
"Anjani, Papah-"
Allaahu Akbar… Allaahu Akbar…
Seketika semua orang yang ada disana pun langsung terdiam saat terdengar suara lantunan adzan magrib dari masjid terdekat.
Diam-diam, tanpa kedua anak kembar itu sadari, Rania dan Bayu menghembuskan nafas leganya secara bersamaan.
"Nah, udah adzan magrib tuh. Kita sholat dulu yuk, nanti habis sholat baru kita main lagi," ajak Bayu pada kedua buah hatinya.
Dia benar-benar bersyukur karena adzan nya datang di waktu yang sangat tepat, karena kalau tidak, dia tidak tahu lagi harus berkata apa untuk melawan argumen sang putri.
"Aku mau sholat sama Kakak Cantik!" seru Anjani seraya berdiri dari duduknya lalu berdiri di samping Rania yang masih duduk di atas karpet, "Ayo Kakak Cantik kita sholat," ajak gadis kecil itu sambil menarik tangan Rania.
Namun, karena perbedaan tubuh mereka yang sangat besar alhasil Anjani malah hampir saja terjengkang ke belakang, untung saja Rania dengan cepat menarik tangan gadis kecil itu, hingga dia tidak jadi terjatuh dengan mengenaskan di atas kerasnya lantai.
"Kamu nggak papa?" tanya Rania dengan raut wajah khawatirnya.
Dengan pelan gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, "Aku nggak papa kok Kakak Cantik, makasih ya,"
Rania menarik kedua sudut bibirnya lalu mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Anjani, "Sama-sama,"
"Makanya Anjani lain kali lebih hati-hati, kalo mau ngapa-ngapain pelan-pelan aja jangan gasrak-gusruk. Untung aja tadi kamu nggak jatuh, kalo sampe jatuh gimana coba? Kan kamu sendiri yang sakit," ceramah Bayu panjang lebar, yang di angguki oleh Shaka.
Anjani yang sadar diri kalau tadi dia yang salah pun hanya dapat menundukkan kepalanya dengan lesu.
"Iya Papah, maaf. Lain kali nggak kaya gitu lagi," lirih gadis kecil itu.
"Minta maaf nya jangan sama Papah dong, sama Kak Rania, kan tadi kamu tarik tangannya Kak Rania," lanjut Bayu lagi dengan raut wajah tegasnya.
Meskipun dalam kesehariannya, dia adalah sosok laki-laki yang lembut. Namun, jika sudah bersangkutan dengan masalah kedisiplinan anak-anaknya, Bayu akan berubah menjadi sosok yang sangat tegas.
Rania yang merasa namanya disebut pun tampak melebarkan matanya, dia tidak menyangka kalau masalah sepele seperti ini akan menjadi serius di mata Bayu.
"Kakak Cantik aku minta maaf ya… " lirih Anjani dengan puppy eyes yang ditujukan kepada wanita dewasa di sebelahnya.
Ya Allah, lemah banget gue kalo ditatap kaya gini. Lagian kenapa matanya Anjani mirip banget sama bapaknya sih, kan gue jadi meleyot!
Karena tidak tahan melihat keimutan gadis kecil itu, Rania pun kembali mengangkat kedua tangannya untuk mencubit pipi chubby Anjani.
"It's okay, aku nggak papa kok," ucapnya dengan senyum manis yang terpatri di wajah nya. Membuat Anjani yang tadinya tampak sedih langsung ikutan tersenyum.
"Ya udah sekarang pada wudhu dulu sana, nanti kita sholat bareng-bareng di mushola. Mbak, ajak anak-anak ke kamar mandi ya," ucap Bayu pada baby sitter kedua anaknya yang sejak tadi menonton tak jauh dari sana.
"Baik Pak, ayo Non, Den, kita wudhu dulu," ajak wanita paruh baya itu pada kedua anak majikannya.
Dengan patuh kedua bocah kembar itu pun langsung berlari menuju baby sitter mereka lalu menggandeng tangan wanita paruh baya itu.
Setelah, mereka bertiga pergi dari sana. Bayu pun langsung berjalan mendekat ke arah Rania.
"Kamu nggak papa kan tadi? Maaf ya, Anjani emang selalu exited gitu tiap ketemu sama orang baru yang dia suka," ucap laki-laki itu dengan raut wajah tidak enak.
Rania yang tadinya masih menatap ke arah Shaka dan Anjani pun sangat terkejut saat tiba-tiba laki-laki itu sudah berdiri di sebelahnya. Namun dengan cepat, ia langsung merubah kembali raut wajahnya.
"Ah, iya nggak papa. Wajar kok buat anak seumuran Anjani," jawab gadis itu dengan senyum canggung yang menghiasi bibirnya.
Mendengar hal tersebut, Bayu pun mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan, setelahnya laki-laki itu kembali berbicara, "Ya udah, ayo kita sholat dulu. Nanti keburu waktu abis,"
Setelah mengatakan hal itu, Bayu hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Namun, gerakannya langsung terhenti saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dara.
"Mbak Adel mana Mas? Kok dari tadi aku nggak liat sih?"
***
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 dan saat ini Rania sudah berada di dalam mobil bersama dengan Irsyad. Namun, ada hal yang membuat laki-laki itu merasa aneh, karena sejak masuk ke dalam mobil adiknya itu tidak berbicara sama sekali. Padahal dia sudah menyiapkan kupingnya untuk mendengarkan omelan dari adik kesayangannya itu.
Apakah Rania seperti ini karena marah dengannya?
__ADS_1
"Dek," panggil Irsyad pada sang adik yang tengah duduk menghadap jendela, dengan kedua kakinya yang ikutan naik ke atas kursi mobil.
Kalau saja yang berbuat seperti itu bukan adiknya, laki-laki itu pasti sudah mencak-mencak karena mobil kesayangannya dikotori.
"Hm,"
"Lo kenapa sih? Dari tadi diem mulu. Lo marah ya sama gue?" tanya Irsyad lagi sambil sesekali melirik ke arah sang adik.
Mendengar hal itu, Rania pun langsung memutar tubuhnya menghadap sang kakak.
"Iya, gue marah sama lo!" seru gadis itu sambil menunjuk Irsyad.
"Gue kan udah minta maaf sama lo, tadi di restoran bener-bener ada urusan urgent yang harus gue tanganin,"
"Gue bukan marah gara-gara itu!"
"Lah, terus lo marah kenapa?"
Rania tampak menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab, "Kenapa lo nggak bilang sama gue kalo istrinya Mas Bayu… udah meninggal?" tanya gadis itu dengan nada yang semakin mengecil di akhir kalimat.
Tangan Irsyad yang sedang di gunakan untuk menggerakkan roda kemudi sempat terhenti sebentar saat mendengar ucapan sang adik.
"Lo… udah tau?"
Dengan pelan, Rania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Tadi Mas Bayu yang ngasih tau gue," ucap gadis itu dengan nada lirihnya.
Rania merasa kesal kepada keluarga nya, karena mereka semua tidak ada yang memberi tahukan hal sepenting ini kepadanya. Alhasil, tadi dia malah menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu kepada Bayu.
Rania masih ingat betul bagaimana ekspresi laki-laki itu saat tadi ia bertanya, dari wajahnya Rania dapat melihat adanya perasaan rindu sekaligus sedih yang bercampur aduk disana.
Jika bisa, Rania ingin sekali mengulang waktu agar ia tidak menanyakan hal bodoh seperti itu.
"Bukannya gue yang nggak mau ngasih tau lo Dek, tapi waktu itu lo sendiri kan yang bilang kalo nggak mau denger kabar apapun selama kuliah disana biar lo bisa fokus dan ngga ke distrac?"
Ucapan Irsyad berhasil membuat lidah Rania kelu. Karena ucapan laki-laki itu memang benar. Dialah yang tidak mau mendengar kabar apapun mengenai orang-orang yang ada dimasa lalunya, terutama… Bayu.
Tapi… bukan perpisahan seperti ini yang ia inginkan.
***
Matahari telah terbit dari ufuk timur menggantikan tugas Bulan yang sudah semalaman bekerja menerangi gelapnya bumi. Rania yang hari ini masih harus mencari-cari ruko untuk membangun butiknya pun sudah rapi menggunakan setelan kemeja berwarna merah muda dan celana bahan berwarna hitam dengan rambut yang diikat ekor kuda.
Kalau dilihat-lihat penampilan Rania sekarang lebih mirip seperti seorang guru daripada designer, namun ia sedang malas mencari pakaian untuk di mix and match, jadi tadi dia mengambil asal saja baju yang ada di lemari.
"Ran, nanti sore abis nyari ruko kita ke tempat Mbak Citra ya," ucap Irsyad saat melihat sang adik sedang berjalan menuruni tangga.
Mbak Citra adalah sepupu mereka yang kemarin baru saja melahirkan anak pertamanya. Itu sebabnya kedua orang tua mereka memilih menginap disana untuk membantu jika ada yang diperlukan.
"Hm," sahut Rania seraya mendudukkan dirinya di atas kursi makan.
Irsyad mengerutkan keningnya saat melihat wajah sang adik yang begitu lesu seperti orang kurang tidur.
"Lo semalem begadang Dek?" tanya laki-laki itu pada sang adik.
Rania yang tengah mengoleskan selai coklat ke atas roti tawar pun menganggukkan kepalanya.
Benar sekali. Benar sekali ucapan kakaknya itu. Semalam dia memang begadang. Bukan karena sengaja, namun karena dia tidak bisa tidur.
Bagaimana dia bisa tidur kalau otaknya terus-terusan memutar ekspresi Bayu kemarin malam. Rania rasanya hampir gila gara-gara memikirkan hal itu. Karena ia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayang.
Rania saja yang hanya ditinggal nikah oleh Bayu sakit hatinya sampai seperti itu, apalagi ini ditinggalkan selama-lamanya dan tidak akan pernah bisa bertemu lagi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Bayu.
"Iya, gue nyari-nyari info ruko yang lain. Siapa tau ada yang bagus,"
"Terus dapet?"
Rania menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Membuat Irsyad mendengus, "Udah, urusan ruko biar jadi urusan gue, lo tinggal liat-liat aja mana yang lo suka," ucap laki-laki itu.
__ADS_1
Setelahnya cukup lama mereka saling diam karena sibuk dengan urusan masing-masing, Irsyad yang sibuk dengan ponselnya, dan Rania yang sibuk memakan sarapannya. Namun, karena tidak tahan dengan keheningan yang terjadi, gadis cantik itu pun angkat bicara.
"Kemaren lo anterin Kayla sampe rumahnya kan Mas?" tanya Rania setelah menelan roti yang ada di dalam mulutnya.
Mendengar hal itu, Irsyad yang tengah meminum kopinya pun langsung tersedak. Membuat kopi yang baru ia minum langsung keluar lagi melalui hidung.
Dara yang melihat kondisi mengenaskan sang kakak pun langsung bangkit dari duduknya lalu mendekati laki-laki itu.
"Kak, lo kenapa? Kok tiba-tiba kaya gini sih? Jangan mati dulu dong, gue kan belum bisa ngalahin restoran lo. Masa lo udah mau mati sih," ucap gadis cantik itu sambil menepuk-nepuk punggung sang kakak dengan cukup keras.
Bukannya mereda, batuk Irsyad malah jadi lebih parah gara-gara tepukan sang adik di punggungnya. Kalau kondisinya sedang tidak di ambang kematian seperti saat ini, pasti sudah dia piting kepala adiknya itu.
"Mi-num," lirih Irsyad dengan suara patah-patah karena tenggorokannya sangat sakit.
Karena ucapan sang Kakak tidak terlalu jelas, Rania pun mendekatkan telinganya ke arah laki-laki itu.
"Apa? Lo bilang apa?"
Aaaaaa… ingin sekali rasanya Irsyad berteriak di depan wajah adiknya itu. Kapan ya otak Rania bisa normal seperti manusia pada umumnya? Dia jadi penasaran, dulu ibunya ngidam apa ya saat hamil Rania, sampai lahir manusia error seperti ini.
"Mi-num… a-ir, air… "
"Oh air… ngomong dong dari tadi,"
Dari tadi gue juga udah ngomong kali, lo nya aja yang budeg!
Ingin sekali Irsyad menjawab seperti itu. Tapi sayangnya, kata-kata itu hanya bisa ungkapkan di dalam hatinya karena saat ini tenggorokannya masih terasa sangat sakit saat digunakan untuk berbicara.
Setelah menuangkan air dari teko ke dalam gelas milik Irsyad, Rania pun langsung menyerahkan gelas itu kepada sang kakak.
"Nih minum,"
Tanpa menunggu lama lagi, laki-laki itu langsung menghabiskan air yang diberikan oleh sang adik dalam satu kali tegukan.
"Huh… lega," lirih Irsyad saat tenggorokannya yang perih teraliri oleh air dingin. Meskipun saat ini hidungnya masih terasa panas dan perih, namun setidaknya ini sudah lebih baik daripada tadi.
"Udah Mas?" tanya Rania yang masih berdiri di samping sang kakak.
"Hah? Udah apa?" Irsyad malah balik bertanya dengan kening yang berkerut.
"Lo udah selesai belum keselek nya? Kalo udah jawab pertanyaan gue tadi, lo anterin sahabat gue dengan aman sampe rumah nggak?"
Ya Allah, bunuh adik sendiri dosa nggak sih?
Irsyad benar-benar frustasi menghadapi adiknya yang satu ini, kakak kandung nya sedang di ambang kematian seperti ini tapi gadis itu malah lebih mementingkan sahabatnya?
"Ya lo tanya aja sendiri sama dia, masih idup apa nggak tuh orang," sahut Irsyad dengan suara yang masih agak serak.
Namun, hal tersebut tak membuat Rania jadi mengasihani sang kakak. Karena buktinya saat ini, gadis itu malah memukul bahu Irsyad dengan cukup keras.
"Awh! Kenapa lo mukul gue?!" seru Irsyad sambil mengusap bahu nya yang baru saja dipukul oleh sang adik.
"Kalo dia bisa dihubungin gue juga nggak bakal tanya sama lo. Masalahnya dari semalem hp dia mati, di telfon di luar jaringan, di chat juga cuma centang satu. Lo nggak apa-apain temen gue kan Mas?" tanya Rania dengan tatapan curiga yang mengarah kepada sang kakak.
Mendengar ucapan sang adik, mau tidak mau Irsyad pun jadi kepikiran. Otaknya langsung memutar kejadian semalam ketika ia mengantarkan teman sang adik ke rumahnya.
Setelah hampir 20 menit melewati perjalanan yang sangat canggung, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Irsyad dan Kayla berhenti juga di depan sebuah rumah mewah berlantai dua yang tak lain adalah rumah gadis itu.
Kalau bukan karena sang adik, Irsyad malas sekali harus mampir-mampir seperti ini. Apalagi urusan di restoran sedang menunggu.
"Mm… makasih ya Kak udah mau anterin saya pulang," ucap Kayla dengan gugup.
Irsyad yang masih kesal dengan sikap tidak sopan gadis itu kemarin malam pun hanya menjawab, "Hm,"
Membuat Kayla makin mati kutu, setelah melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya gadis itu pun kembali berkata, "Y-ya udah Kak, k-kalo gitu… saya turun dulu ya, sekali lagi makasih buat tumpangannya,"
Baru saja Kayla hendak membuka pintu di sampingnya tiba-tiba…
__ADS_1
"Woi, keluar lo! Dasar cowok nggak tau malu! Segitu nggak lakunya ya lo sampe jalan sama cewek orang?!"