Jarak Menuju Hati

Jarak Menuju Hati
P a r t 44


__ADS_3

Melihat aku yang terkapar di lantai tak sadarkan diri. Andra langsung bergegas membopong lalu membaringkan dengan sangat hati-hati tubuhku ke tempat tidur. Setelah itu ia beralih ke kamar sebelah yang tak lain adalah kamar adikku. Andra lantas mengetuk pintu kamar itu.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?!" seru Kamila dari dalam kamar.


"Aku, Andra,"


Tak lama pintu itu pun terbuka.


"Ada apa, Kak?"


"Begini, kamu punya kenalan dokter nggak atau klinik mana yang terdekat dari sini?" jelas Andra dengan nada tergesa-gesa.


"Dokter, klinik. Maksud Kak Andra, apa?"


"Kay,"


"Kenapa sama Kak Kay?"


"Kay, pingsan, Mil,"


"Kak Kay pingsan, kok bisa,"


Belum sempat Andra menceritakan kronologinya, Kamila langsung mengambil minyak kayu putih di meja riasnya dan bergegas ke kamarku kemudian dengan cepat. Ia membalurkan minyak kayu putih itu ke tubuhku termasuk ke sela-sela lubang hidungku. Dengan terampil ia menggosok-gosokan tangannya dengan tanganku. Dengan maksud agar aku cepat siuman.


"Kakak, tungguin Kak Kay sampai siuman. Aku mau ke dapur, mau bikin teh manis buat Kak Kay, kalau nanti siuman,"


"Oke, Mil,"


Gadis itu pun bergegas menuju dapur untuk membuatkan segelas teh manis hangat untukku. Mama yang sedari tadi mendengar ada suara keributan antas bergegas ke luar. Ia ingin memastikan siapa orang yang melakukannya. Sebelum keluar kamar Mama memastikan Papa dan Razka sudah tertidur pulas.


Mama langsung menuju dapur, karena di sana pencahayaannya masih terang benderang padahal sebelum pergi ke kamar, Mama 'lah orang terakhir yang mematikan lampu tempat itu.


"Kamu lagi apa, Mil!"


Sontak pertanyaan itu membuat tubuh Kamila berjengit. Gadis itu pun kaget.


"Mama, bikin aku kaget aja," ucapnya seraya mengusap dada.


"Tumben, malam-malam begini kamu bikin teh manis. Kamu masih sibuk belajar,"


"Bukan, Ma. Ini bukan buat aku, tapi buat-,"


Belum sempat adikku menceritakan tentang keadaanku di kamar. Mama sudah memotong omongan dan langsung memasang wajah angkuh nan jutek, tangannya pun tak lupa bertolak pinggang.


"Dengar ya, kalau kamu diam-diam berani memasukkan pacar atau laki-laki ke kamar kamu. Malam ini juga kamu dan pacarmu itu, Mama seret dan langsung Mama suruh angkat kaki dari rumah ini!"


"Mama, apaan sih, siapa yang punya pacar coba? Makanya kalau aku lagi ngomong itu jangan dipotong. Jadinya langsung emosi 'kan,"

__ADS_1


"Lha ini teh manis buat, siapa?"


"Ini bukan buat aku, tapi buat Kak Kay. Dia pingsan di kamarnya, belum siuman,"


"Apa, Kay pingsan. Kok bisa!"


Kamila tidak menjelaskan mengapa aku bisa pingsan? Ia malah bergegas naik ke lantai dua sembari membawa segelas teh hangat itu, meninggalkan Mama yang masih berdiam diri di dapur. Gadis itu pun masuk ke kamar dan meletakkan segelas teh hangat itu di meja nakas.


"Gimana, Kak. Apa Kak Kay udah siuman?


"Belum, Mil. Padahal aku udah menggosok- gosok telapak tangannya dan memberi napas buatan juga, tapi Kay belum mau siuman,"


"Apa kita bawa aja Kak Kay, ke rumah sakit, Kak?


"Ide bagus tuh. Ya, udah aku mau siapkan mobil dulu, kamu tungguin aja Kay di sini,"


Andra lantas bergegas ke luar kamar. Namun baru sampai ambang pintu muncullah Mama ke kamar untuk melihat keadaanku.


"Mama!"


"Apa Kay, sudah siuman?" tanyanya.


"Belum, Ma" jawab Andra.


"Lha, kamu sendiri mau ke mana, Ndra?"


"Nggak usah. Kamu tetap aja di sini sembari duduk manis tungguin aja istri kamu,"


"Tapi, Ma. Dari tadi Kay pingsan belum sadarkan di-,"


"Ya, Mama tau, Mama sudah panggilkan bidan yang rumahnya nggak jauh dari sini. Bentar lagi dia juga datang,"


"Lho kok, Mama panggil bidan 'sih. Kak Kay 'kan belum tau penyebab penyakitnya apa sampai dia bisa pingsan kok malah dipanggilin bidan 'sih Ma. Kak Andra sama aku udah khawatir banget. Takut terjadi apa-apa 'nih," timpal Kamila menginterupsi.


"Udah kamu diam aja. Mama yakin nggak ada apa-apa sama Kakakmu ini. Paling sebentar lagi juga akan mendapat berita bahagia. Udah ya, Mama mau ke bawah dulu. Siapa tau bidannya udah datang?"


Mama segera pergi dari kamarku dan senyuman pun mengembang di wajah Andra. Ia senang jika apa yang menjadi keyakinan Mama itu benar. Itu berarti keinginannya selama ini memiliki anak yang kedua sebentar lagi akan menjadi kenyataan.


"Kenapa Kak, kok senyum-senyum begitu. Inget kata omongan Mama tadi. Jadi Kak Andra menyakini juga, kalau Kak Kay pingsan ini gara-gara hamil?"


"Semoga aja, Mil. Memang itu yang aku harapkan banget dari kakak kamu,"


"Ndra," ucapku lirih, tetapi masih bisa di dengar Andra dan Kamila.


"Alhamdulillah, Kakak udah siuman," ucap Kamila bahagia.


"Kok ada Mila di sini. Memangnya aku, kenapa?


"Tadi kamu pingsan, Yang. Di kamar mandi,"

__ADS_1


"Ya, Kak. Kakak pingsan sudah lebih dari setengah jam,"


"Apa yang kamu rasakan, Yang?


Belum sempat aku menjawab pertanyaan dari suamiku, seorang perempuan yang kira-kira umurnya di lebih muda dariku datang ke kamar bersama Mama. Ia lantas berbasa-basi memperkenalkan diri lalu mengerjakan apa yang menjadi tugasnya, memeriksa keadaanku yang baru saja siuman dari pingsan.


"Jadi bagaimana Bu Bidan, benar 'kan feeling saya?


Ucap Mama yang langsung bertanya demikian, sesaat setelah Bu bidan selesai memeriksa kesehatanku. Bu bidan hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Sontak suasana tegang pun berubah menjadi bahagia. Karena akhirnya keinginan yang selama ini ditunggu-tunggu keluarga terutama suamiku akhirnya datang juga.


Ya, akhirnya aku hamil lagi dengan usia kandungan yang telah memasuki usia sembilan minggu. Terpancar jelas raut kebahagiaan dari wajah suamiku. Ia kemudian bergegas mengecup keningku seraya mengucap terima kasih dan I love you dengan nada lirih. Gerakan itu tentu saja dilihat oleh semua orang yang ada di sana. Mereka pun tersenyum bahagia.


Jujur, sebenarnya aku malu, tapi mereka pun mengerti akan rasa kebahagiaan yang dirasakan Andra sebagai seorang suami dan calon ayah bagi anak kedua kami. Rasanya sudah tak sabar ingin memberitahu Razka bahwa keinginannya untuk memiliki adik baru, akhirnya akan segera terwujud.


Setelah menuliskan resep obat untukku. Ibu bidan itu pun pamit ditemani Mama yang akan mengantarkannya hingga depan pintu rumah. Tak kalah bahagianya Kamila pun turut mengucapkan selamat atas kehamilan ini pada aku dan Andra. Gadis itu pun langsung bergurau ingin segera mengetahui apa jenis kelamin dan wajah pada calon bayiku nanti.


"Ayo Kak Andra, aku mau tantang nih. Apa jenis kelamin calon anak Kakak dan bagaimana bentuk wajahnya. Apa mirip sama Kak Andra. Apa malah mirip sama Kak Kay? jelas Kamila.


"Oke deal! Siapa takut. Kalau aku 'sih jujur pengennya anak perempuan dan wajahnya harus mirip sama Mamanya,"


"Kalau Kak Kay, maunya anak perempuan. Apa anak laki-laki?"


"Apa aja yang penting dia sehat, lengkap organnya, dan normal saat dilahirkan nanti,"


"Aamiin!" ucap Andra dan Kamila kompak,"


***


Dua hari berselang, aku dan Razka pun pamit pulang pada Papa dan Mama. Sebenarnya mereka belum ingin kami berdua pulang. Namun, karena aku harus membereskan barang-barang yang masih tercecer di rumah sewa. Apa boleh buat aku harus memaksa diri ini untuk pulang ke rumah itu.


Aku dan Razka memilih pulang pada jam sembilan pagi, karena di samping waktu itu pas tidak terlalu pagi atau terlalu siang. Di waktu itu pun tidak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang sehingga bisa terhindar dari kemacetan dan dapat segera sampai di rumah.


Rencananya sebelum tiba di rumah, terlebih dulu aku ingin mampir ke pasar tradisional membeli sayur-sayuran dan buah-buahan untuk mengisi kulkas yang tampak kosong karena belum banyak penghuninya. Selain itu aku akan membelikan beberapa camilan untuk dimakan usai makan siang.


Selama di dalam taksi menuju perjalanan pulang, Razka begitu sangat menikmati perjalanan. Dia sibuk dengan mainan mobil-mobilan pemberian Papanya yang merupakan oleh-oleh dari rekan bisnisnya. Bocah enam tahun itu begitu asyik sementara aku mulai merasakan pusing dan ingin sekali memuntahkan semua yang sudah kumakan di rumah tadi.


Namun, beruntung hal itu dapat kutahan hingga tiba di depan pasar tradisional yang memang sudah aku tuju. Aku dan Razka pun segera turun dari taksi online itu. Setelah membayar ongkos perjalanan. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan mual mulai muncul kembali.


"Razka, tunggu di sini sebentar ya, Mama mau beli kantong kresek dulu,"


Bocah itu mengangguk dan aku bergegas ke warung untuk membeli barang yang aku ingin beli itu. Namun, tak sampai beberapa menit Razka pun berlari mengejar taksi yang tadi kami tumpangi. Ternyata ia baru sadar jika mainan barunya berupa mobil-mobilan itu tertinggal di dalam sana dan tak lama sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi melintas dari arah yang berlawanan lalu kendaraan itu pun menyenggol.


Deeaaarrr!!!


Dan seketika seorang bocah sedang berlari itu langsung terkapar bersimbah darah tak sadarkan diri. Aku yang tersadar akan Razka dan mendengar suara keras itu langsung berteriak memanggil namanya seraya berlari ke tempat kejadian.


"Razkaaaaa!"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2