
Andra kemudian menceritakan apa yang terjadi dengannya dulu sama persis seperti apa yang diceritakan Windy tempo hari dan Carlina siang ini. Pria itu menceritakan kejadian enam tahun lalu dan alasan mengapa ia menghilang? Andra juga menceritakan bagaimana ia jatuh bangun mempertahankan perusahaan keluarganya di tengah ibunya yang sedang berjuang. Akibat penyakit Sirosis.
Ayahnya memutuskan untuk membawa sang ibu berobat di Singapura. Tentu saja berobat di sana tidaklah murah, apa lagi ibunya harus menjalani transplantasi hati untuk mengganti organ hatinya yang rusak akibat penyakit itu. Demi menyelamatkan sang ibu dan perusahaan yang hampir kolaps. Andra akhirnya bersedia menyepakati perjanjian orang tuanya dengan orang tua Carlina.
Dia menikah dengan wanita yang dulu sudah dijodohkan dengan Girindra kakaknya, tetapi karena terjadi kecelakaan dan tewas di tempat kejadian. Mau tidak mau Andra 'lah yang akhirnya menggantikan posisi kakaknya itu melakukan pernikahan politik dengan Carlina yang ternyata telah berbadan dua.
Di masa itu Andra rela bolak-balik dua negara untuk memantau perusahaan yang berada di Jakarta dan sang ibu yang menjalani pengobatan secara intensif di Singapura menggantikan posisi sang ayahnya yang setia menjaga Ibunya yang sedang sakit parah.
***
"Terus, apa kamu tau, siapa yang menghamili Carla?" tanyaku.
"Ya, pada akhirnya aku tau, siapa pelakunya?" jawab Andra seraya mengangguk.
"Siapa dia, Andra?" tanyaku kepo.
"Kamu juga pasti tau orangnya,"
"Apa, dia itu Erwin?" jawabku sembari menebak.
Andra terkekeh lalu mengusap rambutku kasar. "Emangnya cuma Erwin laki-laki yang ada di otakmu ini?" ucapnya.
"Ya kali aja, soalnya tadi Carlina datang ke rumah sakit. Berkonsultasi soal kehamilan," celetukku.
"Carla datang ke rumah sakit, ketemu kamu, buat apa?"
"Ya buat periksa kehamilan 'lah, masa mau fitnes,"
"Emang Carla hamil. Apa jangan-jangan, dia balikan lagi sama-?"
"Sama orang yang menghamili Carla enam tahun lalu, maksud kamu," ujarku seraya menerka.
"Ya, bisa jadi. Soalnya yang aku tau, Carla itu cinta banget sama cinta pertamanya itu, tapi berhubung mereka berbeda status sosial. Jadi ditentang sama Almarhum Papanya,"
__ADS_1
"Jadi makin penasaran aku. Ayo dong, Ndra. Kasih tau orangnya,"
"Masalahnya ini juga ada hubungannya sama kita enam tahun yang lalu,"
"Apa!!!"
Seketika aku tersentak, ternyata ini semua juga ada kaitannya dengan aku dan Andra. Apa, iya. Dia juga orang yang membuat Windy salah paham enam tahun lalu padaku dan Andra.
"Ayo dong, Ndra. Bilang, siapa orangnya. Jangan bikin istrimu ini penasaran!" ujarku kesal.
"Pacar pertama dan orang yang menghamili Carla itu. Dokter Bimo Saputra, suami Winda, kakaknya Windy,"
"What, unbelievable!!!"
Aku makin terbelalak tak percaya dengan semua ini. Ternyata orang ketiga dalam rumah tangga kakaknya Windy. Yang membuat Windy Salah paham padaku adalah Carlina, mantan istri Andra. Dan Dokter Bimo Saputra kakak ipar Windy adalah dokter pembimbingku saat aku koas dulu. Mengapa semua ini bisa terjadi. Seperti sebuah labirin di dalam satu area.
Dan gara -gara hubungan terlarang itu, aku dituduh menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga Dokter Bimo yang membuat istri dan adik iparnya mencurigai aku telah berselingkuh dengannya karena kedekatanku saat koas dulu.
"Awal aku menikah dengan Carla, Winda cuma tau dia itu wanita yang dijodohin sama aku. Dia nggak tau kalau Carla itu pacarnya Bimo sejak mereka SMA dulu. Nggak tau juga, ya. Kalau sekarang mereka masih punya hubungan atau malah CLBK. Masalahnya hubungan keluarga aku dan Windy itu merenggang gara-gara kasus korupsi perusahaan,"
"Tapi Windy bilang, kamu tetap dekat sama dia. Buktinya kamu masih peduli soal kebutaan yang ia alami,"
"Ya, itu benar. Aku memang dekat sama Windy malah sejak kita kecil. Aku yang beri dia modal untuk dikembangkan , agar Windy dan keluarganya bisa bertahan hidup dan saat dia nanti operasi mata, aku yang biayai semuanya,"
"Kenapa kamu masih baik sama orang yang sudah jahat sama kamu dan keluarga kamu, Ndra?"
"Windy itu sepupu aku, jadi bagaimana mungkin aku nggak anggap dia saudara lagi. Terlebih sekarang ini dia dan keluarganya sedang ada di masa-masa sulit. Masa iya, aku mau lepas tangan,"
"Satu lagi yang membuat aku semakin berdecak kagum dengan pria ini. Rasanya aku jadi ingin berterima kasih pada Dewi yang berani mengunci suaminya. Agar ia tidak datang ke rumahku untuk menikah denganku. Sehingga akhirnya aku bisa mengenal Andra yang sebenarnya,"
"Ayo habisin spaghetti-nya jangan bengong nanti spaghetti-nya dipatok sama ayam," ujarnya seraya bergurau.
***
__ADS_1
Usai menghabiskan spaghetti sepiring berdua, aku berniat untuk mencuci bekas piring dan alat masak yang tadi digunakan Andra memasak. Namun, pria itu melarang dan menyuruhku untuk duduk di sofa sembari menonton televisi, sementara ia sibuk melakukan cuci piring dan beres- beres bekas alat masaknya. Aku yang sudah beberapa kali mengganti saluran televisi, tetap saja bosan dan lebih memilih mematikan televisi seraya bergegas ke pantry berdiri di belakang Andra.
"Kenapa kok TV-nya dimatiin. Emang nggak ada acara yang bagus?" tanyanya sembari tangannya tetap sibuk menggosok belakang wajan anti lengket dengan spon yang sudah dibasahi dengan sabun.
Andra terkejut, karena punggungnya tiba-tiba aku peluk.
"Ada apa ini, kok tiba-tiba kamu peluk aku. Pasti ada maunya, apa lagi menjalankan modus?"
Aku diam tak merespon apa yang Andra ucapkan itu. Tetap bersandar di punggungnya sembari menikmati aroma wangi khas tubuh Andra yang baunya hingga mencolok indra penciuman. Lantaran ia menggunakan parfum berharga mahal.
"Terima kasih," ucapku singkat sementara Andra sedang mencuci tangannya lalu mengeringkan dengan kain. Lantas membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku.
"Terima kasih untuk, apa?" tanyanya sembari menangkup wajahku.
"Untuk semuanya. Untuk tanggung jawab kamu pada Razka, membantu keluarga Nurbaiti dan membantu perusahaan Papa. Sekarang aku sudah yakin dan siap jika kamu memintanya,"
Kening Andra mengerut, pria itu belum paham benar apa maksudku. Ia lalu tersenyum, seraya membopongku hingga masuk ke dalam kamar, setelah itu tubuhku di baringkan di atas tempat tidur lalu menyelimuti dengan kain selimut hingga batas dada.
"Tunggu jangan pergi dulu, aku mau ngomong sama kamu," ucapku seraya bangun lalu bersandar di atas kepala tempat tidur.
"Oke, mau ngomong, apa?"
"Apa ucapanmu waktu itu serius, kalau kamu nikahi aku, cuma ingin membuat akta kelahiran untuk Razka?"
Andra tertawa lepas sembari membelai rambut panjangku dengan lembut. Dia ingin menjawab, tetapi suara dering handphone membuyarkan ucapannya. Ia lantas meminta izin untuk mengangkat panggilan itu dan berlalu meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.
Tampak dari kejauhan, aku melihat dia begitu asyik mengobrol di handphone sampai ia lupa masih ada aku yang menunggu jawabannya di dalam kamar. Lama-lama aku bosan juga menunggunya. Aku lalu menghela napas panjang. rasanya gondok sekali mengetahui suami berondongku itu lebih memilih mengobrol dengan temannya di handphone dari pada aku istrinya.
Jangankan mengajakku berbulan madu, bersikap romantis saja, dia belum pernah padahal sudah dua minggu lebih aku sah menjadi istrinya. Andra memang seperti itu ia akan lebih mengutamakan pekerjaan dari pada dirinya sendiri. Benar kata Carlina tadi siang. Jika Andra tipe orang yang gila kerja. Sekarang aku hanya bisa mengelus dada seraya berharap suamiku itu bisa merubah sifat dan kebiasaan buruknya.
"Apa jangan-jangan, rekan bisnisnya itu. Wanita yang ia sukai selama ini. Awas aja, ya. Syailendra Dwiki Aditama, kalau itu sampai terjadi. Akan aku sayat-sayat jantung dan hatimu dengan tanganku sendiri!"
Bersambung...
__ADS_1