
Aku membuka pintu pagar yang belum digembok rapat oleh orang rumah meski waktu sudah menunjukan waktu tengah malam. Ruang tamu pun masih terlihat terang benderang tak seperti biasanya.
"Apa iya masih ada tamu yang berkunjung malam-malam begini?" gumamku seraya mengetuk pintu..
Setelah tiga kali mengetuk pintu, barulah kemudian pintu itu dibuka oleh Papa, tapi takku dengar suara gesekan kuncinya terbuka. Oh, rupanya memang pintu rumah belum dikunci oleh Papa. Di ruang tengah ternyata Mam juga yang sedang menonton acara televisi.
"Papa sama Mama, kok tumben belum tidur. Malam mingguan ya, " ucapku bergurau seraya menutup kembali pintu dan menguncinya.
"Ngaco kamu. Nih lagi temani Papa, nonton acara sepak bola," sahut Mama.
"Lha kamu, kok sudah pulang, katanya mau sampai besok siang acara jalan-jalannya," ujar Papa.
"Dipaksa pulang, Pa. Sama temenku, katanya besok mau ada acara di rumah. Jadi aku buru-buru di suruh pulang sama dia,"
"Acara, acara apa? Papa aja baru tau ini dari kamu ngomong barusan," tanya Papa bingung.
"Lho, memangnya Papa sama Mama nggak dikasih tau sama Erwin. Kalau besok, Erwin sama keluarganya mau datang ke sini. Untuk membicarakan rencana ulang waktu pernikahan aku sama dia,"
"Apa, membahas pernikahan kamu lagi!? Mama sama Papa aja baru tau sekarang. Jadi mana tau. Mau ada acara itu di sini? Iya' kan, Pa," ujar Mama disertai anggukan kepala Papa.
"Dasar Erwin brengsek! Beraninya dia kerjain aku kayak gini," ucapku dalam hati
"Sekarang Papa mau tanya sama kamu. Apa kamu sudah yakin mau menikah sama itu anak?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Papa, aku hanya diam, memang ada sedikit keraguan di hati tentang pernikahan ini. Namun, aku sudah mantap untuk menaikkan statusku menjadi seorang istri.
"Kok diam, ayo dijawab, Kay," timpal Mama.
"Ya, Insya Allah, Pa, Ma,"
"Oke kalau memang Erwin benar, besok mau datang ke rumah bersama keluarganya. Ya, apa boleh buat, kita tetap adakan persiapan ini meski acara ini bisa dibilang mendadak," ucap Papa.
***
Minggu malam Erwin, Mama, dan dua pamannya benar, datang ke rumah. Seperti yang sudah dibicarakan kemarin dengan Erwin. Akan ada pembahasan ulang rencana untuk hari dan tanggal pernikahan antara aku dan dia. Yang dulu sudah pernah disepakati bersama kapan acara besar itu terjadi.
Namun, lantaran Erwin akan dipindah tugaskan pekerjaannya dari yang semula berkantor di Jakarta dan akan pindah ke pulau Kalimantan.
Namun begitu, sebagai istri yang baik. Aku harus bisa menemani suamiku, di mana pun ia nantinya tinggal. Meski itu di desa pelosok sekali pun aku akan bersamanya. Meninggalkan segala kenyamanan yang sudah aku dapatkan dari kerja kerasku sebagai seorang tenaga medis profesional.
***
Akhir-akhir ini aku memang kesulitan untuk tidur cepat. Kalau tak salah, semenjak Erwin menginginkan hari dan tanggal pernikahan kami dimajukan. Mungkin hal inilah yang membuatku mengalami stress seperti pada umumnya orang yang akan menikah. Lantaran aku harus menyiapkan acara pernikahan yang hant dibantu keluarga dan bagiku pernikahan adalah acara besar. Apa lagi acara ini diadakan secara mendadak. Teapi aku berharap semoga Tuhan meridhoi segala pengorbananku menjadi keberkahan di dalam rumah tanggaku yang akan aku bangun bersama dengan Erwin nanti.
Akhirnya tanggal dan hari pernikahan itu disepakati kedua belah pihak keluarga. Aku dan Erwin akan menikah satu Minggu lagi. Segala persiapan akan segera dikerjakan sampai hari H berlangsung. Dari mulai menyiapkan undangan, pakaian, hingga katering untuk acara pernikahan ini. Meski acaranya mendadak, aku dan keluargaku mempersiapkan dengan baik. Bahkan aku mengusulkan acara pernikahan ini tidak diadakan di gedung dan lebih memilih diadakan di rumah dan resepsi pun digelar secara sederhana.
Aku lantas bersyukur karena usulanku itu diterima kedua belah pihak dan tamu yang akan hadir pun tidaklah banyak. Hanya keluarga, kerabat, tetangga sekitar dan teman dekat yang akan di undang di acara pernikahan ini.
__ADS_1
***
Semenjak sibuk mengurusi persiapan acara pernikahan, aku jadi jarang sekali berkomunikasi dengan Andra dan video call dengan Razka. Sejujurnya aku sangat merindukan anak itu. Ingin rasanya aku pergi ke rumah Nurbaiti dan membawa Razka untukku perkenalkan sebagai anakku lalu dapat berkumpul dengan keluargaku dan dekat dengan Erwin sebagai ayah sambungnya kelak.
Namun, hal itu takut menjadi masalah baru di hari-hari menjelang pernikahan ini. Belum lagi ketakutan di tolak keras oleh Andra membuatku hanya bisa menghubungi Razka lewat video call melalui handphone Nurbaiti. Apa lagi saat ini aku sudah menjalani masa pingitan karena esok hari adalah hari H pernikahanku dengan Erwin. Sulit rasanya mata ini untukku pejamkan. Ingatan saat aku bersama dengan Andra dan Razka kini malah sedang memenuhi pikiranku. Sehingga tanpa terasa bibir ini tersenyum sendiri dibuatnya. Lantaran terkadang aku menjadi orang yang latah jika sedang bersama Andra.
Saat aku melamun ini, tiba-tiba suara pesan masuk terdengar di handphone-ku. Segera saja kutatap layarhandphone itu. Rupanya sebuah pesan berasal dari Andra. Pria itu mengirimkan beberapa foto dirinya sedang bersama Razka dan Siti berenang bersama. Bukan di hotel kala itu, tetapi di sebuah apartemen. Sepertinya itu adalah apartemennya. Di akhir pesan Andra menuliskan.
Happy Wedding Mama, besok kita datang. Di hari spesial Mama Kanaya, ya. We Love you, Razka Fadillah.
Mataku seketika berkaca-kaca begitu membaca pesan yang menyentuh itu. Andai bisa kuputar waktu. Aku tak akan memberikan buah hatiku Razka kepada orang lain. Aku akan bilang pada orang tuaku. Jika Razka adalah anakku dan dia adalah cucu mereka.
***
Pagi menjelang, aku pun sudah siap dengan riasan dan pakaian kebaya yang aku kenakan. Jantung ini seketika berdegup sangat kencang. Sebab ini kali pertama aku akan menikah dengan pria yang kucintai. Semua orang yang di undang pun sudah banyak yang berdatangan untuk menyaksikan akad nikah yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Aku akan menghampiri Erwin setelah dia sah mengucapkan ijab kabul dengan Papa sebagai wali nikahku.
Terlihat dari balik jendela Andra, Nurbaiti, anak-anak, dan Nurhayati datang menghadiri pernikahan ini. Mereka senang karena hari ini aku akan menikah dengan pria yang sudah dua tahun ini menjadi Kekasihku. Terkhusus untuk Andra, Erwin memintanya agar dia berkenan menjadi saksi pernikahan dari pihak mempelai pria sementara dariku. Aku meminta dokter Chandra Bara Abimanyu sebagai saksi, yang merupakan direktur utama rumah sakit di mana tempatku bertugas.
Namun, suara gaduh yang berasal dari bisik-bisik tamu pun perlahan terdengar dari kamar. Bahwa sang calon pengantin pria diketahui belum juga tiba di rumah, padahal acara akad nikah sebentar lagi akan di mulai. Seorang penghulu, dua saksi dan Papa sebagai wali nikahku pun sudah berkumpul di meja akan nikah, tetapi baik Erwin dan keluarganya belum juga hadir di sini.
Aku yang berada di dalam kamar pun mulai gelisah dan tak kalah panik sama dengan kedua orang tuaku. Namun, meski begitu aku harus bisa mengontrol dan menenangkan diri. Aku coba berkali-kali menghubungi Erwin, tetapi tetap saja handphonenya tak aktif dan itu tentu saja membuatku frustasi.
"Kamu ada di mana' sih, Win ? Di hari yang sepenting ini, kamu malah bikin masalah. Jadi kesal aku!" gumamku seraya membanting handphone ke sembarang tempat.
__ADS_1
Bersambung...