
"Sekarang Halimahnya ada di mana, Mang?" tanyaku pada Mang Udin.
"Di Villa sebelah Non. Nggak jauh dari sini, tapi saya bingung, Non,"
"Bingung kenapa, Mang?"
"Bingung mau ke rumah sakit, rumah sakitnya jauh, mau ke Puskesmas, Puskesmasnya tutup, mau ke rumah Bu bidan orangnya lagi ada urusan di luar kota," jelasnya.
"Ya, sudah biar saya yang membantunya, saya 'kan dokter, tapi tunggu dulu di sini ya, Mang. Saya mau ganti pakaian dulu," jawabku seraya ingin beranjak ke kamar.
Namun, sebelum aku beranjak ada suara keributan yang munculnya dari luar. Mang Udin pun bergegas untuk melihat apa yang terjadi di luar sana dari jarak kejauhan, tapi tak lama kemudian Mang Udin pun masuk kembali lalu memanggilku.
"Non, nggak usah datang ke villa sebelah,"
Aku lantas membalikkan badanku dan menghampiri laki-laki paruh baya itu.
"Kenapa, Mang?"
Baru Mang Udin ingin menjawab pertanyaan itu, Bi Esih istrinya tiba-tiba datang dan menyahut omongan suaminya.
"Non Dokter, tolong anak saya. Sepertinya dia sudah nggak kuat lagi. Halimah mau melahirkan sekarang juga," jelasnya Terbata-bata seraya menangis.
"Iya, saya tau. Saya juga baru ingin ganti baju ini, mau ke villa sebelah mau menolong Halimah,"
"Nggak usah ke sana, Non. Soalnya Halimah udah saya bawa ke sini, tadi suaminya Asep yang membopong ke sini,"
"Apa!" ucapku seraya membulatkan mata.
Segera aku bergegas bersama Bi Esih dan Mang Udin ke rumah yang ada di belakang. Sesampainya di sana, aku lantas buru-buru menuju kamar di mana Halimah berada. Perempuan muda itu tampak merintih kesakitan, wajahnya pun terlihat pucat. Aku lantas membuka area bawah Halimah. Sudah tampak pembukaannya, tetapi belum sempurna lantaran masih berada di pembukaan enam.
Aku lalu kembali keluar dan pamit untuk mengganti pakaian sekalian mengambil alat-alat medis yang nantinya digunakan untuk membantu kelahiran bayi Halimah. Alat-alat yang sengaja aku bawa, bila ke mana pun aku berpergian. Namun, sebelum aku pergi, aku menyuruh Halimah untuk mengganti pakaiannya yang basah lantaran terkena percikan air hujan dan berjalan- jalan ringan sembari berjongkok untuk membantu memperlebar jalan lahir bayinya.
***
__ADS_1
Sementara itu, di kamar Andra yang sedang tidur pulas, tiba-tiba terbangun lantaran mendengar suara petir yang menggelegar dari luar sana. Hujan pun terdengar semakin deras. Dan dengan spontan ia meraba tempat tidur di sampingnya karena ingin memeluk tubuhku agar terasa lebih hangat, akan tetapi sesuatu yang ia cari itu ternyata tidak ada di tempat. Andra lantas membuka mata dan melihat ke sekeliling ruangan dengan matanya yang baru setengah terbuka.
Selimut yang menutupi sebagian tubuhnya pun ia sibak dan langsung memanggil-manggil namaku, tetapi tetap saja aku belum juga tampak batang hidungnya.
"Yang, di mana kamu?" gumamnya sembari mengucek-ucek matanya.
Lelah beberapa kali memanggil namaku tetapi tak kunjung ada jawabannya membuat laki-laki itu pun berniat ingin keluar untuk mencari di mana keberadaanku. Di lihatnya jam di dinding sudah menunjukkan jam satu lewat lima puluh menit. Namun, ketika akan bersiap membuka pintu. Di saat yang sama pintu itu pun malah terbuka dari arah yang berlawanan.
"Aduh!" ucap Andra seraya memegang dahinya yang sudah terantuk pintu.
"Astaghfirullahalazim, bikin kaget aja!" teriakku saat menemukan Andra sedang berdiri di balik pintu.
"Dari mana, aja 'sih kamu?" jawabnya kesal seraya balik bertanya.
"Dari dapur, haus pingin minum, tapi nggak jadi,"
"Lha kok, bisa,"
"Ya bisa 'lah. Ini gara-gara ada masalah yang genting," ucapku seraya berganti pakaian dan mengambil tas yang berisi alat-alat medis.
"Ceritanya panjang, Yang. Udah sekarang kamu ikut aku aja. Tolong bantu bawain tas ini. Kita harus bergegas sekarang juga ke belakang," ujarku seraya meletakkan tas itu dipangkuannya.
Andra sendiri masih melongo melihat gerak gerikku yang gesit padahal waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari.
"Yang, ayo cepetan nanti bayinya keburu brojol!" teriakku melihat suamiku yang masih saja melongo duduk di tepian tempat tidur.
Mendengar kata brojol, baru 'lah Andra sadar bila aku akan membantu persalinan seseorang. Laki-laki itu pun melangkah dengan cepat mengimbangi langkahku.
"Memangnya siapa yang mau melahirkan?" tanyanya sembari melangkah.
"Halimah,"
"Halimah, anaknya Mang Udin,"
__ADS_1
Aku mengangguk sementara dahinya tampak mengerut, ia seperti sedang berpikir.
"Bukannya tadi malam, aku dengar obrolan Mama, Nurbaiti, dan Bi Esih. Bilang kalau kehamilan Halimah itu baru berusia delapan bulan, belum sampai sembilan bulan, tapi kenapa malam ini dia mau melahirkan?" gumamnya yang masih bisa aku dengar. Namun, di sini aku tak mau menjelaskan karena bisa memakan waktu. Keburu brojol bayinya Halimah nanti.
***
Sampai di tempat lokasi, aku langsung menyuruh Bi Esih menyiapkan plastik besar untuk dijadikan alas selama masa persalinan. Agar nantinya darah yang ke luar dari jalan lahir tidak merembes ke seprai dan kasur, aku juga menyuruhnya menyiapkan beberapa kain, handuk, dan pakaian bayi. sedangkan Fatimah aku suruh untuk merebus air untuk membersihkan bayi seusai dia di lahirkan.
Sementara tiga orang laki-laki yang terdiri dari Andra, Mang Udin, dan Asep sedang mengobrol di luar sana. Mereka mengobrol agar Asep suami Halimah tidak panik, tetap tenang sembari menunggu jalannya sang istri melahirkan. Sedangkan aku saat ini masih membantu memijat dari punggung sampai pinggang Halimah untuk sedikit meredakan rasa pegal di bagian itu sembari menunggu semua benda yang akan aku gunakan telah siap di sediakan Bi Esih dan Fatimah.
Aku jadi teringat saat enam tahun lalu. Kejadiannya hampir mirip seperti ini. Namun, saat itu aku yang berada di posisi Halimah. Di mana aku akan melahirkan Razka anakku ke dunia. Aku bisa bayangan bagaimana rasa sakit dan nyeri yang dirasakan Halimah saat ini? Terlebih lagi ini kali pertamanya ia menghadapi persalinan normal.
Lantaran di rasa semua telah siap dan jalan lahirnya pun sudah terbuka sempurna, aku yang sudah terbiasa membantu pasien yang akan menghadapi persalinan. Mengarahkan dengan benar kapan ia menarik serta mengembuskan napas lalu mengejan agar bayi yang ada di dalam sana. Bisa terlahir dengan lancar tanpa hambatan.
Sembari menggunakan sarung tangan aku terus mengarahkan, memberi aba-aba pada Halima. Dan hebatnya perempuan yang masih berusia dua puluh tahunan itu mendengarkan semua intruksi yang aku arahkan padanya. Meski ini terasa sulit lantaran kelahiran pertama. Namun, Halimah tetap semangat karena ia ditemani semua keluarga yang selalu mendukungnya. Di samping kanan dan kirinya ada ibu dan adiknya yang membantuku memberikan semangat dan dukungan Halimah saat persalinan.
"Ya, terus dorong, Halimah. Bagus sekali, dorong terus, Halimah, tarik napas, embuskan," ucapku berkali-kali. Sementara sang ibu terus memberi semangat tak lupa sembari berdoa sementara Fatimah sibuk mengusap setiap keringat yang keluar membasahi wajah sang kakak.
Dan akhirnya pada pukul empat lewat lima menit, seorang bayi mungil pun terlahir dengan selamat dan sempurna Tangisnya yang keras memecahkan kesunyian pagi dini hari seusai hujan. Kami semua yang ada di kamar membantu kelahirannya maupun tiga orang laki-laki yang sedang menunggu di luar tampak lega dan bahagia. Terbayar sudah rasa lelah dan rasa kantuk ini dengan lahirnya bayi merah berjenis kelamin perempuan ke dunia.
Aku segera memotong tali plasenta antara ibu dengan Si bayi, lalu membersihkan bayinya dengan handuk dan setelahnya diletakkan di dada sang ibu, agar bayi bisa mencari sendiri sumber asinya. Lalu dua puluh menit kemudian, plasenta itu pun keluar dengan sendirinya dari jalan lahir yang sama. Baru setelah ini, akan aku jahit sedikit pada bagian robek yang ada di jalan lahir.
Setelah dimandikan, dipakaikan pakaian lalu dibedong, bayi itu pun langsung diberikan kepada sang ayah untuk diazankan p ke telinganya. Momen ini tentu saja sangat mengharukan bagi kami semua yang menyaksikannya. Timbul rasa nyeri di dadaku lantaran dulu aku tak sempat menyaksikan momen seperti ini untuk Razka lantaran tak ada Andra di sampingku.
Aku dan Andra kemudian pamit setelah semuanya selesai, terlihat kebahagiaan terpancar di wajah keluarga Mang Udin. Mereka semua berterima kasih padaku dan Andra karena telah membantu Halimah melahirkan pagi ini.
"Yang, kalau boleh aku tau. Siapa dulu yang mengazankan Razka saat dia baru lahir?"
Mendengar pertanyaan itu, aku hanya diam dan terus melangkahkan kaki menuju kamar.
"Siapa Yang, orangnya? Apa jangan-jangan Razka nggak diazankan saat dia lahir dulu?" cecar Andra.
Aku lantas menghentikan langkahku. Namun, tetap saja aku diam. Belum mau menjawab pertanyaan itu sementara Andra pun berhenti. Ia membalikkan tubuhku menghadap ke arabnya. Tas berisi alat medis yang ada di tangannya tergeletak begitu saja di lantai. Kedua telapak tangannya menangkup pipiku yang mulai basah dengan lelehan air mata.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucapnya seraya mengusap air mata yang mulai meleleh di pipi ini dengan kedua jarinya.
Bersambung...