Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 27


__ADS_3

"Maaf, apa saya tidak salah dengar?" tanyaku memastikan.


"Tatap mata saya, Dok. Apa mungkin, saya terlihat menyimpan kebohongan pada anda?" tanya balik Ibu hamil itu padaku.


Suasana pun berubah menjadi hening dan aku mulai menatap dengan saksama ibu hamil itu lalu. Ia pun kembali berucap.


"Saya memang istri sahnya Erwin. Nama saya Dewi Kumalasari. Kami menikah tujuh tahun lalu dan sudah memiliki dua anak, ini anak kedua saya dari pernikahan saya dengan Erwin," jelasnya.


"Maaf, apa itu berarti Erwin menikah dengan anda yang sudah berstatus janda?"


"Ya, tepat sekali. Saya memang seorang janda ketika menikah dengan Erwin. Dari awal ibunya memang sudah tidak suka dengan saya, bahkan sampai sekarang. Meski saya sudah memberinya satu cucu, tetapi tetap saja. Beliau tidak pernah mengakui saya sebagai menantunya,"


"Saya juga tahu hubungan Dokter dan  Erwin berjalan sudah dua tahun bahkan kalian sudah bertunangan dan hampir saja menikah 'kan," terangnya lebih lanjut.


"Apa! Ibu tau semua tentang hubungan saya dan Erwin. Tapi kenapa Ibu malah diam saja?" tanyaku seraya menggelengkan kepala.


"Selama ini saya diam bukan karena saya tidak tau. Ini semua karena saya sudah diancam tidak akan diberikan nafkah tiap bulannya oleh Erwin dan anak kedua saya pun akan di ambil paksa oleh Erwin dan ibunya jika saya bicara macam-macam tentang semua ini pada anda,"


Kedua mataku makin terbelalak lebar tatkala, wanita yang sedang hamil besar bernama Dewi itu. Bercerita lebih lanjut mengenai Erwin dan ibunya. Yang tentu saja tidak aku ketahui sebelumnya bahkan mendengar cerita itu. Aku sampai dibuat mengelus dada serta menggeleng kepala karena sangat keterlaluan.


Hingga tak terasa air mata ibu hamil itu pun pecah. Karena tak sanggup menanggung semua beban di hatinya yang kian hari kian menumpuk lantaran beban hidup dan psikologinya yang terganggu karena suaminya.Aku tahu ini berat. Tapi ini cobaan hidup dan itu yang ia dan anak-anaknya alami.


"Yang makin membuat saya sakit hati, Dok. Erwin tidak mau mengakui anak yang saya kandung ini sebagai darah dagingnya, padahal demi Tuhan, saya bersumpah. Saya tidak pernah berselingkuh dengan pria mana pun dalam hidup saya,"


"Dulu saat saya kembali bertemu dengan Erwin. Saya sudah menjadi janda, tapi saya janda terhormat, lantaran mantan suami saya seorang prajurit yang gugur saat bertugas menjaga perbatasan di daerah pelosok pedalaman,"


"Lantas bagaimana, Ibu bisa mengenal Erwin dan akhirnya menikah?"

__ADS_1


"Erwin, dulunya adalah teman saya saat SMA, kita berdua pernah pacaran, tetapi setelah lulus kami putus. Karena memiliki kesibukan masing-masing. Dia kuliah di luar kota sedangkan saya bekerja lalu tak lama menikah dengan suami saya yang pertama,"


"Dua tahun setelah saya menjanda, saya bertemu lagi dengan Erwin, lalu kembali berpacaran. Dia berusaha meyakinkan saya untuk menikah lagi. Akhirnya saya luluh dan menikah dengannya, walau tanpa restu dari ibunya Erwin,"


"Lantas apa maksud Ibu Dewi, menceritakan ini semua pada saya?"


"Itu karena saya peduli pada anda. Kemarin pada hari ijab kabul. Saya tiba-tiba datang ke rumah ibunya Erwin. Saya tau Erwin ada di sana dan saya nekat mengunci Erwin dan ibunya di kamar. Ketika mereka sedang bersiap-siap ingin pergi ke rumah Bu Dokter. Saya tidak ingin orang sebaik dan secantik anda bisa tertipu dan terbujuk rayuan manis Erwin dan ibunya,"


Aku segera bangkit lantas menghampiri Ibu Dewi, memeluknya dengan menjaga jarak agar tidak sampai mengenai perutnya. Aku memeluknya lantaran bersimpati dan empati. Aku memeluknya sebagai tanda dukungan dan berterima kasih padanya. Karena berkat kenekatannya, aku bisa tahu siapa Erwin yang sebenarnya.


Detik ini juga aku berucap syukur, karena tidak jadi menikah dengannya. Jika pernikahan ini sampai terjadi. Bukan hanya rasa sesal dan meratapi kebodohan diri sendiri. Tertipu dengan janji manis seorang pria bernama Erwin dan bukan hanya itu. Bisa juga aku turut andil lantaran tega menyakiti hati seorang istri dan anak yang sudah ditelantarkan suami dan ayah yang tak bertanggung jawab.


***


Pukul dua siang aku sebenarnya sudah selesai praktik, tetapi aku tidak ingin buru-buru pulang. Karena aku ingin gunakan waktu ini. Untuk berkeliling rumah sakit. Namun, iba-tiba tenggorokan mulai merasa haus dan aku ingin pergi ke kantin, tetapi tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita berkacamata hitam. Aku mengamati gerak-geriknya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Maaf," ujarnya seraya berdiri membuka kedua telapak tangan, ingin meraba sesuatu. Tetapi dari caranya berjalan aku dapat menyimpulkan jika wanita ini sedang mencari sesuatu.


Aku lantas mengambilkan tongkatnya yang tergeletak di lantai dan memberikan tongkat itu padanya.


"Maafkan saya, yang sudah merepotkan anda," ujarnya.


"Windy!!! Kamu Windy 'kan!" ucapku memastikan.


Windy berusaha menghindar, ia mencoba lari dariku, tetapi aku bisa mencegahnya pergi.


"Tunggu Win! Aku senang bertemu denganmu lagi. Sekalian aku ingin kamu klarifikasi tentang kejadian enam tahun lalu yang menimpaku dan Andra. Apa salah kami berdua padamu, Win. Sampai kamu berbuat seperti itu," Tegasku seraya memegang kedua bahu Windy.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kay. Ini semua karena aku korban salah paham," ucapnya seraya menunduk menyesal.


"Ayo kita ke kantin, kita selesaikan semuanya di sana," ajakku sembari menuntunnya menuju kantin.


***


Selepas mencari meja dan memesan makanan. Aku dan Windy berbasa-basi sebelum ke inti pembicaraan untuk menyelesaikan masalah enam tahun lalu yang sampai saat ini belum juga tuntas.


"Bagaimana keadaanmu, Windy?"


"Seperti apa yang kamu lihat, sekarang aku buta? Sudah lima tahun. Aku buta pasca melahirkan anakku,"


"Oh, begitu ceritanya. Aku turut prihatin, lalu di mana suami dan anakmu?"


"Anakku ada sedang di rumah dengan orang tuaku sementara suamiku-," ucap Windy terhenti seraya menunduk.


Makanan dan minuman yang sudah aku pesan pun datang, tetapi suasana berubah menjadi hening kembali. Setelah pelayan itu pergi. Lantas tanpa sebab, Windy tiba-tiba menangis beruraian air mata seraya mengucapkan kata maaf berkali-kali padaku. Wanita itu lalu bercerita tentang kejadian masa lalunya.


Usai menjalankan aksinya sesuai rencana, Windy pun merekam beberapa adegan video saat aku bersama Andra. Selepas itu ia menginap di kamar lain dan saat pagi-pagi buta, ia pergi dengan menggunakan angkutan umum. Namun, malang di pertengahan jalan Windy menjadi korban pencurian. Karena hanya dia yang menjadi penumpangnya. Semua barang miliknya di sita oleh preman yang ada di mobil itu.


Dan bukan itu saja, setelah semua barang-barangnya di ambil secara paksa, kehormatannya sebagai seorang wanita pun di renggut paksa oleh ketua preman hingga akhirnya Windy hamil lalu terpaksa dinikahkan ketua preman. Namun, naasnya tiga tahun lalu suaminya masuk penjara lantaran kasus narkotika. Ia lantas dijatuhi hukuman seumur hidup.


"Aku sangat menyesal, Kay. Karena terhasut salah paham dan seketika itu juga aku mendapatkan hukum karma atas perbuatanku, padamu dan Andra,"


Air mataku tanpa sadar ikut meleleh, terhanyut bersama dengan kisah Windy yang ternyata lebih memilukan dari pada yang aku alami. Sejujurnya Windy ingin menuntut cerai pada suaminya yang masih di hukum atas perbuatannya. Namun, sayang suaminya menolak dan malah balik mengancam akan membunuh semua keluarganya termasuk juga Windy. Jika benar ia nekat akan menggugat cerai dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2