
Aku duduk dengan tenang sembari mengusap mataku yang basah. Syailendra Dwiki Aditama alias Andra. Pria yang ternyata sudah kukenal enam tahun lalu dan tak akan pernah aku lupakan itu. Kini ia datang menghampiriku dan sedang berdiri di hadapanku. Seketika bayangan enam tahun yang lalu, kembali berputar di pikiran sementara Erwin yang mengamati dari kejauhan tampak bingung dengan tingkah aneh bosnya itu.
Erwin malah terhipnotis hingga ia melamun. Namun dengan cepat, pria itu tersadar saat melihat aku bangkit dari kursi. Pergi meninggalkan ballroom dengan berlari secepat mungkin. Andra tak tinggal diam. Ia lantas turut berlari mengejarku begitu pun Erwin. Kejar mengejar terjadi antara aku, Andra, dan Erwin, tetapi di tengah jalan Erwin terhenti. Bukan karena tak sanggup mengejar aku dan Andra. Namun, karena perutnya kembali terasa mulas. Ia harus segera pergi ke toilet terdekat.
Sembari berlari, aku mencoba menoleh ke belakang. Ah sial! Andra terus saja menyusulku dengan langkahnya yang panjang dan begitu cepat sehingga jarakku dengannya tinggal setengah meter. Aku tak kehilangan akal, untuk menunjang larik. Agar lebih kencang lagi. Aku segera mencopot sepatu yang kupakai. Memang bukan high heels setinggi tujuh centimeter, tetapi sepatu yang kupakai ini sudah tak nyaman lagi aku pakai. Sehingga di tengah jalan aku memutuskan untuk mencopot benda itu dari kakiku lalu menentengnya.
"Kanaya tunggu! Tunggu aku, Kanaya!" teriaknya dari arah belakang dengan napas terdengar menderu.
"Jangan! Jangan sekali-kali kamu mendekatiku, Andra!" jawabku seraya berteriak.
Sekilas aku kembali menoleh ke belakang dan itu membuatku berlari semakin kencang karena pria itu semakin mendekat padaku. Aku tak mau aku terkejar olehnya dan bisa saja Andra berhenti dan menangkapku. Rasa lelah sudah benar-benar menyergap di badan, tetapi aku harus terus berlari sembari berpikir mencari cara agar aku bisa bersembunyi dari kejarannya, sebenarnya berlari seperti ini ini sudah membuatku sangat melelahkan, napas pun sudah mulai kembang kempis tak karuan. Ingin sekali aku duduk untuk beristirahat. Namun, rasanya itu tak mungkin.
Semenjak kejadian malam itu enam tahun yang lalu, dan dia sudah mengingkari janjinya sendiri, membuatku berpikir dan tak ada alasan untuk aku semakin membencinya. Rasanya sakit itu benar-benar sampai ke dasar hati, perih, nyeri, tapi tak berdarah. Semua aku simpan dan kutelan sendiri. Bagiku Andra bagaikan virus bakteri yang harus segera dibasmi agar tidak menyebarkan penyakit mematikan di dalam hidupku ini.
Napas yang kian menderu membuatku ngos-ngosan, tenaga pun sudah terkuras habis, akibatnya aku mulai lunglai. Sehingga aku kehilangan tenaga untuk berdiri dan akhirnya hanya duduk di tepi jalan. Tentu hal ini membuat Andra bisa mengejarku dan langsung menghampiriku. Ia juga merasakan lelah dan letih hingga duduk satu meter jaraknya dariku.
"Kanaya tunggu, ayo kita bicara! Kita selesaikan salah paham ini," ujarnya dengan dada yang masih naik turun.
"Bicara, untuk apa? Kita sudah menjalankan hidup kita masing-masing, jadi untuk apa kita bicara lagi? Sahutku seraya mencoba berdiri setelah beberapa menit duduk di tepi jalan. Namun, masih tak kuat bangkit.
Untung saja suasana jalan raya sudah mulai sepi, sehingga apa yang aku lakukan dengan Andra di tepian jalan ini. Tidak menjadi pusat perhatian orang. Aku tidak bisa membayangkan jika jalanan sedang ramai-ramainya. Bisa jadi, apa yang aku lakukan dengan Andra akan menjadi bahan tertawaan bahkan olok-olokan orang yang melewati jalan raya ini.
"Kanaya!" ucapnya seraya mendekat dan berusaha memegang tanganku.
__ADS_1
"Apa sih!" jawabku langsung menepis tangannya yang berusaha memegang tanganku.
Aku sudah berusaha menepis tangannya yang ingin memegang lenganku, tetapi tenaga Andra yang lebih kuat membuat ia bisa memegang kedua lenganku. Matanya menatap tajam ke arah mataku. Aku berusaha menghindar agar aku tak ada kontak mata dengannya meski ia memegang kedua lenganku dengan kuat.
"Dengarkan aku, Kanaya. Semua ini salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya bahkan dari awal. Kenapa semua ini bisa terjadi?"
Aku menghirup dan mengembuskan napas, agar emosiku bisa terkontrol sehingga kondisiku lebih tenang.
"Dengar kamu, pria jahanam. Apapun yang terjadi saat itu. Bagiku sangat kelam dan aku, sudah tak ingin mengorek luka lama itu lagi. Biarlah ini menjadi rahasia, yang kita simpan sampai kita mati," jelasku dan itu membuat Andra melepaskan tangannya dari lenganku.
"Apa kamu yakin. Tidak ingin tau kebenaran semuanya dan alasan mengapa semua ini terjadi?" tegas Andra.
"Seribu persen yakin, dan aku minta kamu jangan berusaha mendekatiku apa lagi mengejarku. Aku sudah tidak ingin memikirkan masa lalu, karena kini aku ingin membuka lembaran baru dengan yang lain. Camkan itu baik-baik Bapak Syailendra Dwiki Aditama,"
Aku segera mengambil ponsel yang ada di dompet lalu menekan aplikasi untuk memesan kendaraan secara online bukan meminta Erwin untuk menjemputku. Aku pun tidak tahu di mana pria itu sekarang? Ia kutinggalkan saat berada di acara pesta tadi.
Namun malangnya, baterai ponselku tiba-tiba habis. Ini berarti aku harus menunggu taksi konvensional tanpa harus menggunakan aplikasi meski harus sabar menunggunya. Tetapi tak lama sebuah taksi berwarna putih datang. Aku pun terlihat senang dan bermaksud memberhentikan taksi itu. Namun, sayangnya Andra sudah lebih dulu menaikinya, tetapi bukannya langsung menutup pintu mobil dan segera pergi, pria itu malah.
"Cepat masuk ke dalam taksi, Kanaya. Ini sudah malam," perintahnya.
Aku sengaja membuang muka dan pura-pura tak mengubris perintahnya.
"Cepat Kanaya, kamu jangan jual mahal. Atau kamu mau saya bopong seperti waktu itu,"
__ADS_1
Seketika kedua mataku membulat sempurna. Bayangan enam tahun lalu kembali muncul. Bagaimana Pria ini memaksa lalu membopongku masuk ke dalam mobilnya dan jelas itu membuatku sangatlah murka. Namun, apa yang diucapkan Andra itu benar. Waktu memang sudah malam dan aku harus segera pulang. Dengan terpaksa, aku menuruti perintahnya.
Andra yang semula sudah berada di dalam. Akhirnya keluar, pria itu melarang aku untuk duduk di kursi depan di samping Pak Sopir dan mempersilakan aku untuk duduk di kursi penumpang bersama dengannya di belakang.
"Nah gitu dong. Nurut kan enak," ucapnya sambil menyeringai.
Aku kembali membulatkan mata untuknya.
"Jalan, Pak!" ucapnya dengan wajah dan nada yang datar.
Tiba-tiba tanganku digenggam erat olehnya. Tentu saja hal ini membuatku terkejut. Aku berusaha untuk melepaskan tangannya dari tanganku. Namun, pria itu sangatlah erat menggenggam tanganku hingga aku tak bisa berkutik.
Air mataku kembali berlinang, bukan karena genggamannya yang terlalu kuat, tetapi mengapa aku harus bertemu dengan pria yang telah menghancurkan hidupku. Bertahun-tahun aku menyembunyikan luka dan rahasia dari keluarga dan berhasil melupakannya meski kenangan pahit itu akan membekas selamanya.
Andra lantas menoleh ke arahku. Ia berusaha ingin menyeka air mata yang berlinang ini, tetapi dengan cepat aku mengalihkan mukaku ke arah jendela. Menghindar jangan sampai ia menyentuh apa lagi menyeka air mataku.
Setelah beberapa menit, taksi yang membawa aku dan Andra sudah menempuh setengah perjalanan. Suasana pun menjadi hening. Dan aku terdiam sembari menangis dan tanganku masih bertaut dengan tangan Andra. Sepertinya ia memang sengaja untuk berlama-lama seperti ini.
"Udah dong nangisnya. Bisa malu saya, kalau Pak sopir tau. Nanti dikira saya yang bikin kamu nangis," bisiknya.
Aku kembali menatap nyalang. Pria yang ada di sampingku itu. Mudah sekali ia berucap demikian padahal air mata ini berasal dari ulahnya. Sungguh aku benar-benar muak dan ingin sekali menampar pipinya dengan sangat kuat.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf banget untuk hari ini, telat lagi. tapi masih bisa membacanya'kan. Maaf juga kalau ada typo.