
Setelah melewati jalanan ibu kota yang sangat terik di siang hari, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Bayu pun sampai juga di depan rumah mewah berlantai dua miliknya.
Setelah mobil berhenti sepenuhnya, laki-laki itu pun memutar tubuhnya ke belakang, lalu berkata, "Kak, Dek, kalian masuk ke rumah duluan ya. Papah mau anterin Kak Rania dulu,"
"Aku ikut!" seru Anjani seraya bangkit dari duduknya dan berdiri di tengah-tengah kursi depan.
Padahal tadi gadis kecil itu sedang ngantuk-ngantuknya dan ingin tertidur, tapi setelah mendengar ucapan sang ayah seketika matanya jadi segar kembali.
Mendengar hal tersebut, Bayu pun langsung menghembuskan nafasnya dengan keras, ia tahu kalau hal ini akan terjadi. Namun, saat ini dia tidak bisa mengajak sang putri karena setelah dari sini mereka akan langsung pergi ke kediaman nenek Dara. Jadi pasti akan susah kalau harus membawa Anjani, belum lagi kalau nanti anak itu rewel.
Dengan sabar, laki-laki itu pun mulai membujuk sang putri, "Papah lama sayang, kalian pulang dulu aja ya. Bukannya hari ini kamu juga ada PR?"
Anjani langsung mencebikkan bibirnya dengan kesal saat mendengar ucapan sang ayah, dengan tangan yang terlipat di depan dadanya, gadis kecil itu pun menjawab , "Kan ngerjain PR nya bisa nanti malem,"
"No, no, no. Kalo kamu ngerjainnya malem-malem nanti mata kamu bisa rusak, kamu mau matanya rusak?"
Sontak saja, gadis kecil itu pun langsung menyentuh kedua matanya sambil berseru, "Nggak!"
Hal itu pun berhasil membuat kedua manusia dewasa yang duduk di kursi depan itu tertawa karena tingkah menggemaskan dari Anjani.
"Nah, makanya, kalo kamu nggak mau matanya rusak. Sekarang kamu sama Kak Shaka pulang dulu, mandi, tidur siang, terus kerjain PR. Ayo anak cantiknya Papah, anak gantengnya Papah yang nurut dong," ucap Bayu seraya mengelus kepala sang putri dengan lembut.
"Aku nurut kok, yang minta ikut kan Anjani bukan aku," sahut Shaka yang sejak tadi hanya diam saja sambil sibuk memainkan mainan barunya di belakang.
Dengan senyum lembutnya, laki-laki dewasa itu pun kembali berkata, "Iya, Kak Shaka udah pinter tuh. Anjani mau jadi anak pinter nggak?"
"Mau," jawab gadis kecil itu sambil menganggukkan kepalanya, "Tapi… aku masih kangen sama Kakak Cantik," lanjut Anjani dengan kepala yang tertunduk ke bawah.
"Kan besok masih bisa ketemu lagi," jawab Bayu dengan santainya.
Membuat bukan hanya sang putri saja yang langsung mengangkat pandangan nya, Rania yang tadinya sedang menatap ke arah Anjani pun langsung mengalihkan tatapannya kepada laki-laki itu.
"Emangnya iya Kakak Cantik?" tanya Anjani dengan mata yang berbinar-binar.
Tentu saja hal tersebut pun membuat Rania merutuk dalam hati. Kenapa juga Bayu harus berkata seperti itu. Nanti kalau dia tidak bisa menepati omongan nya kan sama saja dengan bohong. Dan Rania tidak mau membuat gadis kecil itu kecewa.
Namun, saat ia melirik ke arah Bayu, laki-laki itu malah memberikan kode untuk menganggukkan kepalanya. Akhirnya, dengan pasrah gadis itu pun menuruti perintah dari Bayu.
"Mm… iya," jawab Rania dengan senyum canggung nya.
"Yeayy! Janji ya? Awas aja kalo bohong, aku bakal ngambek sama Kakak Cantik!"
***
"Kamu kenapa sih kok dari tadi diem aja?" tanya Bayu sambil melirik ke arah Rania yang sejak tadi tak bersuara sedikitpun.
Apakah gadis itu masih marah karena masalah tadi? Tapi dia kan sudah meminta maaf, bahkan dia juga sudah membelikan gadis itu makanan kesukaannya. Kurang baik apalagi coba dia? Padahal yang memulai masalah ini duluan kan Rania.
Dengan tangan yang terlipat di depan dadanya dan pandangan yang lurus ke depan Rania pun berkata, "Mas kenapa bilang kayak gitu sama Anjani?"
"Bilang apa?" karena belum paham dengan apa yang dikatakan oleh gadis cantik itu, Bayu pun kembali bertanya dengan keningnya yang berkerut.
"Ya itu tadi, Mas nyuruh aku bilang ke Anjani kalo besok kita bakal ketemu lagi. Nanti kalo dia marah beneran sama aku gimana?" solot Rania yang saat ini sudah memutar kepalanya ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya.
Dengan santainya, laki-laki itu kembali bertanya, "Kenapa dia harus marah sama kamu?"
Rania yang sudah lelah menghadapi kelemotan Bayu pun langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar. Memang ya, umur itu tidak bisa dibohongi.
"Ya karena aku bohong sama dia!" seru gadis itu dengan suara kesalnya.
Mendengar hal tersebut, Bayu pun menganggukkan kepala nya tanda mengerti, "Oo… gampang kok caranya,"
"Gimana caranya?"
"Ya nggak usah bohong, gampang kan?" jawab laki-laki itu sambil menaikan sebelah alisnya ke arah Rania, "Emangnya besok kamu nggak mau ketemu sama Anjani lagi?" lanjut Bayu.
__ADS_1
"Ya bukannya nggak mau, tapi kan besok aku harus udah mulai nyiapin semua barang-barang yang bakal di taro di butik,"
"Ya udah, kalo gitu besok-"
"Mas!"
Tubuh Bayu tersentak kaget saat mendengar suara teriakan Rania yang tiba-tiba.
"Kenapa sih? Kamu ngagetin Mas tau nggak, untung aja kita nggak nabrak orang tadi," gerutu Bayu sambil mengemudikan mobilnya ke jalur yang sebelumnya, karena tadi ketika gadis itu berteriak ia reflek menggerakkan kemudinya terlalu cepat hingga mereka jadi berpindah ke jalur truk besar.
"Mas salah jalan!" seru Rania lagi saat melihat kalau jalan yang saat ini mereka lewati bukan jalan menuju ke rumahnya.
"Salah jalan gimana? Bener kok,"
"Ish, salah! Masa Mas lupa sih jalan ke rumah aku. Harusnya kan tadi belok ke kanan bukannya lurus,"
Bayu yang baru paham dengan maksud dari ucapan gadis itu pun langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tertahan. Sepertinya dia lupa mengatakan sesuatu kepada gadis itu.
Dengan iseng, laki-laki itu pun lalu berkata, "Siapa bilang kita mau ke rumah kamu?"
"Hah? Kalo nggak ke rumah aku, terus kemana? Kan tadi Mas sendiri yang bilang mau anterin aku pulang, gimana sih," gerutu Rania yang sudah mulai kesal dengan tingkah laki-laki tua itu.
Kadang kalau Bayu sedang kumat seperti ini, Rania sendiri heran kenapa dia bisa suka kepada laki-laki itu. Bahkan, levelnya mungkin bukan suka lagi. Tapi jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya.
"Mas mau culik kamu,"
"Mas ih, serius! Aku masih ada kerjaan nih di rumah. Kita mau kemana lagi sih?!"
"Loh, Mas serius ini. Mas emang mau culik kamu, terus Mas jual sama om-om, mau nggak?" tanya Bayu sambil menaik-turunkan kedua alis tebalnya.
Dan kalian tahu apa jawaban gadis itu?
"Om-om nya kaya nggak? Kalo kaya sih aku mau-mau aja, tapi kalo nggak kaya aku sih ogah. Awh! Mas kenapa pukul kepala aku?!" seru Rania dengan mata yang melebar ke arah Bayu.
Bagaimana dia tidak kesal kalau laki-laki itu tiba-tiba saja memukul kepalanya. Meskipun tidak keras tetapi kan tetap saja itu tidak sopan.
Dengan alis yang mengerut pertanda ia sedang kesal, gadis itu pun berkata, "Loh, kok jadi aku yang ngomongnya sembarangan? Kan tadi Mas sendiri yang bilang mau jual aku ke om-om gimana sih,"
"Ya kan tadi Mas cuma bercanda,"
"Bercandanya nggak seru!" ketus Rania seraya melipat kembali kedua tangannya di depan dada, "Terus ini kita mau kemana jadinya?" tanya gadis itu lagi, karena sejak tadi pertanyaan nya tak kunjung mendapatkan jawaban.
"Ke rumah nenek,"
Sontak saja, Rania pun langsung menoleh ke arah Bayu lagi saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh laki-laki itu.
"Nenek? Nenek siapa?" tanya gadis itu dengan kening yang berkerut.
"Ya nenek kamu lah, nenek siapa lagi. Nenek Mas kan udah meninggal,"
Dengan mata yang melebar, Rania pun kembali bertanya, "Ngapain kita ke rumah nenek aku?"
"Aku disuruh anterin kamu kesana sama Irsyad," jawab Bayu dengan santainya.
Dan hal yang dapat dilakukan oleh Rania saat mendengar hal tersebut hanyalah menghembuskan nafasnya dengan keras. Dia sudah lelah sekali dengan kelakuan sang kakak yang dengan seenaknya menyuruh-nyuruh orang lain untuk melakukan hal yang dia perintahkan.
Kalau sudah seperti ini kan Rania yang jadi merasa tidak enak. Kesannya dia adalah anak manja yang hanya bisa menyusahkan. Padahal dia bisa melakukan semua itu sendiri. Kakaknya saja yang lebay.
Akhirnya sisa perjalanan pun di isi dengan keheningan karena Bayu dan Rania sibuk dengan isi pikirannya masing-masing.
"Sampai," ucap Bayu setelah mobilnya terparkir sempurna di depan sebuah rumah sederhana berlantai satu namun terlihat sangat luas dari depan.
Rania yang tadinya sedang melamun pun langsung tersadar saat mendengar ucapan laki-laki di samping nya.
"O-oh, iya," sahut gadis itu dengan gugup seraya melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya, "Makasih ya Mas udah anterin aku kesini, maaf juga aku jadi ngerepotin kamu seharian ini," lanjut Rania dengan wajah tidak enaknya.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut, Bayu pun menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tipis di wajah tampan nya.
"Sama-sama, tapi kamu nggak ngerepotin kok, Mas malah seneng bisa bantuin kamu hari ini,"
Sontak saja ucapan laki-laki itu pun berhasil menimbulkan rona merah pada pipi Rania.
Ya Allah Rania! Baru digituin aja udah meleyot lo, murahan banget sih perasaan lo!
"Mm… Ya udah, kalo gitu aku masuk dulu ya Mas. Mas hati-hati di jalan,"
Setelah mengatakan hal tersebut, Rania pun berniat untuk langsung turun dari dalam mobil. Namun, pada saat ia menarik tuas pintunya, ternyata pintu itu masih terkunci.
"Mas, kok pintunya masih dikunci sih?" tanya gadis itu sambil memutar tubuhnya kembali ke arah Bayu.
Namun, bukannya menjawab, laki-laki itu malah balik bertanya, "Kamu nggak mau nawarin aku buat ikut masuk ke dalem nih?"
Tentu saja pertanyaan laki-laki itu pun membuat Rania menjadi salah tingkah sendiri. Gadis itu kira karena mereka berdua sudah lama saling mengenal, jadi dia tidak perlu lagi melemparkan basa-basi khas negeri tercinta kita ini. Tapi kalau laki-laki itu tetap mau ditanyai pertanyaan basa-basi seperti itu, baiklah Rania akan memberikannya.
"Mas Bayu mau masuk dulu atau nggak?" tanya gadis itu dengan suara lembut yang dibuat-buat. Rania kira, Bayu akan menjawabnya dengan penolakan, namun ternyata…
"Mau, ya udah ayo kita masuk ke dalem," jawab laki-laki itu dengan senyum puas yang terpatri di bibirnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Bayu pun langsung membuka kunci mobilnya dan keluar dari sana, meninggalkan Rania yang otaknya masih memproses apa yang tengah terjadi.
Lah, ini gimana ceritanya? Kok dia malah mau ikut sih?
"Ran, kamu nggak mau masuk ke dalem? Kok malah diem aja sih disitu?" tanya Bayu seraya membuka kembali pintu depan yang tadi sudah ia tutup saat keluar.
"Hah? O-oh iya, iya,"
Rania yang baru saja tersadar dari lamunan nya pun dengan cepat langsung keluar dari dalam mobil.
Tit.
Setelah selesai mengunci mobilnya, Bayu pun langsung berjalan mendekat ke arah Rania yang masih berdiri kaku di samping mobil lalu mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Ayo Ran masuk,"
Sontak saja, hal itu pun membuat Rania langsung memutar bola matanya dengan malas sambil merutuk di dalam hati, ini sebenernya rumah nenek gue apa rumah nenek dia sih? Kok jadi dia yang lebih ngebet buat masuk.
"Mas beneran mau ikut masuk ke dalem?" tanya Rania yang masih ragu dengan keputusan laki-laki itu.
Pasalnya saat ini keluarga besarnya pasti sedang berkumpul di dalam sana, hal itu dapat dilihat dari banyaknya kendaraan yang terparkir di halaman depan rumah sang nenek. Dia takut kalau nanti Bayu malah akan merasa canggung di dalam sana.
Namun, dengan percaya dirinya laki-laki itu malah menjawab, "Ya beneran lah, masa boong sih. Kenapa? Kamu nggak mau ngajak Mas masuk ke dalem?" tanya laki-laki itu sambil menaikan sebelah alis tebalnya ke arah Rania.
"Eh bukan gitu, maksud aku… mm… di dalem kan keluarga besar aku pasti lagi pada kumpul. Nanti kalo Mas jadi canggung gimana? Aku cuma nggak mau Mas ngerasa nggak nyaman," jawab gadis itu dengan gugup.
"Oo… tenang aja. Selama ada kamu, Mas pasti bakal nyaman-nyaman aja kok," ucap Bayu dengan santainya.
Tidak tahu saja laki-laki itu kalau ucapannya barusan berhasil membuat degup jantung Rania berdetak lebih cepat.
"Lagian masa Mas udah sampe disini tapi nggak sekalian jenguk sepupu kamu, itu namanya nggak sopan," lanjut laki-laki itu.
Huh…
Ya sudah, mau bagaimana lagi? Kalau Bayu sudah memberikan ceramah 3 SKS nya, Rania tidak akan bisa membantahnya lagi.
Akhirnya, gadis itu pun hanya bisa pasrah dan membiarkan saja laki-laki itu untuk ikut masuk ke dalam rumah neneknya.
Tok. Tok. Tok.
"Assalamu'alaikum,"
Rania mengetuk pintu kayu di depannya dengan cukup keras. Rumah yang ditinggali oleh neneknya ini masih model rumah jaman dulu, jadi disini belum ada bel untuk memudahkan tamu memanggil si pemilik rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, sebentar,"
Tak lama kemudian, terdengar suara sahutan dari dalam sana. Hingga beberapa saat kemudian pintu berwarna coklat itu pun terbuka sempurna menampilkan seorang wanita paruh baya dengan gamis berwarna coklat muda yang menjulur ke seluruh tubuhnya.