
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka bertiga pun sampai juga di tempat yang dituju. Sejak tadi, Rania tak berhenti tersenyum saat melihat deretan ruko yang ada di depan sana. Dia merasa sangat excited karena sebentar lagi impiannya untuk memiliki butik sendiri akan segera tercapai.
"Ayo turun," ucap Irsyad setelah mobil mewahnya terparkir sempurna di antara mobil-mobil lainnya.
Rania yang sejak tadi masih menatap ke luar jendela pun menganggukkan kepalanya, lalu menarik handle pintu mobil di sampingnya.
Setelah sang adik sudah keluar, Irsyad pun melepaskan sabuk pengaman dan hendak menyusulnya. Namun, kening laki-laki itu mengerut saat merasa ada sesuatu yang aneh.
Dengan perlahan, laki-laki itu pun memutar kepalanya ke samping. Dan kerutan di keningnya semakin dalam saat melihat gadis yang duduk di sampingnya itu hanya diam saja dengan pandangan yang kosong.
Kenapa ni bocah? Jangan-jangan kesambet lagi.
"Ehem," Irsyad berpura-pura berdehem untuk melihat respon gadis itu. Namun ternyata, gadis itu tetap diam dan tak bergerak sedikitpun.
Karena tidak ingin anak orang kenapa-kenapa di dalam mobilnya, Irsyad pun memberanikan diri untuk menyentuh bahu gadis itu.
"Woi, lo nggak papa kan?"
Kayla yang tadinya masih tenggelam dalam lamunannya langsung tersadar saat merasakan sentuhan lembut di bahunya.
"Hah? Ada apa? Kenapa?" tanya gadis itu kaget, namun keterkejutan nya itu tak berlangsung lama karena setelahnya tubuh Kayla langsung menciut saat melihat sosok yang ada di depannya.
"Turun,"
"Hah?"
"Lo mau gue kunciin di dalem mobil?"
Mendengar hal itu, Kayla pun langsung memutar pandangan nya ke sekitar. Dan pada saat itulah ia baru menyadari kalau saat ini mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Lah? Gue darimana aja? Kok gue nggak sadar kalo udah sampe?!
Tak ingin lebih malu lagi, gadis itu pun dengan cepat langsung melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya, kemudian tanpa berkata apapun lagi, Kayla langsung turun dari dalam mobil. Meninggalkan Irsyad yang tengah menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan kelakuan gadis itu.
Dasar bocah!
***
Setelah bertemu dengan pemilik ruko dan melakukan beberapa negosiasi, ternyata Rania belum terlalu puas dengan hasil akhirnya. Oleh karena itu, mereka pun memutuskan untuk melihat-lihat ruko yang lain dulu sebagai perbandingan.
Totalnya ada sekitar 5 ruko yang mereka datangi dari pagi sampai sore, mereka bahkan sampai tidak kepikiran untuk makan siang sangking pusingnya mencari tempat yang cocok dan sesuai dengan keinginan Rania.
__ADS_1
"Jadi, lo lebih sreg sama yang mana tadi?" tanya Irsyad pada sang adik. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran untuk makan siang yang sudah sangat amat terlambat karena jam telah menunjukkan pukul 16.30.
Rania yang sedang meminum es teh pesanannya pun melepaskan sedotan dari mulut nya lalu menoleh ke arah kakaknya, "Menurut lo mana yang paling bagus?"
"Lah, kok malah nanya gue. Kan lo yang mau bikin usaha,"
"Ya kan gue nanya pendapat lo, siapa tahu bisa buat pertimbangan gue," ucap gadis itu sambil mencebikkan bibirnya.
Rania tidak menyangka kalau ternyata mencari tempat untuk membangun usaha akan sangat melelahkan dan memusingkan seperti ini. Ia kira hanya tinggal melihat bangunan nya, lalu kalau suka ya tinggal dibayar. Tapi ternyata banyak faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan. Seperti tingkat keramaian daerahnya, kenyamanan lalu lintasnya dan masih banyak lagi hal-hal yang lain. Dan itu semua membuat kepala Rania rasanya mau pecah.
"Mm.. Kalo menurut gue sih-"
Drtt… drt… drt…
Irsyad menghentikan ucapannya saat ponsel miliknya berbunyi dan saat dilihat ternyata salah satu karyawan di restoran yang menelponnya.
"Bentar, gue angkat telfon dulu,"
Setelah mengatakan hal itu, Irsyad langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari area restoran.
"Ihh nyebelin," gerutu Rania sambil menatap punggung sang kakak yang semakin menjauh, "Kalo menurut lo bagusan yang mana Kay?"
Kali ini giliran Kayla yang menghentikan kegiatan makan nya saat mendapatkan pertanyaan dari sang sahabat.
"Alesannya?"
"Karna-"
Drt… drt… drt…
Reflek, kedua gadis cantik itu langsung bertatapan saat mendengar suara ponsel yang berbunyi.
"Itu… suara hp lo?" tanya Rania dengan raut wajah tak percaya.
Mendengar pertanyaan itu, Kayla pun memberikan cengiran sungkan nya lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Iya, gue angkat telfonnya dulu ya. Bentar doang kok janji. Soalnya dari bos besar nih, bisa abis gue kalo nggak angkat telfonnya," ucap gadis itu seraya memperlihatkan layar ponselnya kepada sang sahabat.
Melihat hal itu, Rania pun hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah kemudian menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sebenarnya kebetulan macam apa ini? Tadi sang kakak yang meninggalkan nya karena ada telpon masuk dan sekarang sahabatnya juga ikut-ikutan. Apakah mereka berdua jodoh?!
"Halo, assalamualaikum Mah, kenapa?" tanya Kayla setelah mengangkat panggilan dari sang ibu.
__ADS_1
Sedangkan, si cantik Rania kembali fokus dengan es teh nya.
"Aku masih sama Rania sekarang, kenapa emangnya?" Kayla kembali bertanya saat sang ibu menanyakan keberadaan nya sekarang, "Oh oke oke, bisa kok. Aku langsung pulang sekarang,"
Mendengar hal itu, Rania pun langsung menolehkan kepalanya ke arah Kayla.
"Nggak papa kok. Ya udah, aku tutup dulu ya Mah, dah, assalamu'alaikum, "
"Kenapa?" Rania langsung menodong Kayla dengan pertanyaan saat panggilan sahabatnya itu berakhir.
Dengan raut wajah tidak enaknya, Kayla pun menjawab, "Sorry Ran, gue disuruh pulang sekarang sama nyokap, soalnya sepupu gue mau dateng ke rumah,"
"Sepupu lo yang mana? Bang Dandi yang ganteng itu bukan?" tanya Rania dengan mata yang berbinar-binar. Membuat gadis cantik yang duduk disampingnya itu memutar bola matanya malas.
"Giliran yang ganteng-ganteng aja inget lo," cibir Kayla.
Mendengar hal itu, Rania pun langsung tertawa, "Itu kan naluri perempuan namanya,"
"Dek,"
Kedua gadis cantik yang tengah asik mengobrol tentang sepupu tampan Kayla itu pun sontak langsung menoleh secara bersamaan ke arah Irsyad yang baru saja datang dengan wajah yang lebih kusut daripada tadi sebelum laki-laki itu menerima telepon.
"Kenapa?" tanya Rania dengan kening yang berkerut.
Irsyad yang baru saja mendudukkan dirinya di hadapan sang adik pun menjawab, "Gue harus ke resto sekarang,"
Sontak saja Rania pun langsung melebarkan matanya saat mendengar hal itu.
Yang benar saja?
Apakah ada kebetulan yang se kebetulan ini?
Terus maksudnya, dia ditinggal sendirian disini gitu?
"Lo ngapain ke resto? Kan lo janji hari ini mau full nemenin gue," seru Rania sambil mencebikkan bibirnya.
"Ada urusan urgent yang harus gue tanganin Dek,"
"Terus gue gimana?" tanya Rania frustasi.
"Gue udah minta tolong sama Bayu buat jemput lo disini,"
__ADS_1
WHAT?!