Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Perhatian seorang, kakak?


__ADS_3

"Ran,"


Rania yang tengah termenung karena memikirkan laki-laki itu pun terkejut saat merasakan sentuhan di pundaknya, reflek gadis itu pun langsung memundurkan langkahnya karena sentuhan laki-laki itu terlalu berbahaya untuknya


"Iya?"


"Kamu kenapa? Lagi ada masalah ya?" tanya Bayu dengan raut wajah khawatir nya.


Meskipun tadi perkataan gadis itu sudah begitu menyakiti perasaan nya, namun ia tak bisa menghapus begitu saja rasa sayangnya kepada Rania. Bagi Bayu, Rania selamanya akan tetap menjadi adik kecilnya yang harus ia jaga dan ia lindungi.


"Hah? Nggak kok, aku nggak papa," jawab gadis itu sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalo nggak papa kenapa dari tadi kamu banyak bengong?"


Itu gara-gara Mas tau!


Ingin sekali Rania menjawab seperti itu, namun tidak mungkin ia berani mengeluarkan nya. Bisa hancur semuanya kalau dia sampai mengatakan hal itu.


"Mungkin karena jet lag," itulah alasan yang paling masuk akal agar laki-laki itu tidak terus-terusan bertanya.


Bayu yang percaya dengan jawab Rania pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

__ADS_1


"Ya udah sana masuk. Abis ini langsung istirahat aja, biar besok udah fit lagi. Kata Icad besok kamu mau survey ruko kan?"


Sontak saja Rania langsung berdecak kesal saat kembali mendengar nama itu lagi, lagi, dan lagi. Memang cocok ia memanggil Kakaknya itu ember bocor, karena memang dia seperti ember bocor yang isinya selalu habis karena mengalir keluar.


Padahal kan Rania sudah bilang kepada laki-laki itu untuk tidak bilang kepada siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Eh, ini malah bilang sama Bayu yang notabene bukan keluarga mereka.


Awas saja nanti, dia pasti akan menghabisi kakak menyebalkannya itu.


"Kenapa? Kok kamu kaya kesel gitu, Mas salah ngomong ya?"


"Eh, nggak kok, nggak. Ya udah, kalo gitu aku masuk dulu ya Mas, makasih udah jemput aku hari ini. Lain kali aku traktir makan ya,"


Setelah mengatakan hal itu, Rania pun langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Namun, gerakan gadis itu langsung terhenti saat terdengar suara Bayu yang memanggil namanya.


Duh, apaan lagi sih tuh cowok. Nggak tahu apa hati gue lagi nggak karu-karuan gini!


Meskipun dalam hatinya merutuk, namun Rania tetap memutar tubuhnya kembali.


"Kenapa lagi Mas?" tanya Rania dengan wajah pura-pura ramah.


Namun, jawaban dari laki-laki itu membuat Rania menjadi malu setengah mati sampai wajahnya merona sempurna.

__ADS_1


"Kopernya nggak mau dibawa?" tanya laki-laki itu dengan santainya. Membuat Rania semakin salah tingkah.


Bisa-bisanya dia lupa dengan kopernya sendiri! Tolong, siapapun, bawa Rania pergi dari sini sekarang juga.


***


"Bunda… Ayah… Adek pulang," teriak Rania seraya membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.


Mendengar suara seseorang yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu, kedua pasangan suami istri yang tengah duduk di ruang keluarga itu pun langsung berlari menuju ruang tamu.


Dan betapa bahagianya mereka berdua saat melihat putri kesayangannya sudah kembali lagi ke rumah ini dengan keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apapun.


Dengan cepat, Santika pun langsung mendekati sang putri dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


"Sayang… Bunda kangen banget sama kamu," lirih wanita paruh baya itu dengan wajah yang sudah berlinang air mata.


Membuat Rania tak bisa menahan senyumnya lagi, "Iya, Adek juga kangen banget sama bunda. Apalagi sama ayam gorengnya bunda, hm.. baru cium baunya aja Adek langsung laper,"


Mendengar hal itu, sontak saja Santika pun langsung melepaskan pelukannya di tubuh sang putri.


"Ya udah ayo kita makan, bunda udah bikin banyak makanan kesukaan kamu. Ada puding coklat juga, pokoknya hari ini kamu harus makan semuanya,"

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu, Santika langsung menarik tangan sang putri menuju ruang makan. Meninggalkan suaminya sendirian disana dengan pandangan tak percaya.


"Bunda! Ayah juga kangen sama Adek!"


__ADS_2