Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 29


__ADS_3

Hari kian larut, tapi mataku sulit sekali terpejam, padahal mulut ini sudah berulang kali menguap. Saat ini aku masih tidur sendirian di kamar utama sedangkan Andra masih menempati kamar yang lebih kecil. Pria itu masih belum mau tidur bersama denganku. Mungkin, ia masih memberiku waktu untuk beradaptasi hidup bersama dengannya atau entahlah! Aku sendiri pun masih mencoba memahami segala apa yang ia rencanakan.


Aku memutuskan keluar dari kamar dan berniat pergi ke balkon untuk mencari udara segar sekaligus pemandangan sekitar sembari menikmati kerlap-kerlip cahaya lampu jalanan dari lantai empat belas di malam hari. Saat aku membuka pintu kamar. Kulihat Andra sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan dengan laptopnya di meja makan. Wajahnya amat serius. Berkali-kali pria itu menguap. Namun, ia tetap fokus pada layar laptop dan belum berniat menghentikan pekerjaannya itu.


Aku urung ke balkon dan lebih memilih ke dapur. Ingin mengambil minum sekalian membuatkan minuman hangat untuk suamiku itu. Tujuh menit berlalu minuman itu pun sudah siap aku berikan padanya.


"Makasih," ucapnya saat aku meletakkan segelas minuman itu untuknya. Namun, pandangannya tetap tertuju pada layar laptop.


Aku lantas menggeser kursi yang ada di hadapanku, lalu duduk sembari meneguk air dingin yang telah aku ambil tadi. Mendengar suaraku meneguk air membuat Andra melirik ke arahku dan untuk menyeruput minuman yang kusuguhkan untuknya.


"Kok susu sih, Kanaya?" ucapnya saat melihat minuman yang kubuat berwarna putih.


"Udah minum aja nggak usah banyak komentar," jawabku santai.


Dengan wajah sedikit terpaksa, Andra mengambil gelas itu lalu menyeruput susu yang baru saja aku buatkan itu.


"Ih, tawar lagi rasanya," ucapnya seraya menjulurkan lidah tanda tidak suka.


"Kalau aku buatin kamu kopi, nanti kamu nggak bisa tidur, mending minum susu, tapi nggak usah pakai gula. Biar sehat,"


"Ah emang susah, kalau nikah sama dokter,"


"Siapa suruh mau nikah sama aku,"


Meski misuh-misuh, Andra tetap meminum susu itu hingga tinggal setengah gelas.


"Kamu sendiri ngapain hari gini belum tidur juga," ucapnya.

__ADS_1


"Aku nggak bisa tidur. Kepikiran terus sama kejadian tadi siang. Tadi itu, aku kedapatan pasien lagi hamil besar. Eh, nggak taunya dia itu istrinya Erwin,"


Andra yang sedang menghabiskan minum susunya, langsung tersedak gara-gara mendengar ucapanku. Spontan aku pun buru-buru menyodorkan air putih yang kuambil tadi walau tinggal seperempat gelas. Ia lantas mengambil dan meminumnya.


"Kok bisa  istrinya Erwin datang ke rumah sakit?"tanya Andra sesaat setelah selesai menghabiskan air putih milikku.


"Ya, nggak tau. Orang dia tiba-tiba datang. Aku pikir dia pasien sama kayak yang lain. Mau mengecek kandungan. Apa kamu juga udah kenal sama dia?"


"Nggak, cuma sekadar tau aja. Erwin itu karyawan teladan, cukup menonjol di kantor. jadi, semua orang yang bekerja dengan dia. Rata-rata udah pada tau, tentang statusnya?,"


"Kenapa kamu nggak kasih tau aku, Ndra?"


"Kasih tau, apa lagi, Kanaya. Ya, aku juga sekadar tau aja. Kalau Erwin itu udah nikah. Aku tau itu pas perusahaan lagi mengadakan darmawisata bersama seluruh karyawan serta keluarganya. Jadi waktu itu dia ngajak istri sama anak-anaknya, tapi itu 'kan tiga tahun lalu. Ya, sekarang aku pikir dia udah bercerai. Makanya, dia mau nikah sama kamu,"


Aku hanya diam mendengar semua ocehan Andra seraya mengetuk-ketuk pelan meja menggunakan jari tangan untuk mengusir rasa sepi di malam hari.


"Dia cerita ke aku, awal dia nikah sama Erwin dan keadaannya yang sekarang lagi hamil,"


"Berarti selama ini kamu udah ditipu ' dong, sama Erwin,"


Aku lantas mengangguk


"Kok bisa, seorang Kanaya Nadhira, dokter cantik nan pintar udah bergelar spesialis pula. Ditipu sama cowok macam Erwin," sindir Andra seraya tertawa kecil.


"Ya bisalah, aku ini 'kan juga manusia biasa. Orang selama aku kenal sama Erwin, dia cuma tinggal sama ibunya. Ya, aku pikir, dia itu lajang. Lagian ibunya juga 'sih nggak cerita banyak soal masa lalu anaknya,"


"Nah, itu 'tuh yang namanya modus. Emang sebelumnya kamu kenal di mana sama Erwin?"

__ADS_1


"Di kantin rumah sakit, waktu itu Erwin lagi nunggu ibunya yang dirawat. Alah, tapi kamu sendiri juga modus nikahin aku. Ya 'kan?"


"Biar pun modus, tapi 'kan aku maksudnya baik, lagian Papa kamu juga udah kasih restu ke aku,"


"Kamu kenal sama Papa di mana?"


"Di pesta perusahaan rekan bisnis kita. waktu itu, aku sih udah tau Papa, tapi 'kan belum kenal siapa aku?"


"Jadi, sebelum di pesta itu kamu udah tau Papa?"


"Ya cuma sekadar tau Papa itu orang tua kamu. Kalau soal tentang kamu dan keluargamu itu mudah. Tinggal korek aja informasi ke Windy,"


"Sejujurnya apa 'sih tujuan kamu cari tau aku sama keluargaku. Kalau nyatanya kamu aja nggak tanggung jawab sama aku dan bayiku enam tahun lalu?" ucapku dengan nada yang meninggi.


Andra lantas merapikan semua kertas, berkas, dan menutup laptopnya. Mungkin, ia sadar jika akan terjadi keributan. Andra lantas memajukan kursi dan duduknya. Sementara aku terdiam sembari menatap tajam serta jariku yang memainkan ujung pakaian tidur yang kukenakan. Andra berdeham lalu berucap,


"Untuk semuanya, sekali lagi aku khusus minta maaf sama kamu, Kanaya. Tapi jujur ini nggak seperti apa yang kamu bayangkan. Demi Tuhan! Aku nggak melupakan kamu dan calon anak kita waktu itu. Aku bisa jelaskan ini semua, tapi nggak sek-,"


"Nggak apa, Ndra? Nggak perlu ngomong demi Tuhan. Kalau nyatanya juga kamu pilih wanita lainnya dari pada bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat sama aku, Ndra!!" ucapku murka sembari menggeser kursi, melangkah panjang ke kamar seraya membanting kasar lagi pintu dan menguncinya.


Aku kembali murka, setiap kali mengungkit kejadian enam tahun lalu. Kejadian kelam bersama dengan Andra. Apa yang sebenarnya ingin aku buang jauh-jauh, tetapi nyatanya semesta seolah enggan menakdirkan aku untuk jauh darinya. Kini pria yang ingin aku jauhi itu. Ternyata malah menjadi suamiku, meski dibalik itu semua ada yang ingin ia wujudkan untuk anakku Razka.


***


Pagi ini aku masih enggan bicara dengannya. Aku lebih banyak diam sembari mengerjakan kewajibanku sebagai seorang istri di pagi hari. Jika ingin bicara dengannya aku hanya bicara seperlunya saja. Andra pun tidak berusaha untuk mencairkan suasana. Pria itu pun lebih banyak diam, hanya sesekali memandangi wajahku yang membuatku ingin mencakar wajahnya. Tanpa berusaha bertanya apa yang sebenarnya aku inginkan darinya?


Sejujurnya aku hanya ingin pria yang telah menjadi imamku ini. Mau bicara empat mata dan dari hati ke hati denganku menjelaskan apa yang terjadi padanya enam tahun lalu. Mengapa putus kontak lalu menghilang tak ada kabar? Seolah melupakan semua yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Aku ingin dia bercerita soal itu dengan detail, tidak setengah-setengah seperti apa yang dia lakukan tempo lalu. Sehingga seperti teka-teki yang harus aku pecahkan sendiri jika ingin mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2