
"Dek, inget ya pesen bunda. Pokoknya handphone kamu harus selalu aktif, nggak boleh mati. Kalaupun lowbat kamu harus cepet-cepet charge. Kalo udah pulang kuliah kamu harus langsung telfon bunda. Makan harus 3 kali sehari, sesibuk apapun kamu harus luangin waktu buat makan. Jangan lupa minum vitamin. Kalo nggak ada kepentingan kuliah kamu harus langsung pulang ke apartemen. Terus kalo- Dek, kamu dengerin bunda ngomong nggak sih?" tanya Santika saat melihat sang putri malah sibuk memainkan jarinya.
"Adek denger bunda. Adek udah hafal di luar kepala malah sangking seringnya bunda ngomong itu," jawab Rania.
Pasalnya sang ibu memang sudah mengatakan hal tersebut sejak ia resmi diterima di London College Of Fashion. Yang artinya sudah dari sebulan yang lalu. Dan perkataannya masih tetap sama. Bagaimana Rania tidak hafal?
"Ya bunda kan khawatir sama kamu. Dari kecil mana pernah kamu jauh dari bunda Dek. Nanti kalo kamu di sana-sana gimana? Bunda nggak bisa apa-apa disini," ucap Santika yang sudah mulai mengeluarkan air matanya. Membuat kedua laki-laki yang berdiri di belakang laki-laki itu memutar bola matanya secara bersamaan.
Drama dimulai…
Melihat air mata sang ibu membuat perasaan Rania menjadi tidak tenang, dengan lembut gadis itu pun meraih tangan ibunya ke dalam genggaman nya.
"Bunda tenang aja. InshaAllah, Adek pasti baik-baik aja. Kan ada bunda yang selalu doain Adek, iya kan?"
__ADS_1
Bukannya mereda, air mata Santika malah mengalir semakin deras. Rania yang tidak tega melihat hal itu pun langsung menarik tubuh sang ibu ke dalam pelukannya.
"Cup, cup, cup, bunda jangan nangis dong, kalo bunda nangis Adek kan jadi ikutan pengen nangis," lirih gadis itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Udah-udah kenapa malah pada nangis sih, kaya nggak bakal ketemu lagi aja. Adek kan tiap semester juga pasti pulang bun," ucap Henry yang sejak tadi hanya berperan sebagai penonton. Tangannya terangkat untuk mengelus punggung sang istri dengan lembut.
Bukannya tidak sedih melihat putri satu-satunya itu akan pergi jauh, namun Henry hanya tidak ingin memberatkan langkah sang putri yang ingin meraih cita-citanya.
Setelah puas mengeluarkan air matanya, Santika pun melepaskan pelukannya di tubuh sang putri, di usap nya wajah sang putri dengan lembut, lalu wanita paruh baya itu berkata, "Sehat-sehat ya Dek, bunda tunggu Adek disini. Bunda yakin Adek akan jadi designer yang hebat,"
"Aamiin. Adek janji bakal belajar dengan giat biar bisa banggain Bunda, Ayah, sama Mas Icad,"
Irsyad yang sejak tadi hanya diam saja pun ikutan maju mendekati sang adik, "Gue pegang omongan lo ya, awas aja kalo lo nggak belajar yang bener,"
__ADS_1
"Liat aja nanti, kalo gue pulang, gue bakal bikin butik yang gede biar bisa ngalahin restoran lo," ucap Rania di sela tangisnya.
Membuat Irsyad yang melihat hal itu pun tersenyum. Meskipun sejak kecil ia dan Rania jarang akur, namun itulah bentuk kasih sayang mereka. Dan sekarang, saat gadis kecil itu hendak pergi jauh, entah mengapa ia sedikit tidak rela. Namun tentu saja Irsyad tidak akan menunjukkan nya, bisa besar kepala nanti gadis itu.
"Oke, gue tunggu,"
Setelah puas berpelukan dengan Ayah, Bunda, serta kakaknya. Rania pun mulai berjalan sendirian menuju pesawatnya yang sebentar lagi akan take off.
Sebelum benar-benar pergi, Rania kembali memutar tubuhnya ke belakang sekali lagi. Ia tatap wajah-wajah yang akan sangat ia rindukan itu lekat-lekat.
Walaupun semua keluarga nya saat ini sudah berkumpul semua, namun masih ada sisi hati Rania yang terasa kosong.
Mas, Rania pergi dulu ya. Semoga setelah ini, Rania bisa bener-bener lupa sama Mas. Rania doain semoga Mas dan Kak Adel selalu bahagia. Rania pamit Mas. Sampai ketemu lagi ya. Semoga disaat itu perasaan Rania udah sembuh, biar kita bisa tetep jadi kakak adek kayak yang Mas mau.
__ADS_1
Setelah puas menatap wajah keluarganya, Rania pun langsung memutar tubuhnya ke belakang dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju pesawat yang akan mengantarkannya ke London.
Good bye Indonesia!