
"Kamu marah ya sama Mas?"
Deg.
Rania langsung menghentikan gerakannya saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki itu.
Marah?
Apakah dia marah kepada Bayu?
Itu adalah pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang setiap hari Rania tanyakan pada dirinya sendiri.
Namun setelah dipikir-pikir, jawabannya sepertinya tidak. Ya, dia tidak marah kepada Bayu, karena laki-laki itu tidak tahu apa-apa mengenai perasaan nya. Rania hanya kecewa saja kepada takdir, kenapa dia harus merasakan jatuh cinta kepada Bayu kalau pada akhirnya laki-laki itu bersanding dengan wanita lain.
Setelah cukup lama merenung, akhirnya Rania pun menjawab, "Nggak kok,"
"Kalo nggak, kenapa kamu menghindar dari Mas?" tanya laki-laki itu lagi.
__ADS_1
Rania yang merasa tersudut dengan runtutan pertanyaan dari laki-laki itu pun memilih untuk berpura-pura tidak paham, "Menghindar? Kapan aku menghindar dari Mas Bayu?"
"Kapan kamu bilang? Kayaknya setiap kali Mas dateng ke rumah kamu, kamu selalu punya alasan buat nggak ketemu sama Mas," sahut laki-laki itu dengan mata yang memicing ke arah Rania.
"Itu kan karena aku lagi belajar," ucap gadis itu dengan entengnya.
Bayu yang merasa sedikit kesal dengan jawaban Rania pun sampai memajukan tubuhnya, "Jam 9 malem kamu masih belajar?"
"Masih," jawab Rania tak mau kalah.
Mendengar hal itu, Bayu pun hanya dapat menghembuskan nafasnya dengan keras. Sejak kapan gadis kecilnya ini jadi begitu berani kepadanya?
Namun, melihat nada bicara Bayu yang seolah-olah tidak terima dengan sikapnya yang selalu menghindar dari laki-laki itu, menumbuhkan sebuah harapan di hati Rania. Harapan yang seharusnya tidak boleh ada karena bagaimanapun juga laki-laki itu sudah menjadi milik orang lain, yang artinya perasaannya tidak akan pernah terbalas sampai kapanpun. Harapan-harapan kecil itu hanya akan menjadi kerikil yang menyebabkan rasa perih di hatinya.
"Emangnya kenapa aku harus ketemu sama Mas?" tanya gadis itu seolah-olah heran dengan ucapan Bayu.
Bayu yang mendengar hal itu pun sampai membuka mulutnya karena merasa speechless dengan jawaban yang diberikan oleh gadis itu.
__ADS_1
Apakah gadis cantik yang saat ini tengah duduk di hadapannya itu masih orang yang sama dengan gadis kecil yang selalu menceritakan semua hal kepadanya? Apakah dia masih orang yang sama dengan Rania yang selalu mencarinya saat ada teman yang merundung nya di sekolah? Apakah dia orang yang sama dengan Rania yang selalu bersikap manja saat bertemu dengannya?
Kenapa sekarang gadis itu terlihat begitu berbeda?
"Ran, kamu kenapa sih? Mas ada bikin salah sama kamu ya?"
"Nggak,"
"Terus kenapa sekarang sikap kamu jadi beda? Mas kangen kamu yang dulu Ran,"
Ingin rasanya Rania berteriak di depan wajah Bayu kalau dia juga merindukan masa-masa dulu. Masa-masa dimana ia masih begitu terbuka pada laki-laki itu, apapun masalah yang sedang ia alami, Bayu adalah orang pertama yang akan ia cari. Masa dimana ia masih bebas bermanja-manja pada laki-laki itu. Masa dimana tidak ada orang lain di antara mereka.
Namun kini, semuanya sudah berbeda. Sudah ada Adel yang harus ia jaga perasaannya. Rania tidak mungkin tetap bersikap seperti dulu disaat Bayu sudah memiliki istri.
Lagipula, kalau Rania tidak berinisiatif untuk menjauh. Dia takut kalau suatu hari nanti dia memiliki pemikiran jahat untuk merebut laki-laki itu dari istrinya. Dan Rania tidak mau itu sampai terjadi.
Jadi, untuk sekarang. Selama nama laki-laki itu masih terpatri di hatinya. Sebisa mungkin Rania akan menjaga jarak sejauh-jauhnya dari laki-laki itu, sampai perasaan terlarang ini hilang dengan sendirinya.
__ADS_1
"Nggak ada yang beda kok. Mungkin karena aku udah gede, jadi aku udah nggak butuh Mas Bayu lagi,"