Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Bayu punya pacar?


__ADS_3

"Bunda!"


Dengan cepat Rania langsung memeluk sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya itu.


"Bunda jahat banget, anaknya baru pulang dari luar negeri setelah bertahun-tahun lamanya, malah langsung ditinggal gitu aja. Mana ditinggal nya sama manusia paling menyebalkan di muka bumi lagi," gerutu gadis itu di dalam pelukan sang ibu.


Sontak saja, Santika pun langsung terkekeh saat mendengar ucapan sang putri. Dengan lembut, wanita paruh baya itu mengusap-usap punggung Rania.


"Maaf sayang, Bunda kan disini buat bantu-bantu Mbak Citra. Maklum, masih anak pertama, jadi masih banyak hal yang harus di ajarin," jelas Santika.


Wanita paruh baya itu melakukan hal tersebut karena sang ponakan, yaitu Citra, adalah anak dari kakak perempuan nya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi, kalau bukan dia yang mendampingi keponakannya itu, siapa lagi?


"Berarti, hari ini Bunda belum bisa pulang ke rumah dong?" tanya Rania sambil mencebikkan bibirnya.


"Iya, maaf ya sayang,"


"Kalo Ayah?"


"Kamu kayak nggak tahu Ayah aja, mana mau dia jauh-jauh dari Bunda,"


"Dasar bucin,"


Santika pun kembali terkekeh saat mendengar ucapan sang putri. Dan pada saat itulah ia baru menyadari kalau sejak tadi ada sesosok laki-laki berwajah tampan yang berdiri di belakang Rania.


"Loh, Bayu. Ya Allah, maaf ya tante nggak liat kamu dari tadi. Rania sih dateng-dateng udah main gelendotan aja," ucap wanita paruh baya itu sambil menepuk pelan lengan sang putri.


Dengan ekspresi kesalnya, Rania pun melepaskan pelukannya di tubuh sang ibu sambil berkata, "Loh, kok jadi gara-gara aku sih?"


Mengabaikan ucapan sang putri, Santika malah berjalan mendekat ke arah Bayu dan menyalami laki-laki itu.


"Hai Tante, gimana kabar Tante sama Om? Maaf ya Bayu udah lama nggak main ke rumah buat nengokin kalian," ucap Bayu setelah mencium tangan ibu dari sahabatnya itu.


Dengan senyum lebar yang terpatri di wajah nya, wanita paruh baya itu pun menjawab, "Alhamdulillah, kabar Om sama Tante baik. Kamu nggak usah minta maaf gitu, Tante ngerti kok kamu pasti lagi sibuk banget kan sama kerjaan kamu sekarang. Apalagi ditambah sama ngurus twins. Tante aja bayangin nya udah capek duluan. Gimana kamu yang jalanin," ucap Santika panjang lebar, membuat gadis cantik yang saat ini tengah berdiri di belakang nya itu memutar bola matanya malas, "Oh iya, gimana kabar Anjani sama Shaka, udah lama banget Tante nggak liat mereka. Kapan-kapan bawa ke rumah dong," lanjut wanita paruh baya itu.


"Siap tante, nanti kapan-kapan kita atur waktunya ya," jawab Bayu dengan senyum manisnya.


"Sip, kabarin aja kalo mau dateng, biar tante bisa masakin makanan yang enak buat mereka," ucap Santika sambil menepuk-nepuk pelan bahu kekar sahabat anaknya itu.


"Ehem! Ini kalian mau pada ngobrol disitu sampe kapan ya? Aku capek nih pengen duduk,"


Sontak saja, kedua orang yang sejak tadi asyik mengobrol berdua itu langsung mengalihkan pandangannya pada seorang gadis cantik yang saat ini tengah menyandarkan punggungnya di tembok samping pintu.


Dengan kekehan khasnya, Santika pun langsung mengajak Bayu dan Rania untuk masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, ketika mereka masuk, mereka langsung disambut oleh sekumpulan orang yang merupakan keluarga besarnya dari pihak sang ibu. Ada Om, Tante, dan juga para sepupunya.


Karena Rania sudah lama tidak bertemu dengan keluarganya itu, ia pun merasa agak sedikit canggung saat berinteraksi dengan mereka. Untungnya ada Mbak Citra yang bisa ia ajak bicara, jadi Rania tidak terlalu ngang ngong ngang ngong sendirian.


Sejak dulu, ia memang paling dekat dengan Mbak Citra. Bahkan, ia sudah menganggap wanita berusia 25 tahun itu sebagai kakak kandungnya sendiri. Mungkin karena sejak kematian kedua orang tua Mbak Citra, orang tuanya lah yang menggantikan semua tugas mereka untuk mengurus dan membiayai Mbak Citra. Ia dan Kakaknya juga tidak keberatan sama sekali. Mereka malah senang karena bisa mendapatkan saudara baru.


"Dek,"


Rania yang tengah sibuk menciumi pipi gembul keponakannya itu pun langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar Mbak Citra memanggilnya.


"Kenapa Mbak?" tanya gadis itu dengan kening yang berkerut.


"Kamu ada hubungan apa sama Mas Bayu?" bisik wanita itu tepat disamping telinga sang adik


Rania yang belum paham dengan maksud dari ucapan kakaknya itu pun tampak mengerutkan keningnya bingung, "Hah? Maksudnya Mbak?"


Sontak saja, Citra pun langsung berdecak kesal saat mendengar ucapan Rania, "Kamu kenapa bisa sampe dateng kesini sama Mas Bayu? Kamu pacaran sama dia?" akhirnya Citra pun memilih untuk langsung to the point.


Dan hal tersebut pun berhasil membuat Rania terkejut luar biasa.

__ADS_1


"Hah? Ya nggak lah! Mbak sembarangan aja kalo ngomong," seru gadis itu dengan suara kerasnya, hingga menyebabkan bayi berusia 3 hari di pangkuannya itu menggeliat kecil karena merasa tidurnya terganggu.


"Sssttt… Jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Anak Mbak bangun nih," ucap Citra sambil menepuk-nepuk pantat sang putra agar bayi kecil itu kembali terlelap.


"Ya lagian Mbak nanya nya aneh-aneh aja sih. Kan aku jadi kaget,"


"Loh, aneh kenapa? Mbak kan cuma tanya aja. Abisnya kalian berdua keliatan serasi banget sih," ucap Citra dengan tatapan yang masih mengarah pada sang putra yang saat ini tengah berada di atas pangkuan Rania.


Tanpa wanita itu sadari kalau ucapannya barusan berhasil menimbulkan rona merah di pipi seseorang.


"Mas Bayu ini temennya Icad ya?" tanya seorang wanita paruh baya yang merupakan istri dari Om nya Rania.


Mendengar nama Bayu disebut, gadis cantik yang saat ini tengah duduk di atas sofa pun langsung mengalihkan tatapannya pada sekumpulan orang yang duduk diatas karpet tak jauh dari posisinya.


Di tengah sekumpulan orang yang kebanyakan anak-anak kecil itu duduk seorang laki-laki tampan yang tak lain adalah Bayu.


Dengan senyum manis yang terpatri di wajah tampannya, laki-laki itu pun menjawab, "Iya tante, saya temennya Irsyad dari jaman SMA,"


"Wah hebat banget, berarti kalian udah lama banget ya temenannya,"


"Iya tante, Alhamdulillah,"


"Kamu udah nikah?"


Deg.


Rania langsung membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh tantenya itu. Karena tidak ingin membuat Bayu menjadi tidak nyaman, gadis itu pun hendak menimpali ucapan sang tante. Namun, sebelum niatnya itu terlaksana, Bayu sudah lebih dulu menjawabnya.


"Sudah tante, saya juga sudah punya dua anak. Tapi istri saya sudah meninggal 4 tahun yang lalu saat melahirkan kedua anak saya," jawab Bayu sambil menampilkan senyuman tipisnya.


Sontak saja, jawaban dari laki-laki itu pun membuat suasana di ruangan itu jadi hening seketika. Bahkan, sepupu Rania yang sejak tadi sedang menonton video di youtube pun langsung mematikannya.


Melihat kecanggungan yang terjadi akibat pertanyaannya barusan, wanita paruh baya itu pun kembali bersuara.


Masih dengan senyuman di wajahnya, laki-laki itu pun menjawab, "Iya, nggak papa tante,"


Bayu memang terlihat santai saja menanggapi pertanyaan khas tante-tante itu, tapi lain halnya dengan Rania yang malah terlihat sangat kesal dengan sikap tidak sopan dari istri Om nya itu. Kalau tidak ingat sekarang mereka sedang berkumpul karena merayakan kehadiran putra kecil kakaknya. Gadis itu pasti akan menyemprot tantenya itu dengan kata-kata tajamnya.


Namun ternyata belum cukup sampai disitu, karena wanita paruh baya dengan gamis berwarna merah terang itu kembali bertanya, "Berarti udah lama juga ya kamu jadi duda, kamu nggak ada niatan buat cari istri lagi?"


Perkataan wanita paruh baya itu pun berhasil membuat sang suami yang sejak tadi hanya diam saja langsung bereaksi.


"Mah," panggil pria paruh baya yang merupakan Om dari Rania itu sambil menyikut lengan sang istri agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Apaan sih Pah senggol-senggol, Mamah kan cuma nanya doang,"


Aaaa… udah nggak tahan banget gue! Bunda kemana sih? Biar ni orang satu bisa di ulti! Gerutu Rania dalam hati.


Saat ini sang ibu memang sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam, jadi tidak ada yang bisa membantu Rania untuk menutup mulut tantenya itu.


"Gimana Bayu? Kamu udah ada niatan buat cari istri lagi belum? Kalo udah, tante punya kenalan loh buat kamu. Dia itu adik bungsunya tante. Namanya Ayu. Orangnya cantik, pinter, telaten, pokoknya pas banget deh kalo dijadiin istri. Terus asal kamu tahu ya, adik tante itu sarjana kedokteran terus sekarang lagi kerja di rumah sakit Bina Husada. Kamu tau kan rumah sakit itu? Pasti tahu lah ya, secara itu kan rumah sakit yang paling terkenal satu Jakarta," ucap wanita paruh baya itu panjang lebar.


Dan sepanjang wanita itu berbicara, Bayu hanya dapat menanggapinya dengan senyuman canggung hingga pipinya menjadi sakit karena terlalu lama tersenyum.


"Jadi gimana Bayu? Kamu mau tante kenalin sama adik tante?" tanya wanita paruh baya itu sebagai penutupan dari ucapannya.


"Mm… maaf tante, tapi… saya udah punya seseorang yang saya suka," jawab Bayu dengan penuh percaya diri.


Mendengar hal tersebut, Rania yang sejak tadi memilih untuk menatap sang ponakan agar emosinya bisa terjaga pun langsung mendongakkan kepalanya saking terkejutnya.


Dan pada saat itulah pandangan Rania langsung bertemu dengan kedua mata tajam Bayu yang tengah menatap lembut ke arah gadis itu.

__ADS_1


***


Hening.


Lagi-lagi hening kembali memenuhi mobil yang tengah dikendarai oleh Bayu.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan laki-laki itu sudah berada dalam perjalanan untuk mengantarkan Rania pulang ke rumahnya.


Sebenarnya, tadi disana juga sudah ada Irsyad. Namun, karena laki-laki itu masih mau disana sampai nanti malam, Rania memilih untuk pulang terlebih dahulu bersama Bayu karena besok gadis itu masih harus bersih-bersih di ruko barunya.


"Ehem,"


Bayu berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa mengganjal. Tapi selain itu, dia juga punya tujuan lain, yaitu membuat Rania berbicara.


Namun, tentu saja niat Bayu tak akan berjalan semudah itu karena nyatanya Rania masih tetap menatap jalanan di sampingnya melalui jendela.


"Ran, kepala kamu nggak pegel apa nengok kesitu terus?" tanya Bayu seraya melirik ke arah gadis itu.


Rania yang tengah malas berbicara pun hanya menjawab, "Nggak,"


Mendengar hal itu, Bayu pun hanya dapat menelan ludahnya yang terasa kering.


"Kamu kenapa sih, lagi badmood ya? Diem aja dari tadi," Bayu kembali mengajak Rania berbicara, karena jujur suasana di dalam mobil ini membuatnya kurang nyaman.


Ia tahu kalau gadis itu bukan hanya diam biasa, tapi pasti karena ada sesuatu hal yang mengganggunya.


"Iya," jawab Rania singkat.


"Badmood kenapa? Kan abis kumpul sama keluarga kok malah badmood sih?"


Akhirnya, pertanyaan tersebut pun berhasil membuat gadis itu menolehkan kepalanya.


"Aku kesel sama Tante Titi!" seru Rania dengan raut wajah kesalnya.


Mendengar hal tersebut, Bayu pun tampak mengerutkan keningnya bingung, "Tante Titi? Tante Titi siapa?"


"Itu loh yang tadi nanya-nanya sama Mas. Aku kesel banget sama dia. Mulutnya itu loh nggak bisa diem banget. Kalo nggak inget sopan santun udah aku tutup mulutnya tadi pake lakban super kuatnya nenek,"


"Hus, nggak boleh ngomong kaya gitu dong. Gimanapun juga, dia kan lebih tua dari kamu. Apalagi itu tante kamu sendiri,"


"Abisnya dia ngeselin banget sih!" sahut Rania sambil memukul pahanya sendiri dengan pelan, "Sorry ya Mas, buat sikap tante aku tadi," lanjut gadis itu dengan raut wajah bersalah nya.


"Loh, kok jadi kamu yang minta maaf, kan kamu nggak salah apa-apa,"


"Tapi kan tetep aja, kayak kata Mas tadi gimanapun juga dia tante aku, jadi kalo dia bikin Mas nggak nyaman aku yang harus bertanggung jawab karena Mas dateng kesananya sama aku,"


Mendengar hal tersebut, Bayu pun langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman manis yang terpatri di wajah tampannya.


"Oke deh, aku maafin," sahut laki-laki itu sambil mengelus kepala Rania dengan lembut.


Cukup lama suasana hening kembali terjadi, sampai Rania tiba-tiba bersuara.


"Mm… Mas, aku boleh tanya sesuatu nggak sama kamu?"


Bayu yang tadinya sedang fokus menyetir pun langsung menoleh ke arah gadis cantik yang duduk disampingnya itu.


"Tanya apa? Kok pake ijin segala?" tanya laki-laki itu dengan kening yang berkerut.


Rania tak langsung menjawab pertanyaan dari Bayu karena gadis itu tengah menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia bertanya atau tidak. Kalau dia menanyakan hal ini, ia takut kalau laki-laki itu akan menganggap nya kepo. Tapi kalau dia tidak bertanya, dia pasti akan menghabiskan malam ini dengan overthinking.


Setelah berpikir selama beberapa saat, akhirnya Rania pun memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Mm… siapa cewek yang lagi Mas suka? Kok Mas nggak kenalin sama aku sih?"


Bayu yang mendengar pertanyaan itu pun tak bisa menahan senyumnya lagi. Laki-laki itu tampak melirik ke arah Rania sambil berkata, "Belum waktunya, nanti kalo udah waktunya pasti Mas kenalin sama kamu,"


__ADS_2