
Akhirnya akad nikah itu pun terjadi, dengan di saksikan penghulu sebagai pencatat pernikahan, dua saksi dari sang mempelai serta para tamu yang sedang menghadiri jalannya acara sakral ini. Papa yang bertindak sebagai wali nikah pun menjabat erat tangan sang mempelai pria mengucapkan kalimat sakral dengan tegas dan lantang. Ikhlas menyerahkan putri sulungnya dipersunting pria yang dicintainya.
Sementara aku yang jauh berada di kamar pengantin hanya bisa berdoa agar pria yang kupilih menjadi suamiku ini bisa mengucapkan kalimat sakral itu dengan baik, tenang, dan tak gugup. Sedangkan Jantungku kian berdegup kencang, takut apa bila Erwin melakukan kesalahan.
Mempelai pria dengan mantap dan percaya diri menyambut kalimat demi kalimat yang tadi diucapkan Papa. Semua yang menyaksikan akad nikah itu pun merasa lega setelah para saksi menyebut kata "sah" dandilanjutkant dengan kalimat hamdallah yang menggema memenuhi ruangan. Seiring dengan itu aku yang berada di kamar pengantin pun bersiap untuk bertemu dengan pria yang kini telah sah menjadi suamku.
Dua saudara sepupu yang menemaniku di kamar pengantin pun tak henti-hentinya menggodaku karena kini, aku telah sah berstatus menjadi istri dari Erwin Mahendra. Dan tiba saatnya aku akan dipertemukan dengan Erwin untuk melakukan upacara adat selepas akad nikah. Pertemuan ini pun menjadi pertemuan pertama kalinya dengan Erwin. Setelah tiga hari aku dipingit oleh orang tuaku
Semua pasang mata tertuju pada langkahku yang akan menemui suamiku, sembari melangkah pelan tak lupa senyum tipis menghias di bibirku. Tak lupa ucapan selamat pun diberikan padaku. Setiap kali aku melangkah menuju tempat akad nikah tadi berlangsung. Jantungku pun kian berdegup kencang lebih dari apa yang kurasakan tadi ketika aku di dalam kamar pengantin.
Namun, begitu tiba di meja akad nikah. Terbelalak 'lah kedua mataku saat melihat pria yang ada di hadapanku bukanlah Erwin Mahendra, melainkan Syailendra Dwiki Aditama. Seketika tubuhku hampir roboh, kalau saja Andra tidak sigap memegang kedua bahuku sehingga kejadian itu tak sampai terjadi.
Aku lalu berdiri berhadapan dengan Andra dengan tatapan datar.
"Ayo Mbak Kanaya, sekarang sudah bisa mencium tangan Mas Andra sebagai tanda bakti sebagai seorang istri kepada suaminya," titah sang MC padaku.
Jujur aku masih tidak percaya dengan ini semua? Mengapa bisa pria itu yang kini malah menjadi suamiku? Di mana Erwin berada sekarang? Pria yang jelas-jelas namanya sudah terdaftar sebagai calon suamiku di KUA, pria yang namanya juga tercetak di kertas undangan, tapi sekarang bukan 'lah Erwin orangnya, melainkan Syailendra Dwiki Aditama alias Andra. Pria yang seharusnya bertindak sebagai saksi dari pihak mempelai pria.
__ADS_1
Uluran tangannya kusambut dengan kasar, ekspresi wajahku pun masih datar, kalau pun wajahku tersenyum semua itu hanya paksaan bukan murni keinginanku. Aku tak ingin pernikahan ini menjadi bahan ghibahan semua tamu undangan.
Apa jadinya pernikahan ini, jika hanya dijadikan bahan omongan banyak orang. Rasanya aku ingin mencari Erwin sekarang juga lalu menamparnya hingga berkali-kali dengan sangat keras. Sampai kedua pipinya memerah, agar pria itu bisa mengerti betapa pedihnya hatiku dan orang tuaku karena dikhianati di menit-menit terakhir.
Aku juga masih heran mengapa kedua orang tuaku menganggap kejadian ini biasa-biasa saja. Padahal calon mempelai pria bukanlah pria yang seharusnya menjadi menantunya. Mereka pun bersikap ceria karena memang pernikahanku ini menjadi acara mantu pertama bagi keluargku.
Meski begitu, aku masih bersyukur. Sebab apa jadinya jika pernikahan ini tidak akan terjadi? Pasti kedua orang tuaku akan merasa malu. Aku jadi curiga apa mungkin kejadian ini adalah akal-akalan Andra? Agar Erwin tak datang lalu dengan inisiatifnya ia menawarkan diri untuk menggantikan posisi Erwin untuk mempelai pria.
Dua tahun menjadi kekasih dan tunangannya. Tentu sedikit banyak, aku mengetahui sifat dan karakter Erwin Mahendra. Erwin adalah karyawan di perusahaan Andra yang telah lama mengabdikan dirinya menjadi karyawan. Aku tahu bagaimana pria itu dari cerita-cerita yang pernah ia lontarkan padaku. Di tempat kerjanya Erwin menjadi sosok karyawan teladan, bertanggung jawab, serta disiplin. Erwin merupakan karyawan yang selalu mematuhi semua aturan yang ditetapkan atasannya.
Usai acara akad nikah dan resepsi secara sederhana. Andra pamit seraya membawaku pulang bersamanya. Sementara Nurbaiti dan yang lainnya sudah lebih dulu pulang. Pernikahan ini memang tak direncanakan bagi Andra, tetapi Nurbaiti serta anak-anak pasti merasa senang dan bahagia atas kejadian yang terjadi hari ini. Mereka menebar senyum gembira karena apa yang mereka inginkan terkabul, ketimbang para tamu lainnya yang bergosip karena perubahan pada mempelai prianya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku hanya berdiam dan memilih tidur ketimbang bertanya mengapa pria yang sedang mengemudi ini, yang kini menjadi suamiku. Mungkin, benar dugaanku jika Erwin hanya dijadikan alat untuk mendekatiku selama ini. Jika itu benar. Maka siap-siap aku akan membuat perhitungan pada dua pria sekaligus. Aku sadar, jika hari ini aku terus saja suudzon atas apa yang terjadi dengan pesta pernikahanku yang baru saja berakhir.
Andra membawaku ke apartemennya, bukan hotel seperti yang aku kira. Andra lantas membawaku ke lantai empat belas. Di mana apartemennya berada. Tak ada komunikasi selama menuju tempat itu. Yang ada hanya raut kelelahan yang tercetak di wajahku dan wajahnya.
Sepuluh menit berlalu, kami tiba di depan kamar apartemennya. Andra lalu membukakan pintu seraya membawakan koperku yang kubawa upanya ia memang tidak punya persiapan. Buktinya tidak ada hiasan di dalam kamarnya. Seperti biasa yang dihias di kamar pengantin baru pada umumnya. Kamar utama yang ditempati Andra hanyalah kamar biasa dengan cat didominasi warna monokrom seperti kamar laki-laki pada umumnya. Untuk kerapian, kuakui kamarnya sangat rapi dan harum untuk ukuran kamar seorang laki-laki.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Kenapa kamu yang akhirnya jadi suamiku dan bukannya Erwin? Apa kalian berdua itu sekongkol untuk mengerjai aku dan orang tuaku?" cecarku sesaat setelah melihat ke seluruh ruangan apartemen.
"Nggak ada maksud apa-apa, Kanaya! Ini murni pernikahan tadi itu dadakan buat aku!," ujar Andra membela diri.
"Bohong! Ayo cepat katakan!"
"Buat apa aku bohong itu fakta, Kanaya!"
"Kamu juga 'kan yang minta, agar Erwin tidak datang ke pernikahan ini, agar kamu bisa menikahiku, iya 'kan!
"Nggak sama sekali, Kanaya! Aku malah senang kamu bisa menikah dengan orang pilihanmu. Bersumpah pun aku mau,"
"Alah alasan, ini semua akal-akalan dari kamu, kan!"
"Terserah! Kamu mau percaya atau nggak, yang paling penting buat aku. Semua yang kamu tuduhkan itu. Salah!" ucap Andra kesal seraya menabrak bahuku dan melangkah ke kamar yang lebih kecil dan membanting pintunya.
Aku pun tak mau kalah dengannya. Masuk ke dalam kamar seraya membanting pula pintu kamar utama lalu selepas itu membanting tubuhku di atas kasur, dan terlelap bersama amarah yang masih memuncak di dada belum terselesaikan.
__ADS_1
Bersambung