Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar

Jatuh Cinta Pada Ayah Si Kembar
Titip Rania


__ADS_3

"Gue udah minta tolong sama Bayu buat jemput lo disini,"


Sangking terkejutnya dengan ucapan sang kakak, Rania bahkan sampai bangkit dari duduknya.


"Hah? Ngapain lo suruh Mas Bayu buat jemput gue? Gue bisa bisa pulang sendiri," solot gadis itu.


Irsyad yang masih sibuk dengan ponselnya pun hanya menoleh sekilas ke arah sang adik kemudian menjawab, "Kebetulan dia lagi lewat daerah sini, jadi sekalian aja gue minta dia jemput lo," ucap laki-laki itu dengan santainya.


Berbanding terbalik dengan Rania yang emosinya sudah mencapai ubun-ubun. Bagaimana tidak? Sudah mau ditinggal oleh dua orang kesayangannya itu, sekarang dia malah dilimpahkan kepada orang yang sedang tidak ingin Rania temui. Kurang sial apalagi coba dia?


"Gue nggak mau!" seru Rania dengan tegas.


Mendengar hal itu, Irsyad pun langsung mendongakkan kepalanya, "Lah, kenapa?" tanya laki-laki itu dengan kening yang berkerut.


"Pokoknya nggak mau! Gue mau pulang naik taksi aja,"


Setelah mengatakan hal itu, Rania pun langsung mengambil ponsel dan tasnya yang ada di atas meja. Melihat gelagat sang adik yang hendak pergi, Irsyad pun langsung mencekal tangan gadis itu.


"Ran, nggak enak sama Bayu, dia udah lagi otw kesini,"


Rania langsung memutar bola matanya saat mendengar ucapan sang kakak, "Ya udah lo aja yang ikut sama Mas Bayu, biar gue yang bawa pulang mobil lo," ucap gadis itu dengan raut wajah percaya dirinya.


Sontak saja, Irsyad pun langsung tertawa, "Emangnya lo bisa bawa mobil?" tanya laki-laki itu dengan wajah songongnya.


Membuat Rania langsung memajukkan bibirnya ke depan dengan ekspresi seperti orang yang mau menangis.


"Nggak tau ah, gue sebel sama lo!"


***


Dan ya, disinilah Rania akhirnya berada. Didalam sebuah mobil mewah berwarna hitam yang tak lain dan tak bukan adalah mobil milik Bapak Bayu Nalendra.


Sejak masuk ke dalam mobil ini sekitar 10 menit yang lalu, Rania belum mengeluarkan suara sepatah katapun. Begitu juga dengan Bayu, karena laki-laki itu juga bingung harus memulai pembicaraan dari mana.

__ADS_1


Namun, karena Bayu sudah mulai tidak nyaman dengan suasana canggung diantara mereka berdua, akhirnya laki-laki itu pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Gimana tadi cari ruko nya? Lancar?" tanya Bayu sambil melirik ke arah Rania yang duduk di sampingnya.


Rania yang sejak tadi fokus menatap ke luar jendela pun akhirnya terpaksa menoleh ke arah laki-laki itu sebagai bentuk sopan santun.


"Alhamdulillah lancar," jawab Rania singkat, kemudian gadis itu pun kembali memutar kepalanya ke arah jendela. Karena setiap ia melihat sosok Bayu, setiap itu pula lah hatinya terasa sangat sakit, seperti ada beribu-ribu jarum yang tertancap disana.


Tak mau percakapan mereka berakhir sampai disana, Bayu pun kembali melayangkan pertanyaan, "Udah dapet yang cocok?"


Hampir saja Rania menghembuskan nafasnya dengan keras, untung saja dia masih bisa mengendalikan diri.


Dengan pelan, gadis itu pun menggelengkan kepalanya kemudian menjawab, "Belum,"


"Loh, kenapa?"


Sumpah. Rasanya Rania ingin berteriak sekeras-kerasnya sekarang. Kenapa Bayu jadi cerewet seperti ini sih? Apakah laki-laki itu tidak bisa fokus menyetir saja?


Meskipun merasa kesal karena Bayu terus-terusan bertanya, namun tak urung Rania tetap menjawabnya juga, "Belum nemu yang cocok aja,"


"Kalo kamu-"


Drt… drt… drt…


Perkataan Bayu terhenti saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Karena posisi ponsel tersebut ada di atas dashboard, agak sulit untuk Bayu mengambil nya karena kedua tangannya sedang digunakan untuk menyetir dan dia tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak hanya karena hal sepele seperti itu.


Akhirnya, laki-laki itu pun menoleh ke arah Rania dan berkata, "Ran, Mas boleh minta tolong angkatin telfon?"


Sontak saja Rania pun langsung melebarkan matanya saat mendengar hal itu.


"Aku, angkatin telfon Mas?" tanya Rania sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, Mas kan lagi nyetir. Bahaya kalo sambil main handphone. Kamu angkatin aja, biar Mas yang ngomong," jawab laki-laki itu dengan pandangan yang masih lurus ke depan.

__ADS_1


Setelah menghela nafasnya dalam-dalam, Rania pun akhirnya mengangkat tangannya untuk mengambil ponsel mewah keluaran terbaru milik Bayu yang berada di atas dashboard.


Dan saat ia hendak mengangkat panggilan tersebut, matanya melebar saat melihat nama sang kakak terpampang di layar ponsel Bayu.


"Siapa?" tanya Bayu yang penasaran karena gadis cantik itu tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Mm… Mas Icad," jawab Rania, setelahnya gadis itu pun langsung menekan icon berwarna hijau untuk mengangkat panggilan dari kakaknya itu.


"Halo Bay,"


Saat terdengar suara berat sang kakak, Rania pun langsung mengulurkan ponsel itu ke arah Bayu.


"Assalamu'alaikum," ucap Bayu memberi salam.


Diseberang sana Irsyad tampak berdecak karena saking buru-burunya ia jadi lupa mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam, sorry bro gue lupa,"


"Kenapa lo nelfon?" tanya Bayu mengabaikan ucapan sahabatnya itu.


"Adek gue udah sama lo?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Irsyad, Bayu malah melirik ke arah gadis cantik yang duduk disebelahnya, dan pada saat itulah tak sengaja pandangan mereka bertemu, karena ternyata sejak tadi Rania tak mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu.


Karena merasa ketahuan, Rania pun dengan cepat mengalihkan pandangannya ke jalanan yang ada di depannya, begitu juga dengan Bayu yang kembali fokus menyetir.


"Bay? Lo denger gue ngomong kan?" tanya Irsyad karena sahabatnya itu tak kunjung bersuara.


"Iya denger, Rania udah sama gue sekarang," jawab Bayu.


"Sorry banget nih bro, gue mau minta tolong satu hal lagi sama lo boleh nggak?"


Bayu tampak mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Irsyad, "Minta tolong apaan?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Gue titip Rania di rumah lo dulu,"


__ADS_2