
"Kakak cantik, kita jadi beli es krim kan?" tanya gadis kecil yang bernama Anjani itu dengan raut wajah berharap. Pasalnya, sang ayah selalu melarang nya makan es krim, padahal ia sangat menyukai makanan dingin itu. Jadi, saat ada orang yang menawarinya es krim, Anjani sangat senang sekali.
Ucapan gadis kecil di gendongan Bayu itu membuat Rania langsung memutuskan pandangan matanya.
Dengan gugup, gadis itu pun menjawab, "Hah? Eh, Mm… jadi, jadi, sebentar ya kakak beliin dulu,"
Setelah mengatakan hal itu, dengan cepat Rania pun langsung berjalan menjauh dari sana. Selain untuk membelikan gadis kecil itu es krim, ia juga membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan hatinya yang langsung berubah menjadi kacau dalam sekejap.
Namun, gerakan gadis itu langsung terhenti saat mendengar suara berat Bayu.
"Sebentar!"
Rania meringis saat niatnya untuk kabur menjadi tertunda. Dengan pelan, gadis itu pun kembali memutar tubuhnya ke belakang.
"Kenapa Mas?" tanya Rania dengan cengiran canggung nya.
Bukannya menjawab, Bayu malah memajukan langkah nya mendekati Rania, membuat gadis itu menjadi panik karena detak jantung nya kembali tak terkendali.
__ADS_1
Rania sadar, dia suami orang!
Berkali-kali Rania mengucapkan kata-kata pengingat itu di dalam hatinya, agar dia tidak kembali terjebak ke dalam perasaan tak berujung itu.
"Bareng aja," jawab Bayu saat sudah berdiri di depan gadis itu.
Rania yang tidak paham dengan maksud laki-laki itu pun mengerutkan keningnya bingung.
"Hah?"
Mendengar hal itu, Rania pun langsung melebarkan matanya, "Eh, nggak usah Mas. Aku bisa pulang sendiri kok, lagian sebentar lagi Mas Icad juga dateng,"
"Dia nggak bakal dateng," sahut Bayu dengan santainya.
"Kok Mas ngomong gitu?" tanya Rania dengan wajah bingungnya.
"Karena dia yang suruh Mas buat jemput kamu, dia ada urusan mendadak dari kantornya,"
__ADS_1
Sontak saja Rania langsung membuka mulutnya saat mendengar hal itu.
Apa-apaan ini?! Kenapa kakaknya itu tidak langsung bilang saja kepada Rania kalau dia memang tidak bisa menjemputnya? Kalau laki-laki itu langsung bilang kepada Rania, dia kan bisa pulang sendiri naik taksi. Bukannya malah mengutus orang lain untuk menjemputnya. Dasar menyebalkan!
"Aduh, sorry ya Mas jadi ngerepotin. Padahal aku bisa pulang sendiri kok," ucap Rania kikuk.
"Nggak usah bilang maaf kalo kamu nggak lagi buat salah," ucap Bayu dengan nada tajamnya, entah mengapa ia tidak suka dengan pemilihan kata yang dipakai oleh gadis itu, karena ia jadi merasa… asing?
"Ayo," lanjut laki-laki itu seraya meraih koper yang ada di tangan Rania.
"Eh, nggak usah Mas. Aku bawa sendiri aja," dengan panik gadis itu pun langsung berusaha untuk merebut kopernya kembali dari Bayu. Namun, laki-laki itu malah melangkahkan kakinya, mengabaikan ucapan Rania. Akhirnya gadis itu pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki laki-laki itu.
Sesuai dengan ucapan Rania tadi, sebelum pulang mereka pun mampir ke sebuah minimarket terlebih dahulu untuk membelikan es krim yang sudah ia janjikan pada gadis kecil yang merupakan anak dari Bayu.
Bukankah gadis kecil itu seharusnya memanggilnya aunty?
Rania terkekeh sendiri membayangkan hal itu. Meskipun dari luar ia terlihat biasa saja. Namun tidak ada yang tahu kalau sejak mengetahui bahwa gadis kecil itu adalah darah daging Bayu, ada sebuah pisau tak kasat mata yang mengiris-iris hatinya hingga menimbulkan rasa perih yang sangat mengganggu.
__ADS_1