
"Alhamdulillah, baik kok,"
Mendengar hal itu, Bayu pun menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Syukurlah. Oh iya, Mas denger dari Icad katanya kamu kemarin lulus dengan predikat cumlaude ya?" tanya laki-laki itu lagi.
Selama 5 tahun terakhir ini, hanya dari Irsyad lah ia dapat mendengar kabar mengenai Rania, sahabatnya sekaligus kakak dari gadis itu. Karena Rania benar-benar memutus semua akses komunikasi dengannya.
Gadis itu memang tidak mengganti nomor ponselnya ataupun memblokir nya di sosial media, tetapi setiap kali Bayu mencoba untuk mengirim pesan ataupun menelfon, gadis itu tidak pernah merespon nya.
Rania yang sejak tadi menghadap ke arah depan pun hanya dapat tersenyum canggung saat mendengar ucapan Bayu, bertambah saja rasa kesalnya kepada kakak satu-satunya itu. Dia sudah berusaha keras untuk menutup semua akses agar tidak perlu berhubungan dengan laki-laki itu lagi, tapi malah kakaknya sendiri yang merusak semua rencananya.
Dasar mulut ember! Gerutu Rania dalam hati.
"Itu keren banget loh, betul kan apa yang Mas bilang, kamu tuh emang punya bakat buat jadi designer," lanjut laki-laki itu lagi.
"Makasih Mas,"
Sudah?
Hanya itu saja?
__ADS_1
Bayu hampir saja berdecak kesal saat mendengar ucapan gadis di samping nya.
"Ran,"
"Hm?"
"Kenapa kamu nggak bilang sama Mas waktu kamu mau pergi ke luar negeri?"
Akhirnya…
Akhirnya pertanyaan itu dapat dikeluarkan juga oleh Bayu. Pertanyaan yang sudah mengendap di kepalanya selama bertahun-tahun lamanya akhirnya dapat ia tanyakan langsung pada gadis itu.
Bagaimana Rania harus menjawabnya? Dia tidak pernah sekalipun menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.
"A-aku… "
Tin. Tin. Tin.
Sangking fokusnya dalam obrolan mereka, Bayu sampai tidak sadar kalau lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Dengan cepat laki-laki itu pun langsung menghidupkan mobilnya dan menarik gas hingga mobil tersebut melaju kencang ke depan.
__ADS_1
Sedangkan Rania langsung menghembuskan nafasnya dengan lega karena merasa sudah terbebas dari pertanyaan laki-laki itu.
Namun ternyata, kelegaan nya itu tak bertahan lama karena beberapa saat kemudian laki-laki itu kembali bersuara.
"Jadi?"
Sontak saja Rania langsung merutuk dalam hati. Kenapa juga sih laki-laki itu harus membahas hal yang sudah lama berlalu, bukankah hal ini juga tidak penting untuk Bayu? Bikin pusing saja!
"Mm… Aku… nggak sempet ngabarin. Ya, nggak sempet ngabarin. Soalnya waktu itu waktunya mepet banget, terus banyak juga kan hal yang harus aku urus, jadi aku nggak sempet bilang sama Mas," jawab Rania berusaha se meyakinkan mungkin.
Gadis itu langsung menghembuskan nafasnya dengan lega saat melihat Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun, kalimat selanjutnya yang dilontarkan oleh laki-laki itu kembali membuat nafasnya tercekat.
"Oh ya? Tapi kenapa Icad bilang sama Mas kalo rencana kamu buat kuliah di luar negeri itu udah dari jauh-jauh hari?" tanya Bayu sambil memicingkan matanya ke arah Rania.
Mendengar nama sang kakak kembali disebut, Rania pun langsung memejamkan matanya sambil mengatur nafas agar emosinya tidak meledak saat itu juga.
Irsyad Ramadhan!
Belum genap satu hari Rania pulang ke Indonesia, tapi kakaknya itu sudah membuat banyak masalah untuk nya.
__ADS_1
Lama-lama gue jahit juga tuh mulut!