.


"Tahukah, Win. Gara-gara kejahatanmu itu. Aku hamil dan harus menyembunyikan kehamilan itu dari siapa pun. Andra juga mengetahuinya, tapi dia malah menghilang saat janji akan bertanggung jawab padaku," jelasku.


"Kamu pernah hamil?"


"Iya, aku hamil dan melahirkan anak Andra. Saat berada di desa terpencil, tanpa keluargaku tau,"


"Oh jadi sekarang, aku tau kenapa dulu Andra memaksaku? Untuk memberikan alamat rumahmu empat tahun lalu, jadi anak yang dia cari itu adalah anak-,"


"Iya anak itu namanya Razka Fadillah, anak kami berdua, tapi karena aku tidak ingin keluargaku tau tentang anak itu. Aku memberikan anakku pada orang lain untuk dirawat,"


'Jadi kamu terpisah dengan anakmu?"


Aku mengangguk atas pertanyaan itu. Namun, tiba-tiba suara dering handphone milikku, mengejutkan kami berdua. Aku lalu mengangkatnya. Terdengar suara laki-laki sedang menginterogasiku tanpa memberi aku kesempatan bicara. Aku bisa menebak kalau dia sedang menahan amarah yang meluap. Aku pun bangkit dari duduk dan mengajak serta Windy untuk pulang bersamaku.


"Ayo Windy, aku antar kamu pulang,"


"Oh nggak usah, Kay. Aku masih bisa pulang sendiri 'kok. Lagian juga aku masih punya uang untuk ongkos naik transportasi umum,"


"Ayolah, Win. Nggak usah nolak, lagian rumahmu itu searah sama rumahku,"


Windy akhirnya bersedia setelah aku bujuk untuk bareng satu mobil. Kami berdua mengobrol keseharian masing-masing sembari aku menuntunnya sampai keluar gedung rumah sakit. Ia lantas bertanya sesuatu padaku.

__ADS_1


"Oh iya, ada teman yang bilang ke aku, kalau kamu akan segera menikah. Kapan, Kay?"


"Alhamdulillah sudah dilaksanakan, kemarin,"


"Oh kamu sudah menikah kemarin, selamat ya, Kay. Jadi nggak enak aku. Nggak kasih kado. By the way, siapa orang yang beruntung jadi suami kamu, Kay?"


"Terima kasih atas ucapannya, yang pasti sama laki-laki normal, yang bisa menerima keadaanku sekarang,"


"Iya ngerti, tapi sama siapa namanya, Kay. Coba kasih tau aku. Aku 'kan jadi kepo 'nih?"


"Itu dia mobilnya. Rupanya dia jemput aku, Win. Nanti ya, aku kenalin kamu sama dia pas di mobil," ujarku seraya menunjuk ke arah mobil berwarna merah meski aku lupa jika Windy sekarang buta.


Aku memberikan kode agar Andra tidak bicara dulu dengan bahasa tubuh. Sebelum aku membantu Windy menaiki mobil dan duduk di kursi penumpang bagian belakang. Selang beberapa menit kemudian, aku beralih duduk di depan di samping kursi pengemudi.


Andra kemudian menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit. Ia lantas berdeham melirikku yang sedari tadi duduk diam di sampingnya.


"Sekarang, aku sudah naik mobil. Aku boleh 'dong kenalan sama suami kamu, Kay," ucap Windy mencairkan suasana.


"Ya, bolehlah," jawabku sembari mengarah ke belakang


"Hai, nama saya Windy. saya temannya Kay eh, maksudnya Kanaya. Senang berkenalan dengan anda," sapa Windy.


Andra tersenyum tipis mendengar ucapan sepupunya itu, tetapi sejurus kemudian ia berdeham.


Aku langsung menghadiahinya pukulan di bahunya. Andra pun meringis lalu mengusap bahu yang aku pukul tadi. Aku lantas menggunakan bahasa tubuh menyuruhnya untuk membalas perkenalan dari sepupunya itu.


"Suami kamu lagi sakit gigi ya, Kay. Kok dia cuma berdeham"


"Gua nggak lagi sakit gigi, Win. Tapi gua lagi kesal sama bini gua, dari tadi gua tungguin di tempat parkir. Nggak nongol-nongol juga. Eh, nggak taunya malah enak-enakan ngeghibahin orang sama lo di kantin," cerocos Andra panjang kali lebar.


"Andra! Kok bisa 'sih lo, yang jadi-,"


"Ya bisalah, orang gua pelet pake jaran goyang!" sambar Andra sekenanya.


"Emang bener, Kay?"


"Panjang ceritanya, Win. Nanti kapan-kapan, aku bakal cerita soal ini, sama kamu," jawabku.


Tak terasa perjalanan menuju rumah Windy pun sudah hampir tiba di rumah keluarga Windy. Rumah Windy pun bukan rumah yang dulu di mana aku sering berkunjung, tapi kini Windy tinggal di daerah perkampungan. Rumahnya pun tidak sebesar dulu.


"Udah sampai, Win. cepat lo turun, kita berdua masih mau bulan madu. Jangan ganggu kita lagi," ucap Andra setengah mengusir dengan nada becanda.


"Oke 'deh kalo gitu. Makasih ya, Kay. Aku udah repot-repot dianterin, nggak sekalian apa, mampir dulu  ke rumah," ucap Windy sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


"Makasih, Win. Lain kali aja, lagian ini udah sore," ucapku seraya membantunya turun dari mobil.


"Eh tunggu, kapan mata lo mau di operasi?" tanya Andra.


"Kalau nggak ada halangan insya Allah bulan depan, Ndra,"


"Oke, kabari gua, ya. Kalau nanti lo jadi di operasi?" jawab Andra


"Itu pasti 'lah, Ndra. Tanpa lo suruh juga, gua tetep kabari lo. Soalnya siapa juga yang mau bayarin operasi mata gua? Kalau bukan lo,"


***


Usai mengantar Windy, Andra segera melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang bukan arah pulang menuju apartemen, tetapi lagi-lagi menuju ke daerah lain.


"Jadi kamu yang biayain operasi matanya Windy,"


"Ya, habis aku kasihan sama dia, Windy pernah curhat ke aku. Kalau anaknya suka dibully sama teman-temannya. Kalau dia punya ibu yang buta,"


"Kok malah ke jalan ini 'sih, Ndra. Emang kita mau ke mana?" tanyaku bingung.


"Mau ke KUA, mau urus dokumen pernikahan kita, tapi kayaknya kita udah ketelatan, "


"Tapi 'kan itu udah selesai semua,"


"Iya udah selesai, tapi itu dokumen kamu, mau nikah sama Erwin. Tapi kenyataannya kamu malah nikahnya sama aku. Jadi aku mau urus dokumen ini biar cepat selesai,"


"Emang, kenapa?"


"Aku mau membuat akta kelahiran,"


"Akta kelahiran, buat siapa?"


"Buat Razka, aku mau dia juga diakui negara. Razka itu anak kita, biar nanti tahun ajaran baru ini, dia bisa masuk sekolah. Selama ini dia kesulitan masuk sekolah karena nggak punya dokumen yang lengkap. Bisa aja surat akta atau adopsi dibuatkan Nurbaiti, tapi aku larang,"


"Kenapa kamu larang?"


"Ya jelaslah, aku larang. Aku ini bapak kandungnya Razka dan aku mau di surat akta kelahiran Razka. Tercantum nama aku sebagai bapaknya, bukan nama orang lain,"


"Jadi apa karena ini tujuan kamu menikahi aku secara mendadak, Ndra?"


"Mungkin ya, ini salah satu faktornya," ucap Andra santai sembari terus fokus mengemudi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2