
Aku ingin menyudahi jam praktikku hari ini, karena kurasa pasien sudah tidak ada lagi dan waktunya pun hampir berakhir. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan dan salam dari balik pintu. aku dan asistenku yang sedang merapikan alat medis pun kompak memandang ke arah pintu, dan menjawab.
"Silakan masuk,"
Seorang wanita dengan tubuh tinggi semampai bak model papan atas berdiri menyapaku di ambang pintu .
"Halo, selamat siang, Dokter. Apa masih ada waktu untuk saya berkonsultasi?"
"Oh, mari silakan masuk. Masih ada sedikit waktu untuk anda," jawabku seraya mempersilakan wanita itu masuk lalu duduk di hadapanku.
"Tadi sebenarnya saya sudah mengantre di luar, tapi karena ada urusan dengan teman. Saya tinggal dulu antreannya sebentar, tapi ternyata pas saya kemari lagi sudah tidak ada lagi antrean dan sepertinya Dokter sudah ingin selesai praktik," jelas wanita itu.
Aku lantas berbasa-basi menanyakan data dirinya sama seperti pasien pada umumnya. Sepertinya ia baru pertama kali berkonsultasi denganku. Aku menyuruh asistenku untuk mengambil kartu rekam medis baru. Agar nanti memudahkan mencatat semua riwayat kesehatan dalam memeriksakan keluhan wanita itu padaku.
"Sepertinya, anda baru pertama kali berkonsultasi dengan saya,"
"Ya, ini memang pertama kalinya saya berkonsultasi di rumah sakit ini," ucapnya.
"Kalau boleh saya tahu, apa yang sebenarnya ingin anda tanyakan pada saya, Ibu Carlina?
"Begini, Dok. Apa saya masih bisa hamil. Karena mengingat umur saya yang sudah tidak muda lagi?"
"Apakah anda sudah menikah atau masih lajang, Bu Carlina?
"Saya memang pernah menikah, tapi pernikahan saya sudah berakhir dua tahun lalu karena cerai,"
"Lantas berapa lama usia pernikahan anda dulu dengan suami? Dan pernahkah anda hamil saat anda berumah tangga?
Usia pernikahan saya dengan mantan suami. Empat tahun lamanya dan saya sudah dua kali merasakan kehamilan kehamilan pertama berakhir dengan keguguran dan kehamilan kedua. Saya bisa melahirkan. Namun, bayi saya prematur dan akhirnya dia meninggal setelah beberapa jam dilahirkan," jelasnya.
"Berapa lama jarak antara kehamilan pertama dan kehamilan kedua?"
"Sepuluh tahun, Dok,"
Aku terdiam sejenak, mencerna apa maksud jarak sepuluh tahun, tetapi pernikahan wanita ini hanya berumur empat tahun saja. Apakah wanita yang ada di hadapanku, menikah hingga dua kali?
"Maaf, tadi anda bilang pernikahan anda hanya sampai empat tahun. Lalu anda juga bilang jika jarak kehamilan pertama dan kedua. Itu sepuluh tahun lantas apa itu berarti anda menikah sampai dua kali atau bagaimana?'
"Ini terjadi karena saya pernah nakal di usia muda, Dok. Di kehamilan pertama, saya memilih tidak menikah karena akhirnya keguguran dan baru di kehamilan kedua saya menikah,"
Aku lantas mengangguk dan paham akan cerita yang wanita itu utarakan dan menyarankan wanita itu untuk hidup sehat dan rajin berkonsultasi apa bila benar. Ia ingin merasakan kehamilan dan melahirkan.
__ADS_1
"Benar, ternyata dia memang baik," gumamnya.
Aku yang sedang menuliskan resep obat untuknya pun tak sengaja mendengar ucapan itu seraya mengerutkan dahi, sedikit bingung dengan maksud ucapannya.
"Ini saya berikan resep vitamin untuk anda, dan jika anda ingin hamil. Rajinlah berkonsultasi kesehatan dan jangan lupa datang juga dengan pasangan. Agar dokter bisa tahu, kesehatan untuk calon kedua sang orang tua,"
"Terima kasih, Dokter. Anda memang baik, cantik, dan sabar. Pantas seseorang begitu sangat menyukai anda,"
"Seseorang, apa maksud anda, Ibu Carlina?" tanyaku seraya meletakkan pulpen di meja
Ia lantas tersenyum seraya berucap.
"Ada seorang pria yang sangat mencintai anda dari dulu, Dokter Kanaya. Bahkan melebihi cinta dia pada istrinya sendiri,"
Aku semakin mengernyitkan dahi, mengapa wanita yang ada di hadapanku berucap demikian? Sehingga membuatku tambah semakin penasaran?
"Dari tatapan, sepertinya anda penasaran, Dok,"
Ucapan itu pun membuatku menjadi salah tingkah. Mengapa bisa wanita yang baru pertama kali bertemu denganku. Bisa membaca pikiranku.
"Maaf, mungkin anda salah mengartikan. Tatapan saya ini," jawabku seraya tersenyum menyamarkan rasa penasaranku.
"Anda yakin, anda tidak mengenali saya. Apa suami anda tidak menceritakan sesuatu pada anda sebelum dia menikahi anda?"
Wanita itu lantas tersenyum kemudian tertawa lepas.
"Menurut saya anda itu wanita pintar, tapi anda begitu naif, ya. Mungkin anda lupa, tapi tidak dengan saya. Karena kita sebelumnya memang pernah bertemu,"
"Kalau begitu tolong sebutkan, di mana kita pernah bertemunya?" tanyaku sedikit emosi.
"Kita pernah bertemu di sebuah pesta. Tepatnya pesta ulang tahun perusahaan. Di mana suami dan bahkan mantan anda dulu bekerja?"
"Maksud anda perusahaan milik suami saya, Andra!"
Wanita bernama Carlina itu pun mengangguk mengiyakan dan itu membuat aku semakin curiga dengan wanita ini.
"Saya tahu banyak tentang Andra dan anda Dokter Kanaya!"
"Sebenarnya anda ini, siapa dan mau apa terhadap saya dan suami saya?" tanyaku dengan emosi yang makin meninggi.
"Saya adalah mantan istri Andra,"
__ADS_1
Mendengar kalimat itu terucap dari bibirnya. Sontak kedua mataku pun membulat sempurna, ternyata dialah wanita yang namanya sering aku dengar setiap kali Andra bercerita tentang masa lalunya. Dia adalah Carlina Indra Cahya atau Andra sering menyebutnya Carla. Aku juga sedikit tahu tentang wanita ini dari Erwin dulu.
"Berarti anda itu adalah, Carla.
"Ya benar, itu nama panggilan saya. Kenapa anda sepertinya terkejut mengetahui nama panggilan itu?" ujarnya.
Dengan suara berbisik, aku pun menyuruh asistenku meninggalkan ruangan.
Suasana pun berubah hening dan canggung lantaran aku dan Carlina memilih diam. Bingung ingin bertanya dan menjawab apa? Ketakutanku benar terjadi. Pernikahan antara aku dan Andra akan menimbulkan salah paham antara aku dan wanita yang dinikahi Andra sebelumnya.
"Saya dan Andra memang menikah empat tahun lalu, tapi pernikahan itu boleh dibilang hanya pernikahan politik, sebab hanya mementingkan keinginan kita masing-masing," jelas Carlina mengawali pembicaraan.
Aku yang sedang terdiam hanya menyimak setiap kata demi kata yang akan diucapkan oleh wanita yang duduk berhadapan denganku itu.
"Sebenarnya bukan Andra yang harusnya melakukan itu, tetapi kakaknya yang bernama Girindra. Namun, sayangnya dia tewas dalam insiden kecelakaan. Akhirnya posisi itu digantikan Andra,"
"Kenapa itu bisa terjadi?" tanyaku.
"Karena saat itu saya sedang hamil dan orang tua saya tidak ingin publik tau, jika saya hamil di luar nikah untuk yang kedua kalinya,"
"Apa itu berarti anda memiliki hubungan dengan kakaknya Andra sebelumnya?" tanyaku hati-hati.
"Tidak, saya tidak memiliki hubungan apa pun. Baik dengan Girindra atau pun Andra. Mereka hanya dijadikan suami untuk menutupi kehamilan saya. Ayah biologis dari bayi saya adalah pria yang sudah beristri sehingga orang tua saya. Tidak merestui hubungan kami berlanjut sampai ke jenjang pelaminan,"
"Papa anda menjodohkan anda dengan anak temannya, yaitu kakaknya Andra tapi akhirnya Andra yang menikah dengan anda?" ucapku menjelaskan.
"Ya benar. Ini karena keluarga Andra tidak ada pilihan lain selain menerima pernikahan politik ini lantaran perusahaannya saat itu bangkrut sehingga ini dijadikan celah untuk Papa pada orang tua Andra. Apa lagi saat itu, ibunya Andra juga sedang sakit parah. Pasti butuh banyak dana untuk berobat keluar negeri,"
"Itu berarti anda dan Andra-," ucapku menggantung.
"Andra itu pria setia. Bahkan sangat setia menurut saya. Karena kesetiaannya itu membuat saya jadi penasaran. Meski sudah menikahi saya. Selama empat tahun, tapi hanya satu kali. Dia menyentuh saya sebagai istrinya, itu pun tidak sampai *******,"
"Saya lalu bertanya, mengapa ini bisa terjadi? Andra hanya bilang pada saya. Kalau dia memiliki kesalahan pada orang lain dan saya tanya itu siapa?"
"Dia tidak mau menjawabnya, tapi akhirnya saya tahu. Jika gadis itu bernama Kanaya. Karena setiap kali dia tidur. Nama Kanaya selalu dia sebut dalam igaunya. Lalu saya mencari tahu tentang Kanaya yaitu anda,"
Mendengar pengakuan itu, aku pun terkejut. Karena ternyata Andra memang tidak pernah melupakan aku dan calon anaknya pada waktu itu. Namun, karena keadaan yang terpaksa membuat dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ya, memang kami berdua saat itu telah merencanakan menikah sebagai bentuk tanggung jawab, tapi tiba-tiba Andra menghilang," jawabku.
"Andra nggak menghilang, Dok. Dia dan orang tuanya berada di Singapura untuk pengobatan ibunya. Di saat itu juga oleh orang tua saya dijadikan acara pernikahan saya dengan Andra karena terdesak kehamilan saya yang kian membesar,"
__ADS_1
"Andra itu pekerja keras dan gila kerja. Makanya, perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya bisa sukses seperti sekarang, tapi akhirnya pernikahan kami jadi hambar segalanya. Di tambah tidak adanya cinta di antara kami berdua. Ditambah kematian bayi saya. Membuat saya akhirnya mencari pelampiasan pada pria lain,"
Bersambung...