
"Dek, sini cepetan. Ada Mas Bayu sama istrinya, salim dulu kamu. Kalian kan udah lama nggak ketemu," seru Santika seraya melambaikan tangannya ke arah sang putri yang saat ini tengah berdiri di perbatasan antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Rania yang masih tenggelam dalam lamunannya pun sampai tidak mendengar suara sang ibu. Gadis itu tampak fokus menatap dua sosok manusia yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.
Aura kebahagiaan jelas sekali terpancar dari pasangan suami istri itu. Berbanding terbalik dengan Rania yang selama beberapa bulan belakangan ini berusaha mati-matian untuk bisa terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya hatinya tengah hancur berkeping-keping.
Sejak hari pernikahan Bayu dan Adel, Rania memang tidak pernah lagi bertemu dengan mereka berdua. Bukan karena Bayu dan Adel yang menjauhinya, namun karena Rania yang selalu menghindar dari mereka berdua.
Namun, semua usahanya selama 9 bulan itu hancur begitu saja saat tiba-tiba mereka berdua malah hadir di saat-saat yang sangat tidak tepat. Malam ini seharusnya menjadi malam yang sangat membahagiakan untuk Rania, tetapi karena kehadiran mereka berdua, mood gadis itu langsung anjlok sampai titik yang paling dasar.
"Dek, kamu kok malah bengong sih. Sini dong," seru Santika sekali lagi karena sang putri malah melamun.
Tubuh Rania pun tersentak kaget saat mendengar seruan itu.
__ADS_1
"Hah?"
Santika tampak berdecak kesal karena tiba-tiba sang putri berubah menjadi lola, "Sini salim dulu sama Mas Bayu sama istrinya, kamu ini dulu padahal kan paling lengket sama Bayu, kenapa sekarang jadi kaya orang nggak kenal gitu sih," ucap wanita paruh baya itu dengan nada bercanda.
Dan semua orang yang ada di sana, termasuk laki-laki itu pun menimpali gurauan itu dengan tawa. Tanpa mereka semua sadari kalau suara tawa mereka menambah luka di hati Rania.
Dengan pelan, gadis itu pun mulai melangkahkan kakinya mendekati Bayu dan Adel.
"Wah, udah lama nggak ketemu, Rania makin cantik aja yah," ucap Adel dengan pandangan kagum, sejak pertama kali melihat gadis itu Adel memang sudah mengakui kecantikan Rania, wanita itu bahkan pernah berkata suatu hari nanti kalau ia mempunyai anak perempuan, ia ingin anaknya memiliki wajah secantik gadis itu.
Rania yang dipuji seperti itu pun hanya dapat menyunggingkan senyum tipisnya seraya mengucapkan terimakasih. Setelahnya gadis itu pun berpindah pada sosok di samping Adel. Seorang laki-laki dengan setelan kemeja berwarna biru muda dan celana bahan berwarna hitam membuat laki-laki itu terlihat jauh lebih dewasa daripada saat terakhir kali Rania melihat nya.
Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah dari laki-laki itu. Yaitu…tatapannya. Ya, tatapan lembut laki-laki itu tak pernah berubah sedikitpun sejak pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
Dengan ragu, Rania pun meraih tangan Bayu yang berukuran jauh lebih besar dari tangan mungil gadis itu. Jika tadi Rania mencium tangan Adel menggunakan bibirnya, kali ini ia hanya menempelkan tangan Bayu ke dahinya.
"Kamu hebat banget bisa dapet juara satu seangkatan. Mas bangga sama kamu," ucap laki-laki itu seraya mengelus lembut kepala Rania menggunakan satu tangannya yang bebas.
Dan sentuhan ringan itu berhasil meluluhlantakkan pertahanan yang sejak tadi berusaha untuk Rania bangun.
Tes. Tes. Tes
Bayu mengernyitkan kening saat merasakan tetesan air di tangannya. Baru saja laki-laki itu hendak bertanya, namun Rania sudah terlebih dahulu melepaskan tangannya dan berjalan mendekati kedua orangtuanya.
Bayu pun lalu menatap tangannya yang masih terangkat setelah tadi ditinggalkan oleh Rania. Dan benar saja, disana terdapat jejak air yang sudah mengalir.
Apakah… Rania menangis?
__ADS_1