Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 22


__ADS_3

Pagi usai sarapan, Andra mengajak kami semua menikmati liburan ke pantai yang jaraknya hanya dua kilo meter dari hotel. Anak-anak begitu gembira setibanya mereka di sana. Karena mereka bisa bermain pasir dan air di pinggiran pantai. Sembari menikmati udara pantai yang terasa sepoi-sepoi membuatku dan mungkin saja yang lainnya. Bisa melupakan sejenak aktivitas sehari-hari. Hari ini tentu saja aku sangat gembira. Bisa bermain pasir, berenang, merasakan semilir angin  di alam terbuka seperti ini.


Sembari mengajak anak-anak bermain di play ground. Aku dan yang lainnya menikmati sajian live musik. Yang sudah disediakan sebagai sarana fasilitas bagi pengunjung yang berkunjung di tempat wisata ini. Puas dengan bermain menghabiskan waktu bermain di pantai. Membuatku dan semua merasakan juga lapar. Andra lalu mengajak kami semua untuk makan siang.


Pria itu lantas membawa kami untuk makan siang di sebuah restoran yang masih berada satu kawasan dengan pantai. Seafood menu menu utama yang disediakan di restoran ini. Ada ikan, kerang, cumi, kepiting, udang. Dengan segala bentuk macam olahannya. Aku sendiri memesan cumi udang lada hitam, Andra memesan kepiting saus Padang sedangkan yang lainnya memilih ikan bakar sebagai menu untuk makan siangnya.


Tidak ada acara setelah makan siang ini,  membuatku dan lainnya memutuskan pulang ke hotel untuk beristirahat. Di perjalanan menuju hotel, anak-anak terlihat begitu kelelahan sehingga mereka berdua tertidur dengan pulas dalam perjalanan. Razka dipangku Nurbaiti sedangkan Siti dipangku Nurhayati. Lima belas menit berlalu, akhirnya mobil yang dikendarai Andra sampai juga di hotel tempat kami semua menginap.


Sesampainya di kamar, bukan hanya Razka yang kelelahan lalu akhirnya tertidur di mobil, tapi juga aku dan Andra, yang juga terkapar dalam satu ranjang. Kami bertiga tidur bersama dalam posisi yang sama seperti semalam. Aku di sebelah kanan, Razka di tengah, dan Andra di sebelah kiri. Kami bertiga  seperti layaknya keluarga kecil harmonis yang bahagia.


Satu jam berlalu, suara dering handphone terdengar begitu nyaring. Sehingga membuatku mau tidak mau membuka mata. Bahkan suaranya sampai memekakkan telinga. Andra dan Razka tidak sampai bangun dengan suara bising handphone-ku itu. Aku lantas meraba untuk bisa meraih handphone yang kuletakkan di atas nakas.


Meski dengan meraba, akhirnya aku dapatkan juga benda komunikasi itu. Kulihat nama Erwin yang tercetak di layar. Aku pun buru-buru bangun sembari membuka kedua mata lalu menjawab panggilan itu dengan suara pelan. Itu aku lakukan, agar tidak mengganggu kenyamanan tidur Razka dan Andra. Sembari berjalan malas aku mencari tempat duduk. Agar posisiku nyaman selama mengobrol dengan Erwin tanpa harus menganggu ayah anak yang sedang tertidur pulas.


Bukan ucapan salam yang pertama kali aku dengar di awal percakapan udara dengannya. Namun, suara embusan napas yang terdengar kasar. Aku bisa menebak jika Erwin sedang menahan amarahnya padaku. Memang aku akui semenjak bertemu lagi dengan Andra. Hubungan aku dan Erwin sedikit merenggang. Jarang sekali berkencan, kalau pun bisa kita janjian. Pasti akan berujung dengan kegagalan.


Entah mengapa kencan itu selalu gagal? Padahal selama aku mempunyai hubungan dengan Erwin, tidak pernah sekali pun aku gagal jika akan berpergian dengan tunanganku itu kecuali jika aku ada panggilan mendadak dari rumah sakit. Namun, berbanding terbalik jika itu ada hubungannya dengan Andra. Meski tidak direncanakan, tapi tetap saja pria itu selalu akan berhasil membawaku pergi walau sejujurnya ia harus memaksa agar aku mau mengikuti keinginannya.


"Sekarang kamu ada di mana, Kay?" tanya Erwin.


"Ada di hotel, di tempat wisata,"

__ADS_1


"Sama siapa kamu di sana?"


"Sama temen-temen, ada enam orang,"


"Apa di sana ada Pak Andra juga?"


"Ma-mana mungkin 'lah Pak Andra ikut, ngaco kamu. Di sini semuanya perempuan. memang ada 'sih laki-lakinya, tapi dia itu masih kecil, anak temanku," jelasku berdusta.


"Kapan kamu pulang, Kay?"


"Besok siang, memangnya mau apa, Win?"


"Besok malam, setelah kamu pulang dari liburan. Aku dan Mama mau datang ke rumah,"


"Siapa yang  lagi becanda? Aku nggak lagi becanda, Kay. Pokoknya kamu dan keluargamu, siap-siap aja untuk menyambutku. Sebagai calon mempelai laki-laki yang akan datang bersama keluarganya besok malam di rumahmu,"


"Apa!!! Aku beneran belum siap, Win!"


Erwin menutup obrolan itu secara sepihak. Di sisi lain, aku masih berusaha menghubunginya. Namun, usahaku itu sia-sia. Nyatanya Erwin sudah menonaktifkan handphone-nya. Agar aku tidak bisa menghubunginya. Padahal aku ingin menjelaskan tentang ketidaksiapanku untuk pernikahan ini. Jika diadakan tidak lama lagi. Aku pun berusaha mencoba berkali-kali menghubunginya lagi. Namun, aku kembali gagal dan sudah merasa kesal juga dengan tingkah laku Erwin yang kekanak-kanakan seperti ini.


Aku yang sedang menyimpan amarah, akhirnya menjatuhkan diri ke lantai mengingat ucapan Erwin yang memaksa diadakan pertemuan kedua belah pihak keluarga besok malam. Guna membahas kembali hari dan tanggal pernikahan antara aku dengannya. Semakin ke sini. Pria itu semakin menaruh curiga terhadap Andra, yang tak lain adalah bosnya di tempat Erwin bekerja.

__ADS_1


Andra bukanlah selingkuhaku, di antara aku dengannya tidak terjalin apa-apa. Kalau pun ada, itu hanya sebatas orang tua kandung Razka. Anak kami yang sejak kecil hingga saat ini diasuh dan dirawat Nurbaiti. Kalau pun aku dan Andra bersama, itu semua hanya untuk kepentingan Razka. Apa lagi antara aku dan Razka. Kini sudah terjalin kedekatan. Setelah lima tahun yang lalu, aku menyerahkannya ke tangan Nurbaiti untuk diasuh dan dijadikan anak angkat.


Tanpa sadar air mata ini pun jatuh mengalir ke pipi, aku bukan takut akan pernikahan. Aku mencintai Erwin begitu pun sebaliknya, yang aku takutkan. Hanyalah aku berjauhan kembali dengan Razka. Sebagai ibu kandungnya aku ingin selalu berdekatan dengan anakku itu. Anak yang kulahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, melawan rasa sakit yang teramat sangat, apa lagi di saat Razka lahir tidak ada orang tercinta menemaniku hanya Nurbaiti dan Mariana saja yang membantunya kala itu


Aku masih saja terisak, tak ingin membayangkan jika hal ini benar-benar terjadi. Tidak! Aku tidak ingin berpisah lagi dengan Razka. Isak tangisku semakin menjadi-jadi dan karena itu Andra terbangun, ia mencari-cari di mana sumber suara berasal? Pria itu lantas bangkit dan segera mendekat ke arahku. Di saat ia berjongkok dan aku masih terduduk di lantai lalu.


Plaaaakkk!!!


Aku menampar dengan keras pipinya bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Pria yang baru saja bangun itu, tampak kebingungan dengan maksudku yang tiba-tiba menampar kedua pipinya.


"Kamu itu kenapa sih, Kanaya? Ada apa?!" cecarnya.


"SEMUA INI GARA-GARA KAMU, BRENGSEK! COBA KAMU NGGAK DATANG DI HIDUPKU! PASTI AKU NGGAK AKAN JADI BEGINI!" jawabku histeris.


"Ya, ya, aku memang salah. Tapi ini ada, apa? Coba kamu jelaskan. Biar aku ngerti!" teriaknya.


"KENAPA KAMU DATANG SAMA WINDY DI MALAM JAHANNAM ITU! KENAPA KAMU HAMILI AKU? LALU PERGI! KENAPA, KENAPA? ANDRA!!" teriakku semakin histeris.


"Hiks, hiks, hiks... Ibu Razka takut," ucap Razka yang tiba-tiba terbangun gara-gara mendengar keributan itu.


Andra lalu menghampirinya, menenangkan, dan menggendongnya kemudian membawanya ke kamar Nurbaiti. Selang lima menit kemudian. Pria itu kembali dan ingin menenangkanku yang masih terpaku menangis di lantai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2